Gangguan Mental Skizofrenia: Gejala, Pemicu dan Penanganan

Skizofrenia bukan kutukan atau aib. Gangguan mental ini bisa ditangani secara medis

Menurut hasil survei Ipsos Global Health Service Monitor pada 2023, 44% responden dari 31 negara di dunia menilai kesehatan mental sebagai masalah yang paling menyita perhatian dan ditakutkan saat ini.

Survei itu juga menunjukkan 78% responden berpendapat bahwa kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik. 

Sayangnya, menurut survei itu, hanya 34% responden yang melihat pelayanan kesehatan di negara mereka memperlakukan keduanya – kesehatan fisik dan mental – secara setara. Negara lebih banyak memberi perhatian pada kesehatan fisik daripada kesehatan mental.

Temuan survei itu mengindikasikan dengan jelas perihal kecenderungan umum yang masih memandang sebelah mata kesehatan mental. Hal itu juga terjadi di negara kita. Padahal, jumlah pengidap gangguan jiwa di Indonesia memprihatinkan.

Tulisan ini akan fokus pada penjelasan tentang apa itu kesehatan mental, terutama yang banyak diderita warga Indonesia, termasuk di – tempat saya bertugas -, pemicunya dan mengapa kita perlu peduli pada upaya penanganannya.

Gangguan Kesehatan Mental dan Skizofrenia

Secara umum gangguan kesehatan mental berarti sindrom atau sekelompok gejala yang memengaruhi pikiran, perasaan, dan perilaku seseorang sehingga menyebabkan disfungsi atau hendaya dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. 

Skizofrenia merupakan salah satu jenis gangguan kesehatan mental yang paling umum. Gangguan mental ini ditandai dengan waham dan halusinasi yang kuat. 

Waham adalah keyakinan atau persepsi palsu yang tetap tidak dapat diubah meskipun ada bukti valid yang membantahnya.

Misalnya seseorang meyakini dirinya adalah nabi yang baru diutus oleh ke tengah dunia. Keyakinan tersebut sulit diluruskan walaupun terbukti tidak sesuai dengan kenyataan.

Sementara halusinasi adalah gangguan persepsi yang di mana seseorang mengaku mendengar, merasa, mencium atau melihat sesuatu yang sebenarnya tidak nyata. 

Contohnya halusinasi dengar. Seseorang yang mengalami halusinasi ini mendengar banyak orang yang berbicara di telinganya dengan atau tanpa melihat wujudnya, kendati tidak didengar atau dilihat orang lain di sekitar. 

Kedua gangguan ini akan menyebabkan terjadinya kekacauan dalam berpikir. Penderitanya juga mengalami gangguan perilaku sehingga terjadi hendaya atau gangguan pada aktivitas sehari-hari. Misalnya tidak dapat bekerja, tidak dapat mandi dan makan secara mandiri.

Butuh minimal satu bulan setelah ada gejala untuk bisa mendiagnosis skizofrenia dalam diri seseorang. Jika diagnosis dilakukan sebelum gejala muncul genap satu bulan maka yang digunakan adalah psikosis atau lir skizofrenia, sambil dievaluasi apakah selanjutnya digolongkan ke dalam skizofrenia atau gangguan jiwa lainnya. 

Faktor Pemicu Skizofrenia

Terdapat beberapa faktor penyebab skizofrenia.

Pertama adalah genetik. Ini adalah faktor utama. Anak dengan satu orang tua biologis penderita skizofrenia memiliki risiko genetik untuk juga menderita skizofrenia.

Kedua adalah faktor neuroanatomi dan neurokimia di otak penderita skizofrenia.

Penelitian menunjukkan bahwa individu penderita skizofrenia memiliki jaringan otak yang relatif berbeda dengan manusia lainnya. 

Penderita juga  memperlihatkan adanya perubahan atau ketidakseimbangan sistem neurotransmiter, baik dopamin maupun serotonin, sehingga sinyal-sinyal yang dikirim mengalami gangguan dan akhirnya tidak berhasil mencapai sambungan sel yang dituju.

Hal ini mengakibatkan persepsi yang salah terhadap sinyal tersebut. 

Ketiga adalah faktor psikologis. Skizofrenia terjadi karena kegagalan dalam menyelesaikan perkembangan awal masalah psikososial. Contohnya, seorang anak yang tidak mampu membentuk hubungan saling percaya di dalam keluarga dapat mengakibatkan konflik intrapsikis seumur hidup. 

Keempat adalah faktor sosiokultural dan lingkungan. Hal ini berhubungan dengan kemiskinan, tinggal di lingkungan perumahan padat, nutrisi tidak memadai, kelemahan sumber daya untuk menghadapi stres dan perasaan putus asa.

Jumlah individu dari sosial ekonomi kelas rendah yang mengalami gejala skizofrenia lebih besar dibandingkan dengan individu dari sosial ekonomi yang lebih tinggi. 

Data Kasus Gangguan Mental di Indonesia

Bagaimana kondisi pengidap gangguan mental skizofrenia di Indonesia?

Riset Kesehatan Dasar [Riskesdas] 2018 oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Kesehatan terhadap 300.000 sampel rumah tangga atau 1,2 juta jiwa di 34 provinsi [mencakuo 416 kabupaten dan 98 kota] menunjukkan peningkatan proporsi skizofrenia yang signifikan.

Proporsinya naik dari 1,7 % pada Riskesdas 2013 menjadi 7 % pada Riskesdas 2018. 

Artinya, per 1000 rumah tangga, terdapat tujuh rumah tangga yang memiliki gangguan jiwa. Jumlah pengidap gangguan jiwa berat diperkirakan sekitar 450 ribu orang.

Data itu juga mengungkap 14 % rumah tangga pernah melakukan pasung terhadap anggota keluarga yang didiagnosis mengalami gangguan jiwa.

Temuannya lainnya adalah masih ada sekitar 51,1 % yang tidak rutin berobat dari total 84,9% yang sudah pernah melakukan pengobatan. 

Untuk Kabupaten Manggarai, per April 2024, terdapat 803 [], dengan jumlah diagnosa terbanyak adalah skizofrenia. 

Di sisi lain, laporan kasus di Indonesia – yang juga dipicu gangguan kesehatan jiwa – mengalami peningkatan, dari 613 kasus pada 2021 menjadi 826 kasus pada 2022.

Apakah Bisa Diobati?

Greene, N. dan Eske, J. [2021] dalam artikel What To Know About The Stages Of Schizophrenia, menyatakan skizofrenia merupakan penyakit yang dapat diobati. Menurut mereka, menerima pengobatan yang tepat waktu dan efektif dapat membantu mengelola gejala dan mencegah kekambuhan penyakit ini.

Penanganan terhadap pasien skizofrenia lain dilakukan dengan psikofarmaka yaitu memberikan terapi obat-obatan yang menstabilkan neurotransmitter. Pemberiannya disesuaikan dengan kondisi pasien.

Yang kedua adalah psikoterapi, dimana pasien akan diberikan terapi perilaku dan pengembangan keterampilan agar bisa mandiri dan produktif kembali. 

Psikoterapi lainnya adalah terapi psikodinamik yang melibatkan percakapan antara psikiater dan pasien. Percakapan ini berusaha mengungkap pengalaman emosional dan proses alam bawah sadar yang mempengaruhi kondisi terkini mental seseorang.

Bentuk psikoterapi berikutnya adalah terapi keluarga. Dalam terapi ini, keluarga dan orang-orang penting lain dari penderita skizofrenia dilibatkan untuk berkomunikasi dan menyelesaikan konflik satu sama lain.

Tidak Percaya dengan Mitos

Bagaimanapun, masih banyak pihak yang masih mempercayai mitos-mitos terkait skizofrenia.

Salah satunya misalnya menganggap pengidapnya berada dalam pengaruh roh jahat, diguna-guna, terkena dari nenek moyang dan sebagainya.

Bahkan terdapat stigma bahwa penderita skizofrenia adalah aib keluarga. Karena itu, pengidapnya dikucilkan atau dipasung.

Kini, pelayanan kepada penderita gangguan jiwa ini sudah dapat diakses masyarakat melalui Puskesmas di tempat tinggal masing-masing. 

Di Kabupaten Manggarai misalnya, saat ini setiap Puskesmas wajib melayani ODGJ. Di tempat saya bertugas, Unit Pelaksana Teknis Dinas [UPTD] Puskesmas Wae Mbeleng saat ini sedang menangani lebih dari 30 orang ODGJ. Mereka berada dalam fase terapi obat.

Karena penyakit ini bisa diobati, bagi warga yang mengalami gejala skizofrenia atau mengetahui ada orang lain di sekitar yang menderita penyakit ini, segeralah mencari pertolongan tenaga medis agar mendapat pengobatan yang tepat. 

ODGJ butuh ditolong, bukan untuk dijauhi. 

Salam sehat jiwa.

Felisiana Kasman adalah , UPTD di Puskesmas Wae Mbeleng, Manggarai

Editor:

Artikel ini terbit di halaman khusus KoLiterAksi. Jika Anda adalah pelajar, mahasiswa, guru, dosen, pemerhati pendidikan ataupun masyarakat umum dan tertarik menulis di sini, silahkan kirimi kami artikel. Ketentuannya bisa dicek dengan klik di sini!

Silahkan gabung juga di Grup WhatsApp KoLiterAksi, tempat kami berbagi informasi-informasi terbaru. Kawan-kawan bisa langsung klik di sini.

Artikel Terbaru

Banyak Dibaca

Baca Juga Artikel Lainnya