Religiusitas Simbolik dan Dimensi Kenabian Agama

Melihat kontras antara reaksi umat Katolik di Flores atas penunjukkan Uskup Budi Kleden sebagai anggota dikasteri di Vatikan dengan respons atas pernyataannya yang mengkritik militerisasi, artikel ini mengajukan pertanyaan: apakah kita hanya bangga memiliki uskup yang dihormati di Roma, ataukah kita juga siap berdiri bersama uskup ketika ia menyuarakan kebenaran yang mungkin tidak popular?

Oleh: Otto Gusti Madung

Gelombang ucapan selamat atas pengangkatan Uskup Agung Ende, Mgr. Paulus Budi Kleden, SVD sebagai anggota Dikasteri Evangelisasi di Vatikan beberapa waktu lalu menunjukkan besarnya kebanggaan umat terhadap prestasi seorang putra Flores di tingkat Gereja universal.

Kebanggaan itu wajar. Ia mencerminkan rasa memiliki terhadap Gereja dan penghargaan atas dedikasi seorang gembala.

Namun, pada saat yang hampir bersamaan, muncul sebuah kontras yang patut direnungkan.

Dalam sebuah wawancara khusus dengan Floresa yang terbit pada 2 Juli, dua hari pasca pengangkatan Uskup Budi ke dalam lembaga Vatikan itu, ia menyampaikan keprihatinannya yang tegas terhadap gelombang pembangunan fasilitas militer di berbagai wilayah Flores.

Ia mempertanyakan dasar kebutuhan menghadirkan kekuatan militer dalam skala begitu besar, dan menyebut situasi ini sebagai sesuatu yang “sangat mencemaskan” karena ruang bagi masyarakat sipil semakin menyempit.

Ketika kritik berani semacam ini disuarakan—kritik yang menyangkut martabat manusia, ruang hidup rakyat, dan masa depan masyarakat lokal—gaung dukungan publik, terutama di media sosial, terlihat jauh lebih kecil dibanding gegap gempita menyambut kabar penunjukkan di Vatikan.

Perbedaan respons ini mengundang pertanyaan yang lebih mendasar: apakah kita lebih mudah merayakan simbol-simbol kehormatan daripada mendukung keberanian profetis yang menuntut tanggung jawab moral?

Fenomena ini dapat dibaca sebagai gejala religiusitas yang cenderung ritualistik. Dalam bentuk seperti ini, iman lebih banyak diekspresikan melalui perayaan liturgi, penghormatan kepada otoritas Gereja, dan kebanggaan terhadap identitas Katolik.

Semua itu tentu penting. Namun, ketika agama berhenti pada simbol dan seremoni, ia kehilangan daya kritisnya terhadap ketidakadilan sosial.

Padahal, dalam tradisi Kitab Suci, para nabi tidak diutus untuk mencari popularitas. Mereka diutus untuk menyuarakan kebenaran, bahkan ketika suara itu tidak nyaman didengar.

Demikian pula Yesus tidak hanya mengajar di sinagoga, tetapi juga menentang struktur yang menindas orang miskin, membela mereka yang disingkirkan, dan mengkritik praktik keagamaan yang lebih mementingkan penampilan daripada keadilan.

Karena itu, Gereja bukan hanya dipanggil menjadi komunitas yang tekun beribadah, tetapi juga menjadi saksi yang menghadirkan keadilan di ruang publik.

Dalam perspektif teologi publik, keberanian seorang uskup berbicara mengenai militerisasi, kerusakan lingkungan, perampasan ruang hidup, atau pelanggaran hak-hak masyarakat merupakan bagian integral dari tugas pastoral.

Uskup Budi sendiri menegaskan hal ini ketika ditanya soal peran Gereja di tengah polemik militerisasi: Gereja, katanya, tidak hidup terpisah dari kenyataan dunia. Dalam bahasanya sendiri, “Gereja tidak melayang-layang di udara.”

Karena itu, menyuarakan persoalan semacam ini bukan penyimpangan dari tugas Gereja, melainkan justru konsekuensi dari iman bahwa Allah telah menjadi manusia dan hadir di tengah pergulatan hidup masyarakat.

Seorang gembala tidak hanya menjaga kemurnian ajaran, tetapi juga menjaga martabat manusia. Ketika Gereja bersuara mengenai persoalan-persoalan tersebut, ia sedang menjalankan misinya sebagai suara hati masyarakat.

Ironisnya, religiusitas yang terlalu berpusat pada ritual sering kali menghasilkan paradoks. Umat dapat memenuhi gereja setiap hari Minggu, tetapi tetap diam ketika terjadi ketidakadilan—termasuk ketika tanah-tanah warga di Nagekeo dipatok untuk kepentingan militer, atau ketika ruang hidup masyarakat kampung terancam menyempit demi proyek yang oleh Uskup Budi sendiri dipertanyakan urgensinya.

Umat dapat mengagumi jabatan seorang uskup, tetapi tidak ikut memperjuangkan nilai-nilai yang diperjuangkan sang uskup. Akibatnya, agama berubah menjadi identitas budaya, bukan kekuatan transformatif.

Teolog Johann Baptist Metz mengingatkan bahwa iman Kristen harus menjadi dangerous memory, ingatan yang mengganggu kenyamanan dan mendorong keberpihakan kepada mereka yang menderita.

Sementara David Tracy menegaskan bahwa iman harus mampu berdialog dengan persoalan-persoalan publik, bukan hanya mengurusi ruang privat.

Dalam tradisi Amerika Latin, Gustavo Gutiérrez bahkan menyebut pembelaan terhadap kaum miskin sebagai konsekuensi iman kepada Allah sendiri.

Semangat itu tampak sejalan dengan apa yang disampaikan Uskup Budi dalam wawancara tersebut: bahwa keamanan sejati tidak lahir dari represi atau rasa takut, melainkan dari masyarakat yang hidup dalam kebebasan dan saling menjaga—sebuah gagasan yang menempatkan martabat dan kedaulatan sipil, bukan kehadiran kekuatan bersenjata, sebagai fondasi kesejahteraan.

Karena itu, tantangan bagi Gereja di Flores bukanlah memilih antara liturgi atau perjuangan sosial. Keduanya harus berjalan bersama.

Liturgi yang sejati melahirkan keberanian moral; doa yang otentik melahirkan solidaritas; devosi yang mendalam melahirkan pembelaan terhadap martabat manusia.

Perayaan Ekaristi seharusnya berlanjut menjadi perjuangan bagi keadilan ekologis, perlindungan masyarakat adat, penghormatan terhadap hak asasi manusia, dan keberpihakan kepada mereka yang paling rentan—termasuk warga Tonggurambang dan kampung-kampung lain di Flores yang kini bergulat mempertahankan tanah dan ruang hidup mereka dari ekspansi militer.

Barangkali inilah saatnya umat Katolik Flores bertanya kepada diri sendiri: apakah kita hanya bangga memiliki uskup yang dihormati di Roma, ataukah kita juga siap berdiri bersama uskup ketika ia menyuarakan kebenaran yang mungkin tidak popular—seperti ketika ia menolak pembenaran atas kehadiran militer yang berlebihan dan menuntut agar suara masyarakat yang bebas, bukan yang ditekan atau diiming-imingi, benar-benar didengarkan?

Dalam tradisi Kristen, kemuliaan seorang gembala tidak terutama terletak pada jabatan yang disandangnya, melainkan pada keberaniannya memikul salib demi kebenaran.

Dan, kematangan iman umat tidak terutama diukur dari semaraknya perayaan, melainkan dari kesediaan ikut memperjuangkan keadilan yang diamanatkan oleh Injil.

Otto Gusti Madung adalah Guru Besar dan Rektor Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif Ledalero

Editor: Ryan Dagur


DUKUNG KAMI

Terima kasih telah membaca artikel kami.

Floresa adalah media independen. Setiap laporan kami lahir dari kerja keras rekan-rekan reporter dan editor yang terus berupaya merawat komitmen agar jurnalisme melayani kepentingan publik.

Kami menggalang dukungan publik, bagian dari cara untuk terus bertahan dan menjaga independensi. Cara salurkan bantuan bisa dicek pada tautan ini: https://floresa.co/dukung-kami

Terima kasih untuk kawan-kawan yang telah mendukung kami. Gabung juga di Grup WhatsApp pembaca kami dengan klik di sini atau di Channel WhatsApp dengan klik di sini.

ARTIKEL PERPEKTIF LAINNYA

TRENDING