Hak Jawab Puri Sari Hotel di Labuan Bajo: Bantah Eksploitasi Pelajar PKL, Sejumlah Poin Berbeda dengan Temuan Floresa

Manajemen menyebut sistem penalti sebagai pembinaan disiplin dan menyatakan siswa PKL tetap mendapat libur mingguan. Sejumlah klaim ini bertentangan dengan kesaksian langsung siswa PKL yang diperoleh Floresa dalam liputan

Floresa.co – Setelah menerbitkan liputan investigatif “Pelajar PKL yang ‘Dieksploitasi’ Hotel-Hotel di Labuan Bajo: ‘Kami Ini Seperti Staf, Bedanya Staf Itu Digaji'”, Floresa menerima surat hak jawab dari Puri Sari Hotel di Labuan Bajo, salah satu hotel yang menjadi subjek liputan tersebut.

Sesuai Pedoman Hak Jawab yang kami anut, Floresa memberikan ruang bagi pihak yang merasa dirugikan oleh sebuah pemberitaan untuk menyampaikan klarifikasi.

Berikut kami sajikan poin-poin utama dari surat tersebut, disertai catatan pembanding dari temuan yang telah kami verifikasi sebelumnya.

Sembilan Poin Klarifikasi

Dalam surat elektroniknya yang dikirim pada 3 Juni malam, Sigit Endrasetyawan, General Manager hotel tersebut menyampaikan sembilan poin bantahan sekaligus penjelasan atas materi liputan.

Soal jam libur, Sigit menyatakan siswa PKL masuk kerja penuh selama satu minggu sebelum mendapat libur serentak satu hari, dan setelah itu tetap mendapat libur sekali per minggu, dengan bukti berupa data fingerprint kehadiran.

Soal tenaga kerja di divisi housekeeping, ia mengklaim Puri Sari Hotel tetap memiliki karyawan tetap, namun sebagian diperbantukan ke divisi lain agar siswa punya ruang belajar langsung, dengan pendampingan dan pengawasan supervisor.

Soal insentif, ia menyebut ada rapat evaluasi bulanan dengan insentif bagi peringkat 1–10 sebagai bentuk apresiasi, sementara siswa lain tetap menerima uang saku.

General Manager Hotel Puri Sari, Sigit saat diwawancarai Floresa pada 10 Juni 2026. (Dokumentasi Floresa)

Soal sistem penalti, Sigit menegaskan itu adalah sistem pembinaan kedisiplinan yang tidak diberikan sembarangan dan tidak sering dikenakan, tergantung jenis kesalahan seperti keterlambatan.

Soal larangan penggunaan telepon genggam saat jam kerja, ia menyebutnya sebagai bagian dari pembentukan karakter kerja, bukan pembatasan komunikasi.

Soal izin sakit, manajemen Puri Sari Hotel mewajibkan surat keterangan dokter agar izin memiliki dasar jelas dan tidak disalahgunakan.

Soal jam kerja malam, Sigit menegaskan hotelnya tidak pernah memberikan midnight shift kepada siswa PKL, dengan jadwal paling malam pulang pukul 22.00.

Soal sepuluh orang yang disebut keluar dari hotel, ia meluruskan bahwa mereka adalah apprentice — mantan siswa PKL yang melanjutkan masa kerja maksimal satu tahun setelah lulus sesuai perjanjian awal, tetap menerima gaji dan service charge, bahkan sebagian mendapat bantuan beasiswa kuliah di Bali.

Sigit menutup suratnya dengan menyatakan keberatan bila usaha Puri Sari Hotel mendampingi siswa dilihat sebagai eksploitasi tanpa mempertimbangkan konteks yang lebih utuh, serta menyebut proses PKL telah disepakati bersama sekolah, siswa, dan manajemen sejak awal orientasi.

Catatan Pembanding dari Temuan Floresa

Floresa menghormati hak setiap pihak untuk didengar. Namun, sejumlah poin dalam klarifikasi Sigit perlu dibaca berdampingan dengan temuan yang telah kami kumpulkan dari wawancara langsung dengan siswa PKL di Puri Sari Hotel, serta dengan Sigit sendiri.

Soal libur mingguan, klaim ini berbeda dari pengalaman yang disampaikan Raffy — bukan nama sebenarnya, siswa PKL di hotel itu — kepada Floresa, yang mengaku sempat menjalani hampir tiga minggu tanpa libur sama sekali setelah dipindahkan ke divisi garden — termasuk tetap bekerja saat hujan dan saat sakit.

Soal insentif, Sigit sendiri sebelumnya membenarkan kepada Floresa bahwa tidak semua siswa mendapat insentif, sejalan dengan pengakuan Raffy yang mengaku hanya menerima Rp50 ribu satu kali sepanjang tiga bulan bekerja enam hari seminggu.

Soal sistem penalti, Dimas — juga nama samaran, siswa PKL di divisi front office Puri Sari Hotel — menjelaskan kepada Floresa bahwa penalti berupa tambahan jam kerja bisa membuat total jam kerjanya mencapai 13 jam dalam sehari, dengan pelanggaran tidak mengikuti kursus dan membuka gawai  — gambaran yang berbeda dari deskripsi “tidak sering dikenakan.”

Soal larangan gawai, penalti yang dikenakan pada Dimas justru karena ia membuka pesan di grup WhatsApp internal hotel itu sendiri saat jam kerja.

Soal jam kerja malam, klaim Sigit bahwa jadwal paling malam adalah pukul 22.00 sejalan dengan pengalaman Raffy.

Secara lebih luas, survei Serikat Pekerja Mandiri Pariwisata (SPM Par) terhadap 87 siswa PKL di berbagai hotel Labuan Bajo — tidak terbatas pada Puri Sari Hotel — menemukan 45 persen pernah menjalani shift malam, 100 persen tidak menerima upah, dan 100 persen tidak terdaftar BPJS Ketenagakerjaan.

Sigit dalam liputan sebelumnya juga menyampaikan kepada Floresa bahwa tujuan pendidikan vokasi mengharuskan siswa didik secara keras agar disiplin dan siap kerja — kerangka pembelaan yang secara umum sejalan dengan nada surat hak jawab ini.

Kekosongan yang Tetap Ada

Di luar poin klarifikasi, Floresa mencatat bahwa surat ini tidak menjawab pertanyaan mendasar yang menjadi inti liputan kami: mengapa siswa berusia 16–17 tahun, yang berada dalam kekosongan regulasi ketenagakerjaan, kerap menjalani beban kerja dan tekanan yang setara dengan pekerja dewasa, tanpa upah, tanpa jaminan sosial, dan tanpa mekanisme pengawasan yang jelas dari pemerintah maupun sekolah.

Sesuai prinsip hak jawab, penerbitan klarifikasi ini tidak berarti Floresa menarik atau membatalkan pemberitaan sebelumnya. Kami tetap membuka ruang bagi pihak-pihak terkait, untuk menyampaikan tanggapan lebih lanjut.

Sesuai pedoman hak jawab Floresa, penerbitan hak jawab disertai keterangan tambahan dari redaksi dan selambat-lambatnya dilakukan dalam waktu tiga hari kerja.”

Floresa membuka ruang hak jawab bagi siapa pun yang merasa dirugikan oleh pemberitaan kami, sesuai Pedoman Hak Jawab Floresa. Baca serial liputan kami selengkapnya: Antara Belajar dan Buruh Gratis Hotel

Editor: Ryan Dagur

DUKUNG KAMI
Floresa adalah media independen. Kami berkomitmen bahwa cerita yang paling sulit diungkap adalah cerita yang paling perlu didengar.
Kalau Anda percaya jurnalisme seperti ini penting — dukung kami. Caranya klik di sini
Baca artikel lain serial: Antara Belajar dan Buruh Gratis Hotel.