Rocky Gerung Jadi Magnet, Flores Kekurangan Masalah?

Jika kritik kita begitu tajam ke istana dan tumpul di halaman sendiri, yang kita bela itu prinsip atau kenyamanan?

Oleh: Ryan Dagur

Di layar laptop saya sebagai salah satu editor Floresa, nama Rocky Gerung datang lewat cukup banyak naskah. Sebagiannya kami muat, sebagian lagi tidak.

Setelah membaca dan ikut memilih naskah-naskah itu, saya terusik oleh pertanyaan: mengapa Rocky begitu kuat menjadi magnet?

Ramainya percakapan tentang Rocky sejak awal bulan lalu punya pemicu yang jelas: ia dilantik sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) pada 2 Oktober 2026.

Sosok yang dikenal lantang mengkritik pemerintah kini masuk ke dalam lingkaran penasihat presiden. Perubahan posisi itu menarik perhatian publik dan membuka pertanyaan tentang hubungan kritik dengan kekuasaan.

Harus diakui pula, Rocky bukan tokoh yang baru menarik perhatian setelah masuk Wantimpres. Ia dikenal kontroversial; komentar-komentarnya kerap memancing perhatian publik dan menjadikannya sosok yang sering menjadi bahan berita, atau newsmaker.

Karena itu, ketertarikan media dan penulis kepadanya dapat dipahami. Namun, memahami daya tarik itu tidak berarti kita berhenti menanyakan ke mana perhatian tersebut membawa kita.

Saya tidak menanyakan itu dari luar percakapan. Kami ikut menyediakan ruang untuk membahas perubahan posisi Rocky tersebut.

Justru karena alasan membicarakannya dapat dipahami, pertanyaan berikut juga perlu diajukan kepada diri sendiri: ketika sebuah nama begitu mudah menarik perhatian, apa yang terjadi pada persoalan yang tidak punya nama besar untuk membawanya?

Flores tidak kekurangan masalah. Tetapi apakah masalah harus lebih dulu menumpang ketenaran seseorang agar terasa layak dibicarakan?

Ada sesuatu yang menggelitik di sini. Kita bisa begitu tekun menguji hubungan seorang intelektual dengan kekuasaan yang jauh. Apakah ketekunan itu ikut pulang ketika yang perlu diperiksa adalah kuasa di sekitar sendiri?

Ini bukan ajakan menutup percakapan tentang Jakarta. Yang ingin saya usik adalah arah perhatian kita: apakah gagasan membantu kita melihat persoalan, atau nama terkenal justru membuat kita sulit melihat ke tempat lain?

Mengakui Daya Tarik, Menguji Perhatian

Percakapan itu punya tempat yang sah. Sepanjang bulan lalu, Floresa memuat “Rocky Gerung, Filsafat, dan Kekuasaan” oleh Otto Gusti Madung pada 8 Oktober; “Ujian Akal Sehat Rocky Gerung di Istana” oleh Vano Jemadin pada 11 Oktober; serta “Rocky Gerung di Lingkar Kekuasaan: Masihkah Kritik Bisa Menggigit?” oleh Frederikus M. Kurniawan Anse pada 20 Oktober.

Tulisan-tulisan tersebut mengajak pembaca memeriksa hubungan intelektual dengan kekuasaan, jarak kritis, dan pertanggungjawaban kepada publik.

Membicarakannya bukan pekerjaan sia-sia. Flores tidak hidup di luar pengaruh kebijakan nasional; gagasan tentang kekuasaan pun tidak kehilangan kegunaan hanya karena berangkat dari seorang tokoh di Jakarta.

Saya juga perlu menegaskan: kritik ini bukan serangan kepada penulis yang naskahnya kami muat. Otto dan Vano, misalnya, termasuk penulis Floresa yang cukup banyak menyoroti persoalan konkret di Flores. Tidak adil jika esai mereka tentang Rocky dijadikan bukti bahwa mereka mengabaikan masalah setempat.

Sasaran tulisan ini adalah pola perhatian kita bersama, termasuk saya sebagai editor, bukan vonis atas kepedulian pribadi mereka.

Banyaknya naskah yang kami terima juga tidak otomatis membuktikan bahwa perhatian publik kepada Rocky melampaui seluruh persoalan Flores. Untuk menyatakan itu, perlu data yang bisa dibandingkan. Pengalaman di meja redaksi adalah pintu masuk pertanyaan ini, bukan pengganti statistik.

Namun, tanpa menebak niat siapa pun, kita tetap bisa bertanya: jika persoalan yang sama tidak membawa nama Rocky, apakah kita akan membacanya dengan kesungguhan yang sama? Apa yang membuat kita berhenti dan menoleh: bobot masalahnya atau ketenaran tokohnya?

Pertanyaan itu membawa kita keluar dari percakapan tentang Rocky, menuju persoalan yang tidak perlu menunggu seorang tokoh nasional untuk menjadi penting.

Masalah di Depan Mata Tak Kurang Penting

Nangahale, misalnya. Serial liputan Floresa “Domba vs Gembala di Nangahale” yang dirilis sejak 14 Oktober 2026 mengikuti konflik warga dengan PT Krisrama, perusahaan milik Keuskupan Maumere, melalui sengketa tanah dan proses pidana terhadap warga.

Di sana, kekuasaan bukan hanya istilah untuk dibedah dalam esai. Ia berhadapan dengan keluarga yang kerabat mereka kembali dari jeruji.

Liputan lainnya memperlihatkan pengalaman anak-anak setelah penggusuran: rumah yang dirobohkan dan kecemasan yang masuk ke keseharian. Warga menyatakan klaim tanah ulayat, sementara perusahaan mendasarkan penguasaan pada Hak Guna Usaha.

Dasar klaim itu perlu diperiksa dengan teliti. Tetapi ketelitian membaca dokumen jangan sampai membuat pengalaman anak-anak menghilang dari pandangan.

Nangahale bukan satu-satunya bahan percakapan. Sejumlah liputan Floresa juga memuat pembahasan perdagangan orang di NTT, lingkungan dalam pariwisata dan proyek energi, kondisi warga Flores usai gempa, kasus-kasus kekerasan seksual, pembangunan fasilitas militer yang merangsek masuk ke ruang hidup, dan kasus-kasus dugaan korupsi.

Daftar itu menunjukkan persoalan yang tersedia untuk diperiksa, bukan bahwa setiap tuduhan sudah terbukti.

Ada hal lain yang saya catat dari meja editor. Pada masa ketika artikel-artikel tentang Rocky terbit, beberapa naskah tentang persoalan Flores yang kami muat justru datang dari penulis di luar Flores.

Mereka melihat masalah di tanah ini—antara lain pariwisata Labuan Bajo dan perdagangan orang—dan memilih menuliskannya. Secara geografis mereka jauh, tetapi perhatian mereka mendekat.

Di antara pembahasan persoalan lokal yang terbit pada periode yang sama adalah “Saatnya Pariwisata Labuan Bajo Membiayai Pelestarian Lingkungan” oleh Imanuddin pada 20 Oktober 2026 dan “Perdagangan Orang di NTT: Kasus yang Terungkap, Persoalan yang Terlewat” oleh Unique Desyrre A. Resiloy pada 22 Oktober 2026.

Yang pertama menghubungkan manfaat ekonomi pariwisata dengan pemeliharaan alam; yang kedua mengingatkan bahwa perkara yang terlihat belum mencakup seluruh persoalan eksploitasi.

Ini bukan perlombaan antara orang di dalam dan di luar Flores. Namun, ironinya layak direnungkan: mengapa jarak tidak menghalangi seseorang untuk melihat, sedangkan kedekatan belum tentu membuat kita peka? Haruskah persoalan warga menjadi percakapan nasional lebih dulu agar kita merasa perlu menanggapinya?

Bahan tulisan, dengan demikian, tidak kurang. Yang perlu diuji adalah kebiasaan memilih perhatian. Mengapa ada persoalan yang sanggup menahan kita berjam-jam, sementara persoalan lain selesai dengan satu kata: “memprihatinkan”?

Kita bisa berdebat panjang tentang apakah kritik mampu bertahan di dalam istana. Pertanyaan yang sama semestinya bisa dibawa ke institusi dekat rumah: bagaimana kritik diterima di sana, dan suara siapa yang diberi ruang?

Pembicaraan nasional tidak salah. Yang janggal adalah ukuran yang berhenti bekerja ketika alamat kekuasaan berubah.

Jarak kritis tidak semestinya hanya berlaku terhadap orang yang tak akan kita jumpai di pasar, ruang kuliah, atau halaman tempat ibadah. Prinsip yang berani berjalan jauh tetapi ragu menyeberang halaman sendiri menyisakan pertanyaan tentang keberanian kita.

Apakah yang Jauh Terasa Lebih Aman?

Barangkali kuasa yang jauh kadang terasa lebih aman untuk dibicarakan. Ia tidak selalu terhubung dengan pekerjaan, pertemanan, pendidikan, atau keluarga kita.

Kuasa yang dekat mungkin justru berada dalam jaringan yang setiap hari kita perlukan. Kritik kepadanya bisa membawa ketidaknyamanan yang tidak selesai ketika tulisan selesai.

Tetapi kemungkinan itu bukan alasan untuk menyamaratakan orang yang diam. Ada yang belum memahami dokumen, ada yang membantu tanpa mengumumkannya, ada pula yang menghadapi risiko nyata.

Tidak semua keheningan berarti mencari aman. Kritik akan kehilangan keadilannya jika perbedaan itu dihapus hanya demi sindiran yang tajam.

Karena itu, yang hendak saya uji bukan kepedulian seseorang berdasarkan satu tulisan atau unggahan, melainkan konsistensi ruang percakapan. Apakah persoalan setempat mendapat kesempatan untuk dijelaskan, diuji, dan ditanggapi dengan sungguh-sungguh?

Kalau kedekatan Rocky dengan kekuasaan layak kita periksa, apakah kedekatan kita sendiri dengan institusi berpengaruh juga boleh ditanyakan? Apakah kritik masih terasa menarik ketika yang harus menjawab adalah orang yang besok mungkin kita temui? Jika ukuran berubah saat alamat kekuasaan bergeser, yang kita bela itu prinsip atau kenyamanan?

Di titik ini, membicarakan Rocky bisa menjadi berguna: keberanian intelektual tidak lagi hanya menjadi sifat yang kita tuntut darinya, tetapi juga pertanyaan bagi diri sendiri. Seberapa bersedia kita membaca bukti, menanggung ketidaknyamanan, dan mendengar warga yang tidak terkenal?

Warga yang kehilangan rumah tidak perlu memiliki pengikut sebanyak tokoh nasional agar kisahnya layak diperhatikan. Bobot persoalan publik tidak ditentukan oleh ketenaran orang yang mengalaminya.

Biarkan Perhatian Pulang ke Flores

Maka, jawabannya bukan berhenti menulis tentang Rocky. Yang perlu kita lakukan adalah memastikan percakapan itu tidak berhenti pada Rocky. Jika gagasan tentang kritik dan kekuasaan memang penting, biarkan ia membantu kita membaca persoalan di Flores.

Bukan berarti satu tulisan nasional harus ditebus dengan satu tulisan tentang persoalan di halaman rumah sendiri. Kepedulian bukan pembukuan jumlah judul. Yang penting ialah apakah tulisan membuka pemahaman dan memberi ruang bagi mereka yang menanggung akibat.

Bagi penulis, pertanyaannya: apakah teori menjelaskan pengalaman warga, atau sekadar membuat perdebatan tentang tokoh terkenal terdengar lebih canggih?

Bagi saya sebagai editor, pertanyaannya tidak kalah mengusik: apakah kami hanya menunggu naskah datang, atau ikut menjaga agar persoalan yang kurang menarik perhatian tetap memperoleh ruang?

Floresa menerbitkan esai tentang Rocky sekaligus liputan dan pembahasan persoalan lokal. Jadi, esai-esai tersebut bukan bukti bahwa media ini meninggalkan Flores. Yang sedang diperiksa adalah bagaimana bahan yang tersedia bertemu dengan perhatian yang kita berikan.

Pengakuan itu tidak menutup pertanyaan dari meja editor. Memuat naskah tentang Rocky tidak keliru; menjadikan daya tarik namanya sebagai ukuran tak tertulis tentang pentingnya sebuah persoalan itulah yang perlu diwaspadai.

Haruskah warga lebih dulu terkenal agar penderitaannya pantas masuk ke percakapan kita?

Persoalan mereka mungkin menuntut kerja yang lebih sabar: membaca dokumen, mencocokkan keterangan, dan mengakui apa yang belum kita pahami. Pekerjaan itu bukan tambahan yang baru kita kerjakan setelah selesai berdebat tentang tokoh nasional. Ia bagian dari alasan kita menulis dan menerbitkan tulisan.

Flores tidak kekurangan masalah. Saya ingin pertanyaan ini tetap mengganggu: jika kita begitu mudah menoleh ketika nama Rocky disebut, apakah kita juga mau berhenti dan mendengar ketika yang memanggil hanyalah warga di depan mata?

Ryan Dagur adalah editor Floresa

Editor: Herry Kabut

DUKUNG KAMI

Terima kasih telah membaca artikel kami.

Floresa adalah media independen. Setiap laporan kami lahir dari kerja keras rekan-rekan reporter dan editor yang terus berupaya merawat komitmen agar jurnalisme melayani kepentingan publik.

Kami menggalang dukungan publik, bagian dari cara untuk terus bertahan dan menjaga independensi. Cara salurkan bantuan bisa dicek pada tautan ini: https://floresa.co/dukung-kami

Terima kasih untuk kawan-kawan yang telah mendukung kami. Gabung juga di Grup WhatsApp pembaca kami dengan klik di sini atau di Channel WhatsApp dengan klik di sini.

ARTIKEL PERSPEKTIF LAINNYA

BANYAK DIBACA