Floresa.co – Bagi seorang jurnalis, informasi yang beredar tidak boleh langsung dipercaya sebagai kebenaran. Setiap kabar, apalagi yang masih berupa rumor, harus diperiksa, diuji, dan dipastikan melalui pencarian fakta sebelum ditulis dan disebarkan kepada publik.
Anno Susabun, jurnalis sekaligus editor Floresa menyampaikan hal itu di hadapan 335 siswa baru SMA Katolik St. Gregorius Reo, Kabupaten Manggarai, dalam sesi pelatihan jurnalistik pada 23 Juli.
Pelatihan yang berlangsung pukul 08.30–09.45 Wita itu merupakan bagian dari rangkaian Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Kegiatan tersebut berfokus pada materi jurnalistik dasar dan praktik jurnalisme sekolah.
“Seperti istilah ‘jurnalisme warga’, jurnalisme sekolah bisa berarti keterlibatan pelajar yang memiliki akses ke sebuah media untuk memberitakan atau menyebarkan informasi tentang suatu hal,” kata Anno.
Menurut dia, jurnalisme sekolah menjadi kebutuhan saat ini karena secara internal dapat mengembangkan kemampuan, bakat, dan kreativitas literasi siswa. Karya jurnalistik siswa, katanya, dapat dituangkan antara lain melalui majalah dinding atau situs web sekolah.
“Secara eksternal, pembelajaran jurnalisme juga penting di tengah ekosistem digital yang makin rumit dengan kehadiran artificial intelligence serta maraknya hoaks dan disinformasi,” katanya.
Selain itu, kata dia, para pelajar di Manggarai dan Flores pada umumnya perlu belajar jurnalisme di tengah situasi sosial yang semakin kompleks.
“Menulis berarti menyimpan dan mewariskan pengetahuan. Sehebat apa pun seseorang, jika tidak menulis, ilmunya akan sulit diwariskan kepada generasi berikutnya,” ujarnya.

Setia pada Fakta
Anno mengatakan, kesetiaan pada fakta merupakan landasan penting dalam kerja jurnalistik, mulai dari mengumpulkan, menulis, menyunting, hingga menyebarluaskan informasi kepada publik.
“Kesetiaan untuk mengabdi pada fakta berarti bahwa informasi yang kita tulis dan sebarkan harus lahir dari kenyataan, bukan sekadar bayangan, apalagi hasil karangan atau manipulasi,” katanya.
Prinsip lain yang berkaitan dengan hal itu, kata dia, adalah verifikasi atau memastikan kebenaran informasi.
“Namun, semuanya itu tentu harus lahir dari rasa ingin tahu dan sikap kritis untuk mempertanyakan apa pun yang belum jelas, mencurigakan, atau bahkan tidak adil,” katanya.
Ia mencontohkan rasa ingin tahu dan sikap kritis dalam konteks pembagian Makan Bergizi Gratis (MBG) di sekolah tersebut. Menurut dia, siswa perlu memeriksa kondisi makanan sebelum dimakan.
Anno juga menjelaskan sejumlah prinsip lain dalam jurnalisme sekolah, di antaranya berorientasi pada hal yang penting, menyajikan informasi secara lengkap, menggunakan bahasa yang lugas, serta terbuka pada kritik dan diskusi yang lebih luas terkait hal yang ditulis.
“Kalau kawan-kawan menjadi jurnalis sekolah, tulislah kegiatan yang penting, seperti prestasi siswa, kegiatan ekstrakurikuler, lomba, kegiatan sosial, atau program sekolah yang bermanfaat bagi banyak orang,” katanya.
Pada bagian akhir sesi, peserta berlatih menulis kalimat dan paragraf, kemudian menulis berita singkat selama 15 menit.

Respons Siswa
Dalam pelatihan tersebut, para siswa terlibat aktif merespons pertanyaan fasilitator, memberikan tanggapan, serta mengajukan pertanyaan.
Salah seorang peserta, Irimina Intania Eda, mengaku serius mengikuti pelatihan karena ingin mengetahui proses pembuatan berita yang selama ini hanya ia baca melalui berbagai media.
“Materi yang disampaikan mudah dipahami karena tidak hanya membahas teori, tetapi juga diperkaya dengan pengalaman narasumber selama bekerja sebagai jurnalis,” katanya.
Eda mengatakan, ia memperoleh pemahaman baru mengenai teknik penulisan berita, mulai dari menyusun fakta hingga memahami struktur dasar sebuah berita.
“Pelatihan tersebut menjadi motivasi untuk mulai membiasakan diri menulis dan mengembangkan kemampuan jurnalistik. Semoga ke depan kami bisa mengembangkan kemampuan menulis dan membuat berita melalui bimbingan teman-teman jurnalis,” ujarnya.
Peserta lainnya, Alexandro Given Bonito Ebot, mengatakan minatnya mengikuti pelatihan berawal dari kegemarannya menulis sejak lama.
“Saya tertarik mengikuti pelatihan ini agar mendapatkan banyak materi yang bermanfaat dan bisa lebih memahami dunia jurnalistik,” katanya.
Bagi Given, materi mengenai cara membedakan berita yang benar dengan informasi palsu menjadi bagian yang paling berkesan.
“Sekarang banyak orang menggunakan AI sehingga informasi palsu juga semakin mudah dibuat. Karena itu, kami harus lebih kritis dalam menerima informasi,” ujarnya.
Ia berharap pelatihan seperti ini dapat terus dilaksanakan sehingga semakin banyak siswa tertarik mendalami dunia jurnalistik.
“Semoga semakin banyak teman-teman yang tertarik menjadi jurnalis sekolah sehingga kami bisa bersama-sama mengembangkan media sekolah dan membagikan berbagai kegiatan yang ada di sini,” katanya.

Sementara itu, Kepala SMA Katolik St. Gregorius Reo, Romo Agustinus Sunday Cakputra, mengatakan pelatihan jurnalistik dipilih sebagai salah satu agenda MPLS untuk merespons rendahnya kemampuan literasi peserta didik.
“Hasil evaluasi pendidikan menunjukkan literasi dan numerasi masih menjadi tantangan sekolah. Karena itu, pelatihan jurnalistik diharapkan membantu meningkatkan kemampuan membaca, berpikir kritis, dan menulis siswa,” katanya.
Romo Sandy, sapaannya, mengatakan peserta didik saat ini lebih banyak mengonsumsi informasi dari media sosial tanpa memiliki kemampuan memverifikasi kebenarannya.
“Melalui pelatihan ini, siswa diperkenalkan pada prinsip-prinsip dasar jurnalisme agar mampu membedakan informasi yang benar dan keliru, sekaligus menjadi produsen informasi yang bertanggung jawab, bukan sekadar konsumen,” katanya.
Ia berharap siswa mampu menghasilkan karya jurnalistik yang akurat, mendalam, dan bermanfaat bagi masyarakat.
Menurut Romo Sandy, sekolah menggandeng Floresa sebagai mitra pelatihan karena media tersebut dinilai memiliki komitmen terhadap jurnalisme independen.
“Floresa konsisten mengangkat berbagai persoalan sosial, lingkungan, dan kemasyarakatan di Flores serta menjalankan kerja jurnalistik yang berpijak pada kepentingan publik,” katanya.
Independensi dan kualitas pemberitaan Floresa, katanya, menjadi contoh yang baik bagi siswa untuk belajar praktik jurnalistik yang berintegritas.
Ketua Panitia MPLS, Febrianus Hipolitus Nagut, mengatakan pelatihan jurnalistik menjadi langkah awal memperkuat jurnalisme sekolah sebagai media informasi, edukasi, dan dokumentasi.
“Siswa yang berminat akan difasilitasi mengikuti ekstrakurikuler jurnalistik untuk belajar memproduksi, mengelola, dan mempublikasikan berbagai karya jurnalistik dengan pendampingan guru pendamping,” katanya.
Ia berharap pelatihan jurnalistik menjadi program literasi berkelanjutan di sekolah itu sebagai wadah bagi siswa untuk berkarya sekaligus belajar bertanggung jawab dalam menyampaikan informasi.
Editor: Ryan Dagur



