Floresa.co — Di tengah perdebatan tentang proyek geotermal di Flores dan Lembata, suara ahli geologi menjadi salah satu bagian yang mendapat perhatian dalam Forum Geotermal Flores-Lembata di Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif (IFTK) Ledalero, Maumere, pada 23 Juli.
Penjelasan geologi muncul setelah sejumlah peserta forum menyampaikan kekhawatiran tentang dampak panas bumi terhadap lingkungan dan keselamatan warga.
Kekhawatiran itu berkaitan dengan gempa bumi, tanah longsor, keterbatasan air, bau gas, serta pengalaman warga di wilayah seperti Mataloko, Ulumbu, Sokoria, dan Atadei.
Dalam forum tersebut, Pakar Geologi Universitas Gadjah Mada, Pri Utami, dan akademisi Fakultas Sains dan Teknologi Undana, Noni Banunaek, memberikan penjelasan mengenai kondisi geologi, potensi panas bumi, keterbatasan daya dukung alam, serta perlunya pemahaman publik tentang ruang hidup.
Konteks: Kekhawatiran Warga dan Pertanyaan Gereja
Sebelum penjelasan ahli geologi, sejumlah imam dan perwakilan JPIC menyampaikan pertanyaan serta pengalaman warga terkait proyek geotermal.
Pater Laurens Woda dari JPIC SVD Ende mempertanyakan ketentuan AMDAL dalam proyek geotermal, terutama penjelasan bahwa eksplorasi tidak membutuhkan AMDAL, sementara eksploitasi baru memerlukan AMDAL.
Romo Yakobus Dionisius Migo, Sekretaris Keuskupan Maumere, juga menyinggung kondisi Flores yang menurut dia labil dan rentan.
Ia menyebut riwayat gempa bumi, erupsi gunung api, dan bencana lain sebagai bagian dari kekhawatiran terhadap proyek geotermal.
Di sisi lain, beberapa peserta forum menyampaikan pengalaman warga di Mataloko, Ulumbu, Sokoria, dan Lembata, antara lain soal atap rumah yang rusak, bau gas, air, jalan, konflik sosial, dan ruang adat.
Pri Utami: Daya Dukung Geologi Terbatas
Pri Utami mengatakan manusia perlu memahami ruang hidupnya sendiri. Menurut dia, pengelolaan ruang hidup tidak boleh melampaui daya dukung alam.
“Daya dukung alam, daya dukung geologi itu sangat terbatas, sementara kemauan manusia tidak terbatas,” katanya.
Pri mengatakan ahli geosains memiliki peran memberi pengertian kepada para pemangku kepentingan. Namun, ia menekankan bahwa pendidikan geologi tidak hanya menjadi tanggung jawab ahli geologi.
Menurut Pri, masyarakat perlu memahami kondisi tanah, sumber daya, bencana, dan potensi energi di wilayah masing-masing agar tidak panik ketika terjadi gempa bumi, tsunami, atau tanah longsor, serta dapat mencari penyebabnya secara lebih tepat.
Ia juga menyinggung pentingnya pemahaman tentang air. Pri menyebut konsep water sensitive city dan neraca air sebagai pengetahuan yang perlu diperhatikan di wilayah yang kondisi keairannya berbeda-beda.
“Kalau lagi tidak ada hujan, jangan sampai saya tidak minum. Kalau lagi hujan lebat, jangan sampai saya kena banjir,” katanya.
Menurut Pri, pengetahuan tentang air penting dibicarakan bersama isu energi, terutama di wilayah yang mengalami keterbatasan air seperti sejumlah daerah di Flores dan Lembata.
Geotermal, Gunung Api, dan Sistem Hidrotermal
Pri menjelaskan bahwa panas bumi tidak hanya berada di wilayah gunung api aktif. Menurut dia, panas bumi berasal dari panas bumi bagian dalam, mulai dari inti bumi hingga kerak bumi.
Di Indonesia dan sejumlah negara cincin api, panas bumi tampak melalui gunung api, fumarol, mata air panas, dan kolam lumpur.
Namun, menurut Pri, pengembangan panas bumi tidak dilakukan pada gunung api yang masih aktif secara historis.
Ia mengatakan sistem panas bumi vulkanik hidrotermal biasanya berada pada gunung api yang secara historis tidak aktif dalam catatan manusia, tetapi masih memiliki manifestasi panas bumi.
Pri juga menyebut bahwa potensi panas bumi tidak hanya berkaitan dengan gunung api. Menurut dia, di sejumlah wilayah yang tidak berhubungan langsung dengan gunung api, panas bumi tetap dapat ditemukan.
“Siapa yang bilang kita tidak ada energi? Ada,” katanya.
Menurut Pri, teknologi yang paling siap saat ini adalah teknologi konvensional seperti yang sudah berkembang di Sumatra, Jawa, dan wilayah lain. Ia menyebut Sokoria sebagai salah satu lapangan panas bumi yang menggunakan sistem biner.
Menjawab Kekhawatiran tentang Gempa
Dalam forum, isu gempa juga muncul karena sebagian peserta merujuk pada kasus Pohang, Korea Selatan, yang pernah dikaitkan dengan pengembangan panas bumi.
Pri Utami mengatakan kondisi geologi Pohang berbeda dengan lapangan-lapangan panas bumi di Indonesia.
Menurut dia, sistem yang dikembangkan di Pohang bukan sistem vulkanik hidrotermal alami seperti yang terdapat di Indonesia.
Ia menjelaskan bahwa di Pohang, sistem panas bumi dikembangkan pada batuan panas yang tidak memiliki air panas alami. Karena itu, injeksi dilakukan untuk memecah batuan pada kedalaman yang besar.
“Di Pohang itu mereka tidak punya sistem vulkanik hidrotermal yang secara nature punya air panas atau uap panas, tetapi mereka akan membuat suatu sistem panas bumi buatan,” katanya.
Menurut Pri, Indonesia berbeda karena banyak lapangan panas bumi memiliki batu panas dan air yang keluar secara alami.
Ia mengatakan injeksi di Pohang sering disalahpahami sebagai sama dengan injeksi dalam pengembangan panas bumi di Indonesia.
Pri juga menyebut bahwa lokasi Pohang berada pada zona reaktivasi gempa. Sementara itu, menurut dia, gempa di area panas bumi di Indonesia dan Selandia Baru umumnya berupa mikroseismisitas.
Ia mengatakan mikroseismisitas tidak selalu berkaitan dengan keberadaan sumur panas bumi karena gempa dapat terjadi di banyak tempat.
Emisi, Bau Gas, dan Perbandingan dengan Fosil
Pri juga menjelaskan bahwa bau telur busuk dapat muncul di area manifestasi panas bumi karena gas yang keluar dari sistem tersebut.
Namun, menurut dia, hal itu perlu dibahas bersama pengaturan lingkungan hidup, termasuk jarak aman dari area manifestasi seperti fumarol.
Ia membandingkan emisi pembangkit panas bumi dengan pembangkit berbahan bakar fosil.
Menurut Pri, emisi karbondioksida dari PLTP jauh lebih kecil dibandingkan pembangkit listrik tenaga batu bara, minyak, dan gas.
Ia juga menyebut bahwa abu terbang tidak muncul dari pembangkit panas bumi, sementara pembangkit batu bara menghasilkan partikel padat.
Dalam penjelasannya, Pri mengatakan energi baru terbarukan perlu dikembangkan, termasuk geotermal, tanpa menutup pembahasan atas dampak dan pengaturan lingkungannya.
Noni Banunaek: Pro-Kontra Muncul Setelah Warga Mengalami Dampak
Noni Banunaek dari Fakultas Sains dan Teknologi Undana mengatakan energi menjadi salah satu persoalan di NTT.
Ia menyebut harga bahan bakar yang terus naik dan ketergantungan pada pasokan dari luar daerah sebagai bagian dari konteks kebutuhan energi.
Menurut Noni, pro dan kontra geotermal sudah terjadi sebelumnya. Ia mengatakan pada awal berdirinya Mataloko, penolakan belum muncul seperti saat ini.
Namun, pro-kontra meningkat setelah masyarakat melihat dan mengaitkan sejumlah persoalan dengan kondisi geologi, gunung api, longsor, dan gempa.
Ia menyebut kegiatan Satgas sebelumnya pernah melihat persoalan di Mataloko.
Menurut Noni, ada pesan bahwa hal yang baik perlu diteruskan, hal yang kurang baik perlu diperbaiki, sedangkan hal yang tidak baik perlu dilihat bersama apakah masih bisa diperbaiki atau harus ditutup.
Noni mengatakan manifestasi di Mataloko perlu diperbaiki karena menjadi trauma bagi masyarakat. Ia juga menyebut usulan agar wilayah tersebut dapat dikembangkan sebagai geopark, sebagai ruang untuk belajar dan memperbaiki persoalan.
“Ke depan kita tidak boleh mengesampingkan masyarakat. Jadi masyarakat ini harus ada peran,” katanya.
Ilmu Geologi dan Pengalaman Warga
Dalam forum tersebut, penjelasan ahli geologi tidak berdiri sendiri.
Penjelasan itu disampaikan bersamaan dengan pengalaman warga dan pertanyaan dari tokoh Gereja, JPIC, pemerintah, pengembang, dan akademisi lain.
Otto Gusti Madung, Rektor IFTK Ledalero, mengatakan pengalaman warga seperti atap rumah yang cepat bocor, bau belerang, sawah rusak, dan munculnya asap lumpur panas perlu mendapat penjelasan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Menurut Otto, ilmu pengetahuan perlu dijelaskan kepada publik karena persetujuan terhadap proyek pembangunan bergantung pada apakah proyek itu masuk akal dan tidak melecehkan hak dasar warga.
Romo Evan dari Keuskupan Agung Ende juga mempertanyakan penggunaan contoh dari tempat lain sebagai pembanding bagi Flores.
Ia meminta dasar ilmiah yang menjadikan suatu tempat relevan dibandingkan dengan Flores, dengan memperhatikan konteks sosial, hidrologi, dan pengalaman masyarakat setempat.
Forum Geotermal Flores-Lembata di IFTK Ledalero mempertemukan pemerintah, PLN, pengembang, akademisi, tokoh Gereja, JPIC, dan perwakilan masyarakat di tengah perdebatan tentang implementasi proyek.
Editor: Ryan Dagur


