Floresa.co – Ketika Komunitas Fajar Sikka di Maumere mendampingi Masyarakat adat Nangahale yang rumahnya digusur pada 25 Januari 2025 dalam konflik agraria dengan PT Krisrama — korporasi milik Keuskupan Maumere — bukan klerus yang berdiri paling depan.
Yang hadir adalah anggota komunitas transpuan itu. Selain membawa bantuan logistik, mereka juga ikut menghibur anak-anak yang rumahnya hancur.
Bagi Pastor Venansius Nahak SVD, dosen Kitab Suci di Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif (IFTK) Ledalero, yang sudah lama dekat dengan komunitas ini, itu bukan paradoks.
Itu adalah suara kenabian — yang, seperti selalu terjadi dalam sejarah iman, lahir dari mereka yang paling akrab dengan pengalaman ditolak.
Dalam wawancara dengan Dominiko Djaga dari Floresa, Pastor Ve, sapaannya, berbicara tentang dokumen Gereja yang elitis, ketegangan antara toleransi dan penerimaan sejati, dan mengapa kehadiran kelompok waria justru mengganggu — dalam arti yang paling teologis.
Bagaimana awal Pater terhubung dengan Komunitas Fajar Sikka?
Waktu saya masih frater, saya bergabung dengan kelompok pendampingan Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) dan Kelompok Dukungan Sebaya yang didampingi Pater John Prior, SVD, dosen ITFK Ledalero (1946-2022). Di antara anggotanya, ada beberapa teman dari kelompok transpuan. Dari sanalah saya mengenal mereka.
Relasi itu berlanjut. Setelah saya bertugas ke Adonara dan kembali ke Maumere, saya bertemu lagi dengan teman-teman yang sama. Setelah menyelesaikan studi, hubungan kami mulai lebih intens — kami sering berdiskusi, syering tentang kegiatan mereka, termasuk lewat pertemuan daring.
Bagaimana Pater melihat dampak dokumen-dokumen Gereja terhadap kelompok marginal seperti teman-teman transpuan?
Dokumen Gereja itu sifatnya elitis. Beredar di kalangan terbatas, tidak populer, jarang menimbulkan diskusi luas. Kita baru benar-benar bersentuhan dengannya setelah studi teologi — itupun biasanya hanya didiskusikan di kalangan klerus dan calon imam.
Di situlah pendekatan Paus Fransiskus menjadi luar biasa. Ia tidak hanya mengeluarkan dokumen progresif — seperti Amoris Laetitia (2016) yang membuka ruang bagi situasi keluarga yang kompleks, atau Fiducia Supplicans (2023) yang memungkinkan pemberkatan bagi pasangan dalam situasi yang dianggap “tidak teratur” — tetapi hadir dengan cara yang membuat pesannya menjadi populer, terutama ketika wartawan bertanya langsung dan jawabannya beredar luas: “Siapakah saya ini sehingga berhak menghakimi mereka.”
Namun terlepas dari dokumen mana pun, bagi saya kacamata yang harus selalu dipakai adalah spirit dasar Kitab Suci: bahwa Allah Israel berpihak pada orang kecil, kelompok terpinggirkan. Yesus selalu berada di pihak mereka.
Kisah Hagar bagi saya adalah foto negatif dari seluruh sejarah Israel. Seorang budak perempuan Mesir, tinggal di rumah Abraham — dan pertanyaan retorisnya adalah: Allah akan berpihak pada siapa?
Kitab Suci menjawab dengan jelas: Tuhan berpihak pada Hagar. Ia memanggil namanya, hadir di padang gurun ketika Hagar merasa sendiri dan ditinggalkan. Sementara Abraham dan Sarah tidak pernah memanggil Hagar dengan namanya — hanya menyebutnya “hamba.” Pernyataan dasar Kitab Suci sangat tegas: Allah selalu bersama mereka yang dipinggirkan.
Di Maumere, teman-teman transpuan sudah cukup terafirmasi dalam pelayanan pastoral. Namun, apakah penerimaan itu sungguh menyentuh hal yang lebih personal dan substansial?
Ketegangan seperti itu akan tetap ada, karena ini adalah negosiasi dengan ideal-ideal Kristiani yang mempengaruhi bukan hanya masyarakat biasa, tetapi juga struktur institusi Gereja itu sendiri.
Isu ini belum didiskusikan secara serius di level teologi maupun sinode. Isu-isu dominan masih kemiskinan, human trafficking, kekerasan dalam rumah tangga, kekerasan seksual. Sementara kelompok rentan seperti teman-teman transpuan belum mendapat keberanian untuk dibicarakan secara terbuka.
Di kalangan klerus sendiri, masih terlihat keterpecahan antara yang pro dan kontra. Dan ini penting dibedakan: antara toleransi dan sikap afirmatif. Toleransi hanya soal koeksistensi — membiarkan mereka ada, hadir dalam pelayanan, tanpa sungguh-sungguh membicarakan pengalaman batin, kebutuhan pastoral, dan hak-hak personal mereka sebagai umat.
Tapi kita butuh proeksistensi — kehadiran yang sungguh-sungguh mendukung, yang menyentuh hal substansial. Kita belum sampai di situ.
Ketika Komunitas Fajar Sikka berdiri bersama warga Nangahale dan berseberangan dengan PT Krisrama — institusi milik Keuskupan — apa artinya itu menurut Pater?
Yang paling jelas terlihat adalah bahwa intuisi keberpihakan itu sering datang dari mereka yang pernah mengalami kerentanan yang sama. Teman-teman waria sudah terbiasa hidup di kelompok marginal. Mereka lebih mudah merasa senasib dengan mereka yang juga mengalami penderitaan.

Di satu sisi kita melihat kelompok waria berdiri di tebing jurang bersama korban penggusuran. Di sisi lain, ada kelompok dengan label Katolik — termasuk sebuah forum orang muda yang melaporkan Cece Geliting, salah satu anggota Fajar Sikka, ke pihak berwajib atas kritiknya di media sosial — yang justru berseberangan dengan mereka. Bisa jadi kelompok yang kontra itu mewakili suara institusional — tapi bukan suara kenabian.
Yang mewakili suara kenabian justru kaum marginal ini. Pilihan mereka untuk pergi mendampingi anak-anak di Nangahale lahir dari panggilan yang sangat manusiawi: untuk ada bersama orang-orang kecil yang menjadi korban.
Mereka pergi bukan dengan kerangka teologis yang diformulasikan — bukan karena sedang melaksanakan sepuluh perintah Allah atau menjalankan perintah Injil secara sadar. Yang mempertemukan dua kelompok rentan ini adalah perasaan senasib. Solidaritas. Karena mereka tahu rasanya dipinggirkan, mereka tahu rasanya menderita — dan ketika membaca berita tentang Nangahale, mereka pergi.
Dan itu, justru, adalah Injil yang hidup.
Kehadiran teman-teman waria mengganggu — dalam arti yang paling serius secara teologis. Yesus dibunuh karena Ia mengganggu kemapanan teologi dan tradisi (para imam kepala dan ahli Taurat merasa otoritas mereka diguncang oleh cara Yesus berbicara tentang Allah dan berpihak pada yang tersingkir).
Teologi tidak lahir dari kenyamanan. Ia lahir dari gangguan. Dan teman-teman waria menghadirkan gangguan itu — supaya kita berpikir lebih serius tentang siapa Tuhan yang kita imani, dan di pihak siapa Ia berdiri.
Artikel ini merupakan bagian dari kolaborasi liputan Jurnalisme Ramah Gender dan Seksualitas antara Floresa dengan Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK) dan Koalisi Rawat Hak Dasar Kita.
Editor: Ryan Dagur


