Perempuan Flores Timur Bertahan di Bawah Bayang-Bayang Erupsi Lewotobi Laki-Laki

Setelah erupsi November 2024 yang menewaskan sembilan orang dan memaksa lebih dari 13.000 jiwa mengungsi, perempuan-perempuan yang menggantungkan hidup dari kebun dan pasar berupaya mencari jalan untuk bertahan, sementara hunian tetap yang dijanjikan pemerintah belum juga terwujud.

Floresa.co – Maria Marni Belang tidak beranjak ketika rekan-rekannya mulai berkemas.

Perempuan 46 tahun itu tetap duduk di lapaknya di Pasar Boru, Kecamatan Wulanggitang, Kabupaten Flores Timur sambil terus menawarkan ikan segar, cumi-cumi, dan buah bidara kering di bawah terik matahari.

Di kejauhan, pada 8 Juni itu, Gunung Lewotobi Laki-Laki kembali menyemburkan abu — cukup untuk mengosongkan separuh pasar dalam hitungan menit.

“Bukan karena saya tidak takut,” katanya. “Tetapi kami tidak punya pilihan lain selain mencoba bertahan.”

Alasan Marni bertahan bukan sekadar soal perut hari ini. Anak ketiganya kuliah di luar kota dan butuh uang registrasi. Tidak ada waktu untuk menunggu gunung tenang.

Gunung yang Tidak Pernah Benar-Benar Berhenti

Lewotobi Laki-Laki adalah bagian dari gunung berapi kembar yang berdiri di Kecamatan Wulanggitang, Kabupaten Flores Timur. Setinggi 1.584 meter di atas permukaan laut, gunung ini memiliki sejarah erupsi yang panjang — tercatat meletus pada 1861, 1865, 1909, 1910, dan sejumlah tahun berikutnya sepanjang abad ke-20.

Namun tidak ada yang mempersiapkan warga untuk apa yang terjadi pada 4 November 2024. Erupsi dahsyat pada malam itu menewaskan sembilan orang, salah satunya adalah biarawati Katolik Suster Nikolin Padjo, SSpS, 59 tahun, yang meninggal karena lontaran lava pijar jatuh tepat di kamarnya.

Populasi jiwa terdampak mencakup 2.734 kepala keluarga atau sekitar 10.295 jiwa. Pemerintah menetapkan masa tanggap darurat selama 58 hari, terhitung sejak 4 November hingga 31 Desember 2024. Pada puncaknya, jumlah pengungsi yang tercatat oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Flores Timur mencapai 13.116 jiwa.

Erupsi itu juga memaksa peta kawasan rawan bencana direvisi ulang. Badan Geologi menyatakan data lapangan dari letusan November 2024 mengharuskan perubahan pada Peta Kawasan Rawan Bencana zona 1, 2, dan 3.

Gunung itu tidak pernah kembali tenang. Pada 13 Februari 2025, Badan Geologi menaikkan statusnya ke Level IV atau Awas — level tertinggi dalam skala pemantauan vulkanik Indonesia.

Erupsi besar kembali terjadi pada 20 Maret 2025, menyebabkan dua warga mengalami luka bakar dan dirawat intensif di Rumah Sakit Umum dr. Fernandez Larantuka. Hingga 16 Agustus 2025, Lewotobi Laki-Laki telah erupsi sebanyak 1.340 kali sejak 3 November 2024, dengan delapan di antaranya berskala besar.

Seorang anak sedang melihat sebaran abu vulkanik dari letusan gunung berapi Lewotobi Laki-Laki di Desa Kringa, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka pada 8 Juni 2026.(Dokumentasi Floresa/Maria Margaretha Holo)

Tujuh Kilometer dari Kawah

Pasar Boru berdiri sekitar tujuh kilometer dari puncak Lewotobi Laki-Laki. Jarak itu cukup dekat untuk membuat abu vulkanik menyelimuti lapak-lapak, tetapi tidak cukup jauh untuk membuat para pedagang berhenti datang.

Pada 8 Juni, PVMBG mencatat 11 kali erupsi dalam sehari. Angka itu naik menjadi 14 kali pada 9 Juni, 13 kali pada 10 Juni, dan 17 kali pada 11 Juni. Kolom abu kelabu tebal bergerak condong ke barat dan barat laut.

“Saat ini, Gunung Api Lewotobi Laki-Laki berada di Level III atau Siaga, sehingga kami merekomendasikan masyarakat agar tidak melakukan aktivitas apapun dalam radius 5 kilometer dari pusat erupsi,” kata Herman Yosef Tobi, petugas pos pemantau, pada 11 Juni.

Meski begitu, Marni datang dan tetap bertahan di Pasar Boru. Penghasilannya hari itu hanya Rp400 ribu — separuh dari hari-hari ramai yang bisa menembus Rp1 juta.

“Hari ini saya hanya kembali modal. Tapi tidak apa-apa, ikan yang belum terjual nanti saya jemur, lalu dijual lagi.”

Marni adalah penyintas dari Desa Nobo, Kecamatan Ilebura — salah satu dari enam desa yang paling terdampak, berjarak hanya 4,9 kilometer dari puncak. Seperti ratusan warga lain, saat erupsi pada November 2024, ia dievakuasi ke posko pengungsian di Desa Konga, lalu direlokasi ke hunian tetap di Kuhe dan Kureng. Namun, hunian tetap itu tidak memberi banyak pegangan.

“Semua serba terbatas, tak ada yang bisa diandalkan, bahkan bantuan pemerintah sekalipun,” katanya.

“Bantuan dari pemerintah tidak selamanya ada, jadi kami harus cari jalan sendiri.”

Yang ia maksud dengan “jalan sendiri”: berjalan kaki pulang-pergi ke Nobo setiap hari untuk mengurus kebun dan ternak, mengambil ubi dan sayuran.

Sejak pertengahan 2025, ia dan beberapa warga mulai memberanikan diri menginap di sana. Setiap Senin, ia ke Pasar Boru. Setiap hari, ia mengumpulkan buah bidara. Bersama suaminya, ia membuat batu merah.

Suaminya bekerja di kantor desa — yang berarti mereka tidak mendapat bantuan biaya sekolah anak-anak dari pemerintah.

“Saya harus cari jalan seperti ini supaya nasib anak-anak saya baik,” katanya.

Melewati Kawasan Rawan Demi Lapak Sayur

Untuk mencapai Pasar Boru, Maha Rotan harus melintasi dua titik yang masuk dalam peta risiko bencana: Desa Nawokote (radius 4,8 km dari puncak) dan Dusun Podor, Desa Boru (5,1 km). Keduanya berpotensi terdampak awan panas, aliran lava, dan banjir lahar.

Pedagang sayur dari Desa Ojan Detun, Kecamatan Wulanggitang, ini tidak menyembunyikan kewaspadaannya.

Setiap pagi sebelum berangkat, ia membuka media sosial, memantau unggahan terbaru dari pos pemantau Lewotobi Laki-Laki.

“Kalau dari tempat kami, dampak abu vulkanik jarang kami rasakan. Tetapi, untuk sampai ke Boru, kami juga perlu waspada,” katanya.

Ia tahu kapan harus berhenti. “Kalau aktivitasnya terus naik, pemerintah pasti akan membatasi kami untuk bepergian, baik ke pasar, ke Larantuka, maupun ke Maumere.”

Sampai saat itu tiba, ia tetap datang ke Pasar Boru.

“Kami Bahkan Minum Air Berpasir”

Dampak erupsi menjangkau lebih jauh dari kaki gunung. Di Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, setidaknya empat desa tertutup abu vulkanik dalam dua pekan terakhir: Hikong, Udek Duen, Timutawa, dan Kringa.

Rosalia Irda, warga Desa Kringa, berbicara dengan nada yang sudah lama belajar untuk tidak berharap terlalu besar.

“Erupsi tahun lalu sebenarnya masih membekas hingga saat ini.”

Rosalia Irda, warga Desa Kringa, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka (Dokumentasi Floresa)

Letusan besar 2024 terjadi tepat ketika jambu mete dan kopi mulai berbunga. Bunga-bunga itu mengering sebelum sempat menjadi buah. Yang tersisa tidak layak jual.

Data Dinas Perkebunan dan Peternakan Flores Timur menunjukkan total tanaman perkebunan yang terdampak dan rusak akibat erupsi mencapai 123,26 hektar.

Bagi keluarga-keluarga yang menggantungkan hidup dari kebun, angka itu bukan statistik — itu satu tahun yang hilang.

“Kami tidak sempat panen karena bijinya rusak dan tidak sehat. Pembeli tidak mau terima,” kata Rosalia.

Akibatnya, banyak keluarga di desanya kesulitan membayar biaya sekolah anak. Ada yang memilih pergi merantau. Ada yang bertahan — tidur di kamar yang tergenang air saat hujan karena tidak mampu mengganti atap yang rusak.

“Untuk beli atap seng pengganti saja susah. Jadi saat musim hujan, kami hanya pasrah.”

Ia dan suaminya baru bisa mengganti sebagian atap pada Maret lalu. Tahun sebelumnya, kondisinya jauh lebih berat.

“Kami bahkan terpaksa mengonsumsi air yang tercampur abu dan pasir vulkanik. Bantuan air dari pemerintah memang ada, tetapi tidak setiap hari, sementara kebutuhan rumah tangga terus berjalan.”

Ia masih merawat kebunnya. Bukan karena optimis, tetapi karena itulah satu-satunya yang tersisa.

“Kita tetap berharap tahun ini berjalan lebih baik dari tahun lalu.”

Bunga jambu mete yang kering akibat diterpa material vulkanik dari gunung berapi Lewotobi Laki-Laki (Dokumentasi Floresa 2025)

Janji Relokasi yang Berlarut-Larut

Di balik keseharian para perempuan yang bertahan di pasar dan kebun, ada janji besar yang belum terpenuhi: hunian tetap.

Sejak erupsi November 2024, pemerintah pusat berulang kali menegaskan komitmen relokasi. Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Pratikno memimpin rapat lintas kementerian untuk membahas mekanisme pemulihan warga, dengan menyatakan bahwa renovasi rumah, relokasi mandiri, pembangunan hunian sementara, dan hunian tetap akan dilakukan secara bersamaan. Kepala BNPB, Suharyanto mengungkapkan ada 2.209 kepala keluarga yang perlu direlokasi.

Namun hampir dua tahun setelah letusan besar itu, per Maret 2025 masih ada sekitar 4.000 warga yang mengungsi, dengan 250 keluarga menempati hunian sementara (huntara) yang dibangun pemerintah dan 469 keluarga lainnya mengungsi mandiri dengan bantuan dana tunggu hunian.

Lokasi hunian tetap pertama yang direncanakan di Noboleto sempat diumumkan sebagai prioritas, namun prosesnya tidak mulus.

Wakil Bupati Flores Timur Ignasius Boli Uran mengakui pembangunan memakan waktu panjang karena kurangnya dukungan masyarakat, dan menegaskan keterlambatan bukan semata-mata kelambanan pemerintah daerah. Belakangan, beredar kabar bahwa rencana di Noboleto itu batal.

Penyintas asal Desa Klatanlo, Yosep Boli Lamak, berkata ketidakpastian ini membuat warga kecewa. Utang yang tak kunjung dibayar, biaya anak sekolah, dan kebutuhan keluarga menjadi beban yang harus terus dipikul.

Warga di posko pengungsian menyampaikan langsung kepada Wakil Gubernur NTT, Johanis Asadoma saat berkunjung ke Posko Bokang Wolomatang pada Juli 2025, bahwa komoditi pertanian mereka — kakao, kemiri, kelapa — sudah tidak bisa lagi diandalkan. Asadoma berjanji akan mendiskusikan aspirasi tersebut dengan pemerintah provinsi dan pusat, namun tidak memberikan kepastian konkret.

Menjelang akhir 2025, masalah lain muncul: huntara di Desa Konga terendam banjir dan atap tenda pos lapangan bocor akibat peningkatan curah hujan. Para penyintas menagih janji Pemerintah Kabupaten Flores Timur untuk memperbaiki kondisi tersebut.

Sampai Juni 2026, proses pembangunan hunian tetap masih dalam tahap koordinasi antar-kementerian

Di Kabupaten Sikka, respons terhadap dampak abu vulkanik yang kembali menyelimuti empat desa di Kecamatan Talibura lebih terbatas.

Pelaksana Tugas Kepala BPBD Kabupaten Sikka, Petrus Poling Wairmahing mengklaim pihaknya telah turun langsung ke lokasi.

“Untuk sementara, debu dari gunung masih tipis dan aktivitas masyarakat masih berjalan seperti biasa,” katanya kepada Floresa pada 12 Juni. 

Sebagai langkah antisipasi, katanya, pihaknya telah membagikan masker kepada warga.

Bagi Rosalia dan perempuan-perempuan di Kringa yang sudah setahun lebih menopang keluarga dari kebun yang rusak, kata-kata itu terdengar jauh.

Suasana Pasar Tradisional Boru pada Senin, 8 Juni 2026 (Dokumentasi Floresa/Maria Margaretha Holo)

Di Pasar Boru, Lewotobi Laki-Laki masih tampak mengepulkan asap ketika Marni membereskan sisa dagangannya. 

Ikan yang tidak terjual akan dijemur. Setiap Senin, ia mengaku akan datang lagi.

Setelah selama hampir dua tahun ini menghidupi keluarga di antara abu vulkanik dan janji pemerintah yang berlarut-larut, ia hanya berharap “aktivitas gunung ini reda supaya kita bisa cari jalan untuk hidup.”

Editor: Ryan Dagur

Dukung Kami

Ada cerita yang terlalu berisiko untuk diberitakan, korban yang terlalu lemah untuk didengar, dan mereka yang terlalu berkuasa untuk disentuh.
Floresa memilih memberi perhatian pada semua itu. Kami tidak bergantung pada iklan korporasi atau kepentingan politik. Independensi kami dibiayai oleh pembaca yang percaya bahwa kebenaran harus diungkap tanpa kompromi.
Dukung kami untuk terus bertahan. Caranya bisa cek di sini

BACA JUGA