Manfaatkan Fleksibilitas Kurikulum Merdeka, SMP Negeri di Sabu Raijua Adakan Kegiatan Belajar Mengajar di Luar Ruang Kelas

Kurikulum Merdeka memungkinkan siswa untuk tidak hanya belajar terkait mata pelajaran dan sumber belajar bisa ada di mana saja, kata guru

Guru dan siswa salah satu memanfaatkan fleksibilitas dengan mengadakan kegiatan belajar-mengajar di luar ruang kelas selama sepekan.

Kegiatan belajar-mengajar yang melibatkan para guru dan siswa kelas VII SMPN 2 Hawu Mehara itu merupakan bagian dari implementasi Ko-kurikuler Projek Penguatan Profil Pelajar [P5]. 

Jefrianus Kolimo, Koordinator P5 sekaligus Urusan Kurikulum yang berbicara kepada Floresa pada 23 Mei mengatakan di dalam struktur Kurikulum Merdeka untuk jenjang SMP, ada tujuh tema yang direkomendasikan untuk diimplementasikan dalam kegiatan P5, yaitu Gaya Hidup Berkelanjutan, Kearifan Lokal, Bineka Tunggal Ika, Bangunlah Jiwa dan Raganya, Suara , Rekayasa dan Teknologi serta Kewirausahaan. 

Dalam satu tahun pelajaran, kata dia, masing-masing sekolah bebas memilih dari tujuh tema tersebut untuk diimplementasikan dalam kegiatan P5.

Ia berkata dalam kegiatan terbaru, yang berlangsung pada 13-18 Mei, pihaknya memilih tema “Kewirausahaan” di mana siswa diajarkan guru membuat beragam  produk atau olahan makanan untuk selanjutnya  didagangkan di lingkungan sekolah. 

Produk yang dihasilkan, katanya, sayur toge, keripik pisang, tahu isi, es kelapa dan pisang goreng.

“Ini adalah kegiatan P5 ketiga yang direncanakan dalam Tahun Ajaran 2023/2024. Kegiatan ini merupakan hasil dari kesepakatan dalam rapat bersama antara  dewan guru dan kepala sekolah yang merujuk pada perubahan Kurikulum Merdeka,” katanya. 

Jefrianus berkata pada kegiatan pertama yang berlangsung pada  14-21  Oktober 2023, pihaknya memilih tema “Kearifan Lokal.” 

Setelah membagi Lembar Kerja Didik, guru menugaskan siswa mewawancarai masyarakat untuk menelusuri, mengetahui dan mendengarkan secara langsung terkait sejarah, tujuan dan hal lainnya yang berkaitan dengan Tarian Haba Ko'o Rai.

Salah satu tarian khas Sabu Raijua ini biasa dipentaskan pada persiapan musim tanam, menggunakan properti nyiru berisi kacang hijau dan sorgum, bibit tanaman untuk musim baru.

“Siswa juga diwajibkan menuliskan nama narasumber sebagai bagian dari pertanggungjawaban projek yang sudah dilakukan,” ungkapnya.

Ia mengatakan siswa juga diajarkan untuk membuat Kerigi Da', salah satu alat utama yang dipakai dalam tarian Haba Ko'o Rai. 

Sayangnya, kata dia, berdasarkan observasi, dari jenjang kelas VII-IX, “tidak ada satupun siswa yang dapat menganyam Kerigi Da'i.”

Merespons hal itu, sekolah menghadirkan Tabita Kore, warga Desa Raedewa, Kecamatan Sabu Barat sebagai narasumber kegiatan itu.

Jefrianus mengatakan pada kegiatan kedua yang berlangsung pada tanggal 5-10 Februari, sekolah memilih tema “Gaya Hidup Berkelanjutan.” 

“Tema ini berkaitan erat dengan alam. Sebab alam bukan hanya untuk dinikmati hari ini. Alam harus dirawat untuk keberlanjutannya di masa depan.”

Ia mengatakan dalam kegiatan itu, pembelajaran dimulai dengan pembersihan dan penyiapan lahan, menyiapkan pupuk [humus], membuat atau mengikat pagar hingga berakhir pada penanaman dan perawatan tanaman. 

Tanamannya mencakup tanaman jangka panjang dan pendek, seperti pisang, mangga, pepaya, bumbu dapur dan sayur-sayuran.

“Tanaman disiapkan dari rumah dan ditanam di kebun sekolah,” ungkapnya.

Para siswa kelas VII belajar menganyam Kerigi Da'i, salah satu alat utama yang dipakai dalam tarian Haba Ko'o Rai. Siswa belajar langsung dari Tabita Kore, warga Desa Raedewa, Kecamatan Sabu Barat. (Dokumentasi Jefrianus Kolimo)

Jefrianus berkata, Kurikulum Merdeka yang saat ini mulai dipraktikan di sekolah memungkinkan siswa untuk “tidak hanya belajar terkait mata pelajaran dan sumber belajar itu bisa ada di mana saja.”

Karena itu, kata dia, selama sepekan, siswa tidak lagi belajar mata pelajaran seperti Matematika,  IPA, IPS dan lainnya tetapi “mereka juga belajar hal lain di luar itu.”

Lantaran baru dimulai dilaksanakan, kegiatan P5 di SMPN 2 Hawu Mehara hanya melibatkan guru dan siswa kelas VII, sementara kelas VII dan IX belajar seperti biasa di dalam ruangan.

“Karena pilihan Kurikulum Merdeka di sekolah kami adalah mandiri belajar, maka untuk P5 saat ini hanya untuk siswa kelas VII. Ini juga sebagai pembelajaran di sekolah kami dalam menyambut Kurikulum Merdeka sebagai kurikulum  nasional,” katanya.

Editor: Herry Kabut

Artikel ini terbit di halaman khusus KoLiterAksi. Jika Anda adalah pelajar, mahasiswa, guru, dosen, pemerhati pendidikan ataupun masyarakat umum dan tertarik menulis di sini, silahkan kirimi kami artikel. Ketentuannya bisa dicek dengan klik di sini!

Silahkan gabung juga di Grup WhatsApp KoLiterAksi, tempat kami berbagi informasi-informasi terbaru. Kawan-kawan bisa langsung klik di sini.

Artikel Terbaru

Banyak Dibaca

Baca Juga Artikel Lainnya