Oleh: Melki Deni
Saya membaca esai Adriani Miming, Mau Jatuh Cinta, Hidup Sudah Menguras Tenaga, yang diterbitkan Floresa pada 2 November 2026, dalam perjalanan pagi menuju kampus di Madrid, Spanyol. Esai itu mengajak kita melihat bahwa cinta tidak berlangsung di ruang hampa: kerja, kebutuhan hidup, dan tuntutan ekonomi ikut menentukan tenaga yang tersisa untuk saling hadir.
Saya mengenal Adriani. Pada Juni 2024, kami sempat menikmati kopi di kantin dekat kampus Universitas Katolik St. Paulus Ruteng. Kami berbincang tentang proyek geotermal di Poco Leok, Kecamatan Satar Mese, Kabupaten Manggarai, serta tanggapan Gereja setempat.
Percakapan itu menjadi latar personal bagi respons saya. Konflik di Poco Leok memperlihatkan pengurasan tenaga masyarakat dan para pejuang seperti Adriani. Melalui esainya, persoalan pengurasan itu dibawa ke wilayah yang lebih intim: hubungan cinta dan kehidupan keluarga.
Saya ingin menyambut pembacaan tersebut, sekaligus melengkapinya dengan dua pertanyaan: bagaimana beban adat di Flores ikut membentuk persoalan ini, dan sejauh mana keputusan untuk tidak atau belum menikah juga merupakan pilihan yang otonom?
Yang Penting dari Pembacaan Adriani
Kekuatan utama esai Adriani ialah menghubungkan ekonomi makro dengan ruang privat. Nilai tukar rupiah, inflasi, dan kapitalisme global tidak berhenti pada angka; pengaruhnya dapat menjangkau ongkos berkencan serta keputusan membangun keluarga.
Kerangka Michel Foucault dalam El nacimiento de la biopolítica (2007) membantu membaca hubungan ini: rasionalitas neoliberal membentuk individu sebagai homo oeconomicus, sehingga logika efisiensi ikut memasuki pilihan yang paling personal. Dalam pembacaan saya, Adriani menunjukkan bagaimana logika itu dapat menyusup ke dalam keintiman.
Kekuatan berikutnya terletak pada perluasan makna pengurasan. Adriani menghubungkan ekstraksi fisik atas Bumi Flores dengan terkurasnya energi psikologis dan emosional manusia.
Istilah ekstraktivisme konvensional, neo-ekstraktivisme, dan agro-ekstraktivisme dari Eduardo Gudynas dalam Extractivismos: Ecología, economía y política de un modo de entender el desarrollo y la Naturaleza (2015) membantu menempatkan pengurasan itu dalam konteks yang lebih luas.
Namun, titik penting esai Adriani bagi saya adalah akibatnya pada kehidupan sehari-hari: setelah bekerja, seberapa banyak tenaga yang masih tersedia untuk merawat hubungan?
Pertanyaan itu dapat diperdalam melalui Byung-Chul Han dalam La sociedad del cansancio (2025). Subjek pencapaian merasa bebas, tetapi justru terus mengeksploitasi diri. Iklan, aplikasi, mode, dan beragam dorongan konsumsi ikut mempertahankan tuntutan untuk selalu berhasil.
Semboyan “mapan dulu baru menikah”, dalam kerangka ini, dapat berubah dari persiapan yang wajar menjadi tuntutan bekerja tanpa batas.
Di sinilah saya sejalan dengan Adriani: kelelahan bukan hanya urusan tubuh di tempat kerja. Ketika seluruh tenaga dihabiskan untuk mengejar pencapaian, hubungan afektif kehilangan waktu dan perhatian yang dibutuhkan. Cinta tidak otomatis hilang, tetapi kemampuan untuk merawatnya dapat terdesak.
Persoalan tenaga yang tersisa untuk keluarga dapat dibaca bersama Arlie Russell Hochschild dalam La doble jornada: Familias trabajadoras y la revolución en el hogar (2021). Tuntutan kerja menguras energi fisik dan mental, sehingga seseorang dapat mengalami kebangkrutan emosional (emotional bankruptcy) ketika kembali ke rumah.
Sementara itu, Byung-Chul Han dalam La agonía del Eros (2025) mengaitkan krisis cinta dengan runtuhnya pengalaman akan Yang-Lain (the Other) di tengah narsisme kolektif dan “neraka keseragaman”.
Kedua kerangka ini membantu memperdalam pembacaan Adriani tentang kelelahan dan kesulitan mempertahankan hubungan.
Kerangka Nancy Fraser dalam Contradictions of Capital and Care (2019), sebagaimana disebut Adriani, memberi landasan untuk membedah krisis reproduksi sosial. Kapitalisme mendorong akumulasi modal dengan memeras kapasitas kerja manusia, tetapi sekaligus merusak kondisi sosial dan emosional yang diperlukan untuk mempertahankan kehidupan.
Adriani menjelaskan: “pekerjaannya sebetulnya akrab: mengasuh anak, mengurus rumah tangga, dan merawat keluarga. Semua itu membuat orang bisa terus hidup dan bekerja. Sebagian besar kerja ini tidak dibayar dan secara historis banyak dibebankan kepada perempuan.”
Mark Fisher dalam Realismo capitalista: ¿No hay alternativa? (2016) membantu menjelaskan mengapa tekanan tersebut sering ditanggung sebagai rasa bersalah pribadi.
Kegagalan mencapai hidup layak dipandang sebagai kegagalan moral individu. Pertanyaan beruntun—sudah bekerja, kapan menikah, kapan punya anak—dapat memperkuat tekanan itu. Pembacaan ini mendukung arah esai Adriani: kesulitan membangun rumah tangga tidak cukup dijelaskan sebagai kurangnya usaha seseorang.
Adriani juga mengingatkan bahwa ongkos kehadiran tidak boleh menjadi ukuran cinta. Ia menulis: “ketika harga hadiah dijadikan ukuran besarnya perasaan atau kuatnya cinta. Seseorang bisa merasa sedang diuji daya belinya, bukan cara ia memperlakukan pasangan.”
Kritik ini sejalan dengan Eva Illouz dalam El consumo de la utopía romántica (2009), tentang keintiman yang terikat ritual konsumsi. Gambaran cinta yang cair dan rapuh dalam Amor líquido karya Zygmunt Bauman turut memperjelas risiko ketika komitmen diperlakukan seperti investasi.
Selain tenaga dan ongkos, hubungan membutuhkan waktu yang tidak seluruhnya tunduk pada produksi. Dalam La desaparición de los rituales (2023), Byung-Chul Han menekankan arti jeda, waktu kontemplatif, dan ritme berulang bagi komunitas.
Kerangka ini membantu memperjelas pesan Adriani: keluarga membutuhkan waktu untuk dihuni, bukan sekadar alamat untuk kembali setelah bekerja.
Karena itu, saya membaca esai Adriani sebagai ajakan mempertahankan daya merawat. “Hidup bersama”, tulisnya, “bukan hanya menyatukan alamat, melainkan juga membagi pekerjaan dan tanggung jawab yang ada di dalamnya.”
Pernyataan ini menjadi pijakan penting bagi respons saya: persoalan cinta bukan hanya kemampuan membayar kebutuhan, tetapi juga pembagian beban dan kesempatan untuk hadir.
Melengkapi Analisis dengan Konteks Flores
Apresiasi itu tidak menutup kebutuhan untuk memperjelas jalur pengaruh ekonomi terhadap keputusan pribadi.
Adriani sudah mengakui bahwa fluktuasi nilai tukar tidak otomatis menyebabkan penundaan pernikahan. Karena itu, catatan saya bukanlah menolak metafora kurs dolar yang “duduk di meja kencan”, melainkan meminta agar faktor-faktor perantaranya lebih terlihat.
Kerangka Giorgio Agamben dalam El uso de los cuerpos (2018) dapat dipakai sebagai pengingat untuk tidak menyederhanakan penataan keintiman menjadi persoalan moneter semata.
Dalam konteks Flores, salah satu faktor yang perlu diperiksa ialah tuntutan sosial dan adat. Di sinilah saya ingin melengkapi esai Adriani.
Data makro-nasional, seperti data BPS dan Kemenag, membantu menggambarkan persoalan umum, tetapi belum cukup untuk menjelaskan seluruh pengalaman lokal. Belis atau mahar adat, biaya pesta, dan kewenangan tokoh adat perlu masuk ke dalam pembicaraan tentang tenaga serta biaya sebelum menikah.
Michel Foucault dalam Microfísica del poder (2025) menyediakan kerangka untuk membaca “teknologi politik” lokal: praktik kekuasaan yang bekerja dalam kehidupan sehari-hari, bukan hanya melalui struktur ekonomi besar.
Pengalaman Flores memperlihatkan bagaimana berbagai beban itu dapat saling bertaut. Pengurasan Ibu Bumi berjalan bersama terkurasnya tenaga fisik dan psikis manusia. Dalam situasi tersebut, tekanan terhadap hubungan keluarga tidak berdiri sendiri, tetapi berkaitan dengan kondisi hidup masyarakat, khususnya di Manggarai Raya.
Masyarakat didorong mengikuti tren konsumsi dan terus membeli barang, sementara isi bumi—tempat mereka menggantungkan hidup—diserahkan untuk dieksploitasi. Dorongan konsumsi itu tidak selalu diimbangi kemampuan ekonomi yang memadai.
Masyarakat didorong untuk terus berbelanja, sementara hasil pangan mereka dibeli dengan harga murah. Belum lagi praktik perantara yang membeli murah dari produsen, lalu menjualnya dengan harga tinggi kepada penadah. Jalan raya dan fasilitas umum pun kurang diperhatikan.
Untuk memperoleh sedikit tambahan upah lembur, masyarakat harus memperpanjang jam kerja, tanpa jaminan kesehatan dan keselamatan yang memadai. Pengalaman keluarga dan kerabat dapat menjadi titik berangkat untuk membaca tekanan ini.
Hubungannya dengan esai Adriani jelas: tenaga yang terkuras untuk bertahan hidup mengurangi ruang untuk merawat relasi.
Namun, tekanan tidak hanya datang dari pekerjaan. Kebiasaan pesta—yang perlu dibedakan dari keseluruhan budaya itu sendiri—juga layak dipersoalkan. Bebannya dapat berupa resepsi mewah saat Sambut Baru atau Komuni Pertama, pesta syukuran tahbisan imam yang melibatkan keluarga besar dan komunitas, serta tuntutan perkawinan adat. Bagi calon pasangan, tuntutan semacam ini menambah beban di luar kebutuhan dasar membangun rumah tangga.
Beban tersebut menjadi lebih berat ketika berkelindan dengan pengangguran, putus sekolah, atau perantauan yang tidak menjamin keamanan hidup. Perempuan yang ditinggalkan saat hamil atau setelah melahirkan juga menghadapi ketimpangan tanggung jawab. Persoalan terakhir ini mengingatkan kembali pada penekanan Adriani tentang pembagian kerja perawatan.
Maka, ukuran yang perlu kita tanyakan bukan hanya seberapa meriah pesta atau seberapa lengkap ritualnya. Apakah semua itu membantu pasangan membangun ketahanan, kesetiaan, dan pembagian tanggung jawab? Pertanyaan ini membawa kritik terhadap beban adat kembali ke pokok esai Adriani: kondisi yang memungkinkan orang merawat kehidupan bersama.
Kewenangan sebagian tetua dan tokoh adat juga perlu dibaca dalam kerangka tersebut. Ketika kewenangan disandarkan pada klaim mewakili Empo atau leluhur, tuntutan adat dapat sulit dipertanyakan.
Dari perspektif Foucault, kekuasaan mikro ini dapat bercorak feodal dan teokratis. Adat tetap penting sebagai penyalur nilai dan norma, tetapi nilainya patut diuji ketika menguntungkan satu pihak sekaligus membebani pihak lain seumur hidup.
Dalam konteks teologi Katolik, saya juga mempertanyakan penyamaan kewenangan leluhur dengan Tuhan yang menghidupkan, menyelamatkan, dan membangkitkan.
Apakah pelaksanaan ritual dengan sendirinya menjamin kebahagiaan atau menyelesaikan kesulitan keluarga? Pertanyaan ini bukan ajakan meniadakan adat, melainkan memeriksa tuntutan yang disakralkan sehingga beban manusianya luput dibicarakan.
Memberi Ruang bagi Pilihan Pribadi
Catatan berikutnya menyangkut kebebasan memilih. Kritik terhadap tekanan ekonomi dan adat perlu tetap memberi ruang bagi keputusan “belum kawin” yang tidak semata-mata lahir dari kesulitan.
Adriani menulis: “cinta memang tidak bisa dibeli. Meski begitu, pesan “sudah makan?” tetap membutuhkan paket data untuk sampai. Ada ongkos untuk saling hadir. Tetapi, jika kehadiran hanya dinilai dari pengeluaran, pasar sudah ikut duduk di meja kencan—bahkan mungkin paling cerewet menentukan pesanan.”
Saya sejalan dengan kritik terhadap ukuran konsumtif itu. Namun, ongkos kehadiran bukan satu-satunya pertimbangan ketika seseorang memilih menunda perkawinan.
Penundaan perkawinan juga dapat menjadi pilihan untuk memprioritaskan pendidikan, aktualisasi diri, kesiapan mental dan psikologis, atau kehati-hatian dalam membangun komitmen.
Begitu pula keputusan untuk melajang. Pembacaan tentang tekanan struktural perlu berjalan bersama penghormatan terhadap otonomi ini, bukan menggantikan alasan seseorang dengan penjelasan ekonomi semata.
Dengan demikian, catatan saya dimaksudkan untuk memperluas, bukan meniadakan, argumen Adriani. Esainya membuka persoalan mendasar tentang tenaga, ongkos, dan kerja perawatan. Konteks Flores menambahkan beban adat serta kontrol sosial; pilihan pribadi mengingatkan bahwa setiap orang tidak harus menempuh jalan hidup yang sama.
Ketiganya perlu dibaca bersama agar kritik terhadap struktur tidak berubah menjadi tuntutan baru untuk menikah.
Merebut Kembali Ruang untuk Merawat
Dari pembacaan tersebut, saya mengajukan tiga arah untuk melanjutkan persoalan yang dibuka Adriani.
Pertama, beban merawat kehidupan perlu menjadi tanggung jawab bersama. Negara dan gerakan sosial harus memperjuangkan upah layak, jam kerja manusiawi, fasilitas pengasuhan anak publik, dan jaminan perumahan rakyat, agar seluruh beban reproduksi sosial tidak ditanggung individu sendirian.
Dalam konteks Flores, tanggung jawab bersama itu juga menuntut pembicaraan tentang belis, biaya pesta, dan sida. Sida di sini merujuk pada kewajiban atau permintaan bantuan uang maupun materi dari pihak keluarga laki-laki kepada pihak keluarga perempuan yang sudah menikah, untuk bersama-sama menanggung beban atau hajatan keluarga.
Ketika perkawinan diperlakukan sebagai perlombaan, kewajiban-kewajiban ini berisiko memperbesar beban alih-alih membantu keluarga. Karena itu, yang perlu diperiksa ialah apakah tuntutan tersebut sungguh menopang kehidupan bersama.
Kedua, ruang kencan dan afeksi perlu dibebaskan dari ukuran konsumtif. Melanjutkan kritik Adriani tentang hadiah dan ongkos kehadiran, masyarakat perlu berhenti mengukur cinta dari pengeluaran. Yang perlu diutamakan ialah perhatian, pembagian kerja, dan waktu untuk saling hadir.
Ketiga, keputusan untuk menikah, menunda perkawinan, maupun melajang perlu dihormati. Kritik terhadap kapitalisme dan beban adat seharusnya memperluas kebebasan memilih, bukan menetapkan satu pilihan sebagai yang paling benar. Pernikahan bukan perlombaan.
Dalam hal ini, pertanyaan “kapan menikah?” perlu berhenti menjadi alat kontrol sosial. Seseorang tidak harus membuktikan nilai dirinya melalui status perkawinan, sebagaimana pasangan tidak harus membuktikan cinta melalui kemeriahan pesta atau daya beli.
Giorgio Agamben dalam Profanaciones (2023) menawarkan gagasan profanasi: mengembalikan hal-hal yang dipisahkan, disakralkan, dan dikomodifikasi ke dalam penggunaan bebas masyarakat. Dalam kerangka respons ini, saya membacanya sebagai ajakan merebut kembali keintiman dari tuntutan produksi dan transaksi.
Pada akhirnya, pertanyaan yang dibuka esai Adriani bukan sekadar apakah anak muda sanggup menikah, melainkan apakah mereka memiliki tenaga, waktu, dan kebebasan untuk merawat hidup—bersama pasangan ataupun sebagai pribadi yang melajang.
Melki Deni adalah calon imam Katolik, sedang studi Teologi di Universidad Pontificia Comillas, Madrid, Spanyol.
Editor: Ryan Dagur


