Antara Iman dan Identitas: Pergulatan Transpuan Katolik di Maumere

Bagi mereka, gereja bukan sekadar tempat ibadah, melainkan ruang negosiasi yang dinamis antara iman dan identitas—sebuah perjalanan mencari penerimaan di tengah batas-batas dogma dan tradisi.

Floresa.co — Saat Floresa tiba di teras rumah Yolanda Adam di Kecamatan Alok Barat, Kabupaten Sikka pada 6 April petang, suasana sudah ramai.

Teras itu layaknya panggung kecil: suara anak-anak muda bertumpuk dengan tawa, obrolan, dan rencana-rencana yang disusun rapi.

​Beberapa anggota Orang Muda Katolik (OMK) duduk melingkar, membicarakan persiapan Misa Kerahiman, perayaan besar pada 12 April yang dipusatkan di Paroki Maria Magdalena Nangahure. Perayaan ini melibatkan 35 paroki di bawah Keuskupan Maumere.

​Di tengah lingkaran itu, Yolanda, 42 tahun, duduk sebagai penasihat Lingkungan Santo Yoseph, bagian dari Stasi Pusat Paroki Nangahure.

Tidak mencolok, tidak mengambil banyak ruang, namun kehadirannya terasa. Ia mendengar, menimbang, lalu sesekali memberi arahan yang membuat pembicaraan kembali teratur.

​Pemandangan itu terlihat biasa, seolah hanya seorang senior yang sedang mendampingi anak-anak muda. Namun, ada dimensi lain yang berkelindan: Yolanda adalah seorang waria atau transpuan, individu yang merealisasikan dan meyakini identitas dirinya sebagai seorang perempuan.

​Di Flores, iman Katolik bukan sekadar urusan keyakinan pribadi; ia menubuh sebagai identitas sosial. Nilai-nilai ini melekat pada cara masyarakat memandang diri, menilai sesama, serta menentukan siapa yang dianggap “bagian dari kita” dan siapa yang dibiarkan berdiri di tepian.

​Karena itu, keberadaan Yolanda menempati posisi yang tidak mudah dirumuskan. Sebagai penasihat, ia mendampingi sekaligus memastikan setiap kegiatan OMK berjalan baik, menguatkan yang ragu, menenangkan yang panik, dan mengarahkan yang terlalu bersemangat.

Peran itu ia emban sejak tahun 2020, setelah ia memutuskan menetap kembali di kampung halamannya. Sebelumnya, ia sempat merantau ke Kalimantan dan Batam sejak tahun 2006.

​“Ini bagian dari perjalanan panjang saya untuk mengenal diri saya,” katanya seusai pertemuan.

​Namun, di ruang tamu rumahnya yang sekaligus berfungsi sebagai salon kecantikan, tempatnya mencari nafkah, Yolanda membuka pintu lain yang tidak terlihat di teras sebelumnya.

Ia menghela napas, lalu berkata: “Saya dulu tidak seberani ini. Ada perasaan malu, takut, juga perasaan seperti tidak diterima, di dalam rumah sendiri, apalagi di lingkungan sekitar.”

​Ia mengakui, di balik penerimaan yang kini terasa lebih terbuka, tetap ada dinding yang tidak pernah sepenuhnya runtuh—tipis namun keras, yang membedakan antara kehadiran yang ditoleransi dan identitas yang sungguh diakui.

​Dari perjalanan hidupnya, Yolanda merasakan sesuatu yang mendalam: ia menemukan Tuhan bukan karena institusi membuka pintu lebar-lebar, melainkan karena imannya sendiri menjadi penuntun, mencari jalan, menyusuri lorong, dan bertahan ketika ruang terasa sempit.

​Pergi untuk Menemukan Diri

​Yolanda masih berusia 16 tahun ketika meninggalkan Maumere pada 1999. Usia ketika banyak orang masih menyusun mimpi sederhana, tetapi baginya hidup sudah terasa seperti pakaian yang salah ukuran: menyesakkan, memaksa, dan membuatnya terus-menerus ingin melepaskan diri.

​Saat itu ia bahkan belum memiliki kosa kata untuk menjelaskan dirinya. Ia hanya tahu ada sesuatu yang tidak selaras antara tubuh yang ia bawa dan harapan gender yang disematkan orang-orang di sekitarnya.

​“Saya lebih nyaman bergaul dengan perempuan. Saya merasa asing dengan peran maskulin yang dilekatkan pada saya,” katanya.

​Anggapan bahwa ia harus kuat, tegas, dan maskulin, terasa seperti perintah yang harus ditaati tanpa tanya. Setiap kali ia mencoba mematuhinya, yang muncul justru rasa asing: seperti sedang memainkan peran yang bukan miliknya.

Ia berulang kali mendengar komentar: “Kamu harus begini, kamu harus begitu.”

Setiap tuntutan itu menumpuk menjadi beban. Sampai suatu saat, ia merasa tidak ada cara lain: “Saya merasa bukan jadi diri sendiri. Jadi saya merasa harus pergi,” katanya.

​Surabaya, ibu kota Provinsi Jawa Timur, menjadi tujuan—bukan tanpa alasan. Di sana sudah ada teman-teman waria dari Maumere yang lebih dulu merantau.

Kota itu seperti pintu yang sedikit terbuka: tidak menjanjikan kemudahan, tetapi menawarkan peluang untuk bernapas tanpa harus dihantui pengawasan sosial yang intimidatif.

​Di Surabaya pula ia bertemu Persatuan Waria Kota Surabaya (Perwakos), komunitas yang, untuk pertama kalinya, memberi ruang baginya untuk tidak bersembunyi.

Ia mengaku menemukan “orang-orang yang sama seperti saya.”

​Hidupnya tidak mendadak berubah menjadi ringan. Ia mengamen, menjadi pekerja rumah tangga, hingga berjualan, pekerjaan yang menuntut tenaga sekaligus keteguhan.

Namun, di tengah kerasnya hari-hari itulah, ada satu hal yang ia jaga seperti bara kecil yang tidak boleh padam: relasinya dengan Tuhan.

​“Saya tidak pernah putus hubungan dengan Tuhan. Saya dibesarkan dalam keluarga Katolik yang taat berdoa. Mungkin manusia menolak saya, tapi saya yakin Tuhan tidak.”

​Setiap Minggu, Yolanda mengikuti misa. Di Surabaya, ia pun menemukan komunitas kecil lintas identitas yang bersama-sama membaca Kitab Suci, saling mendengarkan, dan saling menguatkan.

Dari kota yang jauh dari kampung halamannya itu, keterlibatannya dalam kehidupan menggereja justru tumbuh: ikut kelompok lingkungan, bergabung dalam koor, melatih teman-temannya sesame waria, hingga dipercaya dalam pelayanan.

​Dari setiap kota di sekitar Surabaya yang ia singgahi, ada satu kebiasaan yang tak pernah ia tinggalkan: “Di mana saya berada, saya pasti cari gereja.”

​Dari pengalaman-pengalamannya, ia meyakini bahwa Tuhan tidak hanya ditemukan di dalam gedung gereja, tetapi juga melalui perjumpaan kecil, melalui hal-hal yang bisa ia bagi untuk sesama, terutama mereka yang sedang mengalami penderitaan.

​Yolanda sempat kembali ke Maumere pada 2006, namun saat itu ia baru sekadar singgah dan kembali merantau ke Batam pada tahun yang sama.

​“Di Batam juga saya tetap aktif di gereja. Bersama teman-teman perantau dari Flores, saya sering terlibat dalam kegiatan gereja,” katanya.

​Ketika akhirnya kembali ke Maumere pada 2016, Yolanda membawa semua pengalaman itu: luka yang tidak sepenuhnya sembuh, tetapi juga keberanian yang tumbuh perlahan-lahan.

Di kalangan OMK, kehadirannya mulai membentuk cara pandang generasi muda tentang arti pelayanan.

Yolanda Adam (ujung kanan) memimpin koor dalam salah satu misa. (Dokumentasi pribadi)

​Stefania Rini Marlina, salah satu pengurus OMK Paroki Maria Magdalena Nangahure, melihat Yolanda sebagai figur yang membuat banyak anak muda lebih aktif terlibat.

Ia menyebut kehadiran Yolanda ikut menentukan kuatnya kehidupan komunitas di lingkungannya.

​“Kalau kami tampil, orang selalu bilang, kalian kuat karena punya pelatih yang bagus. Dan itu Bunda Yolanda.”

​Bagi anak-anak muda di Stasi Nangahure, pengaruh Yolanda tidak berhenti di ruang latihan. Ia terlibat dalam hampir semua kegiatan masyarakat.

​“Bunda itu bukan cuma pengurus di lingkungan. Dia juga tokoh masyarakat, bahkan pengurus RT,” kata Stefania.

Jujur adalah Bayaran yang Mahal

​Jika perjalanan Yolanda adalah kisah tentang seseorang yang pergi untuk menemukan dirinya dan pulang membawa iman yang lebih kokoh, Hendrika Mayora Viktoria, transpuan lain di Sikka, menempuh jalan yang berbeda, dan dalam banyak hal terasa lebih berliku.

​Ia tidak menghindari tuntutan gender dari lingkungannya, melainkan masuk lebih dalam ke jantung institusi yang paling merepresentasikan nilai-nilai religius formal: biara.

​Mayora, 39 tahun, tiba dengan langkah cepat pada 9 April ketika Floresa menemui di Kopirates, salah satu kafe di Maumere. Ia masih membawa tas dan buku catatan dari kampus.

Di sela kegiatannya menggerakkan Komunitas Fajar Sikka, kelompok transpuan di Maumere, ia sedang menempuh studi hukum di Universitas Nusa Nipa.

​Pada Maret 2020, ia terpilih menjadi Ketua Badan Permusyawaratan Desa di Desa Habi, Kecamatan Kangae dan tercatat sebagai transpuan pertama yang menjadi pejabat publik di Indonesia.

Bagi banyak orang, Mayora bukan hanya sosok yang vokal, tetapi juga figur yang perlahan membuka ruang percakapan tentang keberagaman gender, iman, dan penerimaan sosoal di Sikka.

​Namun sebelum semua pencapaian itu, ia pernah menghabiskan hampir sepuluh tahun di dunia religius.

Selepas lulus dari Seminari Menengah di Merauke, Papua Selatan, tempat orang tuanya merantau, ia memilih menjadi biarawan Katolik.

Pada 2008, ia pindah ke Yogyakarta untuk melanjutkan pendidikan pastoral di Universitas Sanata Dharma.

​Di Flores yang lebih dari 90 persen dari dua juta populasi menganut Katolik, masyarakat menaruh harapan besar pada seorang calon religius. Menjadi biarawan adalah sebuah kehormatan sosial yang tinggi.

Namun, bagi Mayora, kehormatan itu di titik tertentu berubah menjadi beban eksistensial yang pelan-pelan menekan batinnya.

​“Refleksi paling dalam itu adalah jujur,” katanya. “Jujur itu bayarannya mahal, apalagi jujur terhadap diri sendiri.”

​Ia akhirnya memutuskan meninggalkan biara, melepas kenyamanan, status, dan penghormatan yang melekat pada panggilannya. Pilihan itu, katanya, bukan karena kehilangan iman, melainkan karena ingin jujur pada jati dirinya.

​“Saya rela meninggalkan hidup yang mapan itu, untuk jujur bahwa ekspresi dan identitas diri saya tidak seperti yang orang bayangkan.”

Hendrika Mayora Viktoria. (Dokumentasi pribadi)

​Proses menerima diri itu panjang dan menyakitkan. Ada masa ketika ia menganggap dirinya keliru, berusaha memaksa diri untuk berubah, bahkan membenci dirinya sendiri.

Sampai akhirnya, ketika tetap melanjutkan studi di Yogyakarta, ia bertemu sesama komunitas ragam gender yang menunjukkan perspektif berbeda: bahwa keberagaman identitas tidaklah identik dengan dosa.

​Di sana ia menemukan kalimat yang kemudian menjadi titik balik hidupnya: “Saya menemukan Tuhan dalam identitas saya sebagai transpuan,” katanya.

​Kalimat itu bukan sekadar ungkapan. Bagi Mayora, itu adalah sebuah reorientasi, cara baru membaca relasi antara identitas dan iman yang selama ini dianggap tidak mungkin berdamai.

​Tahun 2019 menjadi momen yang sulit dilupakan Mayora ketika berbicara tentang relasi minoritas gender dengan Gereja Katolik.

Saat itu, ia bersama sejumlah teman komunitas diundang terlibat dalam Perayaan Emas Ledalero, peringatan 50 tahun Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero (sekarang Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif [IFTK] Ledalero), salah satu pusat pembinaan calon imam di Flores.

​Undangan itu lahir dari percakapan yang tak disengaja. Sebelumnya, Mayora dan seorang peneliti IFTK, Kanis Shuvianita, bertemu dengan Rektor Pastor Otto Gusti Madung, SVD di sebuah tempat wisata di Sikka. Dari obrolan santai itu mengalir cerita tentang pengalaman sebagai transpuan, tentang Gereja, dan tentang penerimaan.

​Mayora melontarkan satu kalimat sederhana yang sangat personal: “Kalau Pastor betul-betul menerima kami, undang kami untuk hadir.”

​Ia tidak menyangka kalimat itu direspons positif. Mereka benar-benar diundang ke Ledalero, dilibatkan, bahkan mengisi acara dan menjadi Master of Ceremony (MC) pada salah satu sesi.

Untuk pertama kalinya, Mayora merasakan keberadaan mereka tidak dipandang lewat stigma, melainkan dihadirkan secara bermartabat dalam ruang lembaga Katolik yang sebelumnya terasa berjarak.

​Namun peristiwa itu tidak berjalan tanpa gelombang. Dalam diskusi perayaan tersebut, Pastor Otto menyampaikan pandangan tentang pentingnya Gereja membuka ruang yang lebih manusiawi bagi kelompok minoritas, termasuk kelompok ragam gender dan orientasi seksual.

​Penolakan datang dari beberapa arah, baik dari sebagian umat maupun kelompok konservatif. Di situlah Mayora kembali merasa bahwa setiap pintu yang terbuka pun bisa mendadak mendapat tantangan dari suara-suara yang merasa berhak menentukan standar kelayakan iman.

​Mayora melihat hal ini terjadi ketika teks-teks keagamaan kerap kali digunakan sebagai alat penghakiman, bukan merangkul.

​“Kita diterima sebagai manusia,” katanya, “tapi di saat yang sama, identitas kita masih sering dipandang secara bersyarat.”

Dari Dalam Rumah Sendiri

​Soal penerimaan, Dea Dacosta punya kisah yang berbeda. Jika Yolanda dan Mayora banyak melewati proses panjang menerima diri di tengah pergulatan batin atau jarak dengan institusi, Dea justru tumbuh dalam lingkungan keluarga yang sejak awal memahami dirinya.

​“Kalau saya seperti ini, sudah dari kecil,” katanya.

​Di rumah, sekolah, hingga gereja, orang-orang lebih mengenalnya sebagai Dea. Nama itu bukan ia pilih sendiri, melainkan panggilan sayang dari keluarganya yang berawal dari keponakannya yang terbiasa memanggil “Dede Andre.” Lama kelamaan nama itu disingkat menjadi Dea, melekat erat semenjak ia SMP.

​“Kalau dipanggil Andre, orang justru tidak tahu,” katanya.

​Di rumah, penerimaan datang secara natural. Ibunya sejak awal memberikan dukungan penuh. Ayahnya sempat membutuhkan waktu untuk berproses, tetapi akhirnya ikut memahami dan mendukung. Kini, kedua orang tuanya justru selalu mendampingi setiap kali Dea tampil di ruang publik.

​“Kalau tampil di mana pun, kalau ada lomba, Mama dengan Bapak pasti ikut.”

​Pengalaman diterima di rumah membuat Dea tumbuh dengan rasa percaya diri yang tinggi. Sejak remaja ia aktif dalam kegiatan sekolah, termasuk menjadi anggota marching band di SMP dan kemudian di SMA Negeri, keduanya di Meumere. Di sekolah, teman-teman dan guru sudah mengenal baik pembawaan diri dan ekspresi gendernya.

​“Yang penting kita bisa menempatkan diri secara positif, sehingga orang juga bisa menghargai kita.”

​Di Gereja, keterlibatannya bahkan dimulai jauh sebelum ia mengenal OMK. Sejak kecil ia aktif di Serikat Kepausan Anak Misioner (Sekami), lalu bergabung dengan Putra-Putri Altar atau misinar. Pada 2018, ia mulai menjadi pendamping Sekami sekaligus bergabung dengan OMK.

​Di lingkungan tempat tinggalnya, Dea dipercaya menjadi koordinator OMK—menghubungkan orang muda dari tingkat lingkungan ke stasi hingga paroki. Saat ini, ia mengemban amanah sebagai bendahara OMK di Gereja Katedral Maumere.

Di dalam komunitas OMK, Dea bergerak aktif. Ia mengorganisir latihan voli antarstasi, kegiatan seni, koor untuk misa, penggalangan dana, sampai kunjungan ke umat yang sakit. Ia dikenal sebagai sosok penggerak yang kerap mengajak anak-anak muda lain untuk ikut aktif.

​“Kalau saya tidak datang, mereka tidak datang,” katanya sambil tertawa, menirukan teman-temannya yang sering menjadikannya barometer kehadiran dalam kegiatan.

​Meski menjadi salah satu dari sedikit transpuan yang tampil terbuka di komunitas OMK-nya, Dea mengaku tidak pernah merasa terisolasi. Teman-temannya sudah mengenalnya sejak kecil dan menganggapnya sebagai saudari sendiri.

​“Kalau ada orang luar yang mengganggu, teman-teman langsung membela dan bilang: ‘Jangan, itu Dea, dia saudari kita.’”

​Namun Dea juga sadar, ruang aman yang ia nikmati hari ini tidak jatuh begitu saja dari langit. Ia menghormati generasi senior transpuan di Maumere yang lebih dulu membuka jalan, mereka yang berani hadir di gereja dengan ekspresi autentik mereka, menghadapi penolakan awal, lalu berdialog dengan para pastor agar tetap bisa beribadah sebagai diri sendiri.

​“Jadi mereka itu yang membuka jalan untuk junior-junior di bawah agar bisa mengekspresikan diri secara bebas dan sopan.”

​Ruang Relevansi dalam Institusi

​Sikap Gereja Katolik terhadap kelompok ragam gender memantulkan ketegangan yang lebih luas: antara doktrin resmi dan realitas pastoral di lapangan.

Dokumen pastoral seperti Fiducia Supplicans (2023) mulai membuka ruang pemberkatan bagi individu dalam situasi yang dianggap “belum teratur”, namun secara teologis doktrin resmi institusi masih berjalan secara konservatif.

​Di lapangan, dinamika ini sangat bergantung pada keterbukaan pastor dan komunitas setempat. Di NTT, di mana Gereja melampaui fungsi spiritual dan merambah hampir setiap aspek kehidupan sosial, mulai dari pendidikan, ekonomi, hingga legitimasi komunitas, posisi Gereja terhadap kelompok marginal memiliki konsekuensi sosial yang besar.

​Penerimaan yang dialami Yolanda, Mayora, dan Dea memperlihatkan keunikan Sikka. Di wilayah ini, kehadiran komunitas seperti Fajar Sikka memiliki sejarah panjang dalam berinteraksi dengan para tokoh agama setempat. Namun, situasi ini belum tentu sama di kabupaten lain, di mana ruang aman bagi ekspresi gender masih sangat terbatas.

Bagi Mayora, ruang penerimaan identitas gender ini sering kali masih berada di wilayah abu-abu.

​“Kami dilibatkan dalam pelayanan, tetapi pengakuan atas eksistensi kami secara institusional dalam struktur resmi Gereja masih membutuhkan ruang dialog yang lebih terbuka.”

​Pastor Venansius Nahak, SVD, seorang imam sekaligus dosen Kitab Suci di IFTK Ledalero yang mengenal baik komunitas ini, melihat ketegangan tersebut sebagai sebuah tantangan pastoral.

Menurutnya, Gereja sebagai institusi formal bergerak dalam batas dokumen dan tradisi. Oleh karena itu, penerimaan di tingkat akar rumput terkadang baru sebatas toleransi pasif.

​“Toleransi artinya membiarkan kehadiran mereka. Namun, esensi pastoral yang sejati harus melampaui itu, menyentuh aspek kemanusiaan yang substansial.”

​Kelompok transpuan aktif melayani dan menggerakkan komunitas. Namun, dialog mengenai hak-hak personal dan ruang batin mereka sebagai individu kerap kali masih menjadi topik yang sensitif dalam diskursus formal keagamaan.

​Iman yang Melampaui Liturgi

​Ketegangan sosial-religius ini menemukan ruang pembuktiannya yang paling nyata bukan di dalam gereja, melainkan di tengah-tengah masyarakat yang didera penderitaan.

Konflik agraria di Nangahale, wilayah pesisir Kabupaten Sika pada awal tahun 2025 menjadi salah satu potretnya.

Pada 21 Januari 2025, terjadi penggusuran 120 rumah warga terkait sengketa lahan berkepanjangan yang melibatkan korporasi milik Keuskupan Maumere PT Krisrama dengan masyarakat adat Suku Soge Natarmage serta Goban Runut.

​Di tengah situasi krisis tersebut, Yolanda, Mayora, dan anggota Komunitas Fajar Sikka hadir di garis depan kemanusiaan sejak hari-hari pertama. Mereka menyaksikan langsung bagaimana kelompok perempuan dan anak-anak harus bertahan di tenda-tenda darurat dengan akses air bersih yang minim.

​“Saya sedih melihat kondisi perempuan dan anak-anak di Nangahale. Bahkan air bersih pun sulit mereka peroleh,” kenang Yolanda.

Hendrika Mayora Viktoria (kedua dari kiri) bersama warga Nangahale yang rumahnya digusur PT Krisrama, korporasi milik Keuskupan Maumere. (Dokumentasi pribadi)

​​Merespons situasi itu, Komunitas Fajar Sikka menginisiasi program pendampingan psikososial (trauma healing) bagi anak-anak korban penggusuran.

Pada 13 Mei 2025, mereka mengajak lebih dari 20 anak-anak Nangahale ke Pantai Pintu Air Asia di Nangahure untuk bermain, belajar, dan sejenak melepaskan trauma.

​Mayora mengakui bahwa mereka tidak menggunakan metode terapi klinis yang rumit.

​“Namun, setidaknya inilah aksi nyata dan praktis yang dapat kami upayakan untuk mengembalikan senyum anak-anak korban penggusuran.”

​Keterlibatan sosial ini bukan tanpa tantangan. Cece Geliting, salah satu anggota komunitas, sempat menghadapi tekanan sosial dan dilaporkan ke pihak berwajib oleh sebuah forum kelompok pemuda Katolik akibat kritik vokalnya di media sosial terkait penggusuran tersebut. Ia bahkan sempat kehilangan beberapa klien salonnya.

​Namun, tekanan itu tidak menghentikan langkah kemanusiaannya. Ketika Mayora menanyakan alasannya untuk terus kembali ke Nangahale, Cece menjawab singkat namun mendalam: “Mereka jauh lebih menderita dari saya.”

​Bagi Yolanda, aksi solidaritas ini adalah esensi dari spiritualitas yang sejati.

​“Menemani mereka yang kehilangan tempat tinggal, hadir bagi perempuan yang bertahan di tengah ketidakpastian, dan memastikan anak-anak tetap bisa tertawa semuanya adalah bentuk iman yang melampaui sekat-sekat liturgi.”

​Bagi Pastor Nahak, langkah yang diambil oleh kaum transpuan ini mencerminkan fungsi kenabian yang sesungguhnya. Suara itu tidak bergaung dari atas mimbar yang megah, melainkan nyata di tenda-tenda darurat dan di samping orang-orang yang tersingkirkan.

​“Pilihan mereka untuk pergi mendampingi anak-anak di sana lahir dari sebuah panggilan kemanusiaan yang murni. Pengalaman hidup sebagai kelompok marginal membuat mereka memiliki kepekaan emosional yang tinggi terhadap penderitaan sesama.”

Hendrika Mayora Viktoria bersama anak-anak Nangahale dalam acara di Pantai Pintu Air Asia, Nangahure pada 15 Mei 2025. (Dokumentasi pribadi).

Ruang Inspirasi dan Keteladanan

​Alih-alih merasa canggung dengan identitas Yolanda, Stefania justru mengajak teman-teman seusianya untuk merefleksikan arti kontribusi nyata dalam masyarakat.

​“Saya tidak merasa risih sama sekali. Justru saya merasa tergugah. Orang seperti Bunda Yolanda, dengan segala tantangan sosial yang dihadapinya, justru mampu memberikan kontribusi yang sangat luar biasa bagi lingkungan, gereja, dan masyarakat.”

​Bagi Stefania, berinteraksi erat dengan Yolanda membuatnya memahami bahwa kehadiran komunitas transpuan di gereja bukanlah bentuk tuntutan politis untuk mencari pengakuan formal, melainkan ketulusan untuk mempersembahkan talenta dan pelayanan.

​“Apapun pandangan orang di luar sana, mereka tetap konsisten terlibat, menjadi pelatih koor, menjadi pengurus, dan terus melangkah maju.”

Menemukan Tuhan dalam Keberagaman

​Pastor Nahak merefleksikan kisah Hagar dalam Kitab Suci. Hagar adalah seorang perempuan yang kerap diabaikan dan tidak dipanggil namanya dalam struktur keluarga besar Abraham. Namun, ketika Hagar berada di padang gurun yang sunyi dan penuh ketidakpastian, Allah justru hadir, menyapa namanya secara personal, dan menemaninya.

​Bagi Pastor Nahak, narasi tersebut adalah sebuah penegasan teologis yang kuat tentang keberpihakan Yang Ilahi.

​“Tuhan selalu hadir bersama mereka yang tersisih dan dikesampingkan. Dalam konteks hari ini, lewat refleksi teman-teman transpuan, kita disadarkan bahwa di tengah stigma dan diskriminasi yang mereka hadapi, Tuhan yang sejati adalah Tuhan yang berjalan beriringan bersama mereka.”

​Di antara iman dan identitas, komunitas transpuan di Sikka telah mengukir jalan spiritualitas mereka sendiri. Mereka membuktikan bahwa relasi batin dengan Sang Pencipta dan ekspresi diri yang jujur dapat berjalan selaras.

​“Kami diciptakan dengan potensi dan martabat yang sama sebagai citra Allah. Dengan menyadari hal itu, saya tahu bahwa hidup saya berharga di mata-Nya,” tutur Mayora.

​Yolanda, dengan tutur katanya yang tenang dan penuh kedamaian, kini tidak lagi menggantungkan keabsahan imannya pada pengakuan institusional. Ia memilih hadir, melayani, dan mengasihi sesama secara konkret.

Yolanda Adam (ujung kiri) hadir dalam acara perarakan pembukaan devonsi kepada Bulan Maria, yang berlangsung selama Mei. Dalam foto pada 1 Mei 2026 ini, ia ikut dalam barisan bersama umat Katolik lainnya. (Dokumentasi OMK Paroki Nangahure).

​​Baginya, esensi mendasar dari seluruh perjalanan ini adalah bagaimana merawat iman di tengah ruang sosial yang tidak selalu ramah. Ia memilih memandang Gereja sebagai sebuah ruang perjumpaan kemanusiaan.

​“Relasi dengan Tuhan dibangun dari ketulusan batin terdalam, bukan dari penilaian manusia tentang apakah kita layak atau tidak.”

​Dikerjakan oleh Dominiko Djaga dan Maria Margaretha Holo, artikel ini ini merupakan bagian dari kolaborasi liputan Jurnalisme Ramah Gender dan Seksualitas antara Floresa dengan Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK) dan Koalisi Rawat Hak Dasar Kita.

Editor: Ryan Dagur

DUKUNG KAMI
Floresa adalah media independen. Kami berkomitmen bahwa cerita yang paling sulit diungkap adalah cerita yang paling perlu didengar.
Kalau Anda percaya jurnalisme seperti ini penting — dukung kami. Caranya klik di sini
Liputan ini bagian dari serial: Iman di Persimpangan Identitas