Nai berdiri di ceperan tembok penahan jalan. Angin siang mengibas rambutnya, tipis dan lelah. Di bawah, kendaraan lalu-lalang tanpa peduli. Ia menatap kosong, seperti sedang menimbang sesuatu yang tak terlihat.
“Yesus Kristus… bantu, bantu…!!!” teriak Tanta Meri dari kejauhan. Teriakan itu menunda kematian Nai siang itu. Ia tetap tenang dan bertingkah wajar, agar para pejalan tak menaruh curiga atasnya
Nai menoleh pelan. Wajahnya datar. Ia turun seperti tak terjadi apa-apa. Orang-orang kembali sibuk. Dunia tetap berjalan. Hanya Nai yang tertinggal di satu titik yang tak bernama.
Sejak perutnya membengkak, cermin menjadi musuh.
Setiap kali berdiri di depannya, air mata datang tanpa diundang. Tangannya gemetar menyentuh kulit yang tak lagi ia kenali. Perut itu seperti milik orang lain—atau lebih tepatnya, seperti kutukan yang ditempelkan padanya.
“Perempuan sialan…” bisiknya pada bayangannya sendiri.
Pertengkaran di rumah hadir, gara-gara cermin menyediakan kenyataan. Menghancurkan cermin satu-satunya jalan melunaskan amarah yang tertimbun dalam hatinya.
Hari itu, tangannya mengepal.
Bluurrr!!!
Nai melepaskan beberapa pukulan tinju ke tubuh cermin itu. Pecah. Serpihannya memantulkan wajah Nai dalam potongan-potongan kecil—retak, terbelah, tak utuh.
Prak! Prok! Prak!
Tamparan datang bertubi-tubi.
“Bangsat kau!!!” ludah bapaknya melayang bersama kata-kata yang busuk. “Bukan anakku kau!”
Nai terhuyung. Dunia berputar lebih cepat dari biasanya. Tapi yang paling sakit bukan pukulan itu, melainkan kalimat yang menggantung di udara, lalu jatuh tepat di dadanya.
“Bukan anakku.” Teriak bapaknya sekali lagi.
Dulu, bapaknya tidak seperti itu.
Ia pernah bermimpi besar. Ingin Nai jadi dokter. Lebih becus dari mereka yang pernah “membunuh” dua anak kembarnya di meja persalinan. Sejak hari itu, sesuatu dalam diri Pak Sipri ikut mati—dan yang tersisa hanya amarah yang tak tahu harus pulang ke mana.
Sekarang, semua dilimpahkan pada Nai.
***
Malam-malam di rumah kecil itu selalu sama.
Setengah jam lewat sepuluh, Mama Marta akan duduk di depan Patung Bunda Maria. Dua lilin putih menyala. Api kecilnya bergoyang pelan, seperti napas yang nyaris habis.
“Nai…”
“Nai…”
“Nai…ii…”
Namanya dipanggil berulang-ulang, lembut, hampir pecah. Seperti doa yang kehilangan arah.
Pak Sipri terlelap di kamar, ngorok keras seperti orang yang sedang melawan sesuatu dalam tidurnya.
Di antara suara itu, tangisan Mama Marta terdengar seperti lagu pengantar yang ganjil.
Ia tidak pernah ikut campur. Tidak pernah membela. Tidak pernah juga benar-benar meninggalkan.
Ia hanya menangis.
Hari-hari Nai seperti membawa tombak runcing. Merobek-robek kebahagian miliknya. Untuk itu, bertahan menjelma menjadi kesia-siaan. Bertahan memperparah luka pada nasibnya. Jiwa juangnya sudah tiba di titik nyerah.
Pernah, ia cari tahu soal ilmu menutup hidup dengan tempo terpendek. Dalam film drakor ‘Hymn of Death’, Nai menyaksikan cara Yun Sim-deok bersama sang kekasih beristirahat dari kehidupan penuh derita.
Dikisahkan, mereka saling mencinta. Tetapi perasaan itu terpisah akibat ulah keluarga. Saat berlayar kembali ke Korea, dua insan itu terjun dari geladak kapal ke laut lepas hingga tewas dimakan arus laut.
Kematian tokoh Yun membawa garis putih buat Nai.
***
Hari berikutnya, Nai berdiri di ceperan tembok penahan samping jalan.
Sejak itu, pikiran itu menetap. Seperti tamu yang tak mau pulang. Malam itu sunyi lebih dalam dari biasanya.
Nai terbangun saat jarum jam melewati tengah malam. Dari ranjang tikar coklatnya, ia melihat Mama Marta tertidur di kaki Patung Maria.
Ketika jarum jam berpindah membuka hari baru, ia terbangun dan tetap melihat Mama Marta di sana.
Kedua lilin putih tegak berdiri. Apinya terayun-ayun ke kiri-kanan akibat semburan halus angin malam.
Tiga langkah mendekat, Mama Marta terbangun.
“Mama tak bisa tidur dekat ayah, Nak…”
Mama Marta terbangun, suaranya serak. “Ngoroknya kenceng… seperti orang kerasukan…”
Tangannya menggenggam tangan Nai. Hangat. Kuat, seperti menekan kesedihan yang tidak mau tumpah.
Ia mengantar Nai kembali ke ranjang, seperti dulu, saat semuanya masih terasa aman.
Nai berbaring. Menatap atap.
Diam. Dari sudut ruangan, suara itu kembali.
“Nai…”
“Nai…”
“Na…iii…”
Doa dilanjutkan. Pelan juga setia. Tanpa jawaban.
Nai menutup mata.
Ia ingin menangis, tapi tidak ada lagi yang keluar.
Risky Agato pemuda berdarah Manggarai. Setahun lalu, ia menyelesaikan masa didiknya di Seminari St. Yohanes Paulus II Labuan Bajo. Ia bisa dihubungi melalui akun Facebook Risky Agato dan instagram riskyagato_19.


