Komunitas Tuli Manggarai Belajar Cara Selamat dari Bencana

Selama ini, peringatan dini, instruksi evakuasi, dan informasi kebencanaan disampaikan lewat pengumuman lisan dan sirine—sistem yang secara struktural mengecualikan mereka yang tidak bisa mendengar.

Floresa.co – Reineldis Alviana Jaimun berdiri di depan sekelompok orang yang menatapnya penuh harap, menunggu setiap gerakan tangannya menjelaskan sesuatu yang bisa menyelamatkan nyawa mereka.

Akrab disapa Syair, ia adalah juru bahasa isyarat.

Pada 16 Mei, Syair duduk di samping narasumber dari Badan Metereologi, Kelimatologi dan Geofisika (BMKG), menerjemahkan penjelasan tentang gempa bumi, banjir, dan cuaca ekstrem kepada 13 anggota Komunitas Tuli Ruteng (KTR) yang duduk di hadapannya.

Bagi sebagian orang, pelatihan mitigasi bencana adalah rutinitas. Bagi peserta yang hadir hari itu di Aula Kantor Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Manggarai, ini adalah pertama kalinya mereka mendapat informasi semacam itu—dalam bahasa yang bisa mereka pahami.

“Sebelumnya banyak teman-teman tuli yang belum pernah mendapatkan edukasi kebencanaan secara langsung,” kata Ferdinandus Wardoyo, salah satu anggota KTR yang hadir.

Reineldis Alviana Jaimun atau Syair sedang menjelaskan materi dengan bahasa isyarat dalam pelatihan pada 16 Mei 2026. (Dokumentasi Floresa)

Yang Tidak Terdengar oleh Sirine

Manggarai di Flores barat bukan wilayah yang aman dari bencana. Letaknya di kawasan pegunungan dengan sesar aktif menjadikannya rentan terhadap longsor, banjir, angin kencang, dan gempa bumi.

Setiap musim hujan, peringatan dini BMKG mengalir deras—melalui pengumuman lisan, siaran radio, notifikasi di telepon genggam. Namun, semua sistem itu dirancang untuk mereka yang bisa mendengar.

Bagi komunitas tuli, mereka bergantung pada orang di sekitar yang mau repot memberi tahu. Jika tidak ada yang peduli, mereka tidak tahu apa yang sedang terjadi.

“Informasi seperti ini sangat penting. Tapi selama ini, kami tidak punya akses ke sana,” kata Ferdinandus.

Kekosongan itulah yang coba dijawab oleh pelatihan yang digelar KTR bersama Plan Indonesia dan didukung International Climate Initiative (IKI)—program pendanaan Pemerintah Federal Jerman untuk aksi iklim global.

Selama sehari penuh, peserta diajak memahami langkah-langkah penyelamatan diri, mengikuti simulasi evakuasi, dan belajar membaca tanda-tanda alam yang mendahului bencana. Semua disampaikan dalam bahasa isyarat.

Dinda Surya Selviany Labuh (tengah) bersama Maulina Utaminingsih (kanan) saat menyampaikan materi, didampingi Reineldis Alviana “Syair” Jaimun sebagai juru bahasa isyarat, pada 16 Mei 2026. (Dokumentasi Floresa)

Tangan yang Tidak Boleh Lelah

Syair tahu betul beratnya tanggung jawab yang ia pikul setiap kali berdiri di depan komunitas tuli.

Menerjemahkan, kata dia, bukan sekadar memindahkan kata. Setiap istilah teknis harus dipecah, disederhanakan, dan disampaikan melalui ekspresi wajah dan gerakan tangan yang tepat—karena komunitas tuli mengandalkan visual sepenuhnya.

Satu gerakan yang kurang jelas bisa membuat seluruh penjelasan buyar.

“Akses yang dimaksud bukan hanya soal sarana atau fasilitas, tetapi bagaimana informasi dari narasumber dapat diterima dengan baik oleh teman-teman tuli,” katanya.

Kata seperti “mitigasi”—yang sudah terasa abstrak bagi orang awam—harus diterjemahkan ke dalam konsep yang lebih konkret dan mudah divisualisasikan.

Syair harus melakukannya sambil menjaga tempo, menjaga konsentrasi, dan menjaga tangannya tetap bergerak tanpa henti.

“Tantangan terbesar adalah menjaga energi dan konsentrasi. Idealnya, juru bahasa isyarat bekerja dua orang karena pekerjaan ini sangat menguras tenaga dan pikiran—tangan bisa sakit, otak cepat lelah,” katanya.

Untuk menyiasatinya, materi dikirim lebih awal agar Syair bisa mempelajari istilah-istilah kunci sebelum hari-H. Metode belajar sambil bermain diterapkan agar suasana tetap hidup dan fokus peserta tidak goyah.

Hasilnya terlihat. Peserta antusias, aktif bertanya, dan tidak segan meminta penjelasan ulang ketika ada yang belum dipahami.

Bencana Tidak Menunggu Kesiapan

Dinda Surya Selviany Labuh, Pelaksana Tugas Kepala Stasiun Meteorologi Frans Sales Lega di Ruteng mengakui urgensi pelatihan ini.

“Bencana alam tidak bisa dihentikan dan bisa datang kapan saja. Yang bisa dilakukan adalah mitigasi,” katanya.

Bagi BMKG, kegiatan ini adalah pengalaman pertama: sosialisasi mitigasi bencana yang dirancang khusus bersama komunitas disabilitas.

Selama ini, informasi kebencanaan yang mereka produksi—peringatan dini, prakiraan cuaca, imbauan evakuasi—mengalir melalui kanal-kanal yang tidak pernah menjangkau komunitas tuli.

Dinda bercerita bahwa jika hujan berlangsung lebih dari tiga jam, BMKG akan mengeluarkan peringatan dini lengkap, hingga tingkat desa.

Informasi itu tersedia di media sosial, WhatsApp, dan situs resmi BMKG. Tapi seberapa banyak anggota komunitas tuli yang tahu ke mana harus mencarinya—dan dalam format apa—adalah pertanyaan yang selama ini tidak pernah dijawab.

“Tantangan terbesar dalam penyebaran informasi adalah rendahnya kesadaran masyarakat dan keterbatasan jaringan di daerah terpencil,” katanya.

“Padahal, informasi cuaca sangat bermanfaat untuk aktivitas sehari-hari hingga kewaspadaan menghadapi cuaca ekstrem.”

Panitia dan peserta pelatihan pada 16 Mei 2026. (Dokumentasi Floresa)

Bukan Objek Bantuan

Di balik pelatihan satu hari itu, ada ambisi yang lebih besar.

Maulina Utaminingsih, Project Manager IKI Muda Grant Project Plan Indonesia, menjelaskan bahwa KTR bukan sekadar penerima program.

Komunitas ini sedang merancang sesuatu yang lebih konkret: alat peringatan banjir khusus bagi penyandang tuli dan lansia—sebuah sistem yang tidak bergantung pada suara, melainkan pada cahaya atau getaran.

“Penyandang disabilitas tidak seharusnya hanya dipandang sebagai objek bantuan. Mereka memiliki kreativitas, kemampuan, dan potensi untuk terlibat langsung dalam pembangunan,” kata Maulina.

“Ketika akses dibuka, komunitas disabilitas juga mampu berkembang dan berkontribusi.”

Plan Indonesia mendukung 15 komunitas dan 25 individu di Manggarai untuk menjalankan aksi pembangunan rendah emisi dan ketahanan iklim. KTR adalah salah satunya.

Ferdinandus menutup percakapannya dengan kalimat yang terasa lebih seperti tuntutan daripada harapan.

“Kami ingin dilibatkan—bukan hanya saat ada program, tapi dalam pembangunan yang sesungguhnya.”

Syair masih ingat ekspresi wajah peserta ketika mereka akhirnya memahami apa yang harus dilakukan jika banjir datang malam-malam, saat semua orang tidur dan tidak ada yang bisa berteriak membangunkan mereka.

Ia lega, sekaligus untuk pertama kalinya, merasa bahwa ada yang peduli.

Pelatihan itu berlangsung satu hari. Namun, pertanyaan yang ditinggalkannya jauh lebih panjang: berapa lama lagi komunitas tuli harus menunggu sebelum sistem kebencanaan Indonesia benar-benar dirancang untuk semua orang?

“Saya berharap suatu saat BMKG bisa punya sistem mitigasi khusus yang memang ramah terhadap teman-teman penyandang disabilitas,” katanya.

Editor: Ryan Dagur

Dukung Kami

Ada cerita yang terlalu berisiko untuk diberitakan, korban yang terlalu lemah untuk didengar, dan mereka yang terlalu berkuasa untuk disentuh.
Floresa memilih memberi perhatian pada semua itu. Kami tidak bergantung pada iklan korporasi atau kepentingan politik. Independensi kami dibiayai oleh pembaca yang percaya bahwa kebenaran harus diungkap tanpa kompromi.
Dukung kami untuk terus bertahan. Caranya bisa cek di sini

BACA JUGA