Harga Elpiji Non-Subsidi di Manggarai Melonjak, Pedagang Kecil Terdampak, Dapur MBG Tutup Sementara 

Pertamina mengklaim kelangkaan karena alasan teknis mobilisasi dari Surabaya, warga diimbau membeli elpiji di agen resmi

Floresa.co Seorang pemuda di Ruteng, ibukota Kabupaten Manggarai tampak sibuk mengangkat tabung gas elpiji sembari menata beberapa kursi plastik di sisi gerobak jualannya pada 14 Mei sore.

Diki Ngo, pemuda asal Desa Nanga Meje, Kecamatan Elar Selatan, Kabupaten Manggarai Timur itu sudah sembilan bulan berjualan makanan menggunakan gerobak kayu yang dibalut dinding seng di sisi barat Nirwana Pasar Raya, Jalan Adi Sucipto.

“Setiap hari saya bekerja dari pukul 16.00-23.00 Wita untuk memenuhi kebutuhan hidup,” katanya kepada Floresa.

Warung itu, yang menjual beragam menu seperti nasi goreng, nasi bebek dan nasi ikan, bukan miliknya, tapi milik seorang pengusaha asal Pulau Jawa yang berdomisili di Ruteng.

“Kalau satu hari buka, kadang pendapatan bisa Rp370 ribu. Kalau ramai bisa sampai Rp500 ribu,” katanya.

Namun, kelangkaan gas elpiji non-subsidi 12 kilogram dalam beberapa waktu terakhir membuat penghasilan warung mulai menurun.

“Kelangkaan elpiji membuat aktivitas memasak terganggu dan warung kami sempat tutup tiga hari pada April lalu. Kadang bos juga harus mengambil gas dari Reo,” kata Diki, merujuk pada pelabuhan di wilayah Manggarai utara

Kondisi itu membuatnya semakin khawatir tidak tahu cara memenuhi kebutuhan harian.

“Gaji saya Rp1,2 juta per bulan. Penghasilan itu harus dibagi untuk kebutuhan sehari-hari, termasuk biaya kos di Ruteng yang mencapai Rp500 ribu per bulan,” katanya.

Diki Ngo, pekerja di sebuah warung makanan di Ruteng, Kabupaten Manggarai, sedang menyiapkan jualannya pada 14 Mei 2026. (Dokumentasi Floresa)

Dapur MBG Ditutup Sementara

Tak hanya pedagang kecil seperti Diki, kelangkaan gas elpiji non-subsidi di wilayah itu juga berdampak pada operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur untuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Koordinator SPPG Wilayah Manggarai, Ansgariana Yetri Indriyanti, berkata, kelangkaan itu membuat sepuluh dapur di Kecamatan Langke Rembong, Wae Ri’i hingga Reok ditutup sementara pada sejak 8-12 Mei. 

Dapur-dapur tersebut meliputi Waso, Pau 2 (Polres), Carep, Pau, Pitak, Wae Ri’i, Wae Ri’i Lalong, Wae Ri’i Ndehes, Reok Reo, dan Reok Ruis.

“Kebutuhan gas untuk satu dapur mencapai enam hingga sepuluh tabung per hari. Sementara itu, harga elpiji di Manggarai mengalami kenaikan signifikan dalam beberapa waktu terakhir,” katanya. 

Yetri berkata, harga elpiji 12 kilogram yang sebelumnya berkisar Rp250.000 – Rp280.000 per tabung kini melonjak menjadi Rp450.000 – Rp500.000.

“Ada yang menjual Rp500.000, tapi kami tidak ambil karena terlalu mahal,” ujarnya.

Buntut penutupan sementara itu, para petugas beristirahat atau tidak masuk kerja dan hanya menerima honor saat ada kegiatan distribusi di dapur. 

“Kami sudah sampaikan ke Kasatgas dan akan melakukan rapat bersama mencari solusi untuk permasalahan gas ini,” katanya.

Manajer Komunikasi, Relasi dan CSR Wilayah Jawa Timur, Bali dan Nusa Tenggara PT Pertamina Patra Niaga, Ahad Rahedi, mengakui kelangkaan elpiji di sejumlah daerah.

Ia mengklaim penyebabnya adalah  “hambatan distribusi, pembelian berlebihan karena kepanikan, hingga dugaan permainan harga oleh oknum saat stok terbatas.”

Ia berkata, pihaknya sudah melakukan pengecekan pasokan dan distribusi di lapangan untuk merespons masalah tersebut.

“Pasokan elpiji yang menopang NTT saat ini masih didukung suplai dari Surabaya. Imbas dari jarak suplai ini salah satunya terkendala mobilisasi kapal, mulai dari cuaca hingga kendala teknis kapal itu sendiri,” katanya kepada Floresa pada 14 Mei.

Ia berkata, Pertamina juga berkolaborasi dengan kepolisian dalam penertiban dan pengawasan terhadap potensi penyalahgunaan elpiji, termasuk pemeriksaan angkutan ekspedisi.

“Hal ini kemudian berdampak pada kendala pemuatan kontainer elpiji di Pelabuhan Surabaya selama empat hingga lima hari akibat penertiban oleh Polda Jawa Timur,” katanya.

Ia berkata, sebagai langkah mitigasi, Pertamina mendorong percepatan suplai elpiji ke seluruh wilayah NTT.

“Pada periode penyaluran 12–19 Mei 2026 telah dijadwalkan pengiriman sekitar 14 ribu tabung elpiji ukuran 5,5 kilogram, 12 kilogram, dan 50 kilogram untuk memenuhi kebutuhan masyarakat NTT,” kata Ahad.

Dapur SPPG Carep, salah satu dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Langke Rembong, Kabupaten Manggarai, yang ditutup sementara akibat kelangkaan elpiji non-subsidi. (Dokumentasi Floresa)

Imbauan Membeli di Agen Resmi

Terkait harga elpiji yang melambung, Ahad mengimbau masyarakat membeli di agen atau outlet Pertamina yang resmi “agar mendapatkan harga yang lebih terjangkau dibandingkan di tingkat pengecer.” 

Ia menjelaskan pihaknya sudah berkoordinasi dengan para agen di daerah untuk tetap melayani masyarakat sesuai ketentuan harga jual yang wajar.

“Kami selalu berupaya menjaga ketahanan stok elpiji agar tersedia dan terus berkoordinasi dengan pihak terkait supaya distribusi berjalan tepat waktu dan kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi,” katanya.

Ia juga berkata masyarakat dapat mengakses informasi harga elpiji non-subsidi melalui laman resmi Pertamina.

“Harga yang tertera merupakan harga rekomendasi ke konsumen. Untuk informasi lebih lanjut, masyarakat dapat menghubungi Pertamina Contact Center di nomor 135,” katanya.

Bagi pedagang kecil seperti Diki, kelangkaan elpiji tak hanya tentang keberlanjutan bisnis, tetapi juga masa depan lapangan kerjanya.

“Saya tidak tahu bagaimana keputusan bos nanti. Entah saya disuruh beristirahat atau bagaimana, saya pasrah saja,” katanya.

Ia berharap masalah itu segera diatasi “supaya usaha kecil seperti tempat kami bekerja tidak terus terdampak.”

Editor: Anno Susabun

Dukung Kami

Ada cerita yang terlalu berisiko untuk diberitakan, korban yang terlalu lemah untuk didengar, dan mereka yang terlalu berkuasa untuk disentuh.
Floresa memilih memberi perhatian pada semua itu. Kami tidak bergantung pada iklan korporasi atau kepentingan politik. Independensi kami dibiayai oleh pembaca yang percaya bahwa kebenaran harus diungkap tanpa kompromi.
Dukung kami untuk terus bertahan. Caranya bisa cek di sini

BACA JUGA