Floresa.co — Sebanyak 23 tabung elpiji ukuran 12 kilogram di Toko Ada, Kaper, Jalan Trans Flores, Labuan Bajo, kosong tanpa isi sejak akhir April.
Dalam kondisi normal, tabung kosong akan dikembalikan ke agen untuk diisi ulang di Stasiun Pengisian dan Pengangkutan Bulk Elpiji (SPPBE).
Namun, sejak akhir bulan lalu, toko tersebut tidak lagi menerima pasokan baru.
“Sampai sekarang kosong,” kata Afra Anita Salju, karyawan toko, saat ditemui Floresa pada 11 Mei.
Ia mengatakan, ketika stok terakhir datang pada akhir April, gas langsung habis dalam sehari akibat lonjakan permintaan. Saat itu, tokonya menerima sekitar 30 tabung.
“Pelanggan saling berebut, bahkan ada yang sudah pesan jauh-jauh hari,” katanya.
Kondisi ini langsung mendorong kenaikan harga. Dari biasanya Rp275.000 per tabung, harga naik menjadi Rp390.000. Di beberapa pengecer lain, harga bahkan mencapai Rp500.000.
“Di sini masih termasuk yang murah,” ujar Afra.
Pelaku Usaha Tertekan
Kelangkaan elpiji ini langsung menekan pelaku usaha kecil.
Acik Petong, pedagang soto di Wae Mata, Desa Gorontalo, mengatakan saat ini hanya satu dari tiga tabung elpiji miliknya yang terisi.
Sebelum kelangkaan terjadi, ia membeli gas langsung dari distributor PT Panji Anugerah Sejahtera (PAS) dengan harga Rp280.000 per tabung. Kini, harga melonjak menjadi Rp365.000 hingga Rp400.000.
Akibatnya, keuntungan usahanya tergerus.
“Kami hanya bisa menutup biaya gas saja. Harga makanan paling mahal Rp30 ribu,” kata pria berusia 36 tahun itu.
Ia menyebut kelangkaan mulai terasa sejak akhir April, bersamaan dengan dihentikannya layanan pembelian eceran di gudang distributor.
“Banyak pedagang kecil jadi tidak mampu beli,” ujarnya.
Menurut Acik, kelangkaan terjadi hampir merata.
“Saya pernah keliling cari, tapi tidak dapat,” katanya.
Situasi ini bahkan memaksanya menutup warung pada 5–6 Mei.
Sebagai langkah darurat, ia mulai menyiapkan kompor minyak tanah agar usaha tetap berjalan.
“Tidak dapat gas dua hari saja, warung tidak bisa buka,” katanya.
Ia berharap pemerintah segera menstabilkan harga.
“Kasihan kita yang usaha kecil, apalagi yang masih kontrak tempat,” ujarnya.
Pemda Mulai Monitoring
Sekretaris Daerah Manggarai Barat, Fransiskus Sales Sodo, menilai perlu langkah cepat untuk memastikan kondisi distribusi dan ketersediaan elpiji di lapangan.
Ia menginstruksikan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Perindag) untuk meminta klarifikasi dari agen distribusi serta melakukan pemantauan langsung.
“Kita harus bisa memberikan informasi yang benar kepada publik. Jangan sampai masyarakat bertanya, tetapi kita tidak punya rencana kerja yang terstruktur,” katanya dalam keterangan tertulis, 11 Mei.
Kepala Dinas Perindag Adrianus Ojo menyebut data awal menunjukkan adanya kenaikan harga di tingkat pengecer.
Menurutnya, kondisi ini dipengaruhi oleh keterbatasan stok, tingginya biaya distribusi dari luar daerah, serta belum meratanya pasokan melalui jaringan resmi.
“Kami sedang mendalami untuk mengetahui akar persoalannya secara menyeluruh,” kata Adrianus.
Ia mengatakan pihaknya tengah mengumpulkan data lapangan, termasuk asal pasokan, jumlah tabung beredar, stok riil, serta harga jual di tingkat pengecer.
Perindag juga telah mengirim surat kepada dua distributor LPG di Labuan Bajo, yakni PT Panji Anugerah Sejahtera (PAS) dan PT Stevano Unggul Mandiri (SUM).
Pertamina: Ada Gangguan Distribusi
Pertamina Patra Niaga menyebut sejumlah faktor sebagai penyebab kelangkaan, mulai dari hambatan distribusi hingga lonjakan permintaan.
Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus, Ahad Rahedi, mengatakan kondisi ini dipicu “hambatan distribusi, pembelian berlebihan akibat kepanikan, hingga dugaan permainan harga saat stok terbatas.”
Pertamina, kata dia, telah melakukan pengecekan lapangan serta menyiapkan langkah mitigasi.
Pasokan untuk Labuan Bajo saat ini masih bergantung pada suplai dari Surabaya, Jawa Timur, sehingga rentan terhadap gangguan logistik.
“Salah satunya kendala mobilisasi kapal, mulai dari cuaca hingga masalah teknis,” kata Ahad.
Ia menyebut pada 6 Mei telah tiba dua kontainer berisi 1.232 tabung LPG. Tambahan pasokan dijadwalkan tiba pada 13 Mei sebanyak 900–1.000 tabung.
“Diharapkan suplai ini dapat memenuhi kebutuhan masyarakat, khususnya UMKM,” katanya.
Pertamina juga mengimbau masyarakat membeli LPG di agen resmi untuk mendapatkan harga lebih terjangkau dibandingkan pengecer.
Ketergantungan Tinggi, Elpiji Subsidi Belum Masuk
Kelangkaan ini terjadi pada elpiji non-subsidi 12 kg. Sementara itu, program elpiji subsidi 3 kg belum menjangkau Nusa Tenggara Timur sejak diluncurkan pada 2007.
“Program konversi elpiji bersubsidi masih menunggu instruksi pemerintah pusat,” kata Ahad.
Akibatnya, mayoritas rumah tangga di NTT masih bergantung pada kayu bakar dan minyak tanah.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2023, sebanyak 68,11 persen rumah tangga di NTT menggunakan kayu bakar, dan 29,92 persen menggunakan minyak tanah untuk memasak.
Pengguna elpiji—terutama non-subsidi—hanya sekitar 1,43 persen.
Editor: Petrus Dabu



