Sejumlah Wilayah di Flores Belum Mendapat Bantuan Empat Hari Pasca Gempa

Dari laporan yang diterima Floresa, warga bertahan secara swadaya karena belum tersentuh bantuan logistik maupun medis.

Floresa.co – Hingga memasuki hari keempat pasca gempa M7,7 yang mengguncang wilayah Flores bagian tengah dan barat, sejumlah warga terdampak masih belum mendapatkan bantuan.

Listrik masih padam dan warga di beberapa lokasi masih kesulitan mengakses layanan telekomunikasi.

Bantuan dari berbagai kalangan memang sudah mengalir, tetapi distribusinya belum merata karena keterbatasan akses menuju sejumlah wilayah terdampak.

Laporan warga yang dihimpun Floresa menunjukkan kerusakan rumah, sekolah, tempat ibadah, jalan, jembatan, dan fasilitas umum terjadi di Kabupaten Manggarai, Manggarai Timur, Manggarai Barat, Nagekeo, Ngada, Sikka, hingga Ende.

Sementara itu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat jumlah korban jiwa per 18 Agustus sebanyak 70 orang meninggal dunia dan 655 lainnya mengalami luka-luka.

Korban tersebar di Kabupaten Manggarai, Manggarai Timur, Sikka, Manggarai Barat, Nagekeo, dan Ende.

Di tengah kondisi tersebut, warga masih membutuhkan makanan, air bersih, obat-obatan, tenda, penerangan, bahan bakar untuk genset, serta dukungan evakuasi dan pemulihan komunikasi.

Makanan dan Penerangan

Di Kelurahan Danga, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo, warga memilih mengungsi ke Lapangan Danga setelah gempa pada 15 Agustus pagi. Dengan bantuan terpal dari pihak kepolisian dan TNI, warga secara mandiri kemudian membangun tenda-tenda darurat.

Yohanes Mere Wea, warga Tonggurambang, berkata kepada Floresa, banyak rumah mengalami kerusakan berat, memperkirakan sekitar 300 orang berada di lokasi pengungsian di Danga.

Arif Sanjaya Slamet, warga Tonggurambang lainnya mengatakan sejak mengungsi warga belum mendapat bantuan dari pemerintah.

“Saya sampai ungkapkan kekecewaan saya di grup Facebook ‘Mbay Online,’” katanya.

Ia menjelaskan, warga juga mulai kekurangan persediaan makanan dan minuman di lokasi pengungsian.  Kondisi tersebut membuat mereka memilih kembali ke rumah untuk mencari dan memenuhi kebutuhan makanan serta minuman.

Arif mengatakan, keputusan itu bukan karena warga sudah merasa aman. Tonggurambang merupakan salah satu wilayah pesisir di Kecamatan Aesesa. Wilayah ini sempat berada dalam cakupan peringatan dini tsunami setelah gempa, sebelum peringatan tersebut kemudian dicabut.

Hingga 18 Agustus pukul 22.42 Wita, berdasarkan informasi dari Yohanes, warga Tonggurambang yang memilih kembali ke rumah baru mendapat bantuan dari BPBD berupa dua kilogram beras dan empat butir telur untuk setiap kepala keluarga.

“Kami masih membutuhkan makanan dan minuman. Kami masih bertahan secara swadaya, berharap semoga segera ada bantuan untuk kami,” ungkap Yohanes.

Kondisi serupa dilaporkan dari Desa Rendu Butowe, Kabupaten Nagekeo. Berdasarkan data pemerintah desa, terdapat 115 kepala keluarga terdampak, dengan 40 rumah masuk kategori rusak berat.

Kanisius Ratu Soge, anggota Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) yang berada di Rendu Butowe mengatakan warga terdampak saat ini memilih berada di luar rumah dan mendirikan tenda darurat.

Sementara di Kabupaten Sikka, sebanyak 1.551 warga di Desa Nangahale bertahan di lima titik pengungsian tanpa tenda. Mereka menggunakan terpal sebagai alas, termasuk 27 ibu hamil bersama kelompok rentan lainnya.

Floresa kemudian terhubung dengan Katarina Keron, salah satu warga terdampak, yang mengungsi di posko 3, di Belakang SMP 3 Nangahale, dengan total 610 Jiwa. 

Ia berkata, sejak 16 Agustus, memang ada beberapa bantuan yang diterima warga, berupa beras 5 kilogram, daging ayam tiga bungkus, mi instan satu dus, serta air mineral satu dus.

“Ini belum mencukupi untuk jumlah kami yang banyak di beberapa lokasi pengungsian,” ungkap Katarina.

Pada 18 Agustus sekitar pukul 18.00 Wita, Katharina kembali menghubungi Floresa dan menceritakan bahwa sudah ada bantuan dari partai politik dan beberapa anggota DPR yang diserahkan kepada kepala desa, lalu didistribusikan kepada warga. 

 “Kalau mau bilang cukup, tentu dengan jumlah kami sebanyak ini tentu tidak. Tetapi mau tidak mau, kami harus tetap bersyukur,” katanya.

Di Desa Compang Lawi, Kecamatan Sambi Rampas, Kabupaten Manggarai Timur, warga terdampak masih mengungsi karena belum ada respons cepat dari pemerintah.

Vitri Diana Ice, warga des aitu berkata kepada Floresa pada 17 Agustus, sebagian warga membuat tempat berlindung secara mandiri di halaman rumah. Sebagian lainnya mengungsi ke rumah keluarga yang untuk sementara masih dianggap aman.

Menurut Vitri, terdapat pula rumah warga yang hancur. Satu orang luka parah akibat tertimpa reruntuhan.

Apa Saja Laporan yang Diterima Floresa?

Sejak gempa mengguncang wilayah Flores, Floresa bersama Sunspirit for Justice and Peace menginisiasi pembentukan Tim Respons Cepat dengan membuka posko informasi dan pengaduan warga serta penggalangan donasi.

Hingga 19 Agustus petang, tim telah menerima lebih dari 1.700 pengaduan, membentang dari ujung barat hingga bagian tengah Pulau Flores.

Tiga wilayah dengan volume laporan tertinggi terpusat di Kabupaten Manggarai Timur, Kabupaten Manggarai, dan Kabupaten Manggarai Barat, disusul oleh ratusan laporan lainnya dari Kabupaten Ngada, Nagekeo, Ende, hingga Sikka.

Isi laporan warga secara umum menggambarkan kondisi infrastruktur yang luluh lantak akibat guncangan gempa.

Mayoritas pelapor mengonfirmasi bahwa rumah-rumah mereka mengalami rusak berat, roboh, atau rata dengan tanah sehingga sama sekali tidak aman untuk dihuni kembali.

Selain tempat tinggal, kerusakan parah juga menimpa berbagai fasilitas umum seperti sekolah, rumah ibadah, dan puskesmas. Laporan-laporan tersebut juga mencatat adanya korban jiwa dan puluhan warga yang mengalami luka-luka akibat tertimpa reruntuhan bangunan, meskipun angka pasti terkait jumlah korban masih sangat dinamis dan memerlukan verifikasi lapangan.

Terkait situasi di lapangan, warga melaporkan kepanikan dan trauma yang mendalam akibat gempa susulan yang terus terjadi.

Hal ini memaksa mereka mengungsi di lapangan terbuka, perbukitan, halaman rumah adat, hingga hutan dengan mendirikan tenda darurat seadanya. Kebutuhan logistik yang paling banyak diminta meliputi makanan siap saji, tenda atau terpal, air bersih, selimut, obat-obatan, serta alat penerangan.

Di tengah kondisi kritis tersebut, banyak pelapor yang mengeluhkan bahwa mereka masih bertahansecara swadaya karena belum tersentuh bantuan logistik maupun medis.

Hingga 19 Agustus sore, Floresa mendapat lebih dari Rp500 juta donasi, dan lebih dari Rp400 juta telah disalurkan kepada warga terdampak di enam kabupaten. Informasi soal penggalangan dana ini terus diperbarui berkala di akun Instagram.

Editor: Petrus Dabu

Dukung Kami

Ada cerita yang terlalu berisiko untuk diberitakan, korban yang terlalu lemah untuk didengar, dan mereka yang terlalu berkuasa untuk disentuh.
Floresa memilih memberi perhatian pada semua itu. Kami tidak bergantung pada iklan korporasi atau kepentingan politik. Independensi kami dibiayai oleh pembaca yang percaya bahwa kebenaran harus diungkap tanpa kompromi.
Dukung kami untuk terus bertahan. Caranya bisa cek di sini

BACA JUGA