Uskup Agung Ende tersebut menyoroti bahaya kekuasaan yang membungkam perbedaan pendapat. Menurutnya, kritik diperlukan untuk menjaga demokrasi, bukan diperlakukan sebagai ancaman.
Di Nangahale, Gereja tidak hanya berbicara sebagai gembala. Ia bertindak sebagai pemegang HGU, penggerak jaringan umat, dan pihak yang merestui penggusuran serta pemidanaan warga. Ketika lembaga-lembaga Katolik lain memilih diam, Kekatolikan di Flores sedang diuji: membela martabat warga atau melindungi kuasanya sendiri.
Seminar Stipas St. Sirilus Ruteng pada 28 Oktober menyoroti peran perguruan tinggi dalam menjawab kebutuhan masyarakat melalui teknologi, tanpa meninggalkan kearifan lokal dan martabat manusia.