Kok Harus Floresa?

Bagi saya, kisah Floresa bukan hanya tentang sebuah media dari Flores, melainkan tentang pentingnya jurnalisme dalam demokrasi.

Oleh: Carles Deon

Pada 31 Juli 2026, saya membaca sebuah berita berjudul “Jurnalis Floresa Jadi Peserta IVLP ke Amerika Serikat.” Berita yang dimuat di rubrik Dari Redaksi itu mengabarkan bahwa seorang jurnalis sekaligus editor Floresa, Anno Susabun, mendapat kesempatan mengikuti International Visitor Leadership Program (IVLP) di Amerika Serikat.

Sekilas, berita itu tampak seperti kabar tentang sebuah pencapaian profesional. Namun, bagi saya, berita itu berhenti lebih lama di pikiran. Ada sebuah pertanyaan yang muncul: Kok harus Floresa?

Pertanyaan itu bukan lahir dari keraguan terhadap pencapaian Floresa. Bukan pula bentuk mempertanyakan kelayakan mereka. Sebaliknya, pertanyaan itu muncul sebagai refleksi seseorang yang mencintai dan menikmati karya jurnalistik.

Saya selalu melihat jurnalistik bukan sekadar kemampuan merangkai kata menjadi berita. Jurnalistik adalah cara memahami dunia. Ia membutuhkan rasa ingin tahu, keberanian mencari fakta, ketekunan melakukan verifikasi, serta komitmen menghadirkan informasi yang bermakna bagi publik.

Karena itu, ketika sebuah media lokal dari Flores mendapat kesempatan belajar di tingkat internasional, saya merasa perlu bertanya lebih jauh: apa yang membuat mereka dipercaya? Nilai-nilai apa yang mereka bangun sehingga mendapat pengakuan? Dan pelajaran apa yang bisa dipetik oleh siapa pun yang mencintai dunia jurnalistik?

Semakin saya memikirkan pertanyaan itu, semakin saya menyadari bahwa mungkin pertanyaan yang tepat bukanlah “Kok harus Floresa?” melainkan “Apa yang telah dilakukan Floresa sehingga sampai pada titik ini?” Sebab, sebuah pengakuan tidak pernah hadir secara tiba-tiba.

Di balik sebuah penghargaan atau kesempatan besar, selalu ada proses panjang yang sering tidak terlihat oleh publik. Ada kerja sunyi, pilihan sulit, konsistensi, dan keberanian untuk tetap berjalan ketika jalan yang ditempuh tidak selalu mudah.

Untuk memahami mengapa Floresa mendapat perhatian, kita perlu melihat lebih jauh karakter jurnalistik yang mereka bangun selama ini. Floresa bukan sekadar media yang memberitakan peristiwa, melainkan media yang memilih jalur pemberitaan dengan perhatian kuat pada isu-isu publik.

Mereka banyak mengangkat persoalan lingkungan hidup, hak masyarakat adat, konflik agraria, dampak pembangunan terhadap masyarakat kecil, kebebasan pers, serta isu perempuan dan kelompok rentan. Pilihan liputan tersebut menunjukkan bahwa bagi Floresa, jurnalisme bukan hanya tentang apa yang sedang ramai dibicarakan, melainkan tentang apa yang penting untuk dibicarakan.

Dalam konteks Flores dan Nusa Tenggara Timur, pilihan itu menjadi semakin penting. Wilayah yang kaya akan sumber daya alam, budaya, dan kehidupan masyarakat lokal juga menghadapi berbagai tantangan pembangunan. Karena itu, pertanyaan yang diangkat melalui kerja jurnalistik bukan hanya tentang apa yang dibangun, tetapi juga siapa yang terdampak, siapa yang memperoleh manfaat, dan siapa yang suaranya belum terdengar.

Di sinilah saya melihat kekuatan sebuah media lokal. Ia tidak hanya berfungsi sebagai penyampai informasi, tetapi juga sebagai ruang bagi masyarakat untuk memahami persoalan yang dekat dengan kehidupan mereka sendiri.

Namun, pilihan jurnalistik semacam itu bukanlah jalan yang selalu mudah. Ketika sebuah media memilih berdiri di sisi kepentingan publik dan mengangkat isu-isu yang menyentuh kepentingan banyak pihak, risiko pun muncul.

Floresa dan tim redaksinya pernah menghadapi berbagai bentuk tekanan, mulai dari intimidasi terhadap wartawan dan pekerja medianya hingga serangan terhadap ruang digital, termasuk upaya peretasan situs media.

Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa kerja jurnalistik yang independen sering kali membutuhkan keberanian lebih dari sekadar kemampuan menulis berita. Ada keteguhan untuk tetap bekerja ketika ruang kebebasan pers menghadapi tantangan, sekaligus komitmen mempertahankan fungsi media sebagai pengawas kekuasaan dan penyedia informasi bagi masyarakat.

Dalam konteks media lokal, tekanan semacam itu memiliki kompleksitas tersendiri. Hubungan sosial yang dekat antara pemerintah, pengusaha, tokoh masyarakat, dan warga dapat membuat kerja jurnalistik menjadi lebih sensitif. Kritik terhadap kebijakan atau praktik tertentu kadang tidak dipahami sebagai bagian dari demokrasi, tetapi dianggap sebagai keberpihakan kepada pihak tertentu.

Di titik inilah nilai independensi sebuah media diuji. Independensi bukan sekadar prinsip yang tertulis dalam Kode Etik Jurnalistik, melainkan keberanian untuk menjaga ruang redaksi tetap bebas, meskipun ada konsekuensi yang harus dihadapi.

Dalam demokrasi, media memiliki posisi yang sangat penting. Media tidak boleh berubah menjadi sekadar corong kepentingan politik praktis, alat propaganda kekuasaan, atau ruang pembenaran bagi mereka yang memiliki kuasa. Ketika media kehilangan daya kritis terhadap kekuasaan, fungsi utamanya sebagai pengawas demokrasi pun ikut melemah.

Sebaliknya, media harus mampu menjadi ruang bagi suara-suara yang sering tidak terdengar. Ia harus memberi tempat bagi mereka yang berada di pinggir kekuasaan: masyarakat kecil, kelompok rentan, komunitas adat, kaum miskin, dan mereka yang mengalami ketidakadilan tetapi tidak memiliki akses yang cukup untuk menyampaikan aspirasinya.

Di situlah nilai penting jurnalisme berpihak pada kepentingan publik. Keberpihakan jurnalistik bukan berarti memihak kelompok politik tertentu, melainkan keberpihakan pada kebenaran, kemanusiaan, dan mereka yang membutuhkan ruang untuk didengar.

Jurnalisme yang sehat bukanlah jurnalisme yang mengikuti suara paling kuat, tetapi jurnalisme yang berani mendengar suara yang paling sering diabaikan. Sebab salah satu tugas mulia pers adalah menghadirkan cahaya ke tempat-tempat yang selama ini luput dari perhatian publik.

Ketika mencoba memahami lebih jauh perjalanan Floresa, saya menemukan bahwa kesempatan mengikuti IVLP bukanlah sebuah keberuntungan yang datang secara tiba-tiba. Ia merupakan bagian dari rangkaian proses panjang yang menunjukkan konsistensi mereka dalam dunia jurnalistik.

Jejak pengakuan terhadap kerja jurnalistik Floresa terlihat dari berbagai penghargaan yang mereka terima. Pada 2023, Floresa memperoleh Udin Award dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia sebagai penghargaan atas keberanian dan komitmen mereka dalam memperjuangkan kebebasan pers serta kepentingan publik.

Pada 2024, Floresa meraih MAW Talk Award karena kiprah dan inovasinya dipandang memberikan pengaruh positif bagi ekosistem media di Indonesia, khususnya di sektor media lokal.

Pada tahun yang sama, Floresa memperoleh AMSI Awards karena menghadirkan inovasi dalam membangun keterlibatan dan hubungan dengan pembaca melalui KoLiterAksi, program kolaborasi yang mempertemukan para praktisi dan pemerhati pendidikan di NTT untuk menulis di media.

Pada 2025, kerja jurnalistik Floresa kembali mendapat pengakuan ketika liputan investigasi mereka mengenai kekerasan seksual di Universitas Katolik Indonesia Santu Paulus Ruteng meraih penghargaan karya jurnalistik dari Komnas Perempuan dan AJI Indonesia.

Liputan tersebut memperlihatkan bahwa jurnalisme bukan hanya menyampaikan peristiwa, tetapi juga dapat menjadi jalan untuk menghadirkan perhatian publik terhadap persoalan ketidakadilan.

Rangkaian pengakuan tersebut membuat saya kembali merenung. Mungkin pertanyaan saya di awal perlu diperbaiki. Bukan lagi “Kok harus Floresa?”, melainkan: “Mengapa saya baru melihat sebagian dari perjalanan panjang yang membuat mereka layak dipercaya?”

Ternyata, sebuah pengakuan tidak dibangun oleh satu berita, satu penghargaan, atau satu kesempatan internasional. Ia lahir dari akumulasi kerja yang dilakukan terus-menerus: memilih fakta daripada sensasi, memilih kepentingan publik daripada kenyamanan, dan menjaga kepercayaan pembaca sebagai sesuatu yang sangat berharga.

Bagi saya, kisah Floresa bukan hanya tentang sebuah media dari Flores. Ini adalah cerita tentang pentingnya jurnalisme lokal dalam demokrasi.

Selama ini, banyak daerah lebih sering menjadi objek pemberitaan daripada subjek yang menceritakan dirinya sendiri. Media lokal hadir untuk mengubah posisi itu. Mereka memberi ruang kepada masyarakat daerah untuk menyampaikan pengalaman, persoalan, dan harapan mereka sendiri.

Jurnalisme lokal memiliki nilai penting karena ia tumbuh lebih dekat dengan masyarakat. Ia memahami konteks sosial dan budaya yang kadang luput dari perhatian media besar. Ia mendengar suara-suara kecil yang sering hilang dalam hiruk-pikuk informasi.

Namun, penghargaan bukan berarti sebuah media berhenti dikritisi. Justru, semakin besar kepercayaan yang diberikan, semakin besar pula tanggung jawab yang harus dijaga. Akurasi, verifikasi, keberimbangan, dan keterbukaan terhadap koreksi tetap menjadi ukuran utama sebuah karya jurnalistik.

Bagi saya, pertanyaan “Kok harus Floresa?” akhirnya menjadi pertanyaan untuk bercermin. Paling tidak, saya harus belajar.

Sebagai seseorang yang mencintai dan menikmati karya jurnalistik, saya harus belajar menghargai proses sebelum menilai hasil. Saya harus belajar melihat keberhasilan sebuah media bukan hanya dari penghargaan yang diraih,tetapi dari nilai-nilai yang diperjuangkan di baliknya.

Saya bukan wartawan yang setiap hari berada di lapangan mencari fakta. Saya hanyalah pembaca yang menikmati karya jurnalistik. Namun, dari posisi sebagai pembaca, saya percaya bahwa media yang bekerja dengan integritas memiliki peran penting dalam menjaga ruang demokrasi.

Mungkin, inilah jawaban terdalam dari pertanyaan “Kok harus Floresa?”

Bukan hanya karena mereka mendapat kesempatan belajar di Amerika Serikat dan memperoleh berbagai penghargaan, melainkan karena ada proses panjang yang membuat mereka dipercaya.

Dan bagi saya, pelajaran terbesar dari berita itu sederhana: sebelum bertanya mengapa orang lain dipilih, mungkin lebih baik kita belajar memahami apa yang membuat mereka layak dipilih.

Sebab jurnalistik yang baik bukan hanya membutuhkan wartawan yang berani, tetapi juga membutuhkan pembaca yang kritis, menghargai kebenaran, dan terus belajar memahami dunia melalui karya jurnalistik.

Carles Deon merupakan pembaca Floresa di Kabupaten Manggarai Barat, lebih senang menyebut dirinya sebagai “buruh ajar.”

Editor: Herry Kabut


DUKUNG KAMI

Terima kasih telah membaca artikel kami.

Floresa adalah media independen. Setiap laporan kami lahir dari kerja keras rekan-rekan reporter dan editor yang terus berupaya merawat komitmen agar jurnalisme melayani kepentingan publik.

Kami menggalang dukungan publik, bagian dari cara untuk terus bertahan dan menjaga independensi. Cara salurkan bantuan bisa dicek pada tautan ini: https://floresa.co/dukung-kami

Terima kasih untuk kawan-kawan yang telah mendukung kami. Gabung juga di Grup WhatsApp pembaca kami dengan klik di sini atau di Channel WhatsApp dengan klik di sini.

ARTIKEL PERPEKTIF LAINNYA

TRENDING