Floresa.co — Jurnalis sekaligus editor Floresa, Anno Susabun, terpilih mengikuti Program Kepemimpinan Pengunjung Internasional atau International Visitor Leadership Program (IVLP) bertajuk Combating Environmental Crime di Amerika Serikat pada tahun ini.
Anno menjadi satu dari enam peserta asal Indonesia dalam program pertukaran profesional yang diselenggarakan oleh Departemen Luar Negeri Amerika Serikat Bidang Pendidikan dan Kebudayaan atau U.S. Department of State melalui Bureau of Educational and Cultural Affairs (ECA).
Rombongan dijadwalkan berangkat dari Indonesia pada 31 Juli malam dan akan kembali pada 24 Agustus. Mereka akan mengikuti rangkaian kegiatan pada 1-21 Agustus.
Proses nominasi dimulai menjelang akhir 2024, ketika staf Konsulat Jenderal Amerika Serikat di Surabaya menghubungi Floresa, menyampaikan kabar ini.
Anno kemudian diusulkan, yang dilanjutkan dengan rangkaian proses administrasi dan profesional. Konfirmasi akhir disampaikan pada Februari 2026.
IVLP merupakan program pertukaran profesional utama Pemerintah Amerika Serikat. Pesertanya tidak mendaftar secara terbuka, melainkan dinominasikan oleh Kedutaan Besar atau perwakilan Amerika Serikat di berbagai negara.
Program ini mempertemukan peserta dengan mitra profesional, lembaga publik, organisasi masyarakat sipil, serta komunitas lokal di Amerika Serikat.
Berangkat dari Liputan Isu Ekologi Flores dan Komodo
Anno mengatakan, keterpilihannya tidak lepas dari kerja-kerja liputan Floresa dalam mengawal isu pembangunan pariwisata, konservasi, krisis lingkungan, dan ruang hidup masyarakat adat di Flores serta kawasan Taman Nasional Komodo.
“Undangan mengikuti IVLP ini adalah kesempatan belajar sekaligus refleksi atas kerja-kerja jurnalistik yang selama ini kami lakukan di Floresa, terutama dalam isu lingkungan, masyarakat adat, dan pembangunan pariwisata di Flores serta Komodo,” katanya.
“Di banyak tempat, isu lingkungan tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu berhubungan dengan tanah, ruang hidup, kebijakan negara, investasi, dan suara warga yang sering tidak didengar,” tambah Anno.
Sebagai media alternatif, Floresa menempatkan jurnalisme bukan semata sebagai kerja pelaporan peristiwa, tetapi juga sebagai bagian dari upaya memperkuat demokrasi dan membuka ruang bagi kelompok yang terdampak oleh desain pembangunan negara maupun korporasi.
Dalam polemik tata kelola Kawasan Taman Nasional Komodo, misalnya, Floresa selama ini mengamplifikasi suara warga saat mengkritik kebijakan konservasi yang dinilai lebih membuka ruang bagi investasi privat ketimbang melindungi ruang hidup masyarakat adat.
“Kekhawatiran serupa juga muncul terhadap masa depan komodo, satwa endemik yang telah masuk kategori terancam punah menurut daftar merah IUCN, serta terhadap nilai universal luar biasa kawasan Taman Nasional Komodo yang menjadi perhatian UNESCO,” kata Anno.
Belajar Penanganan Kejahatan Lingkungan
Melalui IVLP Combating Environmental Crime, kata dia, peserta akan mempelajari berbagai pendekatan penanganan kejahatan lingkungan, mulai dari perdagangan ilegal satwa, pembalakan liar, pertambangan ilegal, hingga praktik pengelolaan lingkungan yang bertumpu pada penguatan regulasi dan kolaborasi multipihak.
Sesuai agenda, delegasi Indonesia dijadwalkan mengunjungi Washington, D.C.; Manchester, New Hampshire; Cincinnati, Ohio, dan Albuquerque New Mexico.
Mereka akan bertemu dengan perwakilan pemerintah, organisasi nonpemerintah, jurnalis, serta masyarakat adat untuk bertukar pengalaman mengenai perlindungan lingkungan dan penegakan hukum.
“Saya berharap pengalaman ini bisa memperluas perspektif dan jejaring, terutama untuk melihat bagaimana isu kejahatan lingkungan ditangani melalui kerja bersama antara jurnalis, masyarakat sipil, komunitas adat, peneliti, dan lembaga publik,” kata Anno.
IVLP diluncurkan pada 1940 dan menjadi salah satu program pertukaran profesional paling lama berjalan di bawah Departemen Luar Negeri Amerika Serikat. Program ini mempertemukan pemimpin dan profesional dari berbagai negara dengan mitra di Amerika Serikat melalui kunjungan singkat yang disesuaikan dengan bidang kerja peserta.
“Pengetahuan yang diperoleh dari program ini akan saya bawa kembali untuk memperkuat liputan-liputan Floresa, khususnya ketika berhadapan dengan isu konservasi, investasi, dan keadilan ekologis di wilayah timur Indonesia,” ujarnya.
Pemimpin Umum Floresa, Ryan Dagur, mengatakan keterlibatan Anno dalam IVLP merupakan pengakuan penting terhadap kerja jurnalisme yang selama ini dibangun Floresa dari wilayah timur Indonesia.
“Kami melihat kesempatan ini bukan hanya sebagai capaian personal Anno, tetapi juga sebagai penguatan bagi Floresa. Ini menjadi dorongan bagi kami untuk terus menjaga jurnalisme yang berpihak pada warga, lingkungan, masyarakat adat, dan demokrasi,” kata Ryan.
Ia berkata, selama beberapa tahun terakhir, seiring meluasnya koneksi Floresa dengan berbagai pihak, sejumlah jurnalis telah mengikuti berbagai kegiatan untuk penguatan kapasitas, baik pelatihan-pelatihan, maupun mentoring terkait jurnalisme.
“Program IVLP ini hanya salah satu di antaranya. Saat Anno berangkat ke Amerika Serikat, jurnalis kami yang lain juga sedang mengikuti kegiatan workshop bertema lingkungan di Makassar,” katanya.
Selama tahun ini, kata dia, hampir lima puluh persen tim Floresa telah mengikuti berbagai kegiatan lain di sejumlah tempat.
Selain itu, jelas dia, sejumlah liputan dan riset dengan beberapa lembaga, termasuk kolaborasi dengan Forbidden Stories, media investigatif di Perancis, juga telah memberi banyak pelajaran bagi tim.
“Berbagai bentuk keterlibatan dan kerja sama ini menjadi bagian dari proses belajar, untuk terus meningkatkan kualitas Floresa, baik secara jurnalistik maupun dalam memperluas dan memperkuat dampak bagi publik,” katanya.
Editor: Herry Kabut



