Perempuan Flores Timur Mengubah Limbah Kelapa Jadi Energi dan Ekonomi

Tempurung yang dulu dibuang kini menjadi briket. Mereka juga merintis tabungan komunitas.

Floresa.co – Di salah satu sudut rumahnya di Desa Bantala, Kabupaten Flores Timur, Sisilia membungkuk pelan, menyusun tumpukan tempurung kelapa, yang isinya baru saja dicungkil untuk menjadi kopra. Bersama rekannya, Regina Azi, tak ada yang mereka biarkan berserakan.

“Dulu, setelah jual kopra, tempurungnya kami buang, sebagian dibakar, sebagian dibiarkan berserakan di kebun,” kata perempuan berusia 52 tahun itu kepada Floresa saat ditemui di rumahnya pada 28 Juni.

Sejak tiga tahun lalu, mereka menghentikan kebiasaan itu. Mereka mengolahnya menjadi sumber penghasilan tambahan.

“Kami olah jadi briket, bisa gantikan minyak tanah. Karena saya sudah tidak kuat lagi cari kayu api dan biasanya pakai kompor minyak tanah, briket ini sangat membantu. Apalagi kalau minyak tanah sedang mahal,” katanya.

Di perbukitan Flores Timur, kelapa tumbuh berdampingan dengan jambu mete dan kemiri — komoditas yang selama bertahun-tahun menjadi penopang ekonomi rumah tangga warga, dari kebutuhan keluarga hingga biaya pendidikan anak.

Perubahan terjadi setelah pada 2023, Sisilia bersama perempuan lain di Desa Bantala mendapat pendampingan dari Yayasan Pengkajian dan Pengembangan Sosial (YPPS) — lembaga swadaya masyarakat yang berkantor di Kelurahan Waibalun, Larantuka.

YPPS menjalankan program pemberdayaan mulai dari penguatan kapasitas petani lewat praktik pertanian berkelanjutan hingga pengembangan energi terbarukan berbasis potensi lokal, sekaligus mendorong pulau-pulau kecil di Nusa Tenggara Timur menjadi komunitas yang mandiri dan adaptif terhadap perubahan iklim.

“Melihat tempurung yang hanya dibuang, YPPS memberikan solusi bagaimana mengembangkan kelapa, bukan hanya buahnya menjadi kopra, tetapi juga memanfaatkan tempurungnya,” katanya.

Di Bantala terdapat tujuh kelompok perempuan yang memanfaatkan kelapa untuk pemberdayaan ekonomi.

Kelompok Sisilia, Wolosina Watoboki, beranggotakan 15 orang dan mampu menghasilkan 10 kilogram briket per hari.

“Sekitar dua bulan lalu terjual 300 kilogram. Tahun lalu kami terima pesanan dari Kabupaten Sikka, ada juga yang dibeli oleh beberapa gereja di Larantuka untuk bakar dupa saat Jumat Agung,” katanya.

Komunitas Wolosina Watoboki di Desa Bantala, Kecamatan Lewolema sedang membuat briket dari tempurung (Dokumentasi Komunitas Wolosina Watoboki)

Menurut Sisilia, pendampingan YPPS tidak hanya pelatihan membuat briket, tetapi juga peningkatan kapasitas untuk mengidentifikasi potensi sumber daya desa dan memetakan nilai tambah dari komoditas kelapa.

“Kami juga dilatih untuk menghasilkan kopra premium melalui proses pengeringan menggunakan Rumah Jemur Energi Matahari sehingga daging kelapa tetap bersih, berwarna cerah, dan memiliki mutu yang lebih baik,” katanya.

Tak hanya di Desa Bantala, kelompok dampingan YPPS yang mengelola tempurung menjadi briket juga ada di Pulau Adonara.

Di Desa Lamabunga cukup sulit mendapatkan minyak tanah. Saat pasokan langka, harganya melonjak sehingga menyulitkan banyak warga memenuhi kebutuhan memasak sehari-hari.

Kondisi itu turut dirasakan Elisabeth Bulu, yang berusia 70 tahun. Di usianya yang semakin senja, ia kerap kesulitan memasak dengan kompor minyak tanah. Sementara kayu bakar yang sebenarnya tersedia di kebun, namun karena faktor usia, ia tidak lagi sanggup mencari kayu bakar secara rutin.

“Kayu api banyak di kebun, tetapi siapa yang pergi cari. Anak-anak punya kesibukan masing-masing,” ujar lansia dari komunitas Ina Sayang itu.

Sejak  empat tahun lalu ia bergabung dalam komunitas Ina Sayang dampingan YPPS. Mereka dilatih membuat briket, dan menjualnya ke masyarakat.

Petronela Masi Suban, warga Desa Adobala, Kecamatan Kelubagolit mengaku, tak hanya untuk dijual, briket amat membantu karena desanya kerap kesulitan mendapat minyak tanah.

Saat pasokan langka, harganya melonjak dari biasanya Rp5.000 menjadi Rp7.000 per liter.

Ia sebelumnya sesekali beralih ke kayu bakar, namun kondisi kesehatannya membuat mencari kayu api tidak lagi memungkinkan.

“Kalau musim hujan, susah sekali dapat kayu bakar untuk memasak,” ujarnya.

Sejak menggunakan briket, pengeluarannya untuk minyak tanah berkurang. “Lima liter minyak tanah biasanya habis dalam empat hari kalau dipakai terus. Tetapi setelah ada briket, lima liter itu bisa bertahan hampir dua minggu,” tuturnya.

Petronela adalah anggota komunitas Langobelen Narawayo yang beranggotakan 14 perempuan dan “semua anggota komunitas aktif.”

“Di dalam kelompok ini semua pekerjaan kami hargai dengan uang, seperti kupas kelapa misalnya. Semua uang itu hasil dari menjual kopra premium dan briket,” katanya.

Sejumlah anggota kelompok tersebut adalah lansia dan penyandang disabilitas. Salah satunya Samsia Lipat, 24 tahun, penyandang disabilitas rungu wicara yang telah tiga tahun aktif dalam kelompok.

Melalui bahasa isyarat yang diterjemahkan rekannya, Samsia berkata kepada Floresa: “Saya tidak sekolah seperti yang lain, jadi sebelumnya tidak ada uang, tidak ada kegiatan lain selain memasak di rumah.”

“Saya bekerja serius dan uang hasil membuat briket saya simpan di dalam komunitas. Kalau butuh sesuatu yang penting, saya ambil dan gunakan,” katanya pada 30 Juni.

Petronela berkata, selain mengolah tempurung kelapa, ia dan anggota kelompok lain juga menanam ratusan anakan kelapa setiap tahun sebagai bagian dari program YPPS.

“Sebenarnya juga bagus kalau sabut kelapa juga dimanfaatkan. Kedepannya semoga YPPS mengembangkan pemanfaatan sabut kelapa,” katanya.

Dalam setahun, kelompok Petronela menghasilkan 500 kilogram briket, dengan permintaan terbanyak dari Maumere dan sebagian dari Larantuka.

“Pemilik warung di kota Maumere dan Larantuka sering memesan briket untuk panggang ikan, sate dan ayam dalam jumlah besar. Kadang kita kewalahan dan merekomendasikan ke kelompok lain,” katanya.

Ia menjelaskan, pemilik warung memilih briket dibanding tempurung, karena tidak berasap sehingga tidak mengganggu orang yang memasak maupun pengunjung.

Mengelola Keuangan Komunitas Sendiri

Penghasilan dari penjualan kopra dan briket tak hanya dibagikan, tetapi juga disisihkan sebagai tabungan komunitas untuk pengembangan bersama.

“Ketika yayasan ini nanti tidak lagi mendanai, kami sudah punya modal sendiri untuk mengembangkan komunitas kami,” kata Petronela.

Tabungan itu mereka sebut Silc; setiap anggota wajib menyimpan dengan jumlah bebas.

Regina Azi, 48 tahun, menjelaskan, uang hasil penjualan briket di setiap kelompok dikelola sebagai koperasi komunitas, dan keenam desa binaan YPPS seluruhnya sudah memiliki koperasi komunitas masing-masing.

“Ada dua jenis dana yang kami sepakati untuk mengelola keuangan koperasi, yakni dana yang digunakan untuk simpan pinjam anggota dan dana sosial yang akan dikeluarkan bila ada anggota komunitas yang sakit,” jelasnya.

Komunitas Wolosina Watoboki, menurut Regina, memiliki dana simpanan Rp76 juta pada minggu ke-18 siklus simpan pinjam mereka.

“Setiap bulan, iuran dari anggota mencapai sekitar Rp3 juta. Setiap anggota juga dapat meminjam hingga Rp5 juta dengan bunga lima persen yang dibayarkan sekali saat pelunasan,” jelasnya.

Pada 2025, nilai akumulasi simpanan anggota yang dibagikan pada akhir siklus bahkan mencapai Rp186 juta.

Regina menjelaskan, pada setiap akhir siklus, seluruh dana simpanan dibagikan kepada anggota sesuai porsi masing-masing.

“Hanya dana sosial yang tetap disisihkan sebagai kas bersama untuk membantu anggota yang menghadapi kebutuhan mendesak, seperti biaya pengobatan saat sakit atau keadaan darurat lainnya,” katanya.

Direktur  YPPS, Melky Koli Baran, menjelaskan skema literasi keuangan ini disebut Silc, terinspirasi dari model Caritas Amerika yang kemudian disesuaikan dengan pola penghasilan warga Flores Timur.

“Orang-orang kita ini punya penghasilan harian. Kalau tidak ditabung pasti habis. Lalu kalau mau tabung juga, penghasilan tidak pasti. Mau bawa ke bank susah, vawa ke koperasi juga susah,” katanya.

Siklus simpan pinjam berlangsung maksimal 12 bulan, dengan durasi ditentukan oleh masing-masing komunitas.

Melky menegaskan dana yang terkumpul murni milik anggota, “kami dari yayasan tidak membantu sesen pun.”

Direktur  YPPS, Melky Koli Baran. (Dokumentasi Floresa)

Tantangan yang Masih Dihadapi

Meski geliat usaha ini terus tumbuh, sejumlah kendala masih menghambat pengembangannya secara optimal.

Di Bantala, kelompok Sisilia masih menghadapi kendala dalam memasarkan produk sehingga permintaan pasar belum berkembang optimal.

Ia juga menyebut belakangan ini truk pikap datang membeli tempurung kelapa dengan harga Rp1.000 per kilogram, yang diduga dikirim ke luar Flores untuk diolah menjadi briket juga.

Sementara itu, meski kualitas kopra hasil binaan YPPS sudah masuk kategori premium, selisih harganya dengan kopra biasa masih tipis — masing-masing sekitar Rp10.000 dan Rp10.500 per kilogram.

“Kopra premium, tetapi harganya belum premium,” ujar Sisilia.

Di Adobala,  kelompok Petronela menghadapi persoalan berbeda: rendahnya jumlah peminat serta keterbatasan memasarkan produk secara daring.

“Kelompok kami semuanya orang tua sehingga belum bisa memasarkan briket melalui media sosial,” katanya.

“Kami orang tua tidak tahu main Facebook atau Tiktok.”

Ia berharap generasi muda mau bergabung untuk regenerasi sekaligus membantu pemasaran.

Maria Mone Soge, aktivis muda dari Desa Hewa, Kecamatan Wulanggitang, menilai tantangan utama pengembangan briket adalah minimnya penggunaan kompor briket dan rendahnya minat masyarakat beralih ke bahan bakar itu, sehingga permintaan masih terbatas.

“Karena itu, kita membutuhkan ruang kolaborasi untuk memperkenalkan manfaatnya kepada masyarakat. Ketika semakin banyak orang mengenal briket, daya beli juga akan meningkat sehingga usaha ini bisa berkembang,” ujarnya.

Melky Koli Baran juga mengakui jangkauan YPPS masih terbatas pada desa-desa tertentu.

“Karena itu, kami terus berupaya memperluas jangkauan agar isu transisi energi dapat diakses oleh lebih banyak desa,” katanya.

Rumah jemur untuk kopra premium. (Dokumentasi Floresa)

Kolaborasi dengan Anak Muda

Maria Mone Soge menyatakan pemanfaatan tempurung kelapa menjadi briket merupakan inovasi yang layak dikembangkan mengingat besarnya potensi kelapa di Flores Timur.

Menurutnya, komunitas-komunitas ini perlu melibatkan generasi muda, baik untuk regenerasi maupun untuk membantu memasarkan produk agar lebih dikenal.

Ia menyebut inovasi ini memiliki tiga manfaat sekaligus. Dari sisi lingkungan, limbah tempurung yang diolah “tidak lagi mencemari lingkungan, sekaligus mendukung pemanfaatan sumber daya secara berkelanjutan.”

Dari sisi ekonomi, pengolahan tempurung membuka peluang usaha baru bagi masyarakat, terutama perempuan — dari produk yang sebelumnya tak bernilai jual menjadi “sumber pendapatan tambahan yang dapat membantu memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga.”

Dari sisi energi, penggunaan briket membuat rumah tangga “tidak lagi sepenuhnya bergantung pada bahan bakar dari luar daerah karena memiliki alternatif energi yang berasal dari potensi yang tersedia di sekitar mereka.”

Sharing Pembelajaran Bersama Kelompok Binaan

Setiap tahun, YPPS menggelar forum sharing pembelajaran di Larantuka sebagai ruang evaluasi atas pendampingan yang telah berjalan.

Melky Koli Baran menjelaskan, forum ini menjadi tempat berbagai isu, tantangan, dan pembelajaran di tingkat kelompok didiskusikan bersama antarkelompok, pemerintah, dan pemangku kepentingan lain.

“Tahun ini, YPPS menggelar kegiatan bertajuk ‘Dari Energi Bersih Menuju Kemandirian Ekonomi.’ Kita sharing praktik baik pemanfaatan Rumah Jemur Energi Matahari, produksi briket, dan pengelolaan Silc di desa-desa dampingan YPPS setelah satu tahun pelaksanaan program,” ujar Melky.

Selain program briket, YPPS juga mendorong transisi energi melalui Sekolah Literasi Iklim dan program membangun ketangguhan pascaerupsi Gunung Lewotobi Laki-Laki.

Menurut Melky, konsep energi terbarukan pada dasarnya mendorong transisi dari energi fosil yang ekstraktif menuju sumber energi ramah lingkungan seperti surya, angin, air, energi laut, dan biomassa — dan pengolahan limbah kelapa menjadi briket adalah salah satu bentuk pemanfaatan biomassa itu.

Elisabeth Bulu, lansia berusia 70 dari komunitas Ina Sayang, Desa Desa Lamabunga, Pulau Adonara sedang menggoreng kue menggunakan bahan bakar dari briket.(Dokumentasi Floresa)

Prinsip serupa, menurutnya, bisa diterapkan pada komoditas lain seperti kemiri, di mana biji kemiri dikeringkan dengan energi matahari sementara cangkangnya diolah menjadi arang.

Di luar pengolahan limbah, YPPS juga memiliki program tahunan menanam kelapa bersama anggota komunitas.

Tahun lalu, yayasan ini menanam sekitar tiga ribu anakan kelapa di desa-desa binaan yang tersebar di empat kecamatan: Adonara Barat, Kelubagolit, Lewolema, dan Titehena.

“Kita ingin ekonomi rumah tangga dapat berkembang dengan baik. Tidak hanya laki-laki tetapi kita dorong ibu-ibu menjadi poros perubahan bagi ekonomi keluarga dan komunitasnya,” kata Melky.

Di Bantala, sore itu, Sisilia masih menata tempurung-tempurung kelapa di dekat pintu rumahnya — pekerjaan kecil yang ia ulangi hampir setiap hari sejak 2023.

Baginya, cerita ini sesederhana perubahan yang ia rasakan sendiri di dapur.

“Sekarang tak harus bergantung pada minyak tanah. Briket sudah jadi solusi,” katanya.

Editor: Ryan Dagur

Liputan ini merupakan hasil kolaborasi Floresa dan Project Multatuli untuk koleksi jendela.projectmultatuli.org

Dukung Kami

Ada cerita yang terlalu berisiko untuk diberitakan, korban yang terlalu lemah untuk didengar, dan mereka yang terlalu berkuasa untuk disentuh.
Floresa memilih memberi perhatian pada semua itu. Kami tidak bergantung pada iklan korporasi atau kepentingan politik. Independensi kami dibiayai oleh pembaca yang percaya bahwa kebenaran harus diungkap tanpa kompromi.
Dukung kami untuk terus bertahan. Caranya bisa cek di sini

BACA JUGA