Floresa.co – Camat di Manggarai Timur, NTT, yang sempat viral karena memprotes dugaan manipulasi bantuan gempa dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengundurkan diri dari jabatannya, mengklaim “memilih menjadi relawan untuk membantu sesama saudara.”
Agustinus Supratman, 46 tahun, Camat Lamba Leda Utara, membuat surat pengunduran dirinya dengan tulisan tangan pada selembar kertas dari buku tulis, hanya dua hari usai video perdebatannya dengan Kombes Pol Deden Nurhidayatullah, seorang pejabat BNPB, viral di berbagai platform media sosial.
“Mengajukan permohonan pengunduran diri dari jabatan Camat Lamba Leda Utara untuk kepentingan yang lebih besar bagi Kecamatan Lamba Leda Utara, lebih khusus pada penanganan bencana Lamba Leda Utara,” bunyi surat Agustinus yang ditulis di Posko Wae Waru, Desa Golo Mangung pada 23 Agustus.
Dalam surat tersebut, ia menyatakan telah mendelegasikan wewenang koordinator penanganan bencana kepada Emil, Kepala Seksi Pelayanan Umum di kecamatan itu.
“Sebagai jaminan, saya tidak lari dari tanggung jawab dalam situasi ini, saya memilih menjadi relawan untuk membantu sesama saudara saya di Lamba Leda Utara,” tulisnya.
Protes dan Marahi Pejabat BNPB
Dua hari sebelum menulis surat tersebut, yakni pada 21 Agustus, video Agustinus yang memprotes bantuan gempa dari BNPB viral di media sosial.
Ia menuding adanya manipulasi dalam penyaluran bantuan tersebut karena jumlahnya tidak sesuai dengan kebutuhan warga, kendati informasi yang tersebar menyebut bantuan sudah banyak mengalir ke wilayah itu.
“Saya pusing, Pak. Bapak bilang bantuan banyak turun ke sini. Saya tersinggung, Pak. Saya marah, Pak,” katanya kepada Deden dalam cuplikan video tersebut.
Deden merupakan Inspektur III BNPB yang juga menjadi penanggungjawab lembaga itu di wilayah Manggarai Timur.
Agustinus mengaku dalam video tersebut bahwa dirinya merasa tertekan oleh berbagai desakan dari 21.171 jiwa di 11 desa di Lamba Leda Utara, sementara jumlah bantuan yang disalurkan BNPB jauh dari harapan mereka.
“Saya sangat tidak setuju. Saya tahu semua desa protes ke saya, semua teriak ke saya,” katanya sembari terus mengikuti dan memelototi Deden.
Tak hanya bersuara dengan nada keras, Agustinus juga sempat membanting salah satu paket bantuan di hadapan Deden. Ia mengklaim tindakannya sebagai bentuk protes karena realisasi bantuan di lapangan berbeda dari catatan administratif dan informasi yang disampaikan kepada warga.
“Bapak bicara di sana bahwa bantuan banyak supaya orang dengar di sana. Saya rekam, Pak. Saya rekam. Bapak sudah keterlaluan,” lanjutnya.
Selain itu, Agustinus juga menolak menandatangani Berita Acara Serah Terima (BAST) barang.
“Bantuan sedikit untuk bagi ke banyak orang, sebelas desa. Saya stres, bagaimana cara membaginya?,” katanya.
Klarifikasi Bersama Wabup dan Sekda
Pada 26 Agustus, video Agustinus kembali muncul di media sosial saat ia menyampaikan klarifikasi terkait persoalan tersebut.
Dalam video yang diunggah akun Facebook Protokol dan Komunikasi Pimpinan Manggarai Timur, Agustinus tampak diapiti Wakil Bupati Tarsisius Sjukur, Sekretaris Daerah Winsensius Tala, serta Deden dan seorang pegawai BNPB lain.
“Sesungguhnya peristiwa itu tidak seperti yang dibagikan oleh beberapa pihak yang sangat merugikan BNPB dan Pemerintah Manggarai Timur,” katanya.
Ia berkata, bantuan dari pemerintah pusat didistribusikan hingga tingkat kabupaten, hingga pemerintah menyalurkannya ke kecamatan.
“Bantuan untuk Manggarai Timur memang banyak. Namun, saat kejadian, baru satu mobil pikap dan satu dump truk yang tiba di kecamatan. Sesungguhnya karena persoalan transportasi sehingga bantuan itu belum banyak mengalir ke sana,” katanya.
Pernyataan Deden mengenai banyaknya bantuan, katanya, merujuk pada total bantuan yang telah masuk ke Kabupaten Manggarai Timur, bukan yang sudah tiba di Lamba Leda Utara.
“Bantuan yang telah berada di kecamatan lain juga sudah didistribusikan ke sejumlah desa. Saya sendiri juga hari ini melihat bantuan banyak sekali mengalir dan untuk dibagikan ke 12 kecamatan di Manggarai Timur,” katanya.
Floresa menghubungi Agustinus dan Sekda Winsensius pada 27 Agustus, namun keduanya tak merespons pesan yang dikirim melalui Whatsapp.
Klarifikasi Berulang
Tak hanya sekali, Agustinus kembali membuat video klarifikasi yang disebarkan lewat Facebook pada 28 Agustus.
Dalam video tersebut, ia mengklaim keputusannya mundur dari jabatan camat merupakan pilihan keluarga dan tidak didasari tekanan dari pihak manapun.
“Keputusan ini memang tidak elok di tengah situasi seperti ini. Namun, keputusan ini harus diambil untuk kebaikan bersama dan untuk kepentingan Lamba Leda Utara yang lebih besar,” ujarnya.
Ia mengaku, tetap akan membantu masyarakat Lambaleda Utara, terutama warga terdampak gempa.
“Saya mengajak masyarakat menyikapi situasi ini secara bijak. Saya mengajak kita semua untuk mendukung pemerintah dan BNPB, serta sistem dan proses penanganan bencana yang sedang berjalan,” katanya.
Ia meminta masyarakat menghargai proses penanganan bencana dan mendukung pemerintah kecamatan agar tetap maksimal menjalankan tugas.
Informasi yang dihimpun Floresa menyebut pemerintah daerah telah menunjuk Emilianus Hardjonit sebagai Pelaksana Tugas Camat Lamba Leda Utara menggantikan posisi Agustinus.
Editor: Anno Susabun



