Floresa.co – Suasana tampak ramai di gedung eks Hotel Plago di Pantai Pede, Labuan Bajo pada 15 September.
Umbul-umbul hingga sederet foto tampak dipajang pada dinding tembok bangunan itu.
Ada pula lapak-lapak UMKM yang menjual beragam produk, mulai dari makanan ringan hingga pakaian.
Di sisi utara bangunan, dua orang ibu bersama empat pemuda dari Komunitas Uma Lestari sedang mengolah sobol, makanan khas Manggarai dari tepung ubi.
Pemandangan ini mengubah wajah bangunan hotel itu yang selama ini ditelantarkan setelah pengelolanya terseret kasus korupsi.
Kolektif Video Art and Society (Videoge), komunitas berbasis di Labuan Bajo menyulap tempat itu menjadi lokasi pagelaran Pesta Kampung pada 15-20 September.
Aden Firman, kurator Videoge berkata, pemilihan lokasi itu berdasarkan pada pertimbangan artistik, metaforis serta relevansi isu yang ingin diangkat.
“Isu kami adalah bagaimana memanfaatkan ruang publik,” kata Aden.
Ia berkata, tidak banyak tempat untuk pertunjukan di Labuan Bajo yang dekat dengan warga.
Pemilihan Pantai Pede berangkat dari fakta ”tempat ini tidak diaktivasi karena kasus korupsi.” Pada saat bersamaan “kita butuh ruang untuk diaktivasi.”

Tanah di Pantai Pede adalah milik Pemerintah Provinsi NTT. Pada 2014 aset itu diserahkan kepada korporasi swasta PT Sarana Investama Manggabar (SIM) yang terkait dengan kroni Setya Novanto, eks Ketua DPR RI.
Namun, Pemerintah Provinsi NTT membatalkan kerja sama dengan PT SIM pada 2018, membuat Hotel Plago yang sempat dibangun jadi telantar. Para petinggi perusahaan itu kemudian diadili terkait dugaan korupsi dalam kerja sama tersebut.
Aden berkata, dengan memilih lokasi yang telantar tersebut, “kita mau memberi makna baru buat tempat ini sebagai ruang publik.”
Selain pertunjukan seni dan musik, festival ini juga menghadirkan sesi bincang tematik seputar kesenian dan kebudayaan dalam konteks perkembangan Labuan Bajo.
Tema yang diangkat antara lain“Hilang Munculnya Komunitas Film di Labuan Bajo,” “Bagaimana Memahami Labuan Bajo,” “Perkara Kepariwisataan dalam Tatapan Kebudayaan,” dan “Mengapa Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah Penting bagi Seniman dan Komunitas.”
Festival juga akan diramaikan dengan bincang dan peluncuran buku “Cerita Warga.”
Buku ini merupakan kumpulan tulisan dari komunitas Videoge yang merekam narasi warga Labuan Bajo, termasuk kisah tentang panyamba, para pemburu ikan tangan kedua yang menjemput hasil tangkapan langsung di laut. Lewat cerita-cerita, buku itu menelusuri asal-usul panyamba dan menggambarkan kondisi mereka yang kian terpinggirkan di tengah perubahan sosial dan ekonomi kawasan Labuan Bajo.
Narasi Menghidupi Kota
Mengusung tema ‘Hilir Mudik,’ festival itu juga hendak merespons kenyataan geliat pariwisata Labuan Bajo dengan cara-cara yang relevan, kata Aden.
Ia menjelaskan, Pesta Kampung bertujuan mendorong adanya dialog antara seni dan perubahan masyarakat serta menumbuhkembangkan kesenian, budaya dan kreativitas di kalangan orang muda.
“Kesenian yang dimaksudkan hendak merespons Labuan Bajo sebagai ‘kota tumbuh’ dengan adanya percepatan pembangunan kawasan strategis perkotaan,” katanya.
Aden menyebut, sebagai kota yang bertumbuh cepat, Labuan Bajo menghadapi banyak masalah, seperti “komodifikasi kebudayaan menjadi nilai tukar sesuai kepentingan pasar” dan “kesenian menjadi tampak berjarak dengan warga.”
Selain itu, perkembangan itu justru hanya bermuara pada pengarusutamaan modal dan keuntungan finansial semata sehingga “mentalitas manusianya menjadi sangat transaksional.”
Ia menyebut hal ini muncul dalam sejumlah festival yang belakangan bermunculan, yang fokus pada meningkatkan kunjungan wisatawan ke Labuan Bajo.
Kendati tidak spesifik menyebut nama festival dimaksud, ia memberi catatan bahwa corak festival demikian tampak masih berjarak dari pelibatan warganya.
“Pesta Kampung sebagai festival yang tumbuh dari warganya sendiri merupakan cara lain mengimbangi perkembangan yang terjadi di Labuan Bajo,” kata Aden.

Festival itu, kata Aden, tidak hanya meletakkan pagelaran seni dan budaya sebagai atraksi budaya dan seremonial semata, “tetapi perlu ada distribusi pengetahuan.”
Karena itu, “kami membangun kesadaran kritis melalui praktik produksi, reproduksi dan distribusi pengetahuan.”
Aden menggambarkan Pesta Kampung sebagai ‘festival proses’ dan tematik yang digerakkan sejak 2023 melalui praktik ‘telusur-rekam-salur’ pengetahuan setempat atau lokal ke dalam pendekatan-pendekatan inovatif.
Proses itu ditempuh dengan pencatatan, dialog, eksplorasi gagasan, kolaborasi, praktik kolektif, dan turut serta pemajuan kondisi ke arah yang relevan membangun kota dengan kesenian.
Aden berkata, Pesta Kampung dapat menjadi alternatif dalam menggerakkan festival dengan menyoroti aspek-aspek penting di luar ekonomi, sekaligus memperkuat ketahanan sosial dan budaya masyarakat.
“Festival bukan hanya agar tampak mewah dan meriah dalam angka pengunjung, hilir-mudik pengunjung wisata dan pengusaha, tetapi juga menyoroti praktik bermakna bagi kehidupan warga dan kebudayaan setempat,” katanya.
Ruang bagi UMKM dan Komunitas
Beato Lanjong, pustakawan dari Klub Buku Petra yang berbasis di Ruteng, Kabupaten Manggarai menyatakan komunitasnya ikut menjadi mitra dalam kegiatan itu karena membawa perspektif baru dalam pelaksanaan festival.
“Kalau anggapan orang biasanya festival itu hanya untuk hiburan saja, Videoge mengemas dengan cara baru. Ada diskusi buku dan kegiatan pencerdasan lainnya,” katanya.
Klub Buku Petra menyediakan lapak buku untuk dibaca pengunjung dan dijual. Mereka menyediakan berbagai buku fiksi dan non fiksi.
Menurut Beato, pendekatan festival semacam ini dapat menjadi sarana yang efektif untuk memperkenalkan dan menguatkan gerakan literasi.
Ia juga menilai tema yang diusung festival itu menggambarkan kondisi Labuan Bajo.
“Hilir-mudik menggambarkan bagaimana Labuan Bajo sebagai kota pelabuhan, orang datang pergi,” kata Beato.
Yang lebih menyenangkan, kata dia, adalah Videoge “berangkat dari modal pertemanan, membentuk komunitas dan mereka mengerjakan hal-hal yang dekat dengan warga.”
Yasinta Yanti dari UMKM Komorajut yang bergerak di bidang usaha rajut menjual tas, dompet, gantungan kunci, dan tas tumbler selama festival.
“Semuanya saya rajut sendiri,” katanya kepada Floresa pada 17 September.
Ia berkata, sebelumnya produk-produknya dipasarkan secara daring. Harga satu tas Rp150.000.

Festival itu, kata Yanti, merupakan ajang promosi produknya.
“Selama tiga hari ini hanya laku empat tas. Tetapi prinsipnya saya ke sini datang promosi. Supaya orang tahu saya bisa bikin rajut,” katanya.
Ia berkata, banyak yang meminta kontaknya untuk memesan produk sesuai model dan inspirasi mereka sendiri.
Menurut Yanti, festival ini menginspirasi anak muda karena menghadirkan pertunjukan seni, diskusi kebudayaan dan sastra.
“Kalau dipromosikan dengan baik, festival ini akan menarik banyak pengunjung,” katanya.
Editor: Ryan Dagur




