Perempuan di Musim Kemarau 

Subuh masih gelap ketika Sonya meraih senter di dekat pintu kamarnya. Angin kemarau bertiup kencang, menggoyang pohon-pohon jati di belakang rumah. Ia cepat-cepat bangun. Hari ini ia harus lebih dulu sampai di kali.

Ia mengambil tujuh jerigen kecil, lalu berjalan menembus halaman belakang. Di kepalanya terbayang wajah dua anaknya: si bayi dan si sulung yang masih SD. Suaminya bekerja jauh di Kalimantan. Di rumah ini, ia sendirian menjaga semuanya.

“Mereka harus bersih. Harus bisa senyum,” gumamnya pelan.

Daun jati kering berderak di bawah kakinya. Ia menoleh kiri dan kanan, memastikan belum ada warga lain yang turun. 

Tebing kecil ia turuni hati-hati. Kadang berjalan cepat, kadang setengah berlari, melawan dingin dan debu yang menebal karena kemarau panjang.

Kali itu hampir kering. Tinggal hamparan batu dan pasir. Sonya melompat dari satu batu ke batu lain. Cahaya senternya menyapu sela-sela pasir, mencari tanda yang ia hafal: permukaan yang masih lembap.

Di dekat pohon besar, ia melihat tumpukan pasir yang tertutup daun lebar. Ia tersenyum kecil.

“Saya yang pertama,” bisiknya lega.

Ia menyingkirkan daun-daun itu dan mulai menggali dengan tangan. Pasir dikais pelan, seperti ayam mencari sisa nasi. Sedikit demi sedikit, air bening muncul dari dalam. Ia menggali hampir tiga puluh sentimeter.

Air mulai menggenang kecil. Ia menunggu endapan turun, lalu menyendoknya perlahan ke jerigen pertama. Hati-hati agar pasir tidak runtuh kembali.

Jerigen pertama penuh.

Dari kejauhan, cahaya senter lain mulai bermunculan. Warga kampung turun satu per satu. Suara mereka lirih, digulung angin kemarau.

Sonya mempercepat gerakannya. Jerigen kedua penuh. Ketiga. Keempat. Kelima. Keenam. Ketujuh. Tangannya perih, kukunya hitam, lututnya penuh pasir.

Saat jerigen terakhir terisi, matahari mulai naik.

Ia mengikat lima jerigen menjadi satu dan mengangkatnya ke punggung. Dua sisanya ia pegang di tangan. Bebannya membuat tubuhnya condong ke depan.

Perjalanan pulang selalu lebih berat.

Ia melompat lagi di antara batu-batu. Nafasnya mulai pendek. Kakinya gemetar. Pada satu lompatan, kakinya mendarat miring. Ia tergelincir.

Tubuhnya jatuh ke samping. Lututnya menghantam batu keras. Satu jerigen terlepas dan berguling, tapi berhasil ia raih kembali. Rasa nyeri menjalar sampai ke pinggul.

Ia menunduk, menahan sakit. Sekilas muncul ketakutan: bagaimana kalau suatu hari ia tak bisa lagi berjalan? Siapa yang akan mengambil air?

Ia menepis pikiran itu. Ia tidak punya waktu untuk takut.

Sonya berdiri lagi. Lebih pelan. Lebih hati-hati.

Di sepanjang jalan, ia melihat wajah-wajah lain. Ada bapak-bapak memanggul jerigen besar. Ada ibu-ibu yang mengeluh pelan. Ada remaja yang sudah tampak putus asa. Semua wajah itu sama. Lelah, tapi tidak menyerah.

Saat hampir sampai di bibir tebing, seorang ibu memanggilnya.

“Sonya, saya tidak dapat air. Boleh bagi sedikit saja?”

Sonya berhenti. Ia melihat jerigen-jerigennya. Semuanya pas untuk satu hari. Jika berkurang satu, mungkin ada yang tidak mandi. Mungkin dirinya sendiri.

Angin kemarau berembus keras. Dadanya terasa berat.

Ia mengangguk pelan.

“Ambil satu saja, Bu.”

Ibu itu berkali-kali mengucap terima kasih. Sonya hanya tersenyum tipis. Ada rasa menyesal yang lewat. Itu hanya sebentar. 

“Di musim seperti ini, orang bisa kehilangan banyak hal. Semoga hati mereka tidak ” kata Sonya dalam hati. 

Ia melanjutkan langkah. Kini jerigennya tinggal enam.

Jalan menanjak terasa lebih panjang dari biasanya. Matahari makin panas. Tubuhnya seperti diperas habis. Tapi ia terus berjalan, membayangkan dua anaknya yang menunggu.

Dari kejauhan, kampungnya terlihat kering. Atap rumah dipenuhi daun mati. Tanah retak. Pohon jati tinggal ranting. Bau debu bercampur angin.

Ia menarik napas panjang.

Dalam hidup orang kecil, tak banyak pilihan selain bertahan. Dengan sisa air. Sisa tenaga. Sisa harapan.

Di tangannya ada air. Di tubuhnya ada letih. Di dalam hatinya ada keyakinan kecil bahwa hujan pasti datang.

Sesampainya di rumah, anak sulungnya sudah berdiri di depan pintu dapur. Wajahnya langsung berbinar melihat jerigen-jerigen itu.

“Ibu dapat air?”

“Iya. Kita dapat.”

Anak sulungnya tertawa kecil.

Sonya menurunkan jerigen satu per satu. Lututnya masih gemetar.

Ia membuka satu jerigen, menuangkan air ke baskom, lalu menggendong bayinya.

Air dingin menyentuh kulit kecil itu.

Bayinya tertawa.

Sonya menunduk. Entah kenapa air matanya ikut jatuh.

Teofilus Afres adalah jurnalis Floresa