‘Andrie Yunus Selalu Hadir bagi Kita yang Ditindas’: Masyarakat Sipil Desak Polisi Usut Tuntas Pelaku Serangan

Polisi belum juga mengumumkan pelaku hingga nyaris sepekan pascakejadian

Floresa.co – Suara lebih dari 100 warga tak menyurut meski harus beradu dengan klakson kereta rel listrik yang melaju di seberang kantor Komnas HAM.

Selagi beberapa menaruh tangan di depan dada, lainnya terkepal dan menunjuk ke udara. 

Pada 17 Maret malam itu mereka lantang bernyanyi: Kubisa tenggelam di lautan/Aku bisa diracun di udara/Aku bisa terbunuh di trotoar jalan/Tapi aku tak pernah mati/Tak akan berhenti//

“Di Udara” merupakan lagu yang dirilis kelompok musik Efek Rumah Kaca untuk mengenang pendiri Komisi Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Munir Said Thalib.

Munir meninggal akibat diracun arsenik dalam penerbangan dari Jakarta ke Amsterdam, Belanda pada 2004.

“Dulu negara serang Munir, sekarang Andrie Yunus,” kata Neneng sebelum melanjutkan, “mereka adalah orang-orang yang setia mendampingi perjuangan warga. Mereka sahabat kami.”

Pernyataan Neneng merupakan bagian dari refleksi kolektif merespons penyiraman air keras terhadap Wakil Koordinator KontraS itu nyaris sepekan silam. 

Neneng tinggal di Rumpin, suatu kecamatan di Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat. 

Selama lebih dari 20 tahun, ia bersama warga Rumpin berjuang mempertahankan tanah yang diklaim milik TNI Angkatan Udara dan akhirnya dijadikan markas militer.

Konflik menahun itu turut menimbulkan teror dan intimidasi terhadap warga. 

“Andrie selalu datang setiap mendengar kami diintimidasi,” kata perempuan berusia nyaris 60 tahun itu.

“Negara harus mengusut tuntas siapapun yang telah menyakiti Andrie,” kata Neneng lantang sebelum bersambut teriakan warga: “Usut tuntas!”

Lebih dari 100 warga berkumpul dalam refleksi dan doa bersama di depan gerbang Komnas HAM di Jakarta Pusat pada 17 Maret 2026. Kegiatan tersebut merupakan respons masyarakat sipil pascapenyerangan terhadap Wakil Koordinator KontraS, Andrie Yunus pada 12 Maret 2026. (Dokumentasi @masbeni untuk Floresa)

Peduli Keamanan

Gerbang Komnas HAM tertutup selagi perwakilan warga dan organisasi masyarakat sipil berkali-kali menyebut nama Andrie.

Mantan koordinator KontraS hingga 2023, Fatia Maulidiyanti ikut bercerita pengalamannya selama bekerja dengan Andrie.

“Kami kerap menyebutnya Mr. Safety,” kata Fatia, “lantaran ia tak pernah lupa mengingatkan kami soal detail-detail prosedur keamanan.”

“Bisa dibilang Andrie yang menjaga kami. Ia selalu berusaha memastikan kami selamat,” katanya.

Fatia dan Haris Azhar, juga mantan koordinator KontraS sekaligus pendiri Lokataru, dilapor Luhut Binsar Pandjaitan atas dugaan pencemaran nama baik pada 2023. Keduanya harus menjalani persidangan sebelum divonis bebas pada Januari 2024. 

“Apa yang terjadi pada teman-teman KontraS merupakan bentuk ketidakberanian negara menghadapi suara rakyat,” kata pejuang hak-hak buruh, Nining Elitos.

Menyebut kerja-kerja Andrie membikin takut pelaku, Nining menyerukan warga sama-sama bergerak dan berani bersuara alih-alih berdiam diri.

“Kita mungkin hanya kumpulan cahaya kecil,” kata Nining, “tetapi bila semakin banyak, mereka akan takut. Suatu saat kita akan menang.”

Refleksi berakhir menjelang pukul 22.00 WIB. Pertemuan malam itu ditutup doa yang dipimpin Frater Feliks Erasmus Arga, S.J.

Dalam doanya, Feliks mengajak warga menyertai pemulihan Andrie yang ia sebut “telah Tuhan hadirkan bagi kita semua yang ditindas.”

Lebih dari 100 warga berkumpul dalam refleksi dan doa bersama di depan gerbang Komnas HAM di Jakarta Pusat pada 17 Maret 2026. Kegiatan tersebut merupakan respons masyarakat sipil pascapenyerangan terhadap Wakil Koordinator KontraS, Andrie Yunus pada 12 Maret 2026. (Dokumentasi @masbeni untuk Floresa)

Polisi harus Dalami Temuan di Lokasi Kejadian

Andrie diserang orang tak dikenal di Jakarta Pusat pada 12 Maret malam. Ia sedang bersepeda motor kala beberapa bagian tubuhnya disiram air keras. 

Polisi belum juga mengumumkan pelaku hingga nyaris sepekan sesudah serangan tersebut yang mengakibatkan luka bakar pada tubuhnya. Mata kanan Andrie mesti dioperasi.

Pengacara Andrie dari Tim Advokasi untuk Demokrasi (TAUD) menduga penyerangan terhadap pejuang HAM itu dilakukan secara sistematis. 

Perwakilan TAUD, Alghiffari Aqsa menduga “para pelaku serangan merupakan orang-orang terlatih.”

“Sangat sulit membayangkan serangan yang dilakukan terorganisasi sedemikian rupa ini dilakukan oleh sipil,” katanya dalam konferensi pers 16 Maret.

Sementara Airlangga Julio, juga perwakilan TAUD, menduga pelaku ikut terkena air keras yang disiramkannya. Dugaan muncul setelah sejumlah saksi menemukan botol ungu di sekitar lokasi kejadian.

Botol yang diduga wadah air keras itu telah diserahkan ke Polda Metro Jaya. Dalam konferensi pers 16 Maret, Polda menyatakan telah mengamankan sejumlah barang bukti tanpa menyebutkan detailnya.

TAUD mendesak polisi mendalami temuan tersebut. Mereka juga meminta aparat penegak hukum memeriksa semua fasilitas atau tenaga medis “yang diam-diam memiliki cara untuk menyembuhkan pelaku.”

Editor: Ryan Dagur

Dukung kami untuk terus melayani kepentingan publik, sambil tetap mempertahankan independensi. Klik di sini untuk salurkan dukungan!
Atau pindai kode QR di samping

BACA JUGA