Bantah Tudingan Merusak Pipa dan Babat Kopi, Warga Manggarai Timur Dikeroyok Massa di Depan Dua Kepala Desa dan Babinsa

Korban yang mengalami luka di pelipis kanan dan sempat jatuh pingsan telah melapor kasus ini ke polisi

Floresa.co – Sebuah mediasi terkait kasus perusakan pipa air minum dan penebangan pohon kopi di Kabupaten Manggarai Timur berujung pengeroyokan terhadap salah satu warga setelah ia berusaha membantah tuduhan melakukan aksi tersebut.

Peristiwa itu terjadi di Kantor Desa Mokel, Kecamatan Kota Komba Utara, pada 5 Juni.

Korban, Fransiskus Darsin, warga Desa Mokel, yang mengalami luka di bagian pelipis kanan telah melaporkan kejadian tersebut ke Polres Manggarai Timur.

Kasus ini bermula dari laporan yang dilayangkan oleh Gregorius Gaga dan Quirinus Asad Busari, warga Kampung Pong Bali, Desa Golo Meni, Kecamatan Kota Komba Utara, pada 18 Mei. 

Keduanya melaporkan bahwa Fransiskus Darsin bersama dua orang lainnya — Siprianus Jegaut dan Benyamin Manggas — diduga membabat hutan lindung di mata air Wae Lukup, merusak pipa air minum bersih Wae Lukup, serta menebang kebun kopi milik Quirinus.

Merespons laporan tersebut, Kepala Desa Mokel, Fransiskus Kelang, melayangkan tiga surat panggilan klarifikasi kepada Darsin: pada 18 Mei, 20 Mei, dan terakhir pada 3 Juni. Darsin tidak menghadiri dua panggilan pertama.

Dalam surat panggilan ketiga, Kelang menulis: “Apabila saudara tidak hadir, maka Pemerintah Desa Mokel tidak bertanggung jawab bila pihak pelapor akan melanjutkan masalah ini ke tingkat yang lebih tinggi, yaitu aparat penegak hukum.”

Atas dasar surat itulah Darsin akhirnya hadir dalam mediasi pada 5 Juni.

Kronologi Kejadian

Mediasi tersebut dihadiri oleh pelapor Gregorius Gaga dan Quirinus Asad, Kepala Desa Mokel, Fransiskus Kelang, Kepala Desa Golo Meni, Paulus Darman, seorang anggota Babinsa dari Koramil Borong, serta Rikardus Rahu — Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Mokel sekaligus adik kandung Darsin. 

Dari pihak yang dituding sebagai pelaku, hanya Darsin dan Siprianus Jegaut yang hadir; Benyamin Manggas absen.

Menurut Kasat Reskrim Polres Manggarai Timur, IPTU Ahmad Zacky Shodri, kejadian bermula ketika Kepala Desa Fransiskus Kelang menyampaikan kepada Darsin bahwa ia diduga merusak pipa air minum dan menebang kopi milik Quirinus. 

Darsin membantah dan menyatakan tidak mengetahui peristiwa tersebut. Meski demikian, Kelang bersama Gregorius Gaga terus menekan Darsin untuk mengakui perbuatan tersebut.

Beberapa saat kemudian, kedua kepala desa memanggil Darsin dan Siprianus ke dalam ruangan dan meminta keduanya menyelesaikan masalah secara damai. 

Darsin menyetujui tawaran itu. Namun, setelah Gregorius dan Quirinus dipanggil masuk lalu keluar ruangan, Darsin dipanggil kembali. 

Kali ini, Kelang menyatakan bahwa Darsin adalah pelaku pengrusakan dan memintanya membayar ganti rugi sebesar Rp25 juta.

Darsin menolak. Ia merasa tidak pernah terlibat dalam pengrusakan yang dituduhkan.

Ketika Kelang menyampaikan kepada Gregorius dan Quirinus bahwa Darsin bersedia berdamai namun tidak mau membayar denda, suasana langsung memanas. 

Keduanya tidak menerima dan terus-menerus menuduh Darsin sebagai pelaku.

Pengeroyokan

Menurut keterangan Rikardus Rahu kepada Floresa pada 7 Juni, sejumlah warga Kampung Pong Bali yang sebelumnya tidak diundang tiba-tiba berdatangan ke kantor desa saat mediasi masih berlangsung.

“Kami menduga ada perencanaan. Karena mediasi sedang berjalan, tetapi tiba-tiba banyak orang muncul lalu terjadi pengeroyokan,” katanya.

Quirinus kemudian mengangkat kursi dan melemparkannya ke arah Darsin, diikuti oleh Gregorius. Rikardus berusaha menghalau lemparan itu. Ia juga sempat menyaksikan seorang warga bernama Rikar memukul pinggang kanan Darsin dengan kepalan tangan.

Ketika Darsin berusaha keluar dari kantor desa, seorang warga bernama Ondok — anak kandung Quirinus — melemparkan kursi dari jarak sekitar lima meter dan mengenai pelipis kanan Darsin. Darsin pun jatuh pingsan.

“Saya sempat halangi. Tetapi mereka terlalu banyak. Kursi dilempar berkali-kali,” kata Rikardus. Ia menyebut sedikitnya tujuh hingga delapan kursi kantor desa rusak dalam keributan itu.

Kepala Desa Fransiskus Kelang, Kepala Desa Paulus Darman, dan anggota Babinsa sempat berupaya melerai, namun kalah jumlah dan ikut terkena dampak amukan massa, menurut keterangan Zacky dari Polres Manggarai Timur.

Melihat Darsin tak sadarkan diri, Babinsa segera mengamankan Darsin, lalu dibawa ke Puskesmas Mukun oleh Paulus Darman untuk mendapatkan penanganan medis, termasuk penjahitan luka di pelipis.

Kondisi Korban dan Pelaporan ke Polisi

Setelah mendapat penanganan awal, Rikardus membawa Darsin ke Polres Manggarai Timur untuk membuat laporan polisi, lalu ke Puskesmas Borong untuk menjalani visum. 

Laporan resmi tercatat masuk pada 5 Juni sekitar pukul 12.30 Wita. Dalam laporan itu, Rikardus mengidentifikasi Gregorius dan Quirinus sebagai terduga pelaku.

Kondisi Darsin terus melemah sepanjang perjalanan tersebut, katanya.

“Dia jatuh pertama di kantor desa. Dalam perjalanan ke Polres juga sempat jatuh lagi. Sampai di Polres juga sempat jatuh karena pusing,” kata Rikardus. 

“Saat berada di Polres, korban bahkan sempat pingsan dan terbaring lemas di depan polisi karena pusing dan kelelahan.”

Hingga berita ini dipublikasi, Darsin masih mengeluhkan pusing dan beristirahat di rumah.

Respons Pihak Terkait

Floresa telah menghubungi Kepala Desa Fransiskus Kelang melalui WhatsApp pada 7 Juni untuk meminta tanggapan. Pesan tersebut telah terbaca, namun tidak direspons.

Kepala Desa Paulus Darman pada 8 Juni memberikan jawaban singkat dan menyampaikan permohonan maaf karena belum bisa memberikan penjelasan. Ia beralasan sedang dalam perjalanan.

Floresa kembali menghubungi Kasat Reskrim IPTU Ahmad Zacky Shodri pada 9 Juni untuk menanyakan perkembangan kasus dan siapa saja yang telah diperiksa. 

Pesan tersebut telah terbaca, namun hingga berita ini diterbitkan belum ada respons.

“Kami hanya berharap proses hukum berjalan profesional dan kebenaran bisa terungkap,” kata Rikardus. 

Editor: Herry Kabut

Dukung Kami

Ada cerita yang terlalu berisiko untuk diberitakan, korban yang terlalu lemah untuk didengar, dan mereka yang terlalu berkuasa untuk disentuh.
Floresa memilih memberi perhatian pada semua itu. Kami tidak bergantung pada iklan korporasi atau kepentingan politik. Independensi kami dibiayai oleh pembaca yang percaya bahwa kebenaran harus diungkap tanpa kompromi.
Dukung kami untuk terus bertahan. Caranya bisa cek di sini

BACA JUGA