SERIAL LIPUTAN

Domba vs Gembala di Nangahale

Saat warga dan otoritas keagamaan terlibat dalam sengketa lahan warisan kolonial.

Di Nangahale, perumpamaan tentang gembala dan domba terdengar ganjil. Gembala memegang sertifikat dan mengendalikan perusahaan; domba mempertahankan rumah, kebun, dan tanah leluhur. Ketika keduanya berhadap-hadapan, tongkat penggembalaan menjelma menjadi surat penggusuran dan laporan polisi.

Di satu sisi berdiri Keuskupan Maumere—pemilik PT Krisrama, pemegang HGU, dan institusi yang memiliki akses luas kepada pejabat, hukum, serta aparat. Di sisi lain berdiri umatnya sendiri, bagian dari masyarakat adat, yang harus membuktikan hak atas ruang hidup di hadapan Gereja yang selama ini mereka hormati sebagai ibu.

Pada akhir September 2026, tim kami mendatangi Nangahale, menemui warga, mewawancarai otoritas Gereja Katolik di Maumere, dan menelusuri jejak dokumen. 

Serial Domba vs Gembala di Nangahale mengurai perjalanan tanah dari perkebunan kolonial Belanda, pengelolaan misi, HGU negara, hingga penguasaan PT Krisrama—serta cara penggusuran dan pemidanaan warga memperoleh restu dari pucuk kepemimpinan Keuskupan.

Di balik berkas pertanahan dan bahasa pastoral, tersimpan pertanyaan krusial: dapatkah Gereja menyebut diri gembala ketika umatnya digusur dan dipenjarakan demi tanah yang sejarah awal penguasaannya sendiri masih terus diperdebatkan? Jika Gereja memenangkan sertifikat tetapi kehilangan kepercayaan umat, apakah itu kemenangan—atau justru kekalahan yang paling telanjang?

Serial ini akan mencakup sejumlah artikel, tidak hanya mengurai tentang siapa yang menguasai tanah, tetapi tentang siapa yang paling mudah didengar negara, siapa yang dapat menggerakkan aparat, dan siapa yang dipaksa kehilangan kebun, kebebasan, bahkan rasa memiliki terhadap Gerejanya sendiri.

Kami tahu ini
tidak nyaman.

Menulis tentang Gereja yang selama ini dihormati umatnya bisa memicu perdebatan, bahkan rasa tidak nyaman. Kami menyadarinya sejak awal.

Namun kami berprinsip

Persoalan ini penting dan perlu dibicarakan, secara terbuka dan berdasarkan fakta.

Artikel Utama

Penggusuran dan Pemidanaan Warga dalam Konflik Nangahale Atas Restu Uskup Maumere

Warga Nangahale berdoa bagi keluarga mereka yang dipidana oleh korporasi Gereja Katolik dalam konflik agraria yang menguji batas kesetiaan mereka dengan Tuhan dan luka mereka terhadap institusi Gereja.

Artikel Lainnya

Imam Keuskupan Maumere Bicara di Mimbar Gereja Nangahale, Tuding Ada Upaya Mempermalukan Uskup

Imam tersebut menyerukan warga yang berkonflik dengan korporasi milik Keuskupan agar “kembali”, sembari menyerang pendamping warga dan mengaitkan sengketa agraria dengan kesetiaan umat kepada Gereja Katolik.

Jejak Kerja Sama yang Dihapus dan Asa Keuskupan Maumere Gaet Investor ke Nangahale

Floresa.co - Sebuah berita yang pernah dipublikasi di situs resmi RCA Carbon, perusahaan pengembang proyek kredit karbon, mengumumkan kerja sama dengan...

Konflik Agraria Nangahale Memicu Friksi di Internal Gereja Katolik

Kunjungan kemanusiaan sejumlah imam SVD kepada korban penggusuran berujung laporan ke pimpinan tarekat di Roma. Di balik sengketa tanah, muncul perbedaan tentang ketaatan, ruang bersuara, dan keberpihakan Gereja.

Ombudsman Bantah Klaim Uskup Maumere: Temuan Maladministrasi HGU Nangahale Tak Dibatalkan

Di antara klaim pembatalan, temuan maladministrasi, dan mediasi yang buntu, Ombudsman belum menutup perkara HGU PT Krisrama. Warga pun masih bertahan di tanah yang mereka sebut ruang hidup leluhur.

Di Bawah Cahaya Pelita, Warga Nangahale Bertahan Setelah Rumah Digusur

Rumahnya telah rata, listrik belum tersedia, dan air harus ditimba dari sumur tetangga. Pada usia 76 tahun, Adrianus Akar terus menanam—merawat hidup di tengah ketakutan yang belum surut.

Dari Balik Jeruji, Ayah Berpesan Terus Menjaga Tanah Nangahale

Ketika sengketa agraria antara masyarakat adat dan PT Krisrama, korporasi milik Keuskupan Maumere, berujung pada pemenjaraan warga, hukuman tidak berhenti di balik jeruji. Ia menjalar ke dapur, kebun, bangku kuliah, urusan adat, dan relasi anak dengan orang tua.

Di Nangahale, Anak-Anak Takut kepada Romo, Kelapa, dan Penjara

Rumah mereka dirobohkan, kakek mereka dipenjara, dan sekolah terhenti. Bagi anak-anak Nangahale, konflik agraria hadir dalam puing rumah, larangan memetik kelapa, serta perjalanan rutin ke rutan. Nama anak-anak dalam laporan ini disamarkan untuk melindungi mereka.

Wawancara

Uskup Maumere: Konflik Nangahale Terberat Selama Saya Memimpin 

Atas dasar apa Keuskupan Maumere menguasai tanah Nangahale—dan mengapa sengketa itu berujung pada penggusuran serta laporan polisi terhadap umatnya sendiri? Mgr. Ewaldus Martinus Sedu menjawab konflik yang ia akui sebagai persoalan terberat semenjak 2018 memimpin Keuskupan di wilayah Kabupaten Sikka tersebut.

“Kami Merasa Dikriminalisasi Gereja”

Seorang warga Nangahale menceritakan pemidanaan istrinya dalam perkara kasus pengancaman terhadap seorang imam Katolik di tengah konflik lahan berkepanjangan antara masyarakat adat dan PT Krisrama, perusahaan milik Keuskupan Maumere.

Editorial

Konflik Agraria Nangahale dan Ujian Moral Gereja

Di Nangahale, Gereja tidak cukup menyerukan dialog. Ia harus menghentikan penggunaan kuasa rohani dan hukum untuk menekan umat, membuka asal-usul tanah secara jujur, dan bersedia diperiksa.

PERSPEKTIF

Konflik Nangahale dan Ujian Kekatolikan di Flores

Di Nangahale, Gereja tidak hanya berbicara sebagai gembala. Ia bertindak sebagai pemegang HGU, penggerak jaringan umat, dan pihak yang merestui penggusuran serta pemidanaan warga. Ketika lembaga-lembaga Katolik lain memilih diam, Kekatolikan di Flores sedang diuji: membela martabat warga atau melindungi kuasanya sendiri.

Jurnalisme Tidak Memerlukan Restu Kuasa di Nangahale

Ketika rumah dirobohkan, warga dipidana, dan tanah masih disengketakan, pertanyaan jurnalistik bukan penghinaan terhadap Gereja. Ia adalah kewajiban memeriksa kuasa—termasuk kuasa yang berbicara atas nama iman.

Sejarah Siapa yang Diakui di Nangahale?

Bagi masyarakat yang menghidupi hubungan dengan leluhur melalui tanah dan ruang sakral, kehilangan bukan hanya berarti tidak lagi memiliki tempat tinggal atau lahan untuk menanam. Ia juga dapat berarti terputusnya hubungan dengan bagian-bagian kehidupan yang memberi makna pada keberadaan mereka.

Dukung
jurnalisme kami

Serial ini lahir dari perjalanan ke lapangan, wawancara, dan penelusuran dokumen yang panjang. Kami bisa terus melakukannya, tanpa tunduk pada kuasa mana pun, karena dukungan pembaca.

Dukung Floresa floresa.co/dukung-kami

TIM PELIPUTAN

Anggota Tim

Adriani Miming, Dominiko Djaga, Elisa Lehot, Elkelvin Wuran, dan Teofilus Afres

Fotografer

Arivin Dangkar

Ilustrator

Yudisthira Niron

Editor

Anno Susabun dan Ryan Dagur