Floresa.co – Kampianus Raru terus meneteskan air mata saat menceritakan nasib istrinya, Restina Tija yang ditemukan tewas di tepi salah satu sungai di wilayah selatan Kabupaten Manggarai pada pekan lalu.
“Saya komunikasi terakhir dengan dia pada 27 Agustus lewat video call. Waktu itu dia sedang dengan anak-anak,” katanya kepada Floresa.
“Dia terlihat sehat, tidak ada tanda masalah,” tambahnya.
Sehari setelahnya pria 45 tahun itu yang merantau di Papua sejak 2023 mengirim uang Rp1.050.000 kepada Restina.
Namun, sejak hari itu, keduanya sudah tidak bisa berkomunikasi lagi.
“Pesan WhatsApp yang saya kirim hanya centang satu,” katanya.
Tiga pekan setelahnya, Kampianus menerima kabar mengejutkan: Restina yang berusia 37 tahun meninggal dan ditemukan di dekat sungai.
Ia pun memutuskan pulang dan tiba pada 21 September di kampungnya di Purang, Desa Buar, Kecamatan Rahong Utara.
Warga di sekitar Sungai Wae Mese, dekat Kampung Rentung, Desa Golo Ropong, Kecamatan Satarmese Barat menemukan jasad Restina pada 18 September sekitar pukul 15.00 Wita.
Jarak Sungai Wae Mese dengan tempat tinggal Restina di Kampung Purang terpaut sekitar 50 kilometer.
Polisi Periksa Beberapa Kerabat
Polres Manggarai kini mengusut kasus kematian Restina.
Pantauan Floresa, Kampianus bersama sejumlah kerabatnya, termasuk keluarga Restina, hadir di Polres pada 24 September.
Mereka menjalani pemeriksaan oleh Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) yang dipimpin Aipda Antonius Habun.
Kampianus diperiksa mulai pukul 11.40 hingga 16.20 Wita.
Penyidik, kata dia, menjelaskan kondisi jasad Restina ketika ditemukan.
“Mereka bilang jasad Restina sudah dalam keadaan membusuk, dengan perut terbelah dan organ tubuh di bagian dalam hilang semua,” katanya.
“Polisi juga sempat memperlihatkan kepada kami sebilah pisau yang ditemukan di lokasi,” lanjutnya.
Ia berkata, polisi juga sempat menanyai anak sulungnya terkait apakah pernah melihat pisau tersebut di rumah mereka.
“Anak saya jawab pisau itu tidak pernah ada di rumah,” katanya.
Temuan polisi tersebut membuat dia dan kerabatnya menduga kuat Restina menjadi korban pembunuhan.
Hal lainnya yang memperkuat dugaan itu, kata Kampianus, adalah ponsel isterinya tidak ada di lokasi penemuan jenazah.
“Saya berharap polisi bisa mengusut tuntas kasus ini,” katanya.
Konstantinus Damar (57), ayah kandung Restina berkata, selama pemeriksaan polisi banyak menanyakan kondisi putrinya sebelum ditemukan tewas.
“Yang saya ingat, polisi tanya apakah Restina sedang mengandung. Saya jawab tidak karena selama ini saya lihat dia sehat-sehat saja,” katanya.
Sama seperti Kampianus, Konstantinus berkata, polisi juga sempat memperlihatkan sebilah pisau dapur yang ditemukan di lokasi saat olah Tempat Kejadian Perkara pada 19 September.
“Saya menyerahkan semua kejadian ini kepada polisi. Saya berharap mereka benar-benar serius menyelidiki dan bisa mengungkap kebenaran di balik kematian anak saya,” ujarnya.
Kabar penemuan jasad Restina sempat beredar luas di media sosial pada 18 September.
Saat ditemukan, kepala Restina terpisah sekitar 1,5 meter dari tubuhnya.
Hal tersebut diakui Kasi Humas Polres Manggarai, Ipda I Made Budiarsa, tetapi “kita belum mengetahui penyebabnya” karena “masih dalam penyelidikan.”
Sementara itu, beberapa foto menunjukkan terdapat luka sobekan yang membuat bagian perutnya terbuka.
Saat dikonfirmasi usai pemeriksaan pada 24 September, Aipda Antonius Habun menolak memberikan keterangan. Ia mengarahkan Floresa untuk menemui Kasi Humas, Ipda I Made Budiarsa. Saat mendatangi kantornya, Made tidak berada di tempat.
Editor: Anno Susabun




