Yosep tak tahu apakah perjalanan pulang kali ini dapat ia selesaikan. Semakin dipaksanya kaki melangkah, semakin pendek tarikan napasnya. Dalam setiap sengal, kematian terasa kian dekat.
Matahari telah condong ke barat ketika ia memikul sekarung kopi dari kebun yang tak jauh dari rumah. Semut-semut berkeliaran di permukaan karung; beberapa merayap ke punggungnya.
Ia menjatuhkan karung ke tepi kiri jalan, lalu membuka bajunya.
Seekor semut menyengat tepat pada bekas luka di punggungnya. Yosep tersentak, lalu terduduk.
Nyeri kecil itu menerabas waktu, membuka kembali luka yang puluhan tahun lalu nyaris membawanya ke penjara untuk waktu yang lama.
Ia mengembuskan napas panjang dan menyandarkan kepala pada karung kopi.
Bekas jahitan tersebar di tubuhnya: di kiri perut, sedikit di atas dada kanan, dan yang paling panjang—hampir dua puluh sentimeter—di punggung.
Usia membuat luka-luka itu seakan hidup kembali.
Angin sore berembus pelan, membawa bau tanah basah dan kopi yang baru dipetik. Yosep memejamkan mata.
***
Ingatan lama datang tanpa diminta.
Hari itu ia pergi ke kebun seperti biasa, mencari kayu bakar di tanah yang sejak kecil dikenalnya sebagai milik keluarga—warisan bapaknya, kakeknya, dan orang-orang yang namanya bahkan tak lagi diingat.
Tetapi tanah itu tiba-tiba bukan lagi miliknya.
Teriakan terdengar sebelum orang-orang berseragam muncul. Mereka datang seperti angin ribut: cepat, keras, tanpa memberi ruang untuk bertanya.
Yosep ditangkap.
Beberapa warga yang bekerja di kebun ikut diseret. Tak seorang pun melawan. Mereka bahkan tidak mengerti kesalahan apa yang telah dilakukan.
Yosep masih mengingat seorang ibu yang menangis sambil memeluk anaknya. Tubuh perempuan itu ditarik paksa, sementara anaknya menjerit hingga suara habis. Tak ada yang peduli.
Di penjara, Yosep berdesakan dengan enam orang lain dalam ruang sempit, gelap, dan pengap. Bau keringat bercampur tanah. Kesunyian menekan dari segala arah.
Ia hanya dapat berteriak dalam hati.
Beberapa orang menangis di sudut. Ada yang memanggil Tuhan, ada yang menyebut nama anaknya. Yosep tidak memanggil siapa-siapa. Ia memukul tembok berkali-kali hingga tangannya berdarah.
Ia tak tahu berapa lama terkurung di sana. Hari seperti berhenti; malam memanjang tanpa ujung.
Luka-luka di tubuhnya berasal dari tempat itu.
***
Yosep membuka mata.
Langit mulai berwarna jingga di ujung bukit. Yosep menoleh ke rumahnya, hanya beberapa puluh langkah lagi. Atapnya tampak di sela pepohonan.
“Tinggal sedikit,” gumamnya.
Ia mengusap wajah. Air mata telah lebih dahulu jatuh tanpa disadarinya.
Tubuhnya terasa lebih berat daripada karung kopi yang dipikulnya. Ia mencoba berdiri, tangan kiri mencengkeram karung, tangan kanan menahan pinggang.
Perlahan, ia mengangkat karung itu ke bahu.
Langkah pertama—masih kuat.
Langkah kedua—napasnya memendek.
Langkah ketiga—kakinya gemetar.
Rasa sakit menjalar dari punggung ke dada, lalu ke perut, seolah seseorang menarik luka-lukanya dari dalam. Yosep berhenti. Karung terlepas dari bahunya, dan tubuhnya menyusul jatuh.
Ia terduduk di tanah.
“Kita ini salah apa?” bisiknya.
Tangannya meraba tanah di depannya. Tanah itu dahulu memberinya makan, memberinya hidup. Kini, tanah yang sama terasa seperti tidak lagi mengenalnya.
Ia kembali bersandar pada karung kopi. Angin sore semakin dingin.
Ketika memejamkan mata, yang datang bukan kesunyian penjara. Ia melihat dirinya semasa muda, berlari di kebun, tertawa bersama kawan-kawan, memetik kopi tanpa rasa takut. Di depan rumah, ibunya duduk menunggu. Selalu menunggu.
“Cepat pulang, Yosep.” Suara itu terasa begitu dekat.
Yosep tersenyum tipis.
“Tunggu, sedikit lagi,” jawabnya lirih.
Napasnya tersengal. Tangannya mencengkeram karung kopi, seolah itulah satu-satunya yang masih mengikatnya pada hidup.
Ia mencoba berdiri sekali lagi, tetapi tubuhnya tak lagi menurut.
Ia hanya mampu menggeser tubuh mendekati karung, lalu merebahkan kepala di atasnya.
Rumahnya sudah sangat dekat, tetapi Yosep tak lagi melihatnya. Napasnya melambat—satu tarikan panjang, lalu hening. Matahari tenggelam sepenuhnya di balik bukit.
Di tepi jalan kecil itu, Yosep terbaring dengan kepala bersandar pada sekarung kopi dari kebunnya sendiri—kopi yang tak sempat ia bawa pulang.
Tak ada lagi langkah yang tersisa.
Teofilus Afres adalah jurnalis Floresa.
Ide cerpen ini terinspirasi oleh pemberitaan Floresa tentang peristiwa Rabu Berdarah di Colol pada 2004.


