Maria Loretha: Sorgum Pilihan Tepat untuk Alam NTT di Tengah Iklim yang Tak Menentu

Berbagai upaya dilakukan Maria Loretha untuk menjadikan sorgum kembali menjadi pilihan pangan utama bagi warga di NTT, sebuah jalan yang tidak mudah di tengah dominasi pangan seperti beras.

Floresa.co – Sorgum sebenarnya sudah dibudidayakan sejak lama oleh masyarakat Nusa Tenggara Timur [NTT]. Sayangnya, tanaman pangan ini tersingkir oleh dominasi beras, pangan utama yang dikonsumsi hampir semua warga.

Padahal, di tengah perubahan iklim yang tidak menentu saat ini, sorgum merupakan tanaman pangan yang cocok untuk kondisi alam NTT yang dominan kering, demikian menurut Maria Loretha.

Maria mengorganisasi kelompok yang giat menanam kembali sorgum lewat Perhimpunan Petani Sorgum untuk Kedaulatan Pangan Nusa Tenggara Timur [P2SKP-NTT]. Baru-baru ini, ia juga mendirikan Sekolah Agro Sorgum Flores, sebuah sekolah khusus sorgum pertama di Indonesia. Sekolah ini berbasis di Desa Pajinian, Adonara.

Perempuan berusia 54 tahun yang lahir di Ketapang, Kalimantan Barat ini mengatakan upaya pengembangan sorgum yang ia tekuni selama 12 tahun terakhir memang tidak berjalan mulus. Masih banyak orang yang belum melihat keunggulannya, terutama kandungan serat yang lebih tinggi dibandingkan beras dan jagung, yang amat bermanfaat untuk tubuh.

“Serat ini berperan penting dalam menjaga kesehatan pencernaan dan membantu mengikis kolesterol berbahaya sehingga dapat menjaga kesehatan jantung dan mencegah stroke,” katanya kepada Floresa.

Sorgum juga bisa menyembuhkan beberapa penyakit, seperti gula, diabetes melitus, masalah usus, lambung, tulang rapuh, jantung dan tiroid,” tambah Maria.

Anjany Podangsa, jurnalis Floresa mewawancarai khusus Maria baru-baru ini perihal upayanya mengembangkan jenis pangan ini di NTT, capaian-capaiannya sekaligus tantangan yang dihadapi.

Berikut petikannya.

Mengapa Anda memilih sorgum sebagai tanaman pangan yang penting untuk dikembangkan di NTT?

Sorgum sebetulnya merupakan salah satu makanan enak warisan nenek moyang NTT. Mengkonsumsi sorgum punya daya tahan lama untuk bisa merasa lapar.

Dalam beberapa tahun terakhir, NTT juga mengalami perubahan iklim yang sangat tidak stabil.

Sorgum sangat adaptif dengan perubahan iklim karena batangnya mampu menyimpan air lebih lama dan pada daunnya terdapat lapisan lilin yang berfungsi untuk mencegah penguapan.

Maria Loretha di tengah kebun sorgum di Flores Timur. (Dokumentasi Maria Loretha)

Ketika kita menanam tanaman pangan lain seperti padi dan jagung dan musim tidak menentu, kita akan gagal panen. Sorgum sebaliknya bisa bertahan pada segala musim.

Selain itu, batang sorgum yang sama bisa dipanen tiga kali. Artinya, usai panen pertama, batang sorgum tidak perlu dicabut, tetapi dibiarkan hingga menghasilkan buah yang baru.

Jadi, sorgum bisa dikatakan sebagai satu-satunya tanaman pangan yang bertahan untuk  menyelamatkan kita jika padi dan jagung berhadapan dengan musim yang tidak menentu.

Usia sorgum tergantung varietasnya. Ada yang bisa dipanen pada usia 100 hari [tiga bulan], 120 hari [empat bulan], dan 180 hari [enam bulan].

Sorgum juga bisa dibudidayakan dengan metode penanaman campur sari, artinya bisa ditanam dengan tanaman lainnya seperti kacang-kacangan, pepaya, kelor dan lain sebagainya.

Apa tantangan yang Anda hadapi dalam upaya budidaya sorgum?

Yang paling utama adalah bagaimana mengubah mindset masyarakat kita untuk melihat sorgum sebagai makanan lokal yang memiliki beragam kelebihan, termasuk bisa tumbuh dimanapun kita menanamnya.

Selain itu adalah pola pikir masyarakat yang belum menyadari bahwa sorgum adalah jenis makanan lokal yang mengandung banyak manfaat.

Memakan sorgum tidak hanya untuk kenyang. Sorgum mengandung serat yang lebih tinggi, dibandingkan dengan beras dan jagung.

Serat ini berperan penting dalam menjaga kesehatan pencernaan dan membantu mengikis kolesterol berbahaya, sehingga dapat menjaga kesehatan jantung dan mencegah stroke.

Sorgum juga bisa menyembuhkan beberapa penyakit, seperti gula, diabetes melitus, masalah pada usus, lambung, tulang rapuh, jantung dan tiroid.

Sorgum dapat diolah dengan berbagai cara, seperti dicampur jagung, kacang-kacangan, sayur-sayuran, dan lain sebagainya.

Sorgum juga tumbuh dengan bermacam-macam varian, namun skala manfaatnya tidak ada perbedaan.

Sorgum dengan varietas yang berbeda-beda. (Dokumentasi Maria Loretha)

Bagaimana perkembangannya sejauh ini, terutama sejak Anda mendirikan P2SKP-NTT pada 2014?

Bisa dikatakan berkembang sangat pesat. Sorgum sudah tersebar di berbagai daerah di NTT.

Awalnya, lahan pengembangannya hanya pada satu hektar bidang tanah. Sekarang sudah menjadi 100 hektar dan tersebar di Lembata, Flores Timur, Adonara, Solor, Maumere, Ende, Nagekeo, Ngada dan Manggarai.

Untuk wilayah pengolahan, paling luas atau sebagai sentra produksinya adalah di Flores Timur. Pilot project-nya ada di Dusun Likotuden, Desa Kawalelo, Kecamatan Demon Pagong.

Di daerah ini, sorgum  bertumbuh dengan sangat baik, sementara padi dan jagung sangat sulit untuk hidup.

Masa pendampingan pada setiap kelompok tani yang mengembangkan sorgum ini dilakukan selama dua tahun.  

Hasil panen mereka kemudian dikelola lewat koperasi. Dengan demikian, petani tidak punya alasan untuk mengespornya keluar.

Saya percaya bahwa masyarakat NTT masih membutuhkan gizi dari sorgum. Namun, tidak menutup kemungkinan untuk diekspor jika ada permintaan dari luar dan ketersediaannya banyak, dengan catatan tetap mengutamakan konsumen di NTT.

Permintaan sorgum ini biasanya berasal dari konsumen yang memiliki penyakit tertentu, seperti penyakit gula, karena sorgum memiliki kadar gula sangat rendah.

Seperti apa dukungan pemerintah daerah dalam upaya pengembangan sorgum ini?

Pelestarian dan pengembangan sorgum telah mendapatkan dukungan dari pemerintah daerah tertentu.

Salah satunya adalah melalui kebijakan Peraturan Bupati, seperti di Kabupaten Flores Timur. Peraturan itu ditujukan kepada Dinas Kesehatan, yang mendorong budidaya sorgum dalam rangka mengatasi masalah gizi buruk dan stunting.

Hal ini dilakukan dengan pemberian bubur sorgum yang diolah dalam berbagai bentuk dan diberikan kepada balita dan lansia.

Pemerintah daerah sebagai institusi pengambil kebijakan memang punya kewenangan yang luas untuk kemudian mengupayakan sorgum ini menjadi bahasan yang strategis.

Saya juga mendapatkan dukungan yang luar biasa dari banyak pihak, dari berbagai kalangan. Hal itu membuat saya bertambah semangat untuk terus melestarikan sorgum ini dengan mengajak lebih banyak orang.

Maria Loretha bersama warga yang belajar di Sekolah Agro Sorgum Flores. (Dokumentasi Maria Loretha)

Apa pentingnya kaum perempuan aktif dalam pengembangan sorgum?

Situasi alam kita tidak selamanya stabil, yang berpengaruh pada ketersediaan pangan. Dan dalam situasi yang tidak menentu seperti ini, yang paling merasakan dampaknya adalah kaum perempuan.

Selain itu, kita tahu bahwa perempuan mewakili sebagian besar masyarakat miskin yang sangat bergantung pada sumber daya alam lokal, khususnya di daerah pedesaan, dimana perempuan memikul tanggung jawab besar atas pasokan air dan energi rumah tangga.

Pada saat cuaca ekstrem seperti kekeringan dan banjir, perempuan cenderung bekerja lebih banyak untuk menjamin penghidupan rumah tangga.

Dengan budidaya sorgum perempuan terbantu. Ketika situasi tidak memungkinkan padi dan jagung untuk hidup, ada pangan lainnya yang bisa membantu kita untuk tetap bisa memenuhi kebutuhan pangan, yaitu sorgum.

Apa yang menurut Anda penting menjadi perhatian banyak orang agar sorgum yang pernah dibudidayakan oleh nenek moyang orang-orang NTT ini bisa kembali mendapat tempat strategis?

Bagi saya, melestarikan sorgum adalah menjaga warisan yang menghidupkan kepada anak cucu. Mari kita berpikir bahwa selain nasi, kita punya makanan utama yang diwariskan oleh nenek moyang kita.

Keterbukaan cara berpikir akan sangat penting membantu kita melihat ketersediaan pangan pada segala musim. Sorgum adalah penyelamat jika keadaan alam tidak memungkinkan.

Sorgum yang sedang dijemur. (Dokumentasi Maria Loretha)

Misi yang saya bangun adalah melestarikan sorgum dengan mengajak orang-orang dari seluruh kalangan untuk menanam, mengembangkan dan membudidayakannya.

Dengan perkembangan zaman yang semakin maju, kita dituntut untuk berpikir lebih jauh tentang ketersediaan pangan.

Padi dan jagung misalnya, seringkali terkena hama yang berdampak pada ketahanan pangan masyarakat. Ini menunjukkan bahwa perubahan iklim yang tidak menentu seperti saat ini, sesewaktu kita akan terancam jika tidak memikirkan cara-cara lain.

Terima kasih telah membaca artikel kami. Jika tertarik untuk mendukung kerja-kerja jurnalisme kami, kamu bisa memberi kami kontribusi, dengan klik di sini.

Baca Artikel Wawancara Lainnya