Zak Susu

Namanya Zakarius Susu. Tetapi orang suka memanggilnya Zak Susu. Sejak seratus hari kepergian istrinya ke pangkuan Ilahi, ia memilih tinggal lebih lama di kebun. Bukan tanpa alasan. Di sana ia bisa melanjutkan pekerjaan leluhurnya sebagai pengiris tuak. Pekerjaan yang membuatnya merasa dekat dengan kisah yang diwariskan Ba’i1 lalu ayahnya, bahwa moyang mereka berasal dari pohon Lontar.

Seperti manusia, pohon itu meneteskan susu tanpa lelah. Dari tetesan itu, keluarga mereka pernah bertahan dari kelaparan yang mencekik batang leher. Mereka menamai pohon itu: Feot Naimnuke.2

Ia tinggal bersama dua anaknya; seorang perempuan dan laki-laki. Anak-anak itu masih kecil dan belum mengenal sapu tangan. Wajah mereka polos dan tabah sering diwarnai pan oto3 yang mengering di bawah hidung. Para pemuda yang dulu bernasib sama kadang menjepit hidung anak-anak itu dengan kedua jari tangan sampai cairan kuning tak berdaya keluar dari sarangnya. Cairan itu menjadi santapan istimewa semut-semut merah. Setelahnya, anak-anak itu pun berlari kegirangan karena diberi selembar uang parang.

Pondok bambu milik Zak Susu hampir selalu ramai, meski tanpa tenda dan dentuman musik. Kebanyakan anak muda datang pada sore hari. Mereka takut pada Pak Lorens, polisi kampung yang suka naik pitam. Entah karena ingin menjalankan tugas atau karena motifnya sendiri, suatu malam ia pernah mengacungkan pistol di pondok itu sambil membentak, “Pulang… pulang… pulang, sana! Hanya tahu mabuk saja. Pulang? Atau…?” Mereka berhamburan panik. Kaos Haepeno, yang sudah teler, tak sadar berdiri di tepi baki4 setinggi dua meter. Ia terjun dan kakinya patah.

Zak Susu hanya duduk di ujung tungku, bergeming. Setelah keributan itu, rumah kembali normal. Nada suara Pak Lorens, tawa, keluh, entah apa lagi, mengalir sampai larut malam. Keesokan harinya, Zak Susu mendapati Kaos Haepeno masih tengkurap, seolah-olah mencium wajah tanah yang basah. Sejak kejadian itu, semua orang paham: sore hari untuk anak muda; malam hari biarlah Lorens bersenang ria bersama jeriken-jeriken laru5.

Malam itu pukul 20:24. Pondok sepi. Suara Zak Susu tidak terdengar. Motor Verza Pak Lorens pun tidak tampak. Yang ada hanya suara anak-anak bermain tebak-tebakan dan periuk yang mendidih. Us Toebake, yang baru pulang berlibur, merasa lega. Bersama teman-temannya ia menunggu Zak Susu di Uem Bubu,6 menjulurkan tangan ke tungku sambil hati-hati menghindari percikan air pen pasu7 dari periuk tanah.

“Bapa ke mana tadi?” tanya Us Toebake pada anak sulung.

“Pi8 iris tuak…”

“Oh, iya. Kami tunggu di sini saja.”

Anak-anak itu duduk di bale-bale dengan tatapan kosong, tangan melingkar di lutut. Tempat itu nyaman bagi siapa saja yang kedinginan saat hujan.

Tidak lama, Zak Susu tiba. Seperti biasa ia menyambut para pembeli dengan girang. Ia menjabat tangan mereka satu per satu. “Biar makin kenal, makin akrab,” katanya. Asap mengepul dari tungku, tetapi para pemuda itu tetap merasa nyaman. Hanya Kristian, pria asal Medan yang tampak gelisah. Ia ingin merasakan laru dan tua nakaf Insana9 yang sering diceritakan teman-temannya dari Timor.

Mata Kristian berdenyut. Ia menggosoknya seperti petinju memijat luka sendiri. Ia hampir gugur dari keperkasaannya ketika Zak Susu membawa mereka ke Uistanis.10 Jejeran jeriken tersusun rapi, bagai barisan polisi siap apel.

“Wih, rapi sekali. Kenapa disusun, Om?” tanya Us Toebake, mahasiswa abadi Unwira Kupang.

“Supaya bisa bedakan mana yang sudah lama dan mana yang baru, to.”

“Hahaha, iya juga. Tapi laru di dalamnya tetap putih semua.”

“Semoga…”

Mereka pun minum. Dengan cerek merek Gajah, Us Toebake menuang laru dari jeriken pertama dekat pintu. “Kita minum yang manis dulu,” katanya. Zak Susu memamah sirih-pinang sambil menyimak mereka berkelakar. Sesekali ia ikut tertawa melihat tingkah None yang periang.

Jam menunjuk 1:35. Anak-anak Zak Susu telah tidur di dapur tanpa makan. Ayah mereka juga mengantuk. Kelopak matanya seberat gelas laru. Ia tertidur di bangku dengan punggung bersandar pada dinding pelepah bambu.

Dalam tidurnya, seseorang menggedor pintu. Batang paku yang menjadi kancing pintu melurus. Ia cemas. Sambil gemetar ia mengambil sebatang kayu dan membuka pintu.

“Ah, Pak Lorens! Saya kira orang lain…”

“Masih ada, ko?”

“Mari masuk, Pak.”

Pak Lorens bergabung bersama para pemuda. Ia duduk di kursi yang disiapkan Zak Susu, sementara yang lain duduk di tikar daun kelapa. Mereka minum lagi sampai beberapa jeriken tumbang.

Rumah mendadak riuh. Zak Susu terbangun setengah sadar. “Ada ap…?” Belum selesai, tawa para pemuda meledak. None memuntahkan laru, serpihan jagung, dan kulit pen pasu melalui mulut dan hidung. Wajahnya pucat. Urat-urat di kepalanya menegang bagai cacing tanah. Ia menutup kedua telinga dengan tangannya.

“Antar dia!” perintah Pak Lorens.

Zak Susu terkejut. “Astaga, Pak Lorens?” Ia tak yakin apakah polisi bertubuh ramping itu benar ada di sana, atau masih bagian dari mimpinya.

“Satu lagi,” ujar Lorens sambil menunjuk jeriken berisi cairan bening.

“Pak, sudah lama di sini, ko?”

“Iya, ew. Saya datang, bapak sudah tidur mungkin.”

“Hahaha. Benar, Pak. Mengantuk saya.”

“Dari kantor ko, Pak?” tanya Kristian.

“Biasa… bisnis…”

Us Toebake menelan ludah. Dalam hati ia bergumam, “Pak, kalian juga bisa bisnis sopi sebenarnya.” Tapi wajah Lorens yang merah padam membuatnya memilih diam.

Ito Benggu lahir di Kefa-Eban, mahasiswa IFTK Ledalero. Bergiat di komunitas sastra Sandal Jepit Nitapleat dan kelompok diskusi sastra dan isu-isu sosial Bohemian Club.

Keterangan:

  1. Ba’i: Panggilan untuk lelaki yang sudah tua atau usur; kata lain dari Opa. ↩︎
  2. Feot Naimnuke: Permaisuri muda. ↩︎
  3. Pan oto: Ingus; tahi hidung ↩︎
  4. Baki: Penahan tanah yang disusun menggunakan batu ↩︎
  5. Laru: Minuman yang diambil dari pohon Nira ↩︎
  6. Uim Bubu: Rumah bulat; dapur ↩︎
  7. Penpasu: Jagung Ketemak; sejenis makanan ↩︎
  8. Pi: Pergi ↩︎
  9. Tua nakaf Insana: Sebutan untuk Sopi Kepala asal Insana ↩︎
  10. Uistanis: Rumah yang terpisah dari dapur (Uim Bubu), yang atapnya terbuat dari daun alang-alang dan berdindingkan pelepah bambu. ↩︎