Motif Tenun Khas Congkar di Manggarai Timur Kini Diakui Negara

Ada tiga motif tenun yang resmi memperoleh sertifikat Indikasi Geografis setelah proses pengajuan selama beberapa tahun

Floresa.co Kristina Rudis belajar menenun sejak masih sebagai siswi Sekolah Dasar.

“Saya ikut orang tua dan nenek moyang kami,” kata perempuan asal Kampung Wangkar, Desa Rana Mese, Kecamatan Congkar, Kabupaten Manggarai Timur itu.

Menenun, jelasnya, sudah menjadi bagian dari kehidupan perempuan di kampungnya sejak lama.

Dalam sebulan, ia biasanya menyelesaikan minimal dua kain tenun berukuran panjang 400 cm dan lebar 100 cm.

Semuanya dikerjakan di rumahnya.

Kristina kini gembira usai mendengar kabar warisan budaya itu akhirnya mendapat pengakuan dari pemerintah.

Tenun Congkar resmi memperoleh Sertifikat Indikasi Geografis dari Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum pada 5 Maret.

Apolonaris Davianus, Wakil Ketua Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG) Kecamatan Congkar berkata, sertifikat itu yang dikirim melalui surat elektronik merupakan respons pengajuan terakhir yang mereka layangkan pada November 2025.

“Sebelumnya sempat vakum,” katanya.

Anggota DPRD Manggarai Timur itu berkata semula MPIG mengusulkan sertifikasi pada Maret 2022.

“Namun, banyak dokumen yang harus dikoreksi,” katanya.

MPIG lalu melengkapinya dan mengirimnya kembali ke Kementerian Hukum pada Juli 2025.

Selain MPIG, kata Apolonaris, pengajuan sertifikat tersebut melibatkan Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi Manggarai Timur.

“Tanpa pengakuan negara, bisa saja ke depan kekayaan intelektual masyarakat Congkar diklaim oleh wilayah lain,” katanya.

Tiga Motif Tenun Congkar

Kecamatan Congkar merupakan wilayah administratif yang meliputi komunitas Congkar, salah satu sub-etnik Manggarai yang terletak di bagian tengah Kabupaten Manggarai Timur.

Berjarak sekitar 70 kilometer sebelah utara Borong, ibukota kabupaten, Kecamatan Congkar yang berpusat di Watunggong berdiri pada 2020, mekar dari Kecamatan Sambi Rampas yang berpusat di Pota.

Dalam Dokumen Deskripsi Indikasi Geografis Tenun Congkar yang salinannya diperoleh Floresa, sertifikasi Kementerian Hukum tersebut mencakup tiga motif utama yang khas dari komunitas tersebut, yakni Puncatiti, Puncaula, dan Lendang Leros.

Motif puncatiti memiliki warna dasar hitam dengan garis-garis vertikal dari beragam warna yang dalam istilah lokal disebut sumbu.

Dalam satu kain biasanya terdapat sekitar 22 garis vertikal yang dibagi menjadi dua bagian, masing-masing 11 garis di kiri dan kanan yang dipisahkan oleh ruang kosong di tengah.

Ruang kosong itu melambangkan halaman kampung atau natas.

Dalam motif puncatiti juga terdapat beberapa corak khas seperti atip leka, matang ringgik, matang tondang dan saun cidam.

Corak atip leka menyerupai segitiga yang tersusun dari atas ke bawah dan melambangkan harapan untuk berdamai satu sama lain seperti atap yang menaungi rumah dan segala isinya.

Matang ringgik menyerupai bunga dan melambangkan keindahan serta nilai seni masyarakat Congkar. 

Sedangkan matang tondang terinspirasi dari tarian tradisional danding masyarakat Congkar yang menggambarkan kehidupan yang hidup rukun dan harmonis.

Sedangkan saun cidam terinspirasi dari daun tanaman cidam – sejenis paku – yang tumbuh di sekitar sungai dan melambangkan keteguhan masyarakat dalam menghadapi berbagai cobaan hidup.

Motif puncaula memiliki warna dasar hitam dengan garis-garis vertikal dan horizontal yang saling berpotongan membentuk pola segi empat.

Pola tersebut melambangkan hubungan manusia dengan Tuhan sekaligus hubungan dengan sesama manusia.

Sementara itu, lendang leros merupakan selendang khas Congkar dengan warna dasar kuning yang memiliki motif garis lurus berpadu dengan bentuk piramida dan segi enam.

Motif tersebut menggambarkan hubungan sosial masyarakat yang saling terhubung satu sama lain, sekaligus hubungan dengan alam dan Tuhan.

Selain motifnya yang khas, Tenun Congkar juga memiliki ukuran yang relatif tetap.

Kain tenun biasanya memiliki panjang sekitar 400 cm dan lebar 100 cm, sedangkan sarung berukuran sekitar 150 cm x 100 cm.

Sementara selendang lendang leros berukuran sekitar 150 cm dengan lebar 15 cm.

Selendang khas Congkar, Manggarai Timur bermotif lendang leros. (Foto: Apolonaris Davianus)

Menjaga Tradisi Menenun

Priska Dimung, 46 tahun, perempuan penenun lainnya dari Kampung Wangkar berkata, ia mulai belajar menenun dari saudaranya saat masih remaja.

“Pertama diajarkan oleh kakak waktu saya usia 15 tahun,” katanya.

Seperti kebanyakan penenun di Congkar, ia menenun di rumah sebab tidak ada tempat khusus. Dalam sebulan, ia menghasilkan sekitar dua kain tenun.

Motif yang paling sering ia buat adalah puncatiti. Ia berkata, setiap motif memiliki makna tersendiri. 

“Puncaula melambangkan persahabatan, sedangkan puncatiti menggambarkan hubungan manusia dengan Tuhan dan sesama manusia.”

Priska berkata, satu kain tenun biasanya ia jual Rp700 ribu, sedangkan selendang Rp200 ribu.

“Kalau bikin satu kain biasanya satu sampai dua minggu,” katanya.

Namun, katanya, para penenun seringkali menghadapi kesulitan mendapatkan bahan baku.

“Benang dan pewarna yang susah didapat. Kami harus membeli di Ruteng – ibukota Kabupaten Manggarai,” katanya.

Kendati menghadapi kesulitan, ia mengaku tetap berusaha demi menjaga tradisi warisan leluhur itu. 

Mereka juga melatih anak-anak muda di kampung untuk belajar menenun.

“Semoga dengan adanya sertifikat ini banyak pembeli datang dan orang tahu bahwa ini tenun dari Congkar,” katanya.

Ketua Divisi Pengawasan Mutu Produk dan Pelabelan MPIG Tenun Congkar, Wempianus Jefani mengatakan inisiatif pengajuan sertifikat tersebut berasal dari masyarakat Congkar sendiri.

Dalam proses pengumpulan data, tim MPIG melakukan wawancara langsung dengan para penenun di beberapa wilayah, yakni Desa Rana Mese, Desa Golo Ngawan dan Kelurahan Golo Wangkung. Ketiga desa itu menjadi titik produksi paling banyak dan menonjol. 

Menurut Wempianus, produksi Tenun Congkar terutama terdapat di beberapa kampung seperti Wangkar, Nanga, Ngawan dan Kalo.

“Ciri khasnya tidak ada di tempat lain. Hanya ada di wilayah Congkar,” katanya.

Ia berharap pemerintah dan berbagai pihak dapat membantu mempromosikan Tenun Congkar agar lebih dikenal luas dan dapat meningkatkan penghasilan masyarakat.

Ke depan, kata dia, MPIG juga berencana menyiapkan tempat khusus untuk penjualan tenun.

“Kami berharap partisipasi dari semua pihak untuk membantu promosi supaya masyarakat bisa membeli lebih banyak produk Tenun Congkar,” katanya.

Editor: Anno Susabun

Dukung kami untuk terus melayani kepentingan publik, sambil tetap mempertahankan independensi. Klik di sini untuk salurkan dukungan!
Atau pindai kode QR di samping

BACA JUGA