Pejabat Kementerian hingga Dinas Kunjungi SD Negeri di Manggarai Barat yang Viral karena Beraktivitas di Bawah Pohon, Janji Bangun Empat Ruang Kelas 

Pembangunan fasilitas tersebut, kata kepala kepala sekolah, akan dilakukan pada bulan depan

Floresa.co – Pejabat dari tingkat kementerian hingga dinas di kabupaten mengunjungi SD Negeri di Manggarai Barat yang viral di media sosial pekan lalu karena beraktivitas di bawah pohon, dampak ketiadaan ruang kelas.

Usai kunjungan pada 12 April itu, Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Manggarai Barat, Yohanes Hani mengklaim akan membangun empat ruangan kelas di SD Negeri Tando di Desa Robo, Kecamatan Welak tersebut.

Ia berkata, dalam kunjungan itu, tim dari Balai Penjamin Mutu Pendidikan Provinsi NTT dan dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) ikut serta.

“Tadi, kami sudah melakukan survei dan hasilnya akan ada bantuan tambahan empat ruang kelas dan satu toilet. Semoga tidak ada hambatan,” katanya kepada Floresa.

Kendati belum mengetahui anggarannya, Yohanes mengklaim dana pembangunan fasilitas itu bersumber dari Kemendikdasmen dan proposalnya telah diajukan.

Kepala SD Negeri Tando, Fransiskus Jenala mengafirmasi pernyataan Yohanes dan menyebut pembangunan fasilitas tersebut akan dilakukan bulan depan.

“Tadi Kementerian minta untuk sampaikan proposal, dan tadi sudah dikirim oleh dinas,” katanya.

Fransiskus berterima kasih kepada pemerintah karena akan membantu membangun tambahan ruang kelas.

Ia berharap, sekolahnya akan terus mendapat perhatian dari pemerintah.

Tim dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah dan Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Manggarai Barat saat menyurvei kondisi ruang kelas III SD Negeri Tando pada 12 April 2026. (Dokumentasi Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Manggarai Barat)

Kunjungan itu terjadi usai beredarnya sebuah video yang dibagikan melalui akun Facebook Karlos Melo pada 9 April. 

Video  itu menampilkan seorang guru perempuan yang sedang mengajar 15 siswa kelas III di bawah sebuah pohon.

Marta, guru perempuan yang berbicara dalam video tersebut menjelaskan sekolahnya kekurangan ruangan kelas sejak lama.

Ia sempat menunjukkan ruangan Kelas II yang berdinding seng dan berlantai tanah.

Marta tercatat telah mengajar di SD Negeri Tando sejak sekolah itu berdiri pada 2014.

Selain kekurangan ruang kelas, sekolah tersebut juga belum memiliki toilet dan belum tersambung dengan instalasi air bersih.

Lokasi sekolah berjarak sekitar satu kilometer dari Kampung Tando dan hanya dapat dijangkau dengan berjalan kaki karena akses jalan belum beraspal.

Fransiskus Jenala berkata, sekolah tersebut awalnya berstatus Tambahan Ruang Kelas (TRK) dari SDI Wongkol. Saat itu, sekolah hanya memiliki kelas I dan II.

Status TRK berlangsung hingga sekolah memperoleh Surat Keputusan definitif pada Oktober 2016.

“Gedung sekolah awalnya dibangun secara swadaya oleh masyarakat dengan material kayu dan seng,” kata Fransiskus.

Menurut dia, gedung permanen baru dibangun pemerintah pada 2018, namun hanya terdiri dari tiga ruangan, sehingga sekolah memasang sekat untuk menyesuaikan jumlah rombongan belajar.

Fransiskus menjelaskan, sebelumnya siswa kelas III masih belajar di bangunan lama.

Namun, karena kondisinya sudah tidak layak, kegiatan belajar dipindahkan ke luar ruangan.

“Kalau musim hujan, mereka belajar di kelas I setelah siswa kelas I pulang,” ujarnya.

Saat ini, jumlah siswa di sekolah tersebut tercatat 68 orang.

Editor: Herry Kabut

Dukung Kami

Ada cerita yang terlalu berisiko untuk diberitakan, korban yang terlalu lemah untuk didengar, dan mereka yang terlalu berkuasa untuk disentuh.
Floresa memilih memberi perhatian pada semua itu. Kami tidak bergantung pada iklan korporasi atau kepentingan politik. Independensi kami dibiayai oleh pembaca yang percaya bahwa kebenaran harus diungkap tanpa kompromi.
Dukung kami untuk terus bertahan. Caranya bisa cek di sini

BACA JUGA