Floresa.co – Para petani dan pelaku Usaha Kecil, Mikro dan Menengah (UMKM) di Kabupaten Manggarai Barat berkolaborasi mempromosikan keragaman produk pangan lokal melalui festival.
Berlangsung di Taman Goa Batu Cermin, Kecamatan Komodo pada 4 Mei, festival “Dari Kebun ke Meja Makan: Pangan Tercukupi, Anak Sehat, Petani Sejahtera” itu diinisiasi oleh Flores Empowerment for Agricultural Sustainability and Transformation (FEAST).
FEAST merupakan program kolaborasi antara Yayasan Humanis dan Inovasi Sosial, Asosiasi Pendamping Perempuan Usaha Kecil (ASPPUK), dan Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP) yang didukung oleh DBS Foundation.
FEAST berfokus pada praktik pertanian yang responsif gender untuk meningkatkan ketahanan pangan dan gizi, serta mendukung perempuan petani prasejahtera dalam menghadapi krisis iklim.
Dalam keterangan yang diterima Floresa, FEAST menyebut Manggarai Barat memiliki potensi yang besar untuk mewujudkan ketahanan pangan, namun pangan lokal yang ramah lingkungan masih belum populer di kalangan masyarakat.
Menurut FEAST, minimnya kesadaran mengenai pentingnya keragaman pangan serta sulitnya mengakses pasar kerap menjadi tantangan dalam mewujudkan ketahanan pangan berbasis lokal yang berkelanjutan.
Karena itu, dalam festival tersebut, FEAST mengundang komunitas perempuan petani dampingannya untuk mendekatkan masyarakat dengan ragam pangan yang tumbuh di sekitar.
Komunitas itu berasal lima desa dari Kecamatan Mbeliling dan Komodo, di antaranya Desa Kempo, Desa Tondong Belang, Desa Wae Lolos, Desa Golo Bilas dan Desa Golo Pongkor.
Dalam festival tersebut, komunitas perempuan petani dan UMKM lokal tampil di booth Pasar Tani untuk memamerkan dan menawarkan produk yang dihasilkan dari kebun dan dapur mereka.
FEAST menyebut festival tersebut bukanlah kegiatan yang berdiri sendiri karena di baliknya ada pendampingan di desa-desa di delapan kabupaten di Flores sejak Januari 2025 dan dijadwalkan hingga Februari 2028.
Dalam tiga tahun, program tersebut menargetkan pendampingan terhadap 1.000 petani dengan tahun pertama berfokus pada lima desa yang hadir dalam festival.
“FEAST fokus pada dua aspek penting, yaitu pertanian berkelanjutan dan kesehatan, khususnya gizi keluarga petani di Flores,” kata Ririn Leba, Project Manager FEAST.
Ia berharap kolaborasi yang terjadi dapat terus berkembang.
Wakil Bupati Yulianus Weng menyatakan Manggarai Barat menyimpan aneka potensi pangan lokal, namun belum sepenuhnya dikuasai oleh masyarakat.
“Tantangannya adalah jumlah wisatawan banyak, namun pemanfaatan potensi pangan sebagian besar tidak berasal dari petani lokal,” katanya.
Karena itu, ia mendorong agar produk pangan lokal mendapat tempat yang lebih besar dalam dinamika pariwisata di Labuan Bajo.

Sementara itu, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Manggarai Barat, Peter A. Rasyid menyoroti garis besar strategi dan arah kebijakan daerah dalam menunjang keragaman dan potensi pangan lokal.
“Saat ini, ada upaya menggandeng berbagai pihak untuk meningkatkan keragaman pangan di Manggarai Barat,” katanya, tanpa merinci upaya tersebut.
Ia mengklaim pemerintah daerah sedang berupaya memastikan akses distribusi pangan dari kebun, pasar, hingga ke masyarakat tetap terjangkau.
Pegiat pangan lokal dari Lab Tani Bajo, Sony Ngabur menyebut festival tersebut sebagai “pertemuan yang menyingkat dua ujung rantai pangan lokal” karena “menghadirkan UMKM yang sudah settle serta petani dampingan yang menghadirkan bahan dasarnya.”
“Ini punya potensi untuk bertukar sumber daya secara langsung,” katanya.
Menurut Sony, kehadiran kedua pihak tersebut merupakan kesempatan untuk mempertemukan bahan dasar dengan produk turunan secara langsung tanpa harus melalui banyak perantara.
FEAST menyebut festival tersebut juga menghadirkan beberapa pangan lokal yang sudah tersisihkan melalui sesi demo masak “Icip Pangan Lokal.”
Dalam sesi itu, perwakilan Kelompok Prima Tani dari Desa Golo Bilas memperlihatkan pengolahan dua hidangan tradisional seperti songkol dan tapa kolo, yang semakin jarang hadir dalam keseharian masyarakat umum, kendati masih dianggap sebagai makanan ikonik.
“Kolaborasi antara kelompok tani dan pelaku UMKM yang terlihat dalam festival ini bukan sekadar urusan jual dan beli, melainkan juga menjadi refleksi bagaimana pangan lokal bisa menjadi titik temu antara produksi, pasar, dan pengetahuan,” tulis FEAST.
Editor: Herry Kabut




