Kopi Manggarai: Dirayakan di Festival, Dibiarkan Mati di Kebun

Kita lebih sibuk merancang kemasan, membangun branding, dan menggelar festival — sementara di kebun yang menghasilkan semua itu, petaninya masih bertanya-tanya mengapa tanamannya tak lagi produktif.

Oleh: Arief Laga

Narasi tentang Kopi Manggarai beberapa tahun terakhir tumbuh seperti gelembung yang terus dipompa.

Manggarai Raya, sebutan untuk tiga kabupaten di wilayah di Flores barat, memang dikenal sebagai salah satu lumbung kopi dengan sebaran kebun yang luas. 

Nama-nama seperti kopi Colol di Manggarai Timur dan kopi Wae Rebo di Manggarai sudah lama menjadi rujukan kualitas. Pada 2015 misalnya, kopi Arabika dan Robusta asal Colol dinobatkan sebagai kopi terbaik dalam kontes oleh Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi Indonesia.

Kopi pun terus diklaim sebagai masa depan ekonomi— ia harus naik kelas, masuk pasar premium, menjadi identitas baru daerah. Festival digelar, branding diperindah, kemasan didesain ulang.

Saya pun pernah percaya pada optimisme soal masa depan kopi itu. Namun, saat baru-baru ini pergi ke Desa Gelong, Kecamatan Lelak, Kabupaten Manggarai, saya jadi sadar betapa jauhnya jarak antara narasi yang dibangun di kota dengan kenyataan yang hidup di kebun.

Ancaman di Kebun Kopi

Saya ikut memfasilitasi pelatihan bertajuk “Kopi Tangguh Iklim” di Desa Gelong pada akhir April hingga awal Mei.

Kelompok Tani Perempuan Desa Gelong sedang mendengarkan pemaparan materi tentang Kopi Tangguh Iklim. (Dokumentasi Arief Laga)

Saya datang dengan asumsi umum: bahwa persoalan kopi Manggarai adalah soal pasar — soal bagaimana membawa produk ini lebih jauh dari sekadar komoditas lokal.

Asumsi itu runtuh sejak hari pertama.

Petani yang saya temui baru memahami hubungan antara perubahan iklim dan produktivitas kopi setelah mengikuti pelatihan. Bukan karena mereka tidak merasakan dampaknya — tetapi karena perubahan musim selama ini dianggap sebagai “nasib alam” yang harus diterima begitu saja.

Padahal, gejalanya sudah lama menggerogoti kebun: kemarau yang makin panjang, hujan ekstrem yang memicu erosi, tanah yang kehilangan kesuburannya dari tahun ke tahun.

Hasilnya terlihat jelas dalam angka. Produktivitas kopi Manggarai—terutama Colol—pada 2023–2025 berada di kisaran 200–300 kg/ha, jauh di bawah rata-rata nasional (±610 kg/ha) dan bahkan lebih rendah dari rata-rata NTT (±331 kg/ha). Tren penurunan ini konsisten dan diperparah oleh iklim, konversi lahan, dan minimnya perawatan kebun.

Selain itu, selama 2021–2023, produktivitas kopi Colol turun hingga 50% akibat iklim tidak menentu, konversi lahan, berkurangnya pohon pelindung, dan usia tanaman yang tua.

Kopi Manggarai sedang sakit, tapi kita sibuk merayakan kemasannya.

Hulu yang Tidak Pernah Menjadi Prioritas

Sebagian besar petani kopi di Manggarai masih mengelola kebun dengan cara yang diwariskan turun-temurun — di tengah kondisi lingkungan yang berubah jauh lebih cepat dari pengetahuan yang mereka miliki.

Pendampingan teknis datang sesekali, lalu menghilang. Setelah pelatihan selesai, petani kembali sendirian menghadapi masalah yang sama.

Kebun kopi rakyat lebih mirip hutan kopi: tanaman tua berusia puluhan tahun yang belum pernah diremajakan, dipetik tanpa seleksi, diolah secara tradisional.

Mayoritas petani masih mengandalkan metode tanpa pemupukan dan tanpa konservasi tanah. Hal sesederhana biopori — teknik dasar konservasi air — masih menjadi pengetahuan baru bagi sebagian petani.

Kita bicara kopi premium. Tetapi hulunya bahkan tidak punya fondasi minimum untuk bertahan.

Ironisnya, perhatian justru lebih banyak mengalir ke sisi yang paling mudah difoto.

Hilirisasi bergerak cepat karena hasilnya bisa langsung dipamerkan: festival bisa digelar minggu depan, kemasan bisa jadi bulan ini, konten media sosial bisa dibuat hari ini.

Itu semua lebih mudah dibanding penguatan hulu yang membutuhkan waktu bertahun-tahun dan tidak menghasilkan visual yang menarik untuk presentasi anggaran atau unggahan Instagram.

Ada pula fenomena yang saya sebut “petani turis”: mereka yang datang ke kebun hanya saat panen tiba, tanpa hadir merawat tanaman sepanjang tahun.

Akibatnya, kualitas dan kuantitas panen terus merosot — sementara narasi di luar terus menggembungkan harapan.

Kita membangun cerita tentang industrialisasi kopi, tetapi kapasitas produksi di tingkat petani tidak pernah sungguh-sungguh dibenahi. 

Kita mendorong kopi masuk pasar premium, tetapi tidak memastikan bahwa kualitas biji yang dihasilkan konsisten. Kita merayakan hilir sambil membiarkan hulu runtuh perlahan.

Ini bukan hanya kelalaian teknis. Ini adalah pilihan politik yang memiliki korban nyata.

Salah Membaca Arah

Yang paling saya ingat dari Desa Gelong bukan data atau temuan teknis, tapi antusiasme petani saat berdiskusi.

Mereka tidak pasif. Mereka bertanya, berbagi pengalaman, dan mulai menghubungkan apa yang mereka rasakan di kebun dengan penjelasan tentang perubahan iklim. 

Mereka ingin belajar. Mereka ingin memperbaiki kebun. Mereka ingin kopi Manggarai tetap hidup.

Masalahnya bukan pada kemauan mereka, tapi sistem yang tidak pernah hadir secara konsisten untuk mereka. 

Pelatihan datang sebagai program, bukan sebagai proses. Pendampingan hadir sebagai kegiatan, bukan sebagai komitmen jangka panjang. Selesai satu siklus anggaran, selesai pula perhatian.

Di Gelong, saya melihat bahwa petani sebenarnya siap berubah — asal ada yang berjalan bersama mereka, bukan hanya datang memberi materi lalu pergi membawa laporan pertanggungjawaban.

Jika kopi Manggarai ingin bertahan — apalagi naik kelas — maka kita harus berani mengucapkan sesuatu yang tidak nyaman: selama ini kita salah membaca arah.

Kopi Manggarai tidak akan kuat hanya dengan festival, branding, atau kemasan premium. 

Ia hanya akan kuat jika hulunya kuat dan memperkuat hulu berarti melakukan hal-hal yang tidak menghasilkan foto bagus di media sosial: pendidikan pertanian yang adaptif terhadap perubahan iklim, pendampingan teknis yang berkelanjutan, penguatan kelompok tani sebagai ruang belajar bersama, konservasi lahan dan air sebagai prioritas, serta peremajaan tanaman yang direncanakan secara sistematis — bukan insidental.

Ini bukan pekerjaan yang bisa selesai dalam satu tahun anggaran. Ini kerja panjang yang membutuhkan kesabaran, konsistensi, dan keberanian untuk mengakui bahwa selama ini kita terlalu sibuk membangun narasi, tetapi lupa membangun fondasi.

Simulasi penentuan volume kulit kopi sebagai salah satu bahan biopori saat pelatihan di Desa Gelong. (Dokumentasi Arief Laga)

Kopi Manggarai Bisa Punah

Jika kita terus memuja hilir dan mengabaikan hulu, kopi Manggarai bisa pelan-pelan punah. Bukan karena tidak ada yang mau membeli, tapi karena kebunnya tidak lagi mampu menghasilkan.

Tidak ada kemasan yang cukup cantik untuk menutupi biji kopi yang merosot kualitasnya. Tidak ada festival yang cukup meriah untuk menyembunyikan kebun yang sekarat.

Masa depan kopi Manggarai ditentukan di tempat yang paling jarang dikunjungi oleh para perancang kebijakan dan penggiat hilirisasi: di hulu, di tanah, di kebun, di tangan petani yang setiap hari berdiri di antara pohon-pohon tua yang menunggu diperhatikan. Di sanalah segalanya akan ditentukan. 

Jika kita terus berpaling dari tempat itu, kita tidak berhak kaget ketika suatu hari tidak ada lagi yang bisa dirayakan.

Arief Laga adalah Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Karya Ruteng.

Editor: Ryan Dagur

DUKUNG KAMI

Terima kasih telah membaca artikel kami.

Floresa adalah media independen. Setiap laporan kami lahir dari kerja keras rekan-rekan reporter dan editor yang terus berupaya merawat komitmen agar jurnalisme melayani kepentingan publik.

Kami menggalang dukungan publik, bagian dari cara untuk terus bertahan dan menjaga independensi.

Cara salurkan bantuan bisa dicek pada tautan ini: https://floresa.co/dukung-kami

Terima kasih untuk kawan-kawan yang telah mendukung kami.

Gabung juga di Grup WhatsApp pembaca kami dengan klik di sini atau di Channel WhatsApp dengan klik di sini.

ARTIKEL PERPEKTIF LAINNYA

TRENDING