Tujuh Nakes Berlayar ke Pulau Rote, Beri Layanan Kesehatan Gratis bagi Warga Pesisir

Kegiatan diinisiasi wadah perjuangan kolektif Gerakan Masyarakat Pesisir.

Floresa.co – Di pesisir barat Pulau Rote, perjuangan tak selalu soal mengepalkan tangan.

Perjuangan juga tentang menghadirkan layanan kesehatan ketika Puskesmas terdekat berjarak 10 kilometer dari kampung — dan jalan menuju ke sana berkelok-kelok, sebagian rusak, melewati waktu tempuh setengah jam dengan sepeda motor.

Dari Riau di Pulau Sumatra, Cimahi di Pulau Jawa, Ruteng di Pulau Flores, hingga Kefamenanu di Pulau Timor, tujuh tenaga kesehatan berlayar menuju Rote. Selama tiga hari berturut-turut, mereka melayani kebutuhan medis dasar: pemeriksaan kolesterol dan gula darah, sunat, dan pemberian obat-obatan gratis.

Warga menyambut dengan bergotong royong mendirikan tenda. Kursi-kursi dikeluarkan dari rumah, diatur kembali di bawah naungannya.

Bagi warga, pertemuan pada 19 Mei itu tak sekadar pemeriksaan kesehatan. Mereka saling melepas rindu di sela-sela perjuangan merebut kembali dua jalan publik yang ditutup pengembang hotel mewah.

Di antara tumpukan stetoskop dan glukometer, Yakomina Salle yang telah lansia berkata: “Saya ingin berumur panjang. Sepanjang perjuangan ini.”

Yakomina Salle, lansia 73 tahun di Dusun Loedi, Desa Bo’a di pesisir barat Pulau Rote setelah memeriksakan kesehatan pada 19 Mei 2026. (Anastasia Ika)

“Masih Boleh Bermain di Pantai?”

Lima kincir angin di Dusun Loedi, Desa Bo’a, berputar kencang seiring angin dari Samudra Hindia.

Sekitar 50 meter dari sana, dr. Nurafidah Fitria Atasyah — akrab disapa Fida — memeriksa kaki Lestari Victoria Feoh, 10 tahun, yang biasa dipanggil To’i.

“Ini gatal sekali?” tanya Fida. “Ya, makanya saya garuk terus sampai begini,” jawab To’i. Kaki kirinya tampak melepuh.

Nyaris setiap hari To’i berenang di Pantai Loedi — masuk dan keluar air berkali-kali sampai ibu atau kakaknya memanggil pulang. Sekitar setahun lalu, kaki kirinya mulai gatal. Tak tahan, ia menggaruknya hingga lecet.

Fida menduga To’i mengidap alergi terhadap kandungan air laut di Pantai Loedi. Ia meminta ibu To’i membawanya ke Puskesmas Delha untuk memastikan diagnosis.

Mata bulat To’i menatap lekat Fida, mendengarkan setiap penjelasan dengan saksama. Sebelum beranjak ke meja obat, ia bertanya: “Ibu dokter, apakah saya masih boleh bermain di pantai?”

Ia menyambut anggukan Fida dengan senyum dan mata berbinar.

“Puskesmas Terdekat Tak Bisa Dikatakan Dekat”

Puskesmas Delha dan Dusun Fimok di Desa Bo’a terpaut 10 kilometer. Fimok adalah dusun paling ujung di Kecamatan Rote Barat, disusul Loedi dan Ndundao. Jalan yang berkelok dengan beberapa ruas rusak membuat jarak itu memakan waktu sekitar 30 menit bersepeda motor.

Tiga dokter bertugas di Puskesmas Delha — dua dokter umum dan seorang dokter gigi. Fida sendiri berstatus dokter magang di sana. Puskesmas ini melayani hampir 4.000 warga dari tiga desa: Bo’a, Oenggaut, dan Nemberala.

“Jumlah tenaga kesehatan di Puskesmas Delha termasuk ideal. Tetapi tidak dengan waktu tempuhnya,” kata dr. Beatrix Carvita Claudia Frans, ketua tim bakti sosial pemeriksaan kesehatan di pesisir barat Rote.

Welis Hun tinggal tepat di belakang Puskesmas Pembantu Ndundao. Meski lebih dekat, dua tenaga kesehatan yang bertugas di sana hanya melayani sampai pukul 12 siang. “Kalau ada kejadian darurat setelah jam itu, kami harus pergi ke Puskesmas Delha,” katanya.

Ingatan Welis kembali ke 16 Oktober 2022. Petang itu menandai pelayaran perdana sebuah perahu kayu yang baru selesai dirakit. Dinakhkodai Paulus Hangge, perahu bertolak dari Pantai Loedi membawa 41 warga. Perjalanan baru mencapai sekitar 200 meter dari bibir pantai ketika Paulus membalik haluan untuk berlabuh — dan perahu tiba-tiba oleng sebelum akhirnya karam.

Lot Hangge, yang saat itu berusia 15 tahun, selamat. Ingatannya tak lagi utuh soal kejadian hari itu. “Yang pasti, saya ingat orang-orang berteriak dan betapa perjalanan ke Puskesmas terasa lebih cepat.”

Adi Tang, penumpang lain yang selamat, mengingat sopir truk yang membawa para korban melaju “sangat kencang, seolah tak mengerem melewati jalan berkelok-kelok.” Tangisan memecah sepanjang perjalanan. Tujuh dari 41 warga — termasuk Paulus — dinyatakan meninggal tidak lama setelah tiba di Puskesmas.

Pemeriksaan kesehatan dasar secara gratis di Dusun Danoheo, Desa Oebu di Pulau Rote pada 18 Mei 2026. (Anastasia Ika)

Menyeberang Demi Membawa Obat Bius

Pemeriksaan kesehatan di Desa Bo’a berlangsung sehari setelah kegiatan serupa di Dusun Danoheo, Desa Oebou, Kecamatan Rote Barat Daya.

Kegiatan ini diinisiasi Gerakan Masyarakat Pesisir, sebuah wadah perjuangan kolektif warga, dan didukung sejumlah komunitas gereja, organisasi sosial dan kesehatan, termasuk Yayasan Fatu Ofak, Apotek Florapharm yang berbasis di Rote, serta Sunat Gaming dari Kota Kupang.

Di Oebou, dr. Yohanes Christofel Jahang — akrab disapa Elton — menyunat empat laki-laki yang lebih dulu mendaftar. Ketika ia membereskan perlengkapan, tujuh laki-laki lain menghampiri dan meminta disunat.

“Mereka minta disunat karena pasien sebelumnya tidak ada yang berteriak,” kata Elton, dokter berusia 27 tahun itu.

Obat bius yang dibawa Elton dan rekannya, dr. Andika Putra Riswana, hanya cukup untuk pasien yang sudah terdaftar di Oebou dan Bo’a. Tapi keduanya memutuskan tetap melayani ketujuh warga yang datang belakangan. Sunat selesai menjelang tengah malam.

Sementara itu, Claudia bergegas ke Ba’a, ibu kota Kabupaten Rote Ndao, mencari obat bius tambahan. Tidak ada yang memadai di sana. Ia lalu menghubungi dr. Vinsensius Fence Masu, dokter asal Kefamenanu yang sedang bertugas di Kota Kupang.

Mendengar kesulitan rekan-rekannya, Fence mengumpulkan obat bius di Kupang dan memesan tiket feri paling pagi ke Rote. Begitu feri bersandar di Pelabuhan Ba’a, ia langsung bertolak menuju Dusun Loedi — sekitar satu jam bersepeda motor.

dr. Yohanes Christofel “Elton” Jahang (atas) dan dr. Vinsensius Fence Masu berperahu menyusuri danau di dusun pesisir barat Pulau Rote. (Dokumentasi Elton Jahang)

Perjuangan yang Tak Putus

“Perasaan kami campur-aduk selama di Rote,” kata Elton selepas rangkaian bakti sosial itu.

Ia mengaku miris mendapati ruas-ruas jalan yang belum beraspal, sementara Puskesmas terdekat “tak bisa dikatakan dekat.” Namun yang paling membekas adalah percakapannya dengan warga — tentang perjuangan menahun di pesisir barat Rote, tentang unjuk rasa yang tak pernah berhenti.

Di pesisir itu, para perempuan Desa Bo’a sudah bertahun-tahun tidak bisa lagi memanen pandan laut di Pantai Oemau. Dua jalan publik menuju pantai itu ditutup oleh PT Bo’a Development, pengembang hotel mewah NIHI Rote. Meski perusahaan membuka satu jalan milik mereka bagi publik, warga menolak menggunakannya — bukan jalan rakyat, kata mereka.

Protes berlangsung sekitar empat tahun. Seorang warga, Erasmus Frans Mandato, sempat diproses hukum karena ikut memprotes, sebelum divonis bebas murni pada 21 April. Jaksa mengajukan kasasi, sementara sejumlah pejabat terkait penutupan jalan itu dipanggil untuk dimintai keterangan.

Elton sempat singgah ke Pantai Loedi sebelum kembali ke Ruteng. Di tepiannya, sapi-sapi bebas berkeliaran, sebagian berteduh di bawah pandan laut. Rumpun pandan laut yang sama — yang daunnya menjadi bahan dasar tikar tradisional — tumbuh pula di pantai-pantai sekitar yang kini tak lagi bisa diakses warga.

“Saya terharu mendengar perempuan dan laki-laki, tua dan muda, mau berdiri dan berjuang bersama,” katanya. “Semoga selalu sehat hingga perjuangan selesai.”

Editor: Ryan Dagur

Dukung Kami

Ada cerita yang terlalu berisiko untuk diberitakan, korban yang terlalu lemah untuk didengar, dan mereka yang terlalu berkuasa untuk disentuh.
Floresa memilih memberi perhatian pada semua itu. Kami tidak bergantung pada iklan korporasi atau kepentingan politik. Independensi kami dibiayai oleh pembaca yang percaya bahwa kebenaran harus diungkap tanpa kompromi.
Dukung kami untuk terus bertahan. Caranya bisa cek di sini

BACA JUGA