Pelatihan Keuangan Inklusif Dorong Usaha Responsif Gender di Manggarai Barat

Selama pelatihan ini, peserta mempelajari literasi keuangan, cara mengakses layanan keuangan formal, serta penyusunan laporan keuangan sederhana

Floresa.co – Puluhan orang muda di Kabupaten Manggarai Barat mengikuti pelatihan manajemen keuangan inklusif sebagai bagian dari upaya mengembangkan usaha yang responsif gender.

Pelatihan yang berlangsung di Hotel Flamingo Bajo, Labuan Bajo, pada 22–24 Mei itu diikuti pemuda dari Desa Batu Cermin dan Kelurahan Labuan, Kecamatan Komodo, serta Desa Golo Ndaring, Kecamatan Sano Nggoang.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Urban Futures yang diselenggarakan oleh Konsorsium ASLI, aliansi organisasi nirlaba yang berfokus pada pemberdayaan masyarakat, ketahanan iklim, dan kemandirian pangan lokal di Nusa Tenggara Timur.

Urban Futures adalah program global yang berlangsung pada 2023–2027 dengan fokus pada sistem pangan perkotaan, kesejahteraan kaum muda, dan aksi iklim.

Konsorsium ASLI diinisiasi oleh Asosiasi Pendampingan Perempuan Usaha Kecil Mikro (ASPPUK) dan Yayasan Alifa, serta bermitra dengan Yayasan Humanis dan Inovasi Sosial. Program ini didukung oleh Fondation Botnar, yayasan filantropi berbasis di Basel, Swiss.

Belajar Manajemen Keuangan

Dalam pelatihan tersebut, peserta mempelajari literasi keuangan, cara mengakses layanan keuangan formal, serta penyusunan laporan keuangan sederhana.

Fasilitator dari ASPPUK, Salmiah Ariyana, berkata bahwa dalam banyak komunitas, perempuan dan kelompok muda masih memiliki akses terbatas terhadap layanan keuangan formal.

“Padahal, perempuan muda sering kali menjadi pengelola keuangan keluarga sehari-hari. Program ini hadir untuk menjembatani kesenjangan tersebut tanpa membedakan gender atau latar belakang,” kata Mia, sapaan akrabnya.

Ia menegaskan, perempuan perlu memiliki kemampuan mengelola keuangan dengan baik karena masih banyak orang yang “tahu cara menghabiskan uang, tetapi tidak tahu cara menggunakannya secara efektif.”

“Jika seseorang mampu mengelola keuangan pribadi dengan baik, ia juga akan mampu mengelola keuangan kelompok dengan baik,” katanya.

Melalui pelatihan ini, kata dia, peserta diharapkan dapat mengelola pendapatan, menyusun laporan keuangan sederhana, serta mengambil keputusan keuangan secara bijak.

Ia juga mengingatkan peserta agar berhati-hati dalam mengakses pinjaman dari lembaga nonformal, seperti pinjaman online atau koperasi tanpa izin lengkap.

Mia berharap setelah pelatihan ini, peserta dapat lebih percaya diri mengakses layanan keuangan formal.

Sementara itu, Relationship Manager BRI Labuan Bajo, Febri Aryani, yang juga menjadi fasilitator, mengatakan bahwa pihaknya mendukung pelaku UMKM.

“Selama memiliki usaha, silakan datang ke BRI jika membutuhkan modal. Kami siap membantu memberikan pinjaman untuk pengembangan usaha,” katanya.

Dukung Sistem Pangan Perkotaan

Direktur ASPPUK, Emmy Astuti, menyatakan komitmen lembaganya dalam memperkuat kepemimpinan perempuan muda dalam mengembangkan kewirausahaan yang responsif gender.

Ia mengatakan, ASPPUK mendorong perempuan muda untuk mengakses pendanaan usaha, meski selama ini mereka kerap dianggap kurang mampu dalam mengelola dan mengakses keuangan.

Menurutnya, pelatihan ini bertujuan membekali peserta agar mampu mengembangkan usaha di komunitas masing-masing.

Para peserta, kata dia, telah memiliki usaha kelompok, namun masih menghadapi kendala dalam mengakses pembiayaan.

“Untuk mengembangkan bisnis, mereka membutuhkan dukungan pendanaan,” ujarnya kepada Floresa pada 24 Mei.

Emmy menjelaskan, peserta selama ini telah berupaya secara swadaya mengembangkan usaha melalui koperasi berbasis komunitas. Mereka juga mengelola kebun-kebun berbasis pangan lokal.

“Namun, skala koperasi ini masih kecil sehingga membutuhkan dukungan dari lembaga keuangan yang memiliki program untuk mendukung bisnis anak muda,” katanya.

Ia menambahkan, kegiatan ini juga bertujuan mendukung sistem pangan perkotaan yang inklusif dan tangguh terhadap perubahan iklim.

Menurut Emmy, pengembangan produk pangan lokal oleh peserta berpotensi memperkuat sistem pangan perkotaan sekaligus mendukung sektor pariwisata Labuan Bajo.

“Labuan Bajo tidak boleh hanya menjual destinasi wisata, tetapi juga harus memiliki kekuatan kuliner,” katanya.

“Kuliner harus berbasis semangat lokal, produk UMKM berbasis pangan lokal, dan praktik pertaniannya ramah lingkungan,” tambahnya.

Kelompok Pioner Muda Desa Batu Cermin sedang berdiskusi tentang rencana tindak lanjut pengembangan usaha mereka pada 24 Mei 2026. (Dokumentasi Floresa)

Apa Kata Peserta?

Genoveva Simun, Ketua Kelompok Mutiara Cunca Rami—kolektif anak muda di Desa Golo Ndaring yang memproduksi keripik singkong—mengaku memperoleh banyak pengetahuan baru dari pelatihan tersebut.

Ia menilai materi yang diberikan sangat membantu kelompoknya dalam merencanakan masa depan usaha, mengingat perempuan memiliki peran penting dalam pengelolaan keuangan.

“Perempuan tidak hanya berperan sebagai ibu rumah tangga, tetapi juga harus memiliki kesempatan yang sama dengan laki-laki dalam mengelola dan mengakses keuangan,” kata perempuan berusia 33 tahun itu.

Ia menegaskan bahwa kelompoknya menjunjung tinggi prinsip kesetaraan.

“Semua anggota memiliki hak yang sama. Meskipun saya ketua, pengambilan keputusan tetap dilakukan melalui musyawarah,” katanya.

Ia menambahkan, peran dalam kelompok bersifat fleksibel.

“Jika saya berhalangan karena urusan keluarga, peran saya bisa digantikan anggota lain,” ujarnya.

Peserta lainnya, Ardo Afang, Ketua Kelompok Pioner Muda Desa Batu Cermin, mengatakan bahwa ia mulai menerapkan sebagian materi literasi keuangan dalam kehidupan sehari-hari.

Ia mengaku baru mengetahui konsep pengelolaan keuangan dengan pembagian 50 persen untuk kebutuhan pokok, 30 persen untuk investasi, dan 20 persen untuk dana darurat.

Kelompok Pioner Muda memproduksi rebok, makanan tradisional berbahan dasar tepung jagung, kelapa parut, dan gula aren.

Editor: Herry Kabut

Dukung Kami

Ada cerita yang terlalu berisiko untuk diberitakan, korban yang terlalu lemah untuk didengar, dan mereka yang terlalu berkuasa untuk disentuh.
Floresa memilih memberi perhatian pada semua itu. Kami tidak bergantung pada iklan korporasi atau kepentingan politik. Independensi kami dibiayai oleh pembaca yang percaya bahwa kebenaran harus diungkap tanpa kompromi.
Dukung kami untuk terus bertahan. Caranya bisa cek di sini

BACA JUGA