Floresa merupakan media independen berbasis di Flores, NTT. Baca selengkapnya tentang kami dengan klik di sini!
SERIAL LIPUTAN INVESTIGATIF
Investigasi khusus terhadap persoalan krusial di Nusa Tenggara Timur
POLEMIK MILITERISASI FLORES
Liputan investigasi ini menyoroti konflik agraria struktural berskala besar yang tengah bergejolak di Kabupaten Nagekeo.
Fokus Utama: Pembangunan markas militer di atas lahan ratusan hektare di Desa Tonggurambang yang memicu benturan ruang hidup warga sipil.
Temuan Investigasi: Proyek perluasan dan ekspansi militer berjalan tanpa konsultasi publik yang transparan serta mengabaikan dokumen sejarah tanah adat setempat sejak tahun 1975. Konflik ini meluas hingga melibatkan perlawanan dari Gereja Katolik lokal dan komunitas lintas agama akibat hilangnya akses warga terhadap fasilitas publik, termasuk tempat pemakaman umum
EKSPLOITASI DI BALIK GEMERLAP LABUAN BAJO
Liputan mendalam ini membongkar sisi gelap industri pariwisata premium di Labuan Bajo, khususnya mengenai dugaan tindak pidana perdagangan orang (TPPO) dan eksploitasi pekerja perempuan.
Fokus Utama: Menelusuri nasib para pekerja perempuan di tempat hiburan malam, seperti Pub Le Dupar.
Temuan Investigasi: Para pekerja dijebak jeratan utang sejak hari pertama, dokumen identitas (KTP) mereka ditahan, hingga dipaksa melayani tamu. Liputan ini mengungkap insiden tragis saat seorang pekerja meninggal di kamarnya, namun pihak manajemen diduga membersihkan tempat kejadian perkara sebelum polisi datang demi menjaga pub tetap beroperasi malam itu.
DEMI NAMA BAIK GEREJA
Investigasi sensitif yang membongkar kekerasan seksual di institusi pendidikan tinggi berbasis agama di Flores.
Fokus Utama: Kasus kekerasan seksual yang melibatkan relasi kuasa timpang di lingkungan Universitas Katolik Indonesia Santu Paulus Ruteng.
Temuan Investigasi: Menyoroti tindakan penyalahgunaan wewenang oleh terduga pelaku yang berstatus sebagai oknum dosen sekaligus imam Katolik terhadap mahasiswi (penyintas). Floresa membingkai investigasi ini untuk mendobrak dinding tebal "demi nama baik institusi" yang sering kali membungkam hak-hak korban kekerasan seksual di wilayah tersebut.


