Memoar Broken Strings tidak sekadar menghadirkan kisah personal, tetapi membuka ruang refleksi bagi kita tentang bagaimana kekuasaan itu bekerja secara “halus dan menyakitkan” dalam relasi sehari-hari, seperti lewat child grooming
Natal di tengah krisis ekologis bukanlah perayaan yang kehilangan makna, melainkan momen reflektif yang menantang umat beriman untuk mereformulasi relasi antara iman dan tanggung jawab ekologis
Mengapa kekerasan seksual tetap hadir di ruang yang mengajarkan etika? Mengapa trauma masih diproduksi di tempat yang mengklaim dirinya sebagai ruang pencerahan?
Ia telah memilih nama yang mengingatkan kita pada Bapak Ajaran Sosial Gereja Paus Leo XIII dan dalam pernyataannya memberi sinyal akan meneruskan semangat Paus Fransiskus
Ketika tangis warga menjadi doa dan altar kembali menjadi ruang keadilan, Gereja tidak sedang runtuh, ia sedang dibangun kembali: lebih murni, lebih sejati, dan lebih dekat dengan Kristus yang hadir dalam mereka yang disingkirkan
Di pinggir Jalan Trans Flores, warga yang rumahnya diratakan perusahaan milik Gereja menyalakan pelita dan berdoa Rosario. Dari rumah-rumah bambu tanpa listrik, mereka menagih kasih yang terus dikhotbahkan, tetapi absen ketika tanah mereka diperebutkan, martabat mereka diinjak, dan hidup mereka diseret ke meja hijau.
Tiga warga menghadapi putusan banding pada 24 September 2026 setelah sebelumnya lepas dari jeratan hukum. Mereka dilaporkan imam petinggi korporasi milik Gereja Katolik terkait tudingan penyerobotan lahan yang terjadi 12 tahun silam.
Di lereng Gunung Mutis, patok-patok listrik yang semula dibaca warga sebagai tanda pembangunan membuka kecemasan baru. Kabar tentang akses energi dikaitkan dengan perubahan status hutan adat menjadi taman nasional, rencana pembiayaan konservasi, dan masuknya investasi ke ruang hidup yang selama ini mereka jaga.