Oleh: Berno Jehani
Pendidikan selalu digambarkan sebagai usaha membentuk manusia seutuhnya. Ia diarahkan untuk meninggikan martabat, memperhalus nurani dan menghaluskan relasi sosial. Di atas semua itu, pendidikan dipandang sebagai sarana membangun peradaban.
Perguruan tinggi mengambil peran kunci dalam proses ini karena di sanalah ilmu pengetahuan diproduksi, diuji dan diajarkan sebagai dasar pengambilan keputusan publik.
Dalam imajinasi sosial, kampus dikenali sebagai ruang aman. Ia disebut sebagai tempat orang belajar berpikir jernih, berbicara jujur dan hidup secara bermakna. Gambaran ini memberi legitimasi moral kepada universitas sebagai institusi yang dijaga oleh etika, rasionalitas dan keadaban.
Pertanyaan muncul ketika fakta sosial bergerak ke arah yang jauh dari gambaran tersebut.
Mengapa kekerasan seksual tetap hadir di ruang yang mengajarkan etika? Mengapa trauma masih diproduksi di tempat yang mengklaim dirinya sebagai ruang pencerahan?
Otoritas Akademik
Kampus adalah ruang ilmu, sekaligus ruang kuasa. Dosen memegang otoritas simbolik, akademik dan administratif atas mahasiswa. Ia menentukan nilai, mempengaruhi kelulusan, mengatur akses ke dunia akademik yang lebih luas.
Situasi ini menciptakan relasi yang tidak setara, sekalipun dibungkus dengan bahasa pedagogis.
Dalam relasi semacam itu, kekuasaan sering bekerja secara senyap. Ia tampil dalam sikap akrab, kepedulian personal dan perhatian intensif yang sulit dibedakan dari bimbingan akademik.
Pada titik tertentu, kedekatan berubah menjadi tekanan, perhatian menjadi tuntutan dan keakraban menjadi penguasaan.
Liputan mendalam media independen Floresa tentang kekerasan seksual di Universitas Katolik Indonesia St. Paulus Ruteng yang dipublikasi pada 26 November 2025 memperlihatkan bagaimana relasi semacam ini menjelma menjadi kekerasan seksual.
Seorang mahasiswi mengalami pelecehan dan kekerasan seksual, dengan pelaku dosennya sendiri yang juga imam Katolik.
Kesaksian tersebut membuka satu sisi gelap dunia pendidikan yang jarang dihadirkan ke ruang publik.
Kekerasan semacam ini tidak berdiri sendiri. Ia tumbuh dalam ekologi sosial tempat otoritas jarang ditanya dan keintiman jarang dipersoalkan. Kekuasaan yang tidak diawasi selalu berpotensi berubah menjadi dominasi.
Politik Citra
Pendidikan mengandung idealisme, universitas mengandung kepentingan reputasi.
Dalam banyak kasus, institusi akademik lebih gesit menjaga nama baik daripada keberanian membongkar kebusukan moral. Saat laporan masuk, birokrasi bergerak perlahan. Saat bukti hadir, keputusan sering mengambang.
Proses ini menghasilkan satu efek sosial serius, korban merasa sendirian. Di satu sisi ia menghadapi trauma personal, di sisi lain ia berhadapan dengan institusi yang bergerak tanpa wajah. Tidak jelas siapa berbicara, siapa memutuskan, siapa bertanggung jawab.
Citra menjadi pusat orientasi, sementara penderitaan manusia tersisih ke pinggir sistem. Kampus berubah menjadi ruang rasionalisasi, tempat luka diberi penjelasan berlapis hingga tak lagi terdengar sebagai jeritan.
Budaya diam memiliki daya sosial yang kuat. Ia bekerja lewat rasa sungkan, ketakutan, dan anjuran untuk menjaga harmoni. Dalam konteks sosial seperti Flores, budaya ini bertumpuk dengan hormat kepada tokoh agama dan figur otoritatif.
Ketika pelaku adalah figur religius atau pastor, relasi kuasa menjadi lebih tebal. Ia adalah pihak yang dinarasikan sebagai penjaga kemanusiaan, panutan publik dan suara kebenaran. Di hadapan sosok semacam ini, korban berdiri dalam posisi paling rapuh.
Kesaksian dianggap sebagai ancaman terhadap kesakralan. Korban lalu dihadapkan pada dilema: bicara berarti melawan simbol, diam berarti memendam kesakitan.
Dalam masyarakat yang menilai ketertiban lebih tinggi daripada kebenaran, kesunyian menjadi norma sosial. Ia mengatur perasaan, membingkai narasi dan menutup pintu pada perbincangan etis.
Marwah Pendidikan Tinggi
Perguruan tinggi sering dibanggakan sebagai produsen ilmu dan pemimpin intelektual. Namun kontribusi sejati universitas terletak pada kemampuannya membentuk keberanian membongkar pelbagai bentuk ketidakadilan. Pendidikan tinggi dinilai dari ketegasannya melindungi yang lemah.
Mahasiswa masuk universitas dengan harapan memperoleh ilmu dan keadilan. Mereka membawa kepercayaan bahwa kampus akan mengayomi, mendidik dan menegakkan martabat manusia.
Di titik ini, kekerasan seksual mengguncang dasar etika pendidikan. Ia memperlihatkan bahwa proses akademik dapat kehilangan daya transformatifnya jika terbebani oleh kepentingan struktural.
Masalah ini tidak selesai lewat regulasi administratif. Ia membutuhkan pembongkaran mentalitas feodal, peninjauan relasi kuasa dan kepemimpinan yang bersedia bertindak.
Reformasi sejati menuntut keberanian. Keberanian memeriksa bagian tersunyi dalam institusi. Keberanian mengakui kegagalan. Keberanian untuk berpihak pada manusia.
Kampus yang enggan menyentuh wilayah gelapnya hanya akan melahirkan lulusan yang cakap secara teknis, miskin secara etis.
Ujian Moral
Setiap generasi menulis sejarahnya lewat keputusan moral. Generasi sekarang sedang diuji oleh kemampuannya merawat kebenaran di tengah tekanan institusional.
Universitas akan dikenang dari sikapnya terhadap keadilan. Apakah ia berdiri sebagai mercusuar etika atau sebagai tembok tinggi yang memantulkan jeritan?
Liputan oleh Floresa menghadirkan alarm kesadaran bahwa pendidikan bergerak maju sejauh ia berani jujur terhadap dirinya sendiri.
Pendidikan layak dihormati jika ia menempatkan manusia di pusat seluruh kebijakannya.
Berno Jehani adalah alumni Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif Ledalero
Editor: Ryan Dagur


