Oleh: Berno Jani
Rangkaian bencana ekologis yang terjadi di berbagai wilayah Indonesia, terutama di Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh, menyisakan bukan hanya kerusakan fisik, tetapi juga pertanyaan teologis dan etis yang mendasar.
Bencana tersebut kerap disebut sebagai “bencana alam,” seolah-olah ia sepenuhnya berada di luar kehendak dan tanggung jawab manusia.
Padahal, berbagai kajian menunjukkan bahwa degradasi lingkungan, alih fungsi lahan dan ekstraksi sumber daya yang berlebihan berkontribusi signifikan terhadap meningkatnya frekuensi dan dampak bencana hidrometeorologis.
Di tengah penanganan bencana itu, perayaan Natal tetap berlangsung. Tema Natal, yang menekankan kehidupan keluarga dan kehadiran Allah, memunculkan pertanyaan kritis, sejauh mana bahasa iman mampu merespons realitas sosial-ekologis yang ditandai oleh penderitaan massal dan ketidakpastian struktural?
Pertanyaan ini tidak dimaksudkan untuk merelativisasi iman, tetapi untuk menguji relevansinya di ruang publik.
Secara prosedural, Tema Natal tahun ini, “Allah Hadir Untuk Menyelamatkan Keluarga” memang ditetapkan jauh sebelum peristiwa bencana terjadi.
Namun, secara teologis, pembelaan semacam ini tidak memadai. Upaya lain sering dilakukan dengan memperluas makna “keluarga” hingga mencakup bangsa dan negara sebagai keluarga besar.
Pendekatan ini sah, tetapi tetap menyisakan problem mendasar, bagaimana memahami kehadiran Allah, Sang Imanuel, dalam situasi di mana ruang hidup manusia runtuh akibat kombinasi faktor alam dan keputusan manusia?
Pertanyaan tersebut menyentuh wilayah klasik teologi tentang penyelenggaraan Ilahi (Providentia Dei) dan sejarah keselamatan (heilsgeschichte).
Apakah Allah dipahami sebagai realitas yang telah menyelesaikan karya-Nya di masa lalu (Deus otiosus), sebagai kehadiran yang tersembunyi (Deus absconditus) atau sebagai Allah yang aktif menyertai sejarah manusia (Deus praesens)?
Ketiga model ini memiliki implikasi berbeda terhadap cara umat beriman membaca krisis ekologis kontemporer.
Narasi Natal dalam Injil Matius menawarkan kerangka refleksi yang relevan melalui figur Yusuf, suami Maria.
Yusuf digambarkan sebagai subjek moral yang berada dalam situasi ambiguitas dan tekanan sosial. Kehamilan Maria di luar relasi pernikahan formal menempatkan Yusuf pada dilema etis yang serius.
Ia memiliki opsi rasional dan legal untuk mengambil jarak demi melindungi diri. Dengan demikian, keterlibatannya dalam kisah Natal bukanlah akibat determinisme ilahi semata, melainkan hasil dari keputusan etis yang sadar.
Pilihan Yusuf untuk tetap tinggal dan menerima Maria mencerminkan iman yang bersifat partisipatif. Ia tidak meniadakan risiko sosial dan kultural yang dihadapinya, tetapi memasuki kerentanan tersebut dengan pemahaman akan makna yang lebih luas.
Dalam perspektif teologis, tindakan ini menunjukkan bahwa karya penyelamatan Allah tidak berlangsung di luar sejarah manusia, melainkan melalui keterlibatan manusia yang bersedia mengambil tanggung jawab.
Implikasi refleksi ini signifikan bagi pembacaan Natal di tengah bencana ekologis. Jika Allah diimani sebagai Imanuel, Allah yang menyertai, maka kehadiran-Nya tidak dapat dilepaskan dari tindakan manusia dalam merawat atau merusak ciptaan.
Dengan kata lain, krisis ekologis bukan sekadar ujian iman individual, tetapi juga indikator kegagalan kolektif dalam menghayati relasi etis antara manusia, alam dan Allah.
Di Indonesia, bencana ekologis memperlihatkan keterkaitan erat antara kerentanan lingkungan dan ketimpangan sosial. Kelompok masyarakat dengan sumber daya terbatas cenderung menanggung dampak paling berat.
Oleh karena itu, refleksi Natal yang serius tidak dapat berhenti pada dimensi spiritual, tetapi perlu diterjemahkan ke dalam tanggung jawab sosial dan kebijakan publik yang berpihak pada keberlanjutan.
Narasi Yusuf menegaskan bahwa iman yang otentik tidak memilih jalan aman secara moral. Ia menuntut kesediaan untuk terlibat dalam situasi yang rapuh dan kompleks.
Dalam konteks masa kini, kesediaan tersebut dapat dimaknai sebagai komitmen terhadap praktik ekonomi yang berkelanjutan, tata kelola lingkungan yang adil, dan solidaritas dengan komunitas terdampak bencana.
Dengan demikian, Natal di tengah krisis ekologis bukanlah perayaan yang kehilangan makna, melainkan momen reflektif yang menantang umat beriman untuk mereformulasi relasi antara iman dan tanggung jawab ekologis.
Natal mengingatkan bahwa kehadiran Allah dalam sejarah tidak menghapus konflik dan penderitaan, tetapi mengundang manusia untuk menjadi subjek aktif dalam proses pemulihan kehidupan bersama.
Natal tahun ini, oleh karena itu, layak dibaca sebagai ajakan untuk menafsir ulang iman dalam terang krisis ekologis. Bukan sebagai pelarian dari realitas, tetapi sebagai kerangka etis untuk bertindak.
Dalam kesediaan manusia untuk memasuki kerentanan dan mengambil tanggung jawab, makna Imanuel menemukan aktualisasinya dalam sejarah kontemporer.
Selamat Natal saudaraku.
Berno Jehani adalah alumnus Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif Ledalero
Editor: Ryan Dagur





