Oleh: Anwar
Tulisan ini saya buat setelah pertemuan dengan beberapa perempuan yang diduga menjadi korban perdagangan manusia oleh seorang pemilik tempat hiburan malam di Maumere, Kabupaten Sikka.
Mereka dibohongi, disiksa dan dipaksa bekerja di luar kesepakatan dalam kontrak, hingga kemudian berani keluar dari kondisi tersebut dengan melapornya ke polisi.
Ini pengalaman baru untuk saya.
Saya tidak tahu percakapan harus dimulai dari mana.
Saya tinggal di biara, ruang eksklusif sebagai persemaian para calon imam.
Titik yang membawa pertemuan kami adalah apa yang disebut sebagai “keberpihakan” Gereja kepada mereka yang rentan dan lemah.
Mereka bercerita, kami mendengarkan.
Entahlah, berapa lama mereka memendam semua itu.
Beberapa kali napas panjang ditarik untuk menjadi tenang.
Beberapa kali mata mereka tampak berkaca-kaca.
Namun, tangis ditahan, sepertinya mereka tak mau lagi terlihat lemah.
Tulisan ini semula hendak saya kirimkan sebagai surat kepada seorang biarawati Katolik— perempuan yang dikenal bukan pertama-tama sebagai direktur lembaga advokasi HAM, melainkan sebagai manusia.
Namun, sebelum sampai ke tangannya, surat ini seperti meminta untuk berhenti sejenak, untuk dimaknai ulang.
Barangkali ia lebih tepat menjadi catatan tentang perempuan-perempuan yang saya temui dalam hidup, tentang luka yang mereka bawa, tentang kelelahan yang tak selalu punya tempat pulang.
Saya dibesarkan oleh banyak perempuan.
Secara resmi, ibu saya satu, sah menurut Gereja dan negara.
Namun, hidup tak selalu berjalan lurus.
Saya punya dua ibu yang lain. Satu telah wafat, meninggalkan seorang putri. Satu lagi pernah menjadi biarawati Katolik, kini hidup di ujung timur Flores bersama adik perempuan saya.
Dari pernikahan sah itu, saya satu-satunya anak laki-laki di antara empat bersaudara. Ditambah dari dua ibu lain dari hubungan bapak yang lain, ada dua saudari lain.
Kadang saya berseloroh—“Terpujilah aku di antara para wanita.”
Kalimat itu pernah diucapkan bapak dengan nada setengah bercanda, setengah pasrah, sebelum ia meninggal pada 2022.
Menjelang akhir hidupnya, ia membuka semua rahasia. Tentang relasi, tentang kesalahan, tentang kenyataan yang mungkin tak semua anak siap mendengarnya.
Saya tetap bersyukur.
Sebab, lebih sakit mendengar keburukan orang tua dari orang lain, ketimbang dari mulutnya sendiri.
Sejak itu, hidup seperti mempertemukan saya dengan banyak perempuan lain—dengan kisah yang tak kalah rumitnya.
Para Perempuan Lain
Pada 2023, saya bertemu dengan seorang perempuan di salah satu kafe di Lokaria, Maumere.
Kami berkenalan singkat, lalu percakapan menjadi panjang, intens dan jujur.
Ia tamat SD lalu merantau ke Jakarta. Berteman dengan banyak perempuan, ia masuk ke dunia aplikasi bertukar pesan Michat untuk “menjual tubuh.”
Ia bercerita tentang Maria Magdalena yang diampuni. “Kenapa dia bisa diampuni, tapi saya tidak?” tanyanya di malam itu.
Masyarakat tak pernah lupa memberi cap. Tapi jarang mau memberi jalan pulang.
Akhirnya ia bertemu seorang lelaki sederhana—karyawan sebuah biara di Maumere.
Ia lelaki biasa dengan ketulusan yang tak banyak ditemukan di tempat-tempat gemerlap.
Perempuan itu memilih tinggal bersamanya. Bukan karena dunia tiba-tiba menjadi baik, melainkan karena ada satu orang yang melihatnya sebagai manusia.
Saya juga berkenalan dengan VA, perempuan yang pernah mencoba bunuh diri tujuh hingga sembilan kali.
Ia korban percobaan pemerkosaan oleh om kandungnya. Saksi pemerkosaan itu adiknya sendiri.
Ayahnya menikah sampai lima kali.
Bagi VA, rumah bukan tempat aman. Kini ia tinggal di Bali.
Flores—khususnya Manggarai—adalah trauma baginya.
“Kalau aku pulang, aku seperti kembali ke lubang yang sama,” katanya suatu ketika.
Tetapi ia masih hidup. Ada sesuatu yang ia sebut sebagai “hati kecil” yang selalu menggagalkan upayanya mengakhiri hidup.
Dunia terasa makin bengis ketika saya bertemu Mawar dan Melati, pemandu lagu di tempat hiburan malam di Maumere yang hari-hari ini kasusnya ramai dibicarakan. Mereka dikenal dengan sebutan ladies companion.
Bekerja pada dunia malam, mereka dianggap “perempuan kotor.”
Mawar dan Melati tak pernah berniat untuk menekuni pekerjaan itu, yang membawa mereka dari Jawa ke Flores.
Dulunya Mawar menjadi asisten dokter. Di foto lamanya, ia berjilbab, mengenakan pakaian medis putih, berkalung stetoskop.
Ia anak bungsu dari empat bersaudara. Bersama kakak perempuannya, ia menjadi tulang punggung keluarga.
Namun, hidupnya berubah drastis beberapa tahun silam. Semua runtuh oleh utang.
Kakak lelakinya main judi. Orang tua kelimpungan membayar, dua sertifikat rumah digadai.
Namun, itu belum cukup.
Kakaknya pun memilih ke Taiwan, dengan ongkos hasil pinjaman dari tetangga.
Sampai di Taiwan, kakaknya terseret kasus mengonsumsi sabu-sabu dan harus ditebus agar ia bisa kembali.
Utang pun menumpuk. Orang tua bertengkar. Ibunya menangis di pojok rumah setiap malam.
Mawar memilih ke Flores untuk menutup utang.
Namun, cerita yang dia tumpuk justru lebih besar dari utang yang harus ditutup.
Makian, siksaan serta berbagai cerita kelam lainnya membuat dia berucap: “Flores buat aku trauma.”
Melati berbeda lagi. Ibunya dari Jawa Tengah, ayahnya orang Arab, yang kemudian meninggalkan ibunya.
Bapak tiri lalu “merenggut masa depannya.” Ia hanya sekolah hingga SMP.
“Setiap pacaran aku disia-siakan, diselingkuhi, dikasarinn. Sekarang aku kerja di dunia malam. Dianggap bukan perempuan baik-baik,” katanya.
Yang membuat saya tercekat bukan pekerjaannya, melainkan kalimat ini: “Aku cuma mau tolong orang, tapi hidup aku selalu sendiri?”
Untuk saat ini, ia bertahan bukan semata untuk dirinya, tapi juga untuk 12 rekan lainnya yang berusaha melawan tindakan si pemilik pub.
Dia ingin menang dan pulang bersama teman-temanya, menahan semua luka, pelan-pelan menantang trauma.
“Aku tidak takut kalau dipenjara. Aku takut mereka ikut dipenjara. Siapa yang bela mereka? Bagaimana cara mereka pulang?”
Pulang.
Kata itu berulang-ulang keluar dari mulut Mawar dan Melati. Bukan sekadar kembali ke alamat rumah, namun ke keadaan di mana mereka tidak lagi dicap, tidak lagi diburu, tidak lagi merasa napas terlalu capek untuk diteruskan.
Saya ikut dalam aksi beberapa waktu lalu mengawal kasus Mawar dan Melati bersama rekan mereka yang lain, dengan mendatangi DPRD Sikka.
Ketika pengakuan salah satu di antara mereka diucapkan, seingat saya, seorang anggota DPRD berkata, “kalau orang kita, pasti pelakunya sudah dibunuh.”
Orang kita. Orang mereka. Saya tersentak, diikuti dengan perasaan jengkel dan muak. Di mana letak “orang”-nya? Di mana “manusia”-nya?
Apa manusia kehilangan rasa?
RASA bisa dibalik menjadi SARA. Lentur, mudah dipelintir. Kita bisa begitu cepat kehilangan kepala hanya karena merasa sedang membela “golongan.”
Padahal, di balik semua label itu ada perempuan-perempuan yang lelah.
“Puncak kesedihan menurut kamu apa?” tanya Mawar suatu malam.
“Pertanyaanmu mendasar sekali,” jawab saya.
“Mendasar, tapi tak semua orang berani tanya.”
Saya menelan ludah. Ada pertanyaan-pertanyaan yang lahir bukan karena ingin dramatis, tetapi karena hidup benar-benar menekan.
Kenapa Selalu Perempuan?
Kadang saya bertanya pada diri sendiri: kenapa begitu mudah terseret ke kisah-kisah mereka?
Apakah karena saya dibesarkan di antara banyak perempuan? Apakah latar keluarga membuat saya lebih mudah mendekati luka mereka?
Atau ini hanya kebetulan yang terasa terlalu sering?
Saya takut gagal membantu. Takut bahwa empati tak cukup kuat untuk melawan sistem yang lebih besar dari kami semua.
Hidup memang pelik. Bengis, bahkan. Tetapi di tengah kebengisan itu, saya melihat satu hal yang jarang dibicarakan: ketulusan dari mereka yang paling cepat dihakimi.
Dari perempuan-perempuan yang dianggap tabu, dari mereka yang cuma ingin satu kata: “Pulang.”
Dan, pada akhirnya, kembali pada pertanyaan yang tak selesai-selesai itu: “Mengapa dengan menjadi manusia, hidup harus begini susah?”
Anwar adalah samaran seorang calon imam yang sedang menempuh pendidikan di Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif Ledalero.
Editor: Dominiko Djaga


