Oleh: Jear Nenohai
Dunia musik Indonesia sedang merayakan proses kelahiran ‘genre’ baru yang disebut ‘Timurnesia.’ Penyematan tanda petik tunggal pada genre dan Timurnesia untuk menjelaskan kedua kata itu yang masih dalam pengembangan.
Istilah itu muncul pertama kali usai rapat terbuka bertema “Peta Jalan Ekosistem Musik Indonesia Timur dalam Kebijakan Kebudayaan Nasional” di Kementerian Kebudayaan pada 27 Januari 2026.
Timurnesia, yang diberikan langsung oleh Silet Open Up, penyanyi lagu Tabola Bale disebut sebagai simbol persatuan, solidaritas dan semangat kolektif musisi dari kawasan Indonesia Timur.
Wakil Menteri Kebudayaan, Giring Ganesha Djumaryo menerima dengan baik inisiasi Timurnesia sebagai bentuk identitas, ekspresi dan pengakuan terhadap genre musik baru dari Indonesia Timur.
Akan tetapi, oleh beberapa kalangan artis Indonesia Timur, masih terdapat perbedaan pandangan tentang arti genre ini.
Perbedaan pandangan itu misalnya tampak dari dua musisi asal Nusa Tenggara Timur: Andmesh Kamaleng dan Jackson Zeran.
Dalam sebuah unggahan di akun Instagram, Andmesh memberi saran agar pencetus ide itu duduk bersama dan berembuk lagi dengan musisi-musisi lain dari Indonesia Timur demi mencari solusi terbaik, sehingga tidak ada perpecahan.
Jackson merespons unggahan Andmesh melalui sebuah video, yang kemudian memicu kontroversi. Ia menyinggung Andmesh sebagai penyanyi yang lolos karena voting – pernyataan yang mengingatkan publik dengan Andmesh yang melejit di panggung musik nasional setelah memenangi ajang pencarian bakat Rising Star Indonesia pada 2017.
Andmesh kemudian mengingatkan Jackson agar memikirkan ulang cara bertutur kata karena bisa saja menyinggung banyak artis lainnya. Jackson lalu meminta maaf kepada Andmesh, meski ini tidak dilakukannya secara langsung lewat tatap muka, melainkan melalui pesan Instagram.
Perbedaan pandangan kedua artis ini mencerminkan pentingnya permenungan mendalam tentang apa arti dari identitas musik Indonesia Timur dan siapa saja yang berhak menentukannya.
Hal yang tidak kalah penting adalah sejauh mana sebuah musik dikategorikan sekaligus tidak dikategorikan sebagai musik Timur.
Saya melihat perbedaan pendapat dalam mengembangkan Timurnesia sebagai proses reartikulasi musik Timur. Saya meminjam istilah reartikulasi dari Stuart Hall (1966), seorang teoretikus budaya yang menekankan bahwa identitas bersifat tidak tetap dan terbentuk secara kontekstual, tanpa mengabaikan lapisan sejarah dan budaya yang melandasinya.
Teori reartikulasi bisa membantu proses pemaknaan (ulang) Timurnesia sebagai warna baru musik Indonesia.
Musik, Identitas dan Budaya
Dalam Irama Orang-orang (Menolak) Kalah, Irfan Darajat (2023) menegaskan bahwa musik tidak semata-mata soal seni, melainkan juga arena pertarungan wacana.
Melalui kajian tentang dangdut koplo, Darajat menunjukkan bagaimana masyarakat berperan aktif membentuk dan memberi batas atas apa yang dianggap sebagai dangdut dan apa yang tidak.
Dangdut koplo kerap dinilai oleh sebagian kalangan sebagai penyimpangan dari dangdut yang dianggap “asli”, terutama karena kehadiran unsur tambahan seperti goyangan dan praktik nyawer – sesuatu yang dipandang menyimpang dari tradisi dangdut sebelumnya.
Karena itu, musik tidak cukup dipahami hanya sebagai ekspresi estetis, melainkan juga sebagai fakta sosial: sesuatu yang dibentuk, dinegosiasikan dan dimaknai oleh masyarakat yang menghidupi dan menikmatinya.
Dalam konteks Indonesia yang plural, pencarian makna musik yang benar-benar khas menjadi tidak sederhana.
Kesulitan ini terjadi bukan karena kurangnya niat masyarakat, melainkan oleh realitas percampuran budaya (hibriditas) dan sejarah musik Indonesia yang dibentuk oleh nuansa kosmopolitanisme (Sumanto Alqurtuby dan Tedi Kholiludin, 2024). Anggapan bahwa musik merepresentasikan identitas budaya yang tunggal sering kali menafikan peran teknologi modern yang turut membentuk musik Nusantara.
Sigit Surahman (2024) menunjukkan bahwa musik campursari, yang kerap dianggap sangat lekat dengan tradisi Jawa, justru mampu bertahan dan berkembang melalui penggunaan instrumen dan lirik modern, sebagaimana dipopulerkan oleh “The Godfather of Broken Heart,” Didi Kempot.
Keragaman identitas dan budaya juga tampak jelas dalam tren yang belakangan disebut sebagai musik Timur. Dari pengamatan saya sebagai anak Timur, tren musik ini memperlihatkan perpaduan antara hip-hop dengan kebudayaan Timur yang dipentaskan melalui goyangan, bahasa dan dendangan musikal khas Timur.
Namun, tentu saja musik Timur memiliki keragamannya sendiri yang tidak bisa saya sebutkan semua di sini.
Bagi banyak anak Timur, kehadiran musik Timur di kancah nasional sudah berlangsung sejak era Glenn Fredly, bahkan jauh sebelumnya melalui para musisi Timur generasi awal.
Salah satu contoh yang menarik adalah lagu Tabola Bale. Dalam lagu tersebut, unsur bahasa dan musikalitas Timur dibungkus dalam format hip-hop.
Menariknya, lagu ini juga menghadirkan irama dan Bahasa Minang yang dilantunkan oleh Diva Aurel, sehingga memperlihatkan bagaimana musik Timur hari ini tidak berdiri sebagai identitas tunggal, melainkan sebagai ruang pertemuan tradisi dan ekspresi budaya.
Dari Indonesia Barat sampai Timur, kita akan selalu menemukan bahwa musik terbentuk oleh ragam kebudayaan dan identitas. Tidak ada bentuk musik yang khas pada dirinya sendiri.
Musik adalah produksi manusia yang memanjang dalam waktu dan menetap pada ruang hidup manusia melalui fasilitas kebudayaan dan media. Sebagai produk, musik mengalami proses reartikulasi yang mengakibatkan unsur sosial, kebudayaan, politik, agama dan media memberi makna baru pada musik itu sendiri.
Mengimajinasikan Timurnesia
Musik sebagai produk reartikulasi mengajak kita untuk membayangkan Timurnesia sebagai sebuah identitas yang tidak dapat dipahami secara tunggal.
Oleh karena itu, Timurnesia bukan menegaskan sekedar ‘genre’ atau varian musik yang datang dari Timur, tetapi pada saat yang sama ia bisa dipahami sebagai genre bersamaan dengan makna-makna lainnya.
Dalam hal ini, Timurnesia adalah ruang imajinasi bersama atas musik Indonesia – dan Indonesia Timur sebagai ‘tempat ia lahir.’
Merespon perkembangan perdebatan di media sosial tentang Timurnesia, Silet Open Up menegaskan bahwa Timurnesia bukan genre.
Dalam berita yang diunggah akun instagram Nttnetworks, ia berkata “Timurnesia itu sebagai rumah besar/wadah, yang di dalamnya ada berbagai jenis musik dari kita Indonesia Timur yang mencakup beberapa sub, yaitu lagu pesta timur, rakat, disko tanah, papsel, lagu acara, lagu daerah, etnik dan lain-lain.”
Tujuannya, kata dia, adalah “agar kita punya kategori sendiri.”
Pandangan Silet Open Up mewakili satu dari beragam pandangan dari penggagas Timurnesia. Artinya, kita juga dapat menemukan pemaknaan lain yang kaya tentang apa itu Timurnesia.
Saya memahami Timurnesia sebagai wadah kreatif dan imajinatif. Ia bukan ide kaku yang dikontrol oleh sekelompok orang dengan batasan racikan musik tertentu. Ia bisa dipahami sebagai genre yang lahir dari Timur, tapi pada saat yang sama melampaui genre karena sifatnya yang lentur dan terbuka.
Sebagai rumah bersama, Timurnesia mewadahi ragam kreativitas dan imajinasi tentang Indonesia Timur. Timurnesia menjadi ruang imajinasi dalam menata ulang bayangan orang-orang tentang Indonesia Timur melalui musik sebagai media.
Menurut keyakinan saya, agenda Timurnesia adalah mengajak para penikmat musik untuk mengenal serta memahami keberadaan Timur yang selama ini tertutupi oleh dominasi musik dari Jawa, terkhususnya Jakarta.
Lebih lanjut, Timurnesia tidak lahir sebagai, meminjam istilah Samuel Huntington dalam The Class of Civilizations (1996), bentuk kekuatan tandingan atau dikotomi baru, tetapi ia adalah Rumah-seperti yang ditegaskan oleh Silet Open Up.
Dalam imajinasi orang Timur, Rumah bukan soal gedung tetapi kehangatan relasi antara samua basodara yang tinggal bersama. Salah satu legenda musik dari Timur, Nick Young Money dalam lagunya Rumah, menceritakan dengan baik tentang arti Rumah.
Sebagai gagasan yang lahir dari putra-putri Timur, Timurnesia adalah undangan kepada basudara musisi dari tempat lain untuk melihat Indonesia Timur sebagai keluarga dan berkolaborasi bersama musisi-musisi Timur.
Di dalam rumah, tidak ada tuan dan tamu. Semua adalah keluarga, yang memiliki hak dan suara yang setara, keputusan diambil melalui dialog.
Di dalam Timurnesia, tidak ada identitas dan genre musik tunggal.
Timurnesia bukan sebuah tujuan akhir, tetapi proses membangun relasi kekeluargaan melalui musik sebagai media perjumpaan dan imajinasi.
Jear Nenohai adalah mahasiswa doktoral Studi Antropologi Agama di Universitas Toronto, Kanada
Editor: Ryan Dagur


