Floresa.co – Maria Goreti menghela napas panjang setelah menyisir satu per satu tandan pisang kepok (Musa balbisiana) dari empat pohon yang tersisa di belakang rumahnya.
Saat membelah salah satu buah, ia spontan kecewa.
Ia segera memeriksa buah dari tandan lain, tetapi menemukan gejala serupa: isinya berwarna coklat kehitaman dan terdapat rongga, meskipun tampak luar masih kelihatan sehat.
Semula perempuan berusia 46 tahun warga Desa Kringa, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka itu sudah berencana menjual tiga tandan ke pasar.
Satu tandan lain hendak ia simpan untuk konsumsi keluarga demi “bertahan di musim hujan sekaligus menghemat beras yang harganya semakin mahal.”
Namun harapannya pupus karena semua buahnya rusak.
Setiap musim hujan, keluarga Goreti memang kerap kesulitan uang untuk membeli beras, sementara persediaan hasil panen sawah tak selalu mencukupi.
Pisang dan ubi selama ini menjadi penopang utama untuk melewati bulan-bulan paceklik.
“Sudah tidak ada harapan lagi, pisang-pisang di desa ini sudah habis terkena penyakit darah pisang,” katanya saat ditemui Floresa di halaman rumahnya di kampung Boganatar pada 7 Maret.
Di sekitar rumahnya, tanaman pisang lainnya mulai menunjukkan tanda-tanda kerusakan: daun-daunnya menguning dan layu, tandannya menghitam serta batangnya tampak kerdil.
Di halaman tetangganya, sejumlah rumpun pisang bahkan telah ditebang.
“Sayang sekali penyakit ini menyerang saat pisang lagi subur-suburnya di musim hujan,” katanya.
Selama tiga tahun terakhir, Goreti hanya mendengar cerita dari mulut ke mulut bahwa penyakit darah pisang mulai menyebar di Sikka, kendati kala itu masih terbatas di wilayah barat seperti Kecamatan Nita, Koting, Alok dan Paga.
Ia sempat berharap wabah tersebut tidak sampai ke kampungnya yang masuk kawasan bagian timur kabupaten itu.
Apalagi “kami baru saja melewati masa sulit karena erupsi gunung berapi Lewotobi Laki-laki yang buat gagal panen selama dua tahun.”
Pada Oktober tahun lalu, kata Goreti, mereka mendengar kabar bahwa penyakit darah pisang telah menjangkiti rumpun pisang di kampung sebelah, Kringa.
Beberapa petani di sana mengeluhkan “tandan yang menghitam dan buah yang membusuk sebelum dipanen.”
Pada Desember, gejala serupa mulai ditemukan di kebun warga kampungnya.
“Tiba-tiba ada beberapa orang bilang pisangnya sudah terkena penyakit,” katanya.
“Andai saja sebelum terjangkit penyakit itu ada sosialisasi dari pemerintah untuk antisipasi penanganan,” mungkin pisang mereka bisa selamat dari wabah itu.
“Sekarang sudah terlambat,” katanya.
Penyakit darah pisang dipicu oleh bakteri Ralstonia solanecearum atau Blood Disease Bacterium (BDB). Tanaman yang terinfeksi mengeluarkan lendir kental berwarna merah kecoklatan (seperti darah) pada batang dan buah, menyebabkan buah membusuk di dalam meski terlihat mulus di luar.
Bagi Goreti, bakteri itu semacam bencana menular.
“Kalau sudah kena satu pohon, pasti akan kena semua,” katanya.
Ia menduga penyebarannya ke Sikka timur salah satunya melalui para pembeli yang menggunakan mobil pikap dan menebang sendiri pohon pisang petani.
“Orang bilang penyakit ini menular dari parang yang mereka gunakan untuk tebang pisang di tempat lain,” katanya.
“Tidak ada petugas yang datang untuk memberi sosialisasi kepada kami, sehingga pengetahuan kami hanya sebatas tebang lalu bakar saja. Mungkin ada langkah-langkah lain, pemberian obat mungkin, tetapi kami benar-benar buta soal itu,” lanjutnya.

Di Kecamatan Waiblama, sebelah selatan Talibura, para petani menghadapi nasib serupa.
Sejak April 2025, penyakit pisang berdarah menyerang kebun warga.
“Namun hingga saat ini tidak ada petugas yang datang dan beri sosialisasi untuk kami,” kata Simon Lewar, warga Desa Ilin Medo kepada Floresa pada 8 Maret.
Upaya yang dilakukan warga “hanya sebatas tebang lalu bakar.”
“Awalnya kami hanya dengar tentang virus pisang di tempat lain, tetapi sejak tahun lalu penyakit itu merambah perlahan ke seluruh wilayah,” kata Simon.
Menurutnya, pemicu penyebaran virus yang begitu cepat juga karena “lambatnya pemerintah melihat situasi tersebut di tengah masyarakat.”
“Sudah tahu virus pisang itu sudah menyebar di wilayah barat Sikka, kenapa pencegahan di wilayah lain tidak dilakukan? katanya.
Paulus Gani, 46 tahun, petani di Desa Hikong, Kecamatan Talibura berkata, sebelumnya setiap jadwal pasar mingguan di wilayah Kabupaten Sikka dan Flores Timur menjadi kesempatan bagi mereka melakukan aktivitas barter hasil kebun dengan hasil laut.
Hikong merupakan wilayah perbatasan antara Kabupaten Sikka dan Flores Timur. Jaraknya ke Larantuka 71 kilometer, sementara ke Maumere 65 kilometer.
Namun sejak penyakit itu muncul, mereka tak lagi melakukan aktivitas barter.
“Yang bisa kami tukar dengan pisang, buah maupun sayur-sayuran adalah ikan asin dan garam, karena kalau pakai uang, harganya mahal-mahal,” kata Gani kepada Floresa pada 7 Maret.
Biasanya, dalam seminggu, ia dan para petani di kampungnya pergi ke pasar empat kali, yakni pada hari Senin, Kamis, Jumat dan Sabtu.
Sudah hampir tiga bulan terakhir sejak penyakit itu menyebar ke desa mereka, membuat pisang-pisang rusak dan mereka jarang ke pasar.
“Kalaupun ke pasar, hanya tukar pisang jenis lain,” katanya.
Selain menukar dengan hasil laut, mereka biasanya menjual pisang kepok seharga Rp25 ribu hingga Rp40 ribu per tandan.
Setelah muncul penyakit itu, harga jualnya naik menjadi Rp60 ribu hingga Rp100 ribu.
Sementara itu, harga satu sisir pisang yang sebelumnya berkisar antara Rp5 ribu hingga Rp10 ribu kini bisa mencapai Rp30 ribu.
Baltasar Dore, salah satu pengepul dari wilayah tersebut berkata selama sekitar dua bulan terakhir hasil pisang kepok berkurang karena penyakit itu sudah menyerang tanaman warga di Talibura dan Waiblama.
“Bulan November 2025 itu masih bisa dapat beberapa tandan dari petani, tetapi memasuki Januari sudah mulai berkurang hingga sekarang,” kata Baltasar melalui sambungan telepon.
Ia dan beberapa rekannya biasanya menjual pisang kepok ke Bajawa di Kabupaten Ngada hingga Labuan Bajo di Manggarai Barat.
“Karena penyakit darah pisang semakin menyebar, kami tidak membeli pisang lagi. Sekarang kami fokus beli batok kelapa dari petani,” katanya.
Kini setelah penyakit pisang berdarah semakin tak terkendali dan kebun-kebun yang dulu menjadi tumpuan tak lagi menjanjikan hasil, Gani hanya berharap hasil kebun yang lain seperti sayur dan juga buah-buahan untuk dijual ke pasar.
Ia pun mengaku kecewa karena sikap abai pemerintah terhadap nasib mereka.
“Sejak awal tidak pernah ada sosialisasi mengenai penyakit darah pisang, sehingga kami sama sekali tidak tahu cara pengendaliannya,” ujarnya.

Apa Kata Dinas Pertanian?
Bertolak belakang dengan pengakuan para petani, Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Sikka mengklaim telah melakukan penyuluhan dan pendampingan secara intens.
Menurut Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Holtikultura Fransiska Omi, Petugas Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) telah mendampingi petani pemilik tanaman pisang di wilayah itu untuk melaksanakan eradikasi total.
Namun, katanya, kenyataan di lapangan menunjukkan masih banyak petani yang kebingungan dan belum paham langkah-langkah pencegahan.
Eradikasi total merupakan langkah pencegahan penting demi menekan penyebaran penyakit pisang berdarah seperti menebang dan membakar semua pohon yang terinfeksi di area tersebut agar penyakit tidak menyebar ke tanaman sehat.
Fransiska berkata, petugas POPT juga telah melakukan demonstrasi pengendalian serta pencegahan penyakit itu dengan pengaplikasian pestisida Nordox di 20 kecamatan, mencakup lahan seluas 103,25 hektare.
“Pihak kami juga telah berkoordinasi dengan UPTD Proteksi Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT untuk memperoleh bantuan pestisida Nordox,” katanya.
Tahun lalu, katanya, para POPT melakukan uji coba aplikasi herbisida sebagai upaya eradikasi total tanaman pisang yang telah terinfeksi.
Namun langkah itu “membutuhkan biaya dan tenaga yang besar karena seluruh tanaman terinfeksi harus dibongkar dan dimusnahkan.”
Menurut catatan Dinas Pertanian dan Peternakan, luas lahan tanaman pisang yang terserang penyakit pada 2025 mencapai 366,52 hektare, tersebar di berbagai kecamatan, yakni Nita, Paga, Mego, Tanawawo, Magepanda, Koting, Alok, Hewokloang, Bola, Waigete, Nelle, Talibura, Bola, Alok Timur dan Lela.
“Penyakit layu bakteri masuk ke Sikka pada Desember 2023 dan teridentifikasi di Desa Bloro, Kecamatan Nita,” kata Fransiska.
Ia berkata penyebaran penyakit itu berlangsung melalui beberapa cara. Salah satunya penularan mekanis melalui peralatan panen yang tidak steril seperti parang, cangkul dan pisau yang digunakan untuk memangkas atau membongkar tanaman yang terinfeksi.
Penyebaran lainnya melalui serangga, kelelawar, burung dan aktivitas manusia yang menyebarkan patogen dari tanaman yang terinfeksi ke tanaman sehat.
Dalam proses pencegahan, Fransiska berkata pihaknya memerlukan kolaborasi dan kerjasama semua pihak, termasuk pemerintah desa dan kelurahan, kecamatan, dinas terkait, serta pemangku kepentingan lainnya untuk menyadarkan petani agar mampu melakukan eradikasi total secara mandiri.
“Kesadaran petani dalam menerapkan budidaya yang baik juga sangat penting, seperti melakukan pemupukan secara rutin dan menjaga sanitasi kebun,” katanya.
Paulus Gani dari Desa Hikong berharap ke depan pemerintah lebih peka mendengar keluhan warga dan hadir di tengah petani untuk memberikan pendampingan terkait berbagai permasalahan mereka.
“Jangan sampai tanaman kami parah dulu baru datang,” katanya.
Editor: Anno Susabun




