Floresa.co – Salah seorang Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kabupaten Manggarai mengklaim keberadaan buah busuk dalam menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang didistribusikan dapurnya kepada murid di salah satu SD Katolik murni merupakan kesalahan teknis.
Pernyataan Kepala SPPG Pau II, Sefin Sisila pada 17 April merespons kasus salak busuk dalam menu MBG yang didistribusikan kepada murid SD Katolik St. Yohanes Don Bosko Ruteng II sehari sebelumnya.
Ia mengklaim kasus itu bukan kesengajaan karena buah yang ditemukan busuk itu tidak didistribusikan dalam keadaan rusak.
“Ini murni kesalahan teknis dan karakter buah salak yang mudah mengalami oksidasi (pembusukan),” katanya.
Sefin mengklaim petugas dapur telah dua kali menyortir salak-salak itu, yakni saat buah diterima dan saat dibersihkan pada malam hari.
Biasanya, kata dia, salak yang rusak dapat dideteksi dari ujung buah yang lembek dan berair.
Namun, katanya, terkadang buah dengan kulit yang tampak keras juga bisa mengalami kerusakan.
Ia menyebut faktor teknis lainnya adalah penggunaan plastik klip dalam pengemasan buah.
“Panas di dalam ompreng menyebabkan kelembaban pada buah salak yang dibungkus. Proses ini memicu kerusakan saat buah sampai di sekolah,” katanya.
Sefin berkata, penggunaan plastik klip bertujuan mencegah aroma kuat salak bercampur dengan makanan lain.
“Kami menggunakan plastik agar saat anak-anak membuka ompreng, aroma nasi, sayur, dan lauk tidak bercampur dengan aroma salak. Namun, suhu panas justru dapat mempercepat proses oksidasi,” katanya.
Kasus Berulang
Kasus itu terungkap dalam sebuah video berdurasi dua menit 18 detik yang diunggah di akun Facebook Emiliana Helni, salah seorang guru di SD Katolik Ruteng II pada 16 April.
Dalam video itu, ia mengaku para guru menemukan buah yang tidak layak dikonsumsi dalam menu MBG yang diterima hampir di semua kelas.
Ia juga mengaku mengunggah video tersebut agar persoalan tersebut diketahui publik.
“Kami buat video ini karena takut dibilang hoaks oleh pemilik dapur. Ini bukti. Jangan sampai kami dibilang mencemarkan nama baik (pemilik dapur) MBG,” katanya.
“Kami (juga) buat video ini karena sudah berulang kali terjadi, namun tidak dihiraukan,” tambahnya.

Emiliana berkata, pihak sekolah juga menemukan apel busuk dalam menu MBG yang dibagikan kepada siswa pada 13 April.
Pihak sekolah, kata dia, sempat menyampaikan temuan tersebut kepada petugas di lapangan, tetapi sepertinya tidak disampaikan kepada Kepala SPPG.
Hingga 17 April, unggahan tersebut mendapat 224 komentar dan telah 36 kali dibagikan oleh pengguna Facebook lainnya.
Seorang warganet mengomentari unggahan tersebut dengan menulis “lebih aman jika makanan dikelola oleh orang tua siswa.”
“Saya lihat punya teman di sini juga beberapa kali makanan itu justru dibuang ke tempat sampah karena anaknya tidak mau makan. Sayang sekali dana besar dialokasikan,” tulisnya.
Warganet lainnya menulis anak-anak mendapatkan makanan yang lebih bermutu di rumah dibanding yang diterima dari program MBG.
“Giliran pemerintah kasih program makan bergizi, yang datang di lapangan tidak sesuai harapan,” tulisnya.
Program tersebut berpotensi berdampak buruk bagi anak-anak, tulis warganet lain.
“Sudah nyata, MBG ini menunya tidak memenuhi standar gizi, tapi malah mereka bilang untuk kecerdasan anak-anak. Semoga ke depan lebih baik,” tulisnya.
“Jangan tunggu guru atau orang tua murid marah karena anak-anak sakit baru kalian sigap,” tulis akun lainnya.
Hat-Hati Pilih Buah
Kepala SPPG Pau II, Sefin Sisila mengklaim telah meminta maaf secara langsung kepada pihak sekolah terkait kasus tersebut.
“Kami sudah menjelaskan bahwa salak telah disortir sebelum didistribusikan. Kejadian ini menjadi pelajaran bagi kami ke depan dalam memilih dan menyortir buah,” katanya.
Sefin juga mengklaim telah menerima evaluasi dari Koordinator SPPG Kabupaten Manggarai, Ansgariana Yetri Indriyat.
Ansgariana, kata dia, menyarankan agar ke depannya tidak menggunakan salak, melainkan semangka atau buah naga, sehingga kondisi buah dapat terlihat saat dipotong.
Buah berkulit seperti salak, katanya, menyulitkan petugas untuk mengetahui kondisi bagian dalamnya.
“Karena itu, saat pemorsian harus dilakukan pengecekan dengan baik agar tidak ada yang terlewat,” katanya.
Ansgariana mengafirmasi bahwa sebelum didistribusikan, salak tersebut telah melalui penyortiran hingga tiga kali.
“Namanya buah berkulit, meskipun saat disortir terlihat keras di bagian luar, ternyata saat dibuka di dalamnya ada yang busuk atau kehitam-hitaman,” ujarnya.
Ia berkata, kejadian tersebut menjadi tantangan bagi SPPG tersebut dalam meningkatkan ketelitian, khususnya dalam memilih jenis buah.
“Tentunya, ini menjadi evaluasi internal bagi kami agar ke depan lebih hati-hati dalam memilih buah,” katanya.
Ansgariana juga mengafirmasi bahwa perwakilan SPPG tersebut telah turun langsung ke SD Katolik Ruteng II untuk mengklarifikasi sekaligus menyampaikan permintaan maaf.
Editor: Herry Kabut



