Floresa.co – Polres Manggarai Barat sedang menyelidiki kelayakan infrastruktur di Air Terjun Cunca Wulang menyusul tewasnya dua wisatawan mancanegara usai terjatuh dari jembatan di objek wisata tersebut.
Dalam keterangan yang diperoleh Floresa, Kapolres Manggarai Barat, AKBP Christian Kadang berkata, pihaknya “tengah mendalami kasus kecelakaan fatal ini secara serius.”
Ia berjanji akan menegakkan hukum secara transparan untuk menyelidiki kelayakan infrastruktur wisata serta melihat adanya potensi kelalaian pengelola yang mengakibatkan hilangnya nyawa orang lain, sebagaimana diatur dalam Pasal 359 KUHP.
“Kami tidak main-main dengan keselamatan wisatawan yang berkunjung ke wilayah Manggarai Barat,” katanya.
Kadang berkata, Tim Identifikasi (Inafis) Satuan Reserse Kriminal sedang mengolah tempat kejadian perkara (TKP) secara mendalam untuk memeriksa kelayakan teknis jembatan kayu tersebut.
“Kami juga akan memanggil pihak pengelola destinasi wisata Cunca Wulang untuk dimintai keterangan secara intensif terkait standar keselamatan (SOP) dan pemeliharaan infrastruktur yang mereka terapkan selama ini,” katanya.
Pernyataan Kadang merespons kasus tewasnya Jurgen (54) dan Astrid (56), wisatawan Austria usai terjatuh dari jembatan gantung berbahan kayu saat keduanya hendak berwisata ke Air Terjun Cunca Wulang, Desa Cunca Wulang, Kecamatan Mbeliling pada 24 Mei.
Kedua korban disebut terjatuh dari ketinggian kurang lebih 10 meter dan mendarat di sungai yang dipenuhi bebatuan besar.
Benturan keras di area vital tubuh membuat nyawa sepasang kekasih tersebut tidak dapat diselamatkan.
Kadang berkata, pihaknya juga bergerak cepat mengaktifkan jalur diplomasi kepolisian.
Divisi Hubungan Internasional Polri, kata dia, tengah menjalin komunikasi intensif dengan Kedutaan Besar Austria di Jakarta.
Koordinasi “mencakup penanganan dokumen-dokumen resmi, pengamanan barang-barang pribadi korban yang masih tertinggal di tempat penginapan, serta memfasilitasi proses repatriasi atau pemulangan jenazah kedua korban kembali ke negara asal mereka sesegera mungkin,” katanya.

Kronologi Kejadian
Menurut Kadang, Jurgen dan Astrid yang didampingi sopir mereka bernama Julius Mam (45) tiba di Cunca Wulang sekitar pukul 09.20 Wita.
Setelah menyelesaikan proses registrasi administrasi di pos tiket, keduanya memulai perjalanan tapak (trekking) menuju titik air terjun, didampingi oleh seorang pemandu lokal, Muhamad Muhardin (30).
Setibanya di jembatan gantung berbahan kayu yang membentang tinggi di atas aliran sungai berbatu, keduanya berniat mengabadikan momen kebersamaan mereka dalam sebuah video pendek.
Mereka kemudian menyerahkan ponsel kepada Muhardin, meminta pria itu untuk merekam perjalanan mereka dari belakang.
“Mereka berjalan beriringan sambil tersenyum hangat ke arah kamera. Mereka sempat meminta saya, ‘tolong ambil video kami dari belakang saat kami menyeberang jembatan ini,’” kata Muhardin saat memberikan keterangan kepada polisi.
Namun, baru sekitar 10 meter melangkah di atas bentangan jembatan gantung, struktur kayu yang menjadi tumpuan kaki mereka mendadak patah.
“Tiba-tiba terdengar suara kayu patah yang sangat keras—seperti dahan pohon besar yang tumbang. Dalam hitungan detik, jembatan langsung ambruk,” kata Muhardin.
“Saya melihat mereka jatuh dan langsung menghantam batu-batu sungai yang besar di dasar jurang,” tambahnya.
Melihat kejadian itu, Muhardin langsung berlari kembali ke pos tiket untuk meminta pertolongan warga sekitar.

Proses Evakuasi
Kadang berkata, usai menerima laporan darurat dari masyarakat dan pemandu wisata, personel Polsek Sano Nggoang bersama Tim SAR Gabungan langsung menuju TKP.
Proses evakuasi jenazah, kata dia, berlangsung cukup lama akibat medan sungai Cunca Wulang yang sangat terjal, sempit, dan dipenuhi bebatuan licin.
“Setelah diangkat ke Pos Pendaftaran Tiket, kedua jenazah langsung dilarikan menggunakan ambulans menuju RSUD Komodo untuk menjalani pemeriksaan medis luar (visum et repertum),” katanya.
Kadang berkata, tindakan taktis pertama kepolisian berfokus pada penyelamatan situasi dan pengamanan area guna menghindari kerusakan pada bukti fisik di lapangan.
“Prioritas kami sesaat setelah kejadian adalah mengevakuasi korban dan langsung mengamankan TKP guna menjaga keaslian bukti-bukti fisik atau mempertahankan status quo,” katanya.
“Pemasangan garis polisi (police line) langsung kami instruksikan di pintu masuk area wisata dan di kedua ujung jembatan gantung tersebut,” tambahnya.

Tutup Destinasi Wisata
Kadang berkata, pihaknya telah berkoordinasi dengan Pemerintah Daerah Manggarai Barat, khususnya Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif dan Kebudayaan untuk “memberikan ruang gerak yang bebas bagi tim penyidik dalam melakukan investigasi komprehensif.”
Atas rekomendasi tertulis dari polisi, kata dia, kawasan wisata Air Terjun Cunca Wulang secara resmi dinyatakan ditutup total untuk seluruh aktivitas kunjungan umum mulai hari ini.
“Demi keamanan bersama seluruh wisatawan, serta demi kelancaran proses investigasi hukum yang sedang berjalan, objek wisata Air Terjun Cunca Wulang kami nyatakan ditutup sementara waktu hingga batas waktu yang belum ditentukan,” katanya.
Kadang mengimbau seluruh pengelola kawasan wisata di Manggarai Barat untuk memprioritaskan keselamatan pengunjung, sekaligus meminta para wisatawan agar senantiasa menjaga keselamatan diri selama berkunjung.
“Demi keselamatan bersama, kami meminta pengelola wisata di Manggarai Barat untuk meningkatkan pengawasan, dan meminta para wisatawan agar selalu berhati-hati saat berkunjung,” katanya.
Kepala Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif dan Kebudayaan Manggarai Barat, Peter A. Rasyid berkata, “sesuai arahan pimpinan, kami diperintahkan untuk tutup sementara Cunca Wulang untuk melakukan evaluasi secara keseluruhan, khususnya aspek keselamatan.”
“Surat penutupan sedang kami siapkan,” katanya kepada Floresa.
Terkait upaya meninjau dan memperbaiki infrastruktur di Cunca Wulang, termasuk jembatan yang ambruk, Petrus berkata “itu akan menjadi item yang segera kami evaluasi.”
Hanya Tahu Terima Uang Tiket
Seorang pemandu wisata di Cunca Wulang yang meminta Floresa tak menyebut namanya berkata, setiap wisatawan yang masuk ke objek wisata itu membayar retribusi Rp120 ribu.
Dari total dana itu, kata dia, pemandu wisata dan Dinas Pariwisata masing-masing mendapat Rp50 ribu, sisanya disetor ke pemerintah desa.
Ia berkata, dana yang disetor ke Dinas Pariwisata diharapkan dipakai untuk membangun atau memperbaiki infrastruktur wisata.
Namun, kata dia, sejauh ini, dinas tersebut tidak pernah mengecek maupun memperbaiki infrastruktur wisata yang mengalami kerusakan.
“Selama ini, mereka hanya datang ke pos tiket dan tidak pernah meninjau kondisi infrastruktur. Padahal, penyediaan infrastruktur merupakan tanggung jawab mereka,” katanya.

Bob, warga lainnya berkata, “pihak pengelola (Dinas Pariwisata) mesti rutin mengecek akses menuju lokasi wisata.”
Selain itu, kata dia, sebagian uang tiket masuk ke objek wisata mesti ada yang dianggarkan untuk perbaikan dan renovasi sarana dan prasarana.
“Orang dinas jangan hanya jaga di pos tiket. Mereka harus memastikan soal kemanan dan kenyamanan lokasi. Jika tidak, kejadian ini akan terus berulang dan pariwisata Manggarai Barat kian tercoreng,” katanya.
Warga lainnya berkata, insiden ambruknya jembatan di objek wisata tersebut merupakan potret nyata dari buruknya standar keselamatan pariwisata yang dikelola oleh pemerintah daerah.
Dari sudut pandang teknis, kata dia, kondisi jembatan yang terputus di bagian tengah menunjukkan adanya pembiaran terhadap degradasi material kayu yang sudah tidak layak pakai.
“Kegagalan struktur ini sebenarnya adalah bencana yang sudah bisa diprediksi,” katanya.
Secara sosial, kata dia, masyarakat melihat hal ini sebagai bentuk ketidakadilan, di mana wisatawan telah memenuhi kewajiban membayar retribusi namun tidak mendapatkan hak keamanan yang paling mendasar.
Ia menyoroti transparansi anggaran dalam pengelolaan objek wisata tersebut karena “sangat ironis jika sebuah daerah yang dikenal sebagai destinasi wisata unggulan justru memiliki fasilitas publik yang rapuh hingga merenggut nyawa manusia.”
“Pihak yang paling bertanggung jawab secara langsung adalah Dinas Pariwisata sebagai otoritas pengelola lapangan,” katanya.
Ia menilai dinas tersebut gagal menjalankan fungsi pengawasan dan pemeliharaan infrastruktur secara rutin.
Kegagalan itu, kata dia, mencerminkan “sikap apatis terhadap manajemen risiko di area wisata yang memiliki kontur alam ekstrem.”
Ia juga menilai Pemerintah Daerah Manggarai Barat memegang tanggung jawab moral dan administratif atas jatuhnya korban jiwa tersebut karena “pengumpulan dana masuk ke kas daerah tidak diimbangi dengan investasi kembali pada infrastruktur keselamatan.”
“Kegagalan ini bukan hanya masalah teknis, melainkan cerminan dari manajemen pariwisata yang lebih mengutamakan profitabilitas daripada nyawa manusia, yang jika tidak segera dibenahi, akan menghancurkan reputasi pariwisata Manggarai Barat di mata dunia,” katanya.
Editor: Ryan Dagur



