Floresa.co – Dua wisatawan asal Austria tewas setelah jembatan gantung berbahan kayu yang mereka lewati ambruk di kawasan Air Terjun Cunca Wulang, Desa Cunca Wulang, Kecamatan Mbeliling, Manggarai Barat, pada 24 Mei.
Korban diidentifikasi sebagai Jurgen (54) dan Astrid (56).
Keduanya jatuh dari ketinggian sekitar 10 meter dan mendarat di sungai berbatu di bawah jembatan. Benturan keras di area vital tubuh membuat nyawa sepasang kekasih itu tidak dapat diselamatkan.
Polres Manggarai Barat kini menyelidiki kelayakan infrastruktur di lokasi wisata tersebut.
Kapolres AKBP Christian Kadang menyatakan pihaknya “tengah mendalami kasus ini secara serius” dan akan memeriksa potensi kelalaian pengelola yang mengakibatkan hilangnya nyawa, sebagaimana diatur dalam Pasal 359 KUHP.
“Kami tidak main-main dengan keselamatan wisatawan yang berkunjung ke wilayah Manggarai Barat,” katanya.

Sedang Merekam Video, Jembatan Tiba-tiba Patah
Menurut Kadang, Jurgen dan Astrid tiba di Cunca Wulang sekitar pukul 09.20 WITA, didampingi sopir mereka Julius Mam (45).
Setelah registrasi di pos tiket, mereka memulai perjalanan trekking menuju air terjun bersama pemandu lokal Muhammad Muhardin (30).
Setibanya di jembatan gantung, keduanya meminta Muhardin merekam video mereka saat menyeberang.
“Mereka berjalan beriringan sambil tersenyum hangat ke arah kamera,” kata Muhardin dalam keterangannya kepada polisi.
Baru sekitar 10 meter melangkah, struktur kayu yang menjadi tumpuan kaki mereka mendadak patah.

“Tiba-tiba terdengar suara kayu patah yang sangat keras — seperti dahan pohon besar yang tumbang. Dalam hitungan detik, jembatan langsung ambruk. Saya melihat mereka jatuh dan langsung menghantam batu-batu sungai yang besar di dasar jurang,” kata Muhardin.
Ia langsung berlari ke pos tiket untuk meminta pertolongan.
Proses evakuasi berlangsung lama akibat medan sungai yang terjal, sempit, dan dipenuhi bebatuan licin. Setelah jenazah berhasil diangkat ke pos pendaftaran tiket, keduanya langsung dibawa ke RSUD Komodo untuk pemeriksaan visum.
Kadang mengatakan pihaknya mengaktifkan jalur diplomasi kepolisian, berkoordinasi dengan Kedutaan Besar Austria di Jakarta untuk penanganan dokumen resmi, pengamanan barang pribadi korban, dan fasilitasi pemulangan jenazah ke Austria.

Hanya Terima Uang Tiket, Tidak Pernah Cek Infrastruktur
Kawasan wisata Cunca Wulang kini ditutup total atas rekomendasi polisi.
Kepala Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif dan Kebudayaan Manggarai Barat, Peter A. Rasyid, mengatakan penutupan dilakukan untuk evaluasi menyeluruh, khususnya aspek keselamatan.
Namun bagi warga dan pelaku wisata di lokasi, insiden ini bukan kejutan. Ia adalah akumulasi dari pengabaian yang sudah lama terjadi.
Seorang pemandu wisata yang meminta namanya tidak disebut mengungkapkan bahwa setiap wisatawan membayar retribusi Rp120 ribu — masing-masing Rp50 ribu untuk pemandu dan Dinas Pariwisata, sisanya ke kas desa. Dana yang masuk ke dinas seharusnya digunakan untuk pemeliharaan infrastruktur.
“Selama ini, mereka hanya datang ke pos tiket dan tidak pernah meninjau kondisi infrastruktur. Padahal, penyediaan infrastruktur merupakan tanggung jawab mereka,” katanya.
Warga lainnya, Bob, menilai kejadian ini seharusnya bisa dicegah. “Orang dinas jangan hanya jaga di pos tiket. Mereka harus memastikan keamanan dan kenyamanan lokasi. Jika tidak, kejadian ini akan terus berulang dan pariwisata Manggarai Barat kian tercoreng.”
Seorang warga lain membaca insiden ini dari sudut teknis. Kondisi jembatan yang terputus di bagian tengah, katanya, menunjukkan adanya pembiaran terhadap degradasi material kayu yang sudah tidak layak pakai.
“Kegagalan struktur ini sebenarnya adalah bencana yang sudah bisa diprediksi.”

Ia menunjuk Dinas Pariwisata sebagai pihak yang paling bertanggung jawab secara langsung. Kegagalan memelihara infrastruktur, katanya, mencerminkan “sikap apatis terhadap manajemen risiko di area wisata yang memiliki kontur alam ekstrem.”
“Pengumpulan dana masuk ke kas daerah tidak diimbangi dengan investasi kembali pada infrastruktur keselamatan. Kegagalan ini bukan hanya masalah teknis, melainkan cerminan dari manajemen pariwisata yang lebih mengutamakan profitabilitas daripada nyawa manusia,” katanya.
Ia menambahkan, “jika tidak segera dibenahi, ini akan menghancurkan reputasi pariwisata Manggarai Barat di mata dunia.”
Editor: Ryan Dagur



