Floresa.co – Salah satu SMA Katolik di Kabupaten Manggarai Timur menggelar pelatihan jurnalistik, bagian dari upaya meningkatkan keterampilan menulis murid baru.
Berlangsung pada 15 Juli, kegiatan bertajuk “Jurnalisme Sekolah” kegiatan di SMA Swasta Katolik Pancasila Borong itu merupakan bagian dari rangkaian Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS).
Peserta kegiatan mencapai 342 siswa, — 203 perempuan dan 139 laki-laki —, dengan Anno Susabun, editor Floresa sebagai fasilitator.
Pastor Pankrasius Wahu Nudan, kepala sekolah tersebut menyebut pelatihan jurnalistik dimasukkan dalam materi MPLS sebagai upaya memperkuat budaya literasi, terutama kemampuan menulis, membaca, dan berbicara.
Selama ini, kata dia, sekolah telah membiasakan para siswa menulis melalui “diari harian dan diari mimpi,” yakni catatan berisi mimpi dan harapan mereka.
“Tanpa pelatihan seperti ini, siswa baru akan kesulitan menulis,” katanya.
Ketua Panitia MPLS, Maria Yanti Asul berkata, sekolah memilih pelatihan jurnalistik agar siswa memperoleh pengetahuan dasar tentang jurnalisme sekaligus meningkatkan keterampilan menulis.
“Ilmu dan pengalaman tentang bagaimana proses kerja seorang jurnalis dan bagaimana menjadi jurnalis yang baik itu tentu memotivasi para siswa,” katanya.

Anno Susabun memulai pelatihan dengan memberikan materi dasar tentang cara menyusun kalimat dan paragraf yang utuh sebelum memperkenalkan konsep jurnalistik.
“Paling dasar adalah membuat kalimat dengan makna yang utuh, lalu menggabungkan kalimat-kalimat secara runtut menjadi paragraf,” katanya.
Selama pelatihan, para siswa diminta menulis kalimat dan paragraf yang kemudian dibahas bersama.
Setelah itu, materi berlanjut pada pengertian jurnalistik dan jurnalisme sekolah, jenis-jenis berita, teknik mencari informasi, hingga cara menulis dan menyampaikan berita kepada publik.
Anno menekankan bahwa seorang jurnalis tidak cukup hanya mampu menulis, tetapi juga harus melakukan observasi, wawancara, dan riset.
“Kalau ada kabar di luar sedang hujan, seorang jurnalis tidak langsung menulis. Ia harus keluar memastikan sendiri apakah informasi itu benar,” katanya.
Anno juga menekankan bahwa yang paling penting untuk terus dilatih adalah kemampuan berpikir kritis.
“Tujuannya adalah mempertanyakan sesuatu yang menurut kamu belum jelas, mempertanyakan sesuatu yang menurut kamu masih perlu dicurigai,” katanya.
Anno mencontohkan sikap kritis terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG) dapat diwujudkan dengan mencari tahu apakah makanan yang dibagikan benar-benar sehat atau tidak, bukan sekadar menerima klaim begitu saja.
Ia menyebut jurnalisme sekolah menjadi ruang latihan bagi siswa untuk mempraktikkan langsung apa yang mereka pelajari – mulai dari menulis kegiatan sehari-hari di lingkungan sekolah, mendokumentasikan acara, hingga menyuarakan persoalan yang dihadapi sesama siswa.
“Kebiasaan menulis dan berpikir kritis yang dibangun sejak di sekolah akan menjadi bekal penting, terlepas dari apakah kalian kelak benar-benar menekuni jurnalistik atau tidak,” katanya.
“Kemampuan menulis akan berguna bagi kalian, di mana pun kalian berada. Entah saat kalian ujian, mengerjakan karya ilmiah, atau saat kamu kuliah nanti,’’ tambahnya.

Pada 30 menit terakhir, peserta diberi kesempatan mempraktikkan materi dengan menulis berita singkat mengenai berbagai aktivitas di lingkungan sekolah.
Salah seorang peserta, Reinard, mengaku sebagian materi sudah pernah diperoleh saat masih SMP sehingga pelatihan tersebut menambah wawasannya soal dunia jurnalistik.
Menurutnya, bagian paling menarik justru ketika peserta diminta membacakan hasil tulisan mereka dan menerima masukan langsung dari fasilitator.
“Di situ kami bisa melihat apakah tulisan kami sudah baik atau belum, lalu mendapat saran untuk memperbaikinya,” katanya.
Peserta lainnya, Tania berkata, pelatihan tersebut memberi pengalaman baru karena tidak hanya berisi teori, tetapi juga praktik menulis berita.
“Saya memang suka menulis dan punya jurnal sendiri di rumah. Materi ini memberi saya pengetahuan baru tentang cara menulis berita dengan baik,” katanya.
Editor: Herry Kabut



