Floresa.co – Umat di salah satu paroki di Keuskupan Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat bakal menggelar festival, bagian dari upaya merawat kearifan lokal dan mencegah krisis ekologis di wilayah mereka.
Festival Bumi Sano Nggoang yang bertajuk “Merawat Kearifan Lokal: Budaya, Ekonomi, Ekologi untuk Keutuhan Ciptaan” yang diinisiasi oleh umat Paroki St. Mikael Nunang itu akan berlangsung pada 3-7 Oktober.
Pastor Paroki Nunang, Romo Valerianus Paulus Jempau berkata, penyelenggaraan festival tersebut berpijak pada ensiklik Laudato Si dari Paus Fransiskus yang mengajak manusia untuk melihat bumi sebagai rumah bersama.
Wejangan moral tersebut, kata dia, telah menjadi perhatian serius Keuskupan Labuan Bajo melalui Rencana Strategis 2025-2030.
Ia menyebut, Uskup Labuan Bajo, Mgr. Maksimus Regus telah menetapkan 2029 sebagai Tahun Sahabat Bumi.
“Seiring dengan itu, seruan pertobatan ekologis dan menjaga keutuhan ciptaan telah mulai diserukan Bapak Uskup dalam berbagai forum, seperti sidang pastoral, khotbah, dan terutama dalam ajakan untuk berjalan bersama dalam visi Gereja Keuskupan Labuan Bajo, yakni menjadi Gereja Katolik yang Sinodal, Solid, dan Solider,” katanya dalam keterangan yang diterima Floresa pada 22 September.
Bagi Uskup Maksimus, kata Valerianus, sinodalitas mesti ditunjukan dalam usaha bersama menjaga alam ciptaan, solid dipraktikkan melalui semangat merawat bumi, dan solider terhadap kerusakan alam menjadi ungkapan iman yang utuh kepada Allah.
Ia menyebut Festival Bumi Sano Nggoang yang diinisiasi Dewan Pengurus Paroki, terutama Seksi Budaya dan Pariwisata serta Seksi Keadilan, Perdamaian, Keutuhan Ciptaan dan Pastoral Migran Perantau itu merupakan bagian dari perwujudan visi tersebut.
Festival tersebut, katanya, juga bertepatan dengan ulang tahun ke-60 Paroki St. Mikael Nunang.
“Momen tersebut menjadi titik pijak yang tepat untuk merefleksikan tentang iman kepada Allah sang pencipta. Iman ini seperti bingkai yang mengayomi, serentak bertumbuh dan berjalan bersama; selaras dengan aneka aspek kearifan lokal yang mekar dalam budaya, ekonomi, dan ekologi umat di daerah pedalaman Manggarai Barat dan Keuskupan Labuan Bajo,” katanya.
Secara ekologi, kata Valerianus, Paroki Nunang dianugerahi danau vulkanik Sano Nggoang yang luas dan menakjubkan, gugusan gunung yang menghijau, pohon-pohon dan mata air.

Secara ekonomi, kata dia, paroki tersebut dianugerahi tanah yang subur dan sebagian besar masyarakat hidup bertani.
“Dari tanah inilah, semua masyarakat mengonsumsi pangan lokal yang kaya energi, sehat dan bermartabat,” katanya.
Sementara secara budaya, kata Valerianus, masyarakat memiliki adat-istiadat yang diwariskan turun-temurun oleh nenek moyang untuk memahami bumi dan alam sebagai ciptaan yang harus dijaga dan dilestarikan.
Selain itu, kata dia, kekayaan budaya tersebut tergambar dalam keberadaan dua agama berbeda yang menjadi satu di mana Islam dan Katolik menjaga kerukunan dalam berbagai ritus adat.
Ia berkata, warga lokal mesti memiliki fondasi berpikir dan pola hidup yang kuat di tengah derasnya arus globalisasi dan modernisasi.
Ia juga mengingatkan, eskalasi pembangunan berskala besar seringkali menjadi ancaman nyata dan serius yang meminggirkan eksistensi dan mengganggu tatanan ruang hidup masyarakat lokal.
Karena itu, lanjutnya, kearifan lokal yang terkandung dalam budaya, ekonomi dan ekologi mesti dilestarikan demi menjaga keutuhan dan merawat martabat manusia.
“Festival ini bertujuan untuk menggali potensi kearifan lokal budaya, ekonomi dan ekologi,” katanya.
“Festival ini juga menjadi momentum pewarisan nilai-nilai kearifan lokal kepada anak-anak dan orang muda generasi penerus/pewaris bumi dan seluruh makhluk ciptaan,” tambahnya.

Yosef Erwin Rahmat, ketua panitia festival tersebut menyebut kegiatan itu akan diisi dengan berbagai acara, di antaranya pementasan Tarian Caci, nobar film “Menolak Punah”, ritus adat dan ibadat ekologis di mata air, serta seminar dan lokakarya.
Yosep berkata, setiap malam akan dilaksanakan pementasan tarian tradisional dan pameran produk lokal.
“Festival ini akan digelar setiap tahun. Tahun ini yang pertama,” katanya.
Editor: Herry Kabut



