Festival Bumi Sano Nggoang, Ikhtiar Warga Manggarai Barat Menjaga Pangan dan Tanah

Warga di sekitar Danau Sano Nggoang mengembangkan pangan lokal melalui pameran, budidaya sorgum, pelatihan pengolahan, dan koperasi produsen.

Floresa.co — Aroma singkong kukus, kelapa, dan gula aren berkelindan di udara malam. Belasan stan berjejer di sisi utara dan selatan lapangan Paroki St. Mikael Nunang, Kampung Nunang, Desa Wae Sano.

Di balik meja-meja sederhana, para perempuan dari berbagai Komunitas Basis Gerejawi (KBG)—kelompok persekutuan terkecil dalam struktur Gereja Katolik—menata kue, umbi, jamu, dan hasil kebun yang mereka kelola secara kolektif.

Di stan KBG Wakar, Elisabet Saila, 61 tahun, dan Defrosa Saina, 53 tahun, menjajakan kue lemet—dari singkong parut yang dicampur kelapa dan gula aren—seharga Rp2.000 per biji.

Mereka juga menjual kue tart berbahan singkong seharga Rp50.000 per loyang, temulawak Rp10.000 per bungkus, serta talas dan singkong yang belum diolah.

Stan lain menyuguhkan jagung, pisang, kelapa, madu, dan kopi robusta.

Yayasan Komodo Indonesia Lestari atau Yakines membawa benih padi ladang, jagung, sorgum, serta kacang-kacangan. Organisasi nirlaba yang berbasis di Kabupaten Manggarai Barat itu mengampanyekan pengembangan pangan lokal, termasuk di Paroki St. Mikael Nunang.

Pangan yang dipamerkan berasal dari kebun, pekarangan, hutan, dan perairan tawar di sekitar Sano Nggoang.

Pameran tersebut menjadi bagian dari Festival Bumi Sano Nggoang yang berlangsung pada 3–7 Oktober.

Elisabet Saila (kanan) dan Defrosa Saina (kiri), warga Kampung Wakar, Desa Wae Sano, Kecamatan Sano Nggoang saat menjajakan hasil olahan pangan lokal pada 5 Oktober 2026. (Dokumentasi Floresa)

Festival yang diinisiasi umat Paroki St. Mikael Nunang di bawah Keuskupan Labuan Bajo itu digelar untuk memperingati ulang tahun ke-60 paroki dengan tema “Merawat Kearifan Lokal: Budaya, Ekonomi dan Ekologi untuk Keutuhan Ciptaan.” Pameran pangan lokal menjadi salah satu upaya umat merevitalisasi potensi ekonomi paroki.

Nunang berada di tepian Danau Sano Nggoang, danau vulkanik seluas sekitar 513 hektare dan berkedalaman sekitar 600 meter. Airnya sangat asam dan beraroma belerang kuat, sementara perbukitan hijau mengelilingi danau.

Paroki Nunang berjarak sekitar empat jam perjalanan dari Labuan Bajo. Di lereng sekitar danau, kebun warga ditanami singkong, talas, jagung, padi ladang, kopi, dan tanaman lain. Hutan dan mata air turut menopang kampung itu.

Danau, hutan, kebun, ladang, dan perairan tawar menjadi sumber pangan dan pendapatan warga.

Hidup dari Tanah

Pastor Paroki St. Mikael Nunang, Romo Valerianus Paulus Jempau, mengatakan tanah subur menopang kehidupan sebagian besar umat yang bekerja sebagai petani.

“Dari tanah inilah, semua masyarakat mengonsumsi pangan lokal yang kaya energi, sehat dan bermartabat,” kata Romo Leri, sapaannya.

Menurut Romo Leri, umat memperoleh pangan dan penghasilan dengan mencangkul, menanam, dan merawat tanaman.

Salah satu kegiatan festival berlangsung di lahan sekitar pastoran, yang disiapkan umat untuk menanam aneka pangan lokal. Benih sorgum untuk kegiatan itu disediakan Yayasan Ayo Indonesia bersama Yakines.

Pada 4 Oktober, perwakilan setiap KBG menyemai sorgum varietas Super 1 di bawah pendampingan Delfina Luhur, 53 tahun, Kepala Program Ketahanan Pangan Yayasan Ayo Indonesia. Penanaman sorgum secara simbolis itu dilakukan di kebun paroki.

Kebun Paroki St. Mikael Nunang yang berada di sebalah utara pastoran. (Dokumentasi Floresa)

Yayasan Ayo Indonesia memperkenalkan budidaya sorgum kepada petani di Kecamatan Cibal, Kabupaten Manggarai, dan Kecamatan Lamba Leda Utara, Kabupaten Manggarai Timur, sejak 2023. Di Manggarai Barat, pendampingan dimulai tahun ini bersama perempuan Kampung Wakar yang tergabung dalam Koperasi Ayo Mandiri.

Delfina mengatakan Paroki Nunang merupakan lokasi pertama yang dikunjungi yayasan itu di wilayah Keuskupan Labuan Bajo untuk memperkenalkan kembali sorgum, tanaman pangan yang menurutnya telah lama tidak dibudidayakan.

Kelompok perempuan di Wakar telah satu kali memanen sorgum dengan hasil 20 kilogram, yang sebagian besar digunakan untuk kebutuhan sendiri. Yayasan membeli sebagian hasil tersebut seharga Rp7.000 per kilogram. Menurut Delfina, pembelian itu dilakukan untuk meningkatkan semangat petani.

Delfina menilai iklim sedang di Paroki Nunang cocok untuk sorgum. Meski ketinggian wilayah itu belum diukur secara pasti, ia melihat potensi budidaya dari keragaman pangan yang telah tumbuh di sana.

Program pengembangan sorgum di Manggarai, Manggarai Timur, dan Manggarai Barat mendapat dukungan Yayasan Keanekaragaman Hayati atau Kehati Jakarta, organisasi nirlaba yang bergerak dalam pelestarian, pengelolaan, dan pemanfaatan keanekaragaman hayati secara adil dan berkelanjutan.

Varietas yang diperkenalkan ialah Bioguna, Super 1, dan Super 4, yang menurut Delfina dikembangkan di Institut Pertanian Bogor dan berumur panen tiga hingga empat bulan.

Di Manggarai dan Manggarai Timur, petani sebenarnya masih menyimpan sorgum lokal yang disebut Pesi. Namun, masa panennya mencapai delapan bulan.

Masa panen yang panjang, kata Delfina, membuat warga enggan menanam Pesi. Yayasan tetap menganjurkan penanamannya agar varietas lokal itu terpelihara dan dapat menambah pendapatan warga.

Selain mendampingi budidaya, Yayasan Ayo Indonesia membentuk koperasi produsen sebagai tempat petani menjual hasil panen.

Melalui koperasi tersebut, sorgum dipasarkan kepada pengusaha di Kupang, ibu kota Nusa Tenggara Timur. Sistem serupa telah berjalan di Paroki Dampek, Kecamatan Lamba Leda Utara.

Delfina Luhur, 53 tahun, Kepala Program Ketahanan Pangan Yayasan Ayo Indonesia saat diwawancai Floresa di Pastoran Paroki St. Mikael Nunang pada 5 Oktober 2026. (Dokumentasi Floresa)

Di Kampung Wakar, koperasi telah berjalan sejak 2003, sedangkan budidaya sorgum baru dimulai belakangan. Defrosa mengatakan warga mengembangkan produk pangan lokal sejak 2000 dengan pendampingan Yayasan Ayo Indonesia.

Melalui pelatihan yayasan, Elisabet dan Defrosa belajar mengolah ubi dan pangan lokal lain menjadi kue. Hasil olahan itu kemudian dipasarkan melalui koperasi dan kegiatan seperti festival.

Keragaman yang Mulai Terdesak

Koordinator Program Yakines, Ferdinandus M. Manu, mengatakan sumber pangan di Sano Nggoang berasal dari kebun, ladang, hutan, dan perairan tawar.

Menurut dia, warga masih memelihara umbi-umbian, kacang-kacangan, padi lokal, dan jagung lokal.

Dari hutan, warga mengambil Saung Sasang dan Saung Ruteng, dua jenis sayuran yang dikonsumsi leluhur orang Manggarai, serta rebung dan daun pakis. Perairan tawar menyediakan belut, udang, lele, dan ikan gabus.

Ferdinandus mengatakan budaya berladang yang masih terpelihara di Wae Sano menjadi sumber keragaman pangan. Sawah umumnya ditanami padi, sedangkan di ladang warga menanam padi, umbi-umbian, sayuran, dan tanaman lain dalam satu lahan.

Namun, kata dia, jumlah beberapa sumber pangan mulai berkurang. Pada saat yang sama, tantangan mulai muncul.

“Masyarakat mulai membeli benih jagung dan sayuran di toko, sekaligus dengan pestisidanya,” katanya dalam lokakarya pada 5 Oktober.

Ferdinandus M. Manu, Koordinator Program Yayasan Komodo Indonesia Lestari atau Yakines Kabupaten Manggarai Barat saat membeli temulawak di stan KBG Wakar pada 5 Oktober 2026. (Dokumentasi Floresa)

Menurut Ferdinandus, penggunaan benih toko dan pestisida berdampak pada kesehatan, menambah pengeluaran petani, dan memengaruhi kesuburan tanah.

Ia mengatakan festival menjadi ruang untuk merawat pangan lokal dan membangun cara berpikir baru dalam pengembangannya.

Doa dan Ritual Adat

Festival dibuka pada 3 Oktober oleh Uskup Labuan Bajo, Mgr. Maksimus Regus. Ia menyebut acara itu sebagai kejutan dari umat dan mengatakan banyak cerita disampaikan melalui kata-kata, simbol, kebersamaan, dan doa.

“Meskipun Paroki Nunang berada di pinggiran, tetapi banyak cerita dari daerah pinggiran yang mengubah sesuatu menjadi luar biasa,” katanya. Ia berharap Paroki Nunang menjadi ikon gereja di Keuskupan Labuan Bajo yang mengangkat keberlanjutan ekologi, ekonomi, dan budaya.

Romo Leri mengatakan festival merupakan hadiah umat untuk ulang tahun ke-60 paroki dan hasil kesepakatan untuk bersatu, bersyukur, serta merefleksikan alam Sano Nggoang. Menurut dia, porsi pesta dikurangi agar festival juga menjadi ruang refleksi.

Setiap malam, sebelum pameran dan hiburan, umat berdoa rosario. Mereka juga menyalakan seribu lilin untuk ibu bumi. Kegiatan lain meliputi pelatihan pertanian dan peternakan organik, tenun dengan pewarna alami, serta pemilahan sampah.

Umat Paroki St. Mikael Nunang menggelar acara seribu lilin dan doa rosario di Gua Maria pada 3 Oktober 2026. (Dokumentasi Floresa)

Pada 6 Oktober, umat menggelar Barong Compang di Golo Lampang, kampung lama orang Nunang, dan Barong Wae di Wae Kuta, salah satu sumber mata air di Kampung Nunang. Dalam kedua ritual tersebut, warga memberikan sesajian kepada leluhur sebagai ungkapan syukur dan permohonan berkat.

Ketua panitia, Yosef Erwin Rahmat, menyebut festival sebagai pesta umat, “bukan pesta panitia apalagi pesta para elit”. Menurut dia, festival menjadi panggung budaya untuk mengangkat tradisi yang ditinggalkan akibat modernisasi. Barong Wae, misalnya, terakhir dilaksanakan sekitar 60 tahun sebelumnya.

Herman Hemat, tokoh adat Kampung Nunang, mengatakan festival menjadi kesempatan untuk kembali menjalankan ritual yang telah lama ditinggalkan.

Romo Leri menyebut ritual tersebut sebagai bagian dari doa. Barong Wae juga dimaksudkan sebagai ungkapan syukur sekaligus permohonan agar sumber mata air tetap terpelihara.

Penghasilan Tambahan bagi Warga

Elisabet dan Defrosa mengatakan koperasi dan festival membantu pemasaran hasil olahan mereka. Keduanya tidak merinci pendapatan, tetapi mengaku memperoleh keuntungan dan penghasilan tambahan selama festival.

“Untung. Pokoknya banyak saja,” kata Elisabet ketika ditanya hasil penjualannya.

Defrosa berharap Festival Bumi Sano Nggoang menjadi agenda tahunan dengan skala lebih besar agar mereka dapat menjual lebih banyak olahan pangan lokal.

“Hari-hari kami bekerja sebagai petani. Tetapi, kalau ada kegiatan, kami mengolah pangan lokal menjadi beragam kue untuk dijual,” katanya.

Editor: Herry Kabut

Dukung Kami

Ada cerita yang terlalu berisiko untuk diberitakan, korban yang terlalu lemah untuk didengar, dan mereka yang terlalu berkuasa untuk disentuh.
Floresa memilih memberi perhatian pada semua itu. Kami tidak bergantung pada iklan korporasi atau kepentingan politik. Independensi kami dibiayai oleh pembaca yang percaya bahwa kebenaran harus diungkap tanpa kompromi.
Dukung kami untuk terus bertahan. Caranya bisa cek di sini

BACA JUGA