Dewi Sukur tidak hanya mengisi liburan panjang tahun ini untuk bertemu keluarga. Mahasiswi Universitas Sanata Darma, Yogyakarta ini yang bergabung dalam grup akademik Kelompok Studi...
Eksplorasi minat dan bakat adalah apa yang kini ditekuni oleh Indri Safitri Rahayu. Siswi di SMA Negeri 2 Komodo, Nggorang, Manggarai Barat ini sejak kecil...
Bercita-cita menjadi seorang arsitek,ternyata membawa Vhyo-begitu ia biasa disapa-pada pergulatan hidup yang tidak ringan. Kuliahnya tidak berjalan mulus sebagaimana diharapkan. Kesulitan menantangnya. Akhirnya alumnus SMAK...
Merasa sangat beruntung adalah kesan Elizabeth Nathania, gadis asal Jakarta, setelah mengunjungi Lembata awal tahun ini.
Nia – begitu ia disapa – merupakan lulusan Teknik Industri di Universitas...
Kolom ini, disediakan khusus oleh Floresa.co untuk tempat berbagi pengalaman, cerita-cerita bagi anak muda, putera-puteri asal NTT . Isinya tak seserius – kalau boleh dikatakan...
Ada dalam satu bagian film, Maria Omety sedang melihat kembali hidupnya sendiri—hutan yang digusur, kampung yang perlahan dikepung, dan pilihan yang tidak selalu mudah: diam atau kehilangan.
Selama ini, peringatan dini, instruksi evakuasi, dan informasi kebencanaan disampaikan lewat pengumuman lisan dan sirine—sistem yang secara struktural mengecualikan mereka yang tidak bisa mendengar.
Dalam konteks pemikiran Freire, intimidasi yang mewarnai pemutaran dokumenter ini menunjukkan bahwa kekuasaan yang represif tidak takut pada filmnya, tapi pada kesadaran yang lahir setelahnya.
Seharusnya pemerintah membangun narasi tandingan atau membuat film baru jika tidak sepakat dengan film yang dibuat masyarakat sipil, ujar guru besar filsafat tersebut.