Paskah dan Kungkungan Algoritma Digital

Paskah mengundang kita untuk bangkit dari kurungan algoritma digital dan merebut kembali ruang media sosial sebagai ruang iman yang bermartabat

Digitalisasi telah mengubah hampir seluruh sendi kehidupan kita – komunikasi, belanja, transportasi, hingga pekerjaan. 

Namun, di balik kemudahan itu, teknologi digital juga diam-diam mengurung kita dalam satu ruang informasi yang seragam.

Algoritma platform digital bekerja berdasarkan rekam jejak perilaku kita: apa yang kita like, tonton, komentari, dan bagikan. 

Hasilnya, kita terus-menerus disuguhkan konten yang sama, hari demi hari. Yang terbiasa mengonsumsi konten politik akan selalu dihadapkan pada narasi politik. Yang sering menonton konten komedi, akan terus dilayani konten serupa.

Dalam bukunya The Filter Bubble: What The Internet Is Hiding From You (2011), Eli Pariser – aktivis internet asal Amerika Serikat – menyebut algoritma menyaring informasi berdasarkan perilaku pengguna hingga menciptakan kondisi yang ia sebut echo chamber: ruang di mana seseorang hanya berinteraksi dengan informasi yang memperkuat persepsi dan keyakinan yang sudah dimiliki.

Kondisi ini bukan sekadar ketidaknyamanan intelektual. Sebuah studi yang diterbitkan jurnal Science pada 2018 oleh Massachusetts Institute of Technology (MIT)  menemukan bahwa berita bohong menyebar enam kali lebih cepat di media sosial daripada berita faktual di media sosial – dan algoritma berperan besar dalam akselerasi itu karena konten provokatif cenderung memicu lebih banyak interaksi. 

Tanpa disadari, kita tidak hanya terkurung dalam informasi yang sempit, tetapi juga rentan terhadap manipulasi massal. Pandangan menyempit, toleransi melemah dan polarisasi sosial kian menganga. Sekali saja kita berinteraksi dengan konten destruktif, konten serupa akan terus memenuhi beranda kita.

Yang lebih mengkhawatirkan, ketergantungan ini bukan sepenuhnya pilihan sadar. Tristan Harris, mantan etikawan desain Google, dalam dokumenter The Social Dilemma (2020) mengungkapkan bahwa platform digital dirancang secara sengaja untuk memaksimalkan waktu yang dihabiskan pengguna – mengeksploitasi kelemahan psikologis manusia seperti dorongan mencari validasi sosial dan rasa takut ketinggalan (fear of missing out). 

Dengan kata lain, kita bukan sekadar pengguna platform digital; kita adalah produk yang sedang dibentuk olehnya.

Makna Paskah

Di tengah kurungan algoritma itu, Paskah hadir sebagai momen refleksi yang dalam dan mendesak. 

Kebangkitan Yesus dari kematian bukan hanya peristiwa iman yang diperingati setahun sekali, tetapi undangan abadi untuk memperbarui cara pandang dan perilaku kita — termasuk cara kita hidup di ruang digital.

Paskah secara teologis berbicara tentang pembebasan: dari dosa, dari kematian, dari segala sesuatu yang membelenggu kemanusiaan kita. 

Dalam konteks hari ini, algoritma digital yang mempersempit pikiran, mengeraskan prasangka dan mengikis empati adalah salah satu bentuk perbudakan baru yang perlu dilawan. 

Paskah menjadi imperatif iman untuk bangkit dari kurungan itu.

Kebangkitan Yesus mengajarkan bahwa kondisi yang tampak final pun bisa dilampaui. Bila kita merasa sudah terlanjur terperangkap dalam pola konsumsi digital yang destruktif, Paskah menawarkan semangat untuk memulai ulang — metanoia, pertobatan yang bukan sekadar penyesalan, melainkan perubahan arah yang nyata.

Paskah juga mengajak kita berpuasa – bukan hanya dari makanan, tetapi dari kebiasaan mengonsumsi konten yang merusak. Sebagaimana Yesus berpuasa 40 hari di padang gurun dan menolak tawaran kuasa instan dari iblis, ada saatnya kita pun menolak tawaran kepuasan instan yang disajikan algoritma. 

Di padang gurun itu, Yesus tidak melawan dengan kekuatan manusiawi semata, melainkan dengan sabda Tuhan – sebuah pengingat bahwa tidak semua persoalan hidup dapat diselesaikan oleh narasi-narasi duniawi yang penuh kesesatan. 

Refleksi teologis bukan pelarian dari realita, melainkan cahaya yang menerangi realita dengan lebih jernih.

Ini bukan ajakan untuk menutup diri dari dunia atau mengabaikan informasi umum, melainkan seruan untuk lebih seimbang dan sadar: tidak membiarkan diri tersistematisasi oleh konten yang kosong makna, tetapi secara aktif memberi ruang bagi hal-hal yang mempertajam nurani dan memperdalam iman.

Merebut Kembali Ruang Digital sebagai Ruang Iman

Tantangannya nyata. Ketika kita sudah terbiasa dengan konten yang sekadar menghibur, konten bernilai refleksi teologis kerap terasa asing, bahkan membosankan. 

Namun, justru di sinilah Paskah menjadi antitesis terhadap gaya hidup digital yang dangkal.

Ada paradoks menarik di sini: di satu sisi, platform digital telah mempersempit ruang berpikir kita; di sisi lain, platform yang sama menyimpan potensi besar sebagai ruang pewartaan iman. 

Paus Fransiskus dalam pesannya pada Hari Komunikasi Sedunia 2023 menegaskan bahwa dunia digital adalah wilayah yang perlu dijangkau Gereja – bukan dengan menghindarinya, tetapi dengan hadir di dalamnya secara bermartabat, penuh kasih dan bertanggung jawab. 

“Berbicara dengan hati,” demikian seruannya, juga berarti berbicara melalui medium yang digunakan orang-orang zaman ini.

Gereja sesungguhnya telah lama menyadari potensi ini. Sejak Konsili Vatikan II, Dekrit Inter Mirifica yang dipromulgasikan Paus Paulus VI pada 1963 menegaskan bahwa media komunikasi adalah sarana mewartakan kebenaran iman, asalkan digunakan dengan tanggung jawab moral. 

Semangat itu kini menemukan konteksnya yang paling relevan di era media sosial.

Dalam kerangka itu, yang dibutuhkan bukan sekadar konsumsi konten rohani secara pasif, tetapi partisipasi aktif. 

Kita bisa menjadi kreator konten yang membawa nilai – yang menawarkan perspektif damai di tengah arus polarisasi, yang menyuarakan empati di tengah lautan komentar beracun, yang menyisipkan kedalaman di tengah kepungan konten yang dangkal. 

Setiap unggahan, setiap komentar, setiap bagikan adalah tindakan kecil yang membentuk ekosistem digital secara kolektif.

Paskah, pada akhirnya, bukan hanya tentang apa yang kita rayakan di dalam gereja. Ia adalah tentang cara kita bangkit dan hadir — termasuk di ruang-ruang digital yang hari ini menjadi salah satu medan utama pembentukan pikiran dan jiwa manusia. 

Memanfaatkan media sosial sebagai ruang komunikasi iman bukan sekadar pilihan pastoral; ia adalah panggilan zaman yang tidak bisa lagi ditunda.

Ovan Baylon adalah guru SMPK St. Ignasius Loyola Labuan Bajo

Editor: Ryan Dagur

DUKUNG KAMI

Terima kasih telah membaca artikel kami.

Floresa adalah media independen. Setiap laporan kami lahir dari kerja keras rekan-rekan reporter dan editor yang terus berupaya merawat komitmen agar jurnalisme melayani kepentingan publik.

Kami menggalang dukungan publik, bagian dari cara untuk terus bertahan dan menjaga independensi.

Cara salurkan bantuan bisa dicek pada tautan ini: https://floresa.co/dukung-kami

Terima kasih untuk kawan-kawan yang telah mendukung kami.

Gabung juga di Grup WhatsApp pembaca kami dengan klik di sini atau di Channel WhatsApp dengan klik di sini.

ARTIKEL PERPEKTIF LAINNYA

TRENDING